Pembelajaran Kontekstual learning (CTL)

 Pembelajaran Kontekstual learning (CTL)
A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual learning (CTL) 
Johnson, 2002 (Kunandar, 2007: 273) mengartikan pembelajaran kontekstual atau Contekstual Teaching and Learning (CTL) sebagai suatu proses pembelajaran yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks kehidupan pribadi, sosial dan budayanya. Sejalan dengan itu Elaine (2006: 216) mengemukakan bahwa “CTL melatih anak berfikir kreatif menghubungkan sesuatu yang tampak tidak berhubungan sehingga menemukan pola baru dalam berfikir”. 

The Washingtong State Consortium for Contextual Teaching and Learning, 2001 (Kunandar, 2007: 273) mengartikan pembelajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa memperkuat memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademisnya dalam berbagai latar sekolah dan di luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata. Pembelajaran kontekstual terjadi ketika siswa menerapkan dan mengalami apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah riil yang berasosiasi dengan peranan dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga masyarakat, dan selaku pekerja.

Elaine (2006: 215) mengemukakan bahwa “pembelajaran kontekstual leraning (CTL) dapat mengembangkan dan meningkatkan kreativitas anak dalam memecahkan suatu masalah atau problem yang ada dilingkungannya, karena dengan berfikir kreatif melibatkan rasa ingin tahu dan bertanya siswa sehingga permasalahan itu terpecahkan dengan menghubungkan antara permasalahan dengan konteks kehidupan nyata mereka”. 

Center on Education and Work at The University of Wisconsin Madison, 2002 (Kunandar, 2007: 274) mengartikan pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan pekerja serta meminta ketekunan dalam belajar. Sedangkan Kunandar (2007: 274) mengartikan bahwa “pembelajaran kontekstual (Contekstual Teaching and Learning atau CTL) adalah sebagai konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkannya, dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa berfikir kreatif membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, pengetahuan dan keterampilan diperoleh dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat”.
B.  Komponen dan Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Learning 
Menurut Johnson, 2002 (Kunandar, 2007: 274) ada delapan komponen utama dalam sistem pembelajaran kontekstual learning, yaitu sebagai berikut : 
a. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections). Artinya, siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (Learning by Doing).
b. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan  (doing significant work). Artinya, siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku dan sebagai anggota masyarakat .
c. Belajar yang diatur sendiri (self regulated learning). 
d. Bekerja sama (collaborating). Artinya siswa dapat bekerja sama, guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan berkomunikasi. 
e. Berfikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Artinya, siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif, dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan membuat logika serta bukti-bukti. 
f. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Artinya, siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. 
g. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards). Artinya, siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi, mengidentifikasi tujuan, dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”. 
h.Menggunakan perhatian autentik (using authentic assessment). 
Sofyan dan Amiruddin (2007: 15-16) secara garis besar mengemukakan 7 (tujuh) komponen utama dalam pembelajaran kontekstual yaitu : 
1. Konstruktivisme  
a. Membangun pengetahuan mereka sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal. 
b. Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. 

2. Inquiry. 
a. Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. 
b. Peserta didik belajar menggunakan keterampilan berfikir kritis. 

3. Questioning (bertanya) 
a. Kegiatan guru untuk mendorong, memebimbing dan menilai kemampuan berfikir peserta didik. 
b. Bagi peserta didik yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. 
4. Learning Community (Masyarakat Belajar) 
a. Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar 
b. Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri 
c. Tukar pengalaman 
d. Berbagi ide 

5. Modeling (Pemodelan) 
a. Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berfikir, bekerja dan belajar. 
b. Mengerjakan apa yang guru inginkan agar peserta didik mengerjakannya. 

6. Reflection (Refleksi) 
a. Cara berfikir tentang apa yang telah kita pelajari. 
b. Mencatat apa yang yang telah dipelajari. 
c. Membuat jurnal, karya seni, dan diskusi kelompok

7. Authentic Assessment (Penilaian yang Sebenarnya). 
a.      Mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik. 
b.      Penilaian produk (kinerja) 
c.      Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual. 
Selain itu juga Sofyan dan Amiruddin (2007: 16) mengemukakan bahwa karakteristik pembelajaran kontekstual yaitu : 
1.      Kerjasama. 
2.      Saling menunjang. 
3.      Menyenangkan, tidak membosankan. 
4.      Belajar dengan bergairah 
5.      Pembelajaran terintegrasi 
6.      Menggunakan berbagai sumber 
7.      Peserta didik aktif 
8.      Sharing dengan teman 
9.      Peserta didik kritis dan kreatif. 
Tabel. 2. 1. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual learning dan Tradisional.
No
Pembelajaran Kontekstual learning
Tradisional
1
Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna)
Menyandarkan pada hafalan
2
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa
Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
3
Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran
Siswa secara pasif memperoleh informasi
4
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
5
Selalu mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang dimiliki siswa
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan
6
Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu
7
Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berfikir kritis. Atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)
Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individu)
8
Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Perilaku dibangun atas kebiasaan
9
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
Keterampilan dibangun atas dasar latihan
10
Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri
Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor
11
Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut keliru dan merugikan
Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena takut akan hukuman
12
Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik
13
Pembelajaran  terjadi diberbagai tempat, konteks dan setting
Pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas
14
Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik
Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan
15
Bahas diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata
Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural, yakni rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill)
16
Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa
Rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan
No
Pembelajaran Kontekstual learning
Tradisional
17
Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata ke dalam pembelajaran
Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran
18
Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya.
Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada diluar diri manusia
19
Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative dan incomplete)
Kebenaran bersifat absolute dan pengetahuan bersifat final
20
Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing
Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran

Pembelajaran Kontekstual learning (CTL),Pembelajaran Kontekstua, Kontekstual learning (CTL)

0 Response to "Pembelajaran Kontekstual learning (CTL)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close