Wednesday, 11 May 2016

PENGERTIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

PENGERTIAN TUJUAN PEMBELAJARAN_ Tujuan pembelajaran merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajaran muaranya pada tercapainya tujuan tersebut. Dilihat dari sejarahnya, tujuan pembelajaran pertama kali diperkenalkan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950 yang diterapkannya dalam ilmu perilaku (behavioral science) dengan maksud untuk meningkatkan mutu pembelajaran

Kemudian diikuti oleh Robert Mager yang menulis buku yang berjudul  Preparing Intructional Objective pada tahun 1962. Selanjutnya diterapkan secara meluas pada tahun 1970 di seluruh lembaga pendidikan termasuk di Indonesia. Penuangan tujuan pembelajaran ini bukan saja memperjelas arah yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan belajar, tetapi dari segi efisiensi diperoleh hasil yang maksimal. Keuntungan yang dapat diperoleh melalui penuangan tujuan pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut. 

1. Waktu mengajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat. 
2. Pokok bahasan dapat dibuat seimbang, sehingga tidak ada materi pelajaran yang dibahas terlalu mendalam atau terlalu sedikit. 
3. Guru dapat menetapkan beberapa banyak materi pelajaran yang dapat atau sebaiknya disajikan dalam setiap jam pelajaran. 
4. Guru dapat menetapkan urutan dan rangkaian materi pelajaran secara tepat. Artinya, peletakan masing-masing materi pelajaran akan memudahkan siswa  dalam mempelajari isi pelajaran. 
5. Guru dapat dengan mudah menetapkan dan mempersiapkan strategi belajar mengajar yang paling cocok dan menarik. 
6. Guru dapat dengan mudah mempersiapkan berbagai keperluan peralatan maupun bahan dalam keperluan belajar. 
7. Guru dapat dengan mudah mengukur keberhasilan siswa dalam belajar. 
8. Guru dapat menjamin bahwa hasil keberhasilan siswa dalam belajar. 
9. Guru dapat menjamin bahwa hasil belajarnya akan lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar tanpa tujuan yang jelas. 

A. ARTI TUJUAN PEMBELAJARAN 
Banyak pengertian yang diberikan para ahli pembelajaran tentang tujuan pembelajaran, yang satu sama lain memiliki kesamaan di  samping ada perbedaan sesuai dengan sudut pandang garapannya. Robert F. Mager (1962) misalnya memberikan pengertian tujuan pembalajaran sebagai perilaku yang hendak kompetensi tertentu. Pengertian kedua dikemukakan oleh Edwar L. Dejnozka dan David E. Kapel (1981), juga Kemp (1977) yang memandang bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang konkret serta dapat dilihat dan fakta yang tersamar. Definisi ketiga dikemukakan oleh Fred Percival dan Henry Ellington (1984) yakni tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang jelas dan menunjukkan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ketiganya mempunyai pendapat yang sama kerena unsur-unsur yang dipakai untuk merumuskan definisi dan cara perumusannya sama. 


B. TAKSONOMI TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran biasanya diarahkan pada salah satu kawasan dari taksonomi. Benyamin S. Bloon dan D. Krathwohl (1964) memilah taksonomi pembelajaran dalam tiga kawasan, yakni kawasan (1) kognitif, (2) afektif, dan (3) psikomotor. 
1. Kawasan Kognitifg 
Kawasan kognitif adalah kawasan yang membahas tujuan pembelajaran berkenaan dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan kognitif ini terdiri atas 6 (enam) tingkatan yang secara hierarki berurut dari yang paling rendah (pengetahuan) sampai ke yang paling tinggi (evaluasi) dan dapat dijelaskan sebagai berikut. 

a. Tingkat Pengetahuan (knowledge) 
Pengetahuan di sini diartikan kemampuan seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan yang pernah diterimanya. 
Contoh: 
1) Siswa dapat menyebutkan kembali bangun-bangun geometri yang berdimensi tiga. 
2) Siswa dapat menggambarkan satu buah segitiga sembaran. 

b. Tingkat Pemahaman (Comprehension) 
Pemahaman di sini diartikan kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya. 
Contoh: 
1) Siswa dapat menjelaskan dengan kata-katanya sendiri tentang perbedaan bangun geometri yang berdimensi dua dan berdimensi tiga. 
2) Siswa dapat menerjemahkan arti kode-kode  (berita morse) yang dikirim oleh kapal laut yang berlaluh. 

c. Tingkat Penerapan (Application) 
Penerapan di sini diartikan kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul yang timbul dalam kehidupan sendiri. 
Contoh: 
1) Siswa dapat menentukan salah satu sudut dari suatu segitiga jika diketahui sudut-sudut lainnya. 
2) Siswa dapat menghitung panjang sisi miring dari suatu segitiga siku-siku jika diketahui sisi lainnya

d. Tingkat Analisis (Analysis) 
Penerapan di sini diartikan kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. 
Contoh: 
1) Siswa dapat mengolah data mentah melalui statistika, sehingga dapat diperoleh harga-harga range, interval kelas, panjang kelas, rata-rata dan standar deviasinya. 
2) Siswa dapat menganalisis sejauh mana dalam dan luasnya pembahasan diskusi yang mereka laksanakan. 

e. Tingkat Sintesis (Synthesis) 
Sintesis di sini diartikan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. 
Contoh:\
1) Siswa dapat menyusun rencana belajar masing-masing sesuai dengan kebijkan yang berlaku di sekolah. 
2) Siswa dapat mengemukakan formula baru dalam menyelesaikan suatu masalah. 

f. Tingkat Evaluasi (Evaluation) 
Evaluasi di sini diartikan kemampuan seseorang dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan criteria atau pengetahuan yang dimilikinya. 
Contoh: 
1) Siswa dapat menilai unsur kepadatan isi, cakupan materi, kualitas analisis dan gaya bahasa yang dipakai oleh seorang penulis makalah tertentu. 
2) Siswa dapat menilai kualitas kemampuan pemikiran temannya berdasarkan kemampuan dirinya.

Di samping kawasan kognitif sebagaimana disebutkan di atas, biasanya dalam suatu perencanaan pengajaran ada mata pelajaran tertentu memiliki tuntutan unjuk kerja yang dinilai adalah kawasan afektif dan psikomotor. Kedua kawasan tersebut dijelaskan berikut ini. 

2. Kawasan Afektif (Sikap dan Perilaku) 
Kawasan afektif adalah satu dominan yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interes, apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan sosial. Tingkatan afeksi ini ada lima, dari yang paling sederhana ke yang kompleks adalah sebagai berikut: 
a. Kemauan menerima; 
b. Kemauan menanggapi; 
c. Berkeyakinan; 
d. Penerapan karya; 
e. Ketekunan dan ketelitian. 

Kemauan Menerima 
Kemauan menerima merupakan keinginan untuk memperhatikan suatu gejala atau rancangan tertentu, seperti keinginan membaca buku, mendengar music atau bergaul dengan orang yang mempunyai ras berbeda. 

Kemauan Menanggapi 
Kemauan menanggapi merupakan kegiatan yang menunjuk pada partisipasi aktif dalam kegiatan tertentu, seperti menyelesaikan tugas terstruktur, menaati peraturan, mengikuti diskusi kelas, menyelesaikan tugas di laboratorium atau menolong orang lain. 

Berkeyakinan 
Berkeyakinan berkenaan dengan kemauan menerima sistem nilai tertentu pada diri individu. Seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi (penghargaan) terhadap sesuatu, sikap ilmiah atau kesungguhan (komitmen) untuk melakukan suatu kehidupan sosial. 

Penerapan Karya 
Penerapan karya berkenaan dengan penerimaan terhadap berbagai sistem nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu sistem nilai yang lebih tinggi.  Seperti menyadari pentingnya keselarasan antara hak dan tanggung jawab, bertanggung jawab terhadap hal yang telah dilakukan, memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri, atau menyadari peranan perencanaan dalam memecahkan suatu permasalahan. 

Ketekunan dan Ketelitian 
Ini adalah tingkatan afeksi yang tertinggi. Pada taraf ini individu yang sudah memiliki sistem nilai selalu menyelaraskan perilakunya sesuai dengan sistem nilai yang dipegangnya. Seperti bersikap objektif terhadap segala hal. 

3. Kawasan Psikomotor 
Domain psikomotor mencakup tujuan yang berkaitan dengan keterampilan (skill) yang bersifat manual atau motorik. Sebagaimana kedua domain yang lain, domain ini juga mempunyai berbagai tingkatan. Urutan tingkatan dari yang paling sederhana sampai ke yang paling kompleks (tertinggi) adalah 
Æ Persepsi; 
Æ Kesiapan melakukan suatu kegiatan; 
Æ Mekanisme; 
Æ Respons terbimbing; 
Æ Kemahiran; 
Æ Adaptasi; 
Æ Originasi. 

Persepsi 
Persepsi berkenaan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan. Seperti mengenal kerusakan mesin dari suaranya yang sumbang, atau menghubungkan suara musik dengan tarian tertentu. 

Kesiapan 
Kesiapan berkenaan dengan kegiatan melakukan sesuatu kegiatan (set). Termasuk di dalamnya mental set (kesiapan mental), physical set (kesiapan fisik), atau emotional set (kesiapan emosi perasaan) untuk melakukan suatu tindakan. 

Mekanisme 
Mekanisme berkenaan dengan penampilan respons yang sudah dipelajari dan menjadi kebiasaan, sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan kepada suatu kemahiran. Seperti menulis halus, menari, atau menata laboratorium. 

Respons Terbimbing 
Respons terbimbing seperti meniru (imitasi) atau mengikuti, mengulangi perbuatan yang diperintahkan atau ditunjukkan oleh orang lain, melakukan kegiatan coba-coba (trial and error) 

Kemahiran 
Kemahiran adalah penampilan gerakan motorik dengan keterampilan penuh. Kemahiran yang dipertunjukkan biasanya cepat, dengan hasil yang baik, namun menggunakan sedikit tenaga. Seperti keterampilan menyetir kendaraan bermotor. 

Adaptasi 
Adaptasi berkenaan dengan keterampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi (membuat perubahan) pada pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. Hal ini terlihat seperti pada orang yang bermain tenis, pola-pola gerakan disesuaikan dengan kebutuhan mematahkan permainan lawan. 

Originasi 
Originasi menunjukkan kepada penciptaan pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu. Biasanya hal ini dapat dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai keterampilan tinggi seperti menciptakan mode pakaian, komposisi musik, atau menciptakan tarian. 

C. FORMAT UNTUK MENULIS TUJUAN PEMBELAJARAN 
Untuk menuliskan tujuan pembelajaran, tata bahasa merupakan unsur yang perlu diperhatikan. Sebab dari tujuan pembelajaran tersebut dapat dilihat konsep atau proses berpikir seseorang dalam menaungkan ide-idenya.

Sehubungan dengan teknis penulisan tersebut, ada seorang penganjur bahwa dalam menulis tujuan pembelajaran sebaiknya dinyatakan dengan jelas, artinya tanpa diberi penjelasan tambahan apa pun, pembaca (guru atau siswa) sudah dapat menangkap maksudnya.

Selanjutnya menurut Mager tujuan pembelajaran sebaiknya mencakup tiga elemen utama, yakni 
1.Menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan siswa selama belajar dan kemampuan apa yang sebaiknya dikuasainya pada akhir pelajaran; 
2. Perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemonstrasikan perilaku tersebut; 
3. Perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat diterima.
Berdasarkan pada uraian dan elemen tersebut, tujuan pembelajaran sebaiknya dinyatakan dalam bentuk ABCD format, artinya:
A  =   Audience (petatar, siswa, mahasiswa, murid, dan sasaran didik lainnya)
B  =   Behavior (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar).
C = Condition (persyaratan yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai).
D  =   Degree (tingkat penampilan yang dapat diterima).

Selanjutnya dalam menuangkan behavior yang akan diukur, perlu dihindari kata-kata yang tidak operasional. Berikut ini diberikan contoh kata kerja operasional dan kata kerja yang bukan operasional sebagai berikut. 

Kata kerja yang operasional 
1. menjumlahkan; 
2. memecahkan; 
3. menulis; 
4. menyatakan; 
5. menilai; 
6. mendaftar; 
7. menggambar; 
8. mengenali; 
9. tersenyum; 
10. mendorong.
Adapun kata-kata kerja yang dikategorikan pada kata kerja nonoperasional contohnya sebagai berikut: 
1. mengetahui; 
2. mengerti; 
3. mengerti sekali; 
4. menghargai; 
5. sangat menghargai; 
6. percaya; 
7. memperdalam; 
8. menikmati; 
9. memerangi; 
10. memahami.

Penuangan kata kerja yang operasional dan nonoperasional ini sangat berpengaruh pada proses penilaian baru. Dalam hal ini jika kata kerja operasional yang dirumuskan, maka dapat memudahkan guru untuk mengukur kegiatan nonoperasioan, sangat banyak menyulitkan guru dalam membuat tes untuk mengukur keberhasilan tujuan, mengingat kata nonoperasional sifatnya luas cakupannya dan tidak jelas.
#TUJUAN PEMBELAJARAN

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon