Wednesday, 13 April 2016

PENGERTIAN CERITA RAKYAT

PENGERTIAN CERITA RAKYAT
Cerita rakyat disebut juga Floklore (Cullinan dalam Mustakim,2009:51).Foklor berasal dari kata folk dan lore. Menurut Alan Dundes (dalam James Danandjaja, 1997:1) folk adalah sekelompok orang yang memilki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, kebudayaan sehingga dapat dibedakan oleh kelompok-kelompok lainnya. Istilah lore merupakan Tradisi folk yang berarti sebagian kebudayan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui contoh yang disertai gerak Isyarat atau alat bantu mengingat. Jika folk adalah mengingat ,lore adalah tradisinya. 

cerita rakyat adalah kebudayan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk tulisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (James Danandjaja, 1997:2).

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat merupakan sebagian dari kebudayaan rakyat yang disebarkan dan diwariskan secara turun-temurun dengan variasi yang berbeda-beda, baik lisan maupun tertulis dengan tujuan tertentu untuk menjadi suatu ciri khas kelompok masyarakat pendukungnya. 

A. Jenis-jenis Cerita rakyat
 
Menurut Mustakim(2008:52-56). Jenis cerita rakyat dikelompokkan atas isi cerita dan pada tokoh cerita yang di tampilkan.Yang terbagi atas : 
1)  Fabel 
Fabel, adalah cerita yang pelakunya adalah binatang yang merupakan  symbol perilaku manusia. Biasanya cerita itu memiliki ajaran moral yang sangat eksplisit dan bahasa yang sederhana, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak. 

2)  Legenda 
Legenda, adalah cerita tentang kejadian suatu tempat atau sesuatu nama tempat yang dianggap mempunyai makna bagi kehidupan manusia. 

3)  Mite 
Mite, adalah jenis cerita yang tokoh-tokohnya dianggap keramat. 

4)  Sage 
Sage, adalah cerita rakyat yang menceritakan sejarah kesuksesan para tokoh-tokohnya 

Sementara William R. Bascom (dalam Danandjaja ,1984:50) membagi cerita prosa menjadi tiga seperti di bawah ini: 
1)  Mite 
Mite, adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang dan terjadi pada masa lampau. 
2)  Legenda 
Legenda adalah cerita yang menurut pengarangnya merupakan peristiwa –
peristiwa yang benar-benar ada dan nyata. Serta ditokohi manusia-manusia yang mempunyai
sifat luar biasa.  
3)  Dongeng 
Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi, bersifat  khayal dan tidak terikat waktu maupun tempat tokoh ceritanya adalah manusia, binatang, dan makhluk halus. 

Berdasarkan pendapat di atas dapat simpulkan bahwa jenis – jenis cerita rakyat terdiri atas: fable adalah adalah Cerita yang Pelakunya adalah binatang yang merupakan  symbol perilaku manusia. Biasanya cerita itu memiliki ajaran moral yang sangat eksplisit dan bahasa yang sederhana, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak. ,legenda adalah cerita tentang kejadian suatu tempat atau sesuatu nama tempat peristiwa yang benar-benar ada dan nyata yang dianggap mempunyai makna bagi kehidupan manusia. Serta ditokohi manusia-manusia yang mempunyai sifat luar biasa, Mite adalah jenis cerita yang tokoh-tokohnya dianggap keramat, Sage adalah cerita rakyat yang menceritakan sejarah kesuksesan para tokoh-tokohnya. 

b. Unsur-unsur Cerita Rakyat 
Cerita rakyat terdiri atas unsur-unsur pembangun cerita rakyat, antara lain: alur, tokoh dan perwatakan, latar, tema dan amanat. Berikut pembahasan masing-masing unsur. 

1) Tokoh dan perwatakan 
Cullinan (dalam mustakim, 2008:101) mengatakan bahwa tokoh cerita adalah pelaku cerita. Hal senada juga diungkapkan oleh Sudjiman (dalam Septiningsih, dkk. 1998:4) mengatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Demikian  juga diungkapkan oleh Aminudin (dalam Siswanto 2008:142) yang menyatakan tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan.

Tokoh-tokoh dalam cerita perlu digambarkan ciri-ciri lahir dan sifat batinnya agar watak juga dikenal oleh pembaca. Penokohan atau perwatakan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto 2005:20).

Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh utama dibedakan menjadi dua, yaitu.
a)   Tokoh utama protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.
b)  Tokoh utama antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.

Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh utama. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a) Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercataan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
b) Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
c) Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja. 

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Penokohan yaitu penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh yang membedakan dengan tokoh yang lain. 

2) Latar atau setting 
Cullinan (dalam mustakim, 2008:101) mengatakan bahwa setting adalah waktu dan tempat terjadinya cerita.  Hal senada juga diungkapkan oleh Sudjiman (dalam Septiningsih, dkk. 1998:5)mengatakan bahwa latar adalah keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Secara sederhana Suharianto (2005:22) mengatakan latar disebut juga setting yaitu tempat atau waktu terjadinya cerita.

Abrams (dalam Siswanto 2008:149) mengemukakan latar cerita adalah tempat umum (generale locale), waktu kesejarahan (historical time) dan kebiasaan masyarakat (social circumtances) dalam setiap episode atau bagianbagian tempat.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah tempat, waktu dalam cerita, dan suasana terjadinya peristiwa dalam karya sastra.Dalam penelitian ini karya sastra yang dimaksud adalah cerita rakyat. 

3) Tema dan amanat 
Tema adalah pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Secara sederhana Stanton (dalam Septiningsih, dkk. 1998:5) menyebut bahwa tema adalah arti pusat yang terdapat dalam cerita. Hakikatnya tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut, sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu (Suharianto 2005:17).

Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya (Aminudin dalam Siswanto 2008:161).

Dari uraian pendapat tentang tema di atas, dapat disimpulkan bahwa tema adalah  gagasan pokok yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya atau pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya karya sastra.

Tema suatu karya sastra dapat tersurat dan dapat pula tersirat. Jadi,tema tersebut dapat langsung diketahui tanpa penghayatan atau melalui penghayatan. Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra; pesan yang ingin  disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar (Siswanto 2008:162). Di dalam  karya sastra modern amanat ini biasanya tersirat, di dalam karya sastra lama pada umumnya amanat tersurat. Jadi, amanat merupakan gagasan yang mendasari karya sastra baik tersirat maupun tersurat dalam karya sastra. 

4) Alur atau plot 
Luxemburg (dalam Septiningsih, dkk. 1998:4) mengatakan bahwa alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan yang dialami oleh pelaku. Sedangkan menurut Suharianto (2005:18) plot yakni cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh.

Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Abrams dalam Siswanto 2008:159). Sudjiman (dalam Siswanto 2008:159) menyatakan bahwa alur adalah peristiwa yang diurutkan membangun tulang punggung cerita.
Adapun macam-macam alur terbagi atas: 
a)     Alur maju adalah jalinan peristiwa dari masa lalu ke masa kini. 
b)     Alur mundur adalah jalinan peristiwa dari masa kini ke masa lalu. 
c)      Alur campuran adalah gabungan dari alur maju dan alur mundur secara bersama-sama.

Dan secara umum alur terbagi kedalam bagian-bagian berikut: 
a) Pengenalan situasi yaitu memperkenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antar tokoh. 
b) Pengungkapan peristiwa yaitu mengungkap peristiwa yang menimbulkan berbagai masalah. 
c) Menuju adanya konflik yaitu terjadi peningkatan perhatian ataupun keterlibatan situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh. 
d) Klimaks yaitu pada bagian ini dapat ditentukan perubahan nasib beberapa tokoh. 
e) Penyelesaian yaitu sebagai akhir cerita dan berisi penjelasan tentang nasib para tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak.

Dari beberapa pendapat tentang alur di atas, dapat disimpulkan bahwa alur adalah peristiwa-peristiwa yang terjalin dengan urutan yang baik dan membentuk sebuah cerita. Dalam alur terdapat serangkaian peristiwa dari awal sampai akhir. 
 BACA JUGA :    PENGERTIAN CERITA FIKSI 
                        MANFAAT CERITA FIKSI 
#PENGERTIAN CERITA RAKYAT

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon