MANFAAT CERITA FIKSI

MANFAAT CERITA FIKSI
A. MANFAAT CERITA FIKSI
Menurut Huck etal (dalam Supriadi, 2006:4) Manfaat cerita fiksi dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu: (1) dilihat dari segi kepribadian anak (personal value) dan (2) dilihat dari nilai pendidikan (edukational value). Cerita fiksi mempunyai peranan yang sangat penting khususnya dalam peningkatan minat membaca bagi siswa. Ditinjau dari segi manfaatnya pragmatikahnya sastra anak khususnya cerita fiksi bermanfaat sebagai pendidikan dan hiburan. 

Manfaat pendidikan pada sastra memberi banyak informasi tentang sesuatu hal, memberi banyak pengetahuan, memberi kreatifitas atau keterampilan anak  dan juga memberi pendidikan moral pada anak. Manfaat hiburan sastra anak jelas memberi kesenangan, kenikmatan, dan kepuasan pada diri anak.

Selain manfaat pendidikan dan hiburan menurut  Endraswaro (2002) sastra anak khususnya cerita fiksi juga bermanfaat membentuk kepribadian dan menuntut kecerdasan emosi anak. Perkembangan emosi anak akan dibentuk melalui karya sastra yang dibacanya setelah menikmati cerita fiksi yang dibacanya itu, anak-anak secara alamiah akan terbentuk kepribadiannya menjadi penyeimbang emosi secara wajar, menanamkan konsep dari harga diri, menanamkan kemampuan yang realitas, membekali anak untuk memahami kelebihan dan kekurangan diri, dan membentuk sifat-sifat kemanusiaan pada diri si anak. Seperti ingin dihargai, ingin mendapatkan cinta kasih yang tulus, ingin menikmati keindahan dan ingin meraih kebahagiaan.

Pada dasarnya dalam karya sastra khususnya cerita fiksi terkandung masalah-masalah kesemestaan yang dapat dipelajari anak-anak dan dapat membuahkan pengalaman estetik. Bahasa imajinatif karya sastra dapat menghasilkan responsi interval dan responsi emosional. Responsi emosional dan interval akan menuntun anak–anak merasakan dan menghayati para tokoh berbagai konflik dan masalah kehidupan manusia

Sastra anak-anak akan membantu siswa memperoleh kesenangan dan kebahagiaan diri, keindahan dan kesedihan, kelucuan dan keajaiban yang pernah dialaminya. Cerita fiksi memiliki nilai personal dan nilai pendidikan yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan anak-anak. Huck (dalam Hafid 2001:30) mengatakan bahwa sastra anak-anak mempunyai nilai personal. Dengan demikian sastra anak dapat memberikan: kenikmatan dan kesenangan, memperkuat cara berpikir, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman, mengembangkan kemampuan berprilaku menjanjikan.

Adapun  sastra  cerita  fiksi  mengandung nilai pendidikan: membantu perkembangan bahasa, mengembangkan kemampuan membaca, mengembangkan kepekaan cerita dan meningkatkan kemampuan menulis. 

Cerita  fiksi dapat mempengaruhi perkembangan bahasa anak (Norton, 1988:6-30) dengan mengapresiasikan atau membaca karya sastra secara bertahap pemerolehan bahasa dan kosa kata anak akan berkembang dan akhirnya dapat meningkatkan keterampilan berbahasa anak 

B. Unsur-unsur yang Membangun Cerita Fiksi 
Supriadi (2006:59) pada hakikatnya unsur yang membangun cerita fiksi sama dengan unsur yang membangun cerita fiksi lain seperti cerpen, novel, dan dongeng lainnya. Unsur ekstrinsik adalah: (a) latar belakang pendidikan pengarang, (b) latar belakang penciptanya, (3) situasi ekonomi, politik, sosial dan budaya. Sedangkan unsur intrinsik adalah: (a) tema atau amanat, (b) alur atau plot, (c) perwatakan atau penokohan, dan (d) latar.

Keempat unsur intrinsik tersebut diuraikan sebagaiberikut :  
a) Tema atau Amanat 
Brooks dan Werren (Tarigan dalam Ridayani, 2004:8) mengemukakan, Tema adalah dasar atau makna suatu cerita atau novel. Selanjutnya dikatakan bahwa tema adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu karya fiksi. Tema tidak lain adalah suatu gagasan sentral yang menjadi dasar tujuan yang hendak dicapai oleh pengarang. Jadi dalam pengertian tema tercakup persoalan dan tujuan atau amanat pengarang kepada pembaca.

Mengetahui tema suatu cerita/novel, maka kita harus merangkum unsur-unsur lain dan sekaligus membaca secara tuntas cerita tersebut. Menurut Semi (dalam  Ridayani, 204:8) Mengetahui suatu tema dalam cerita, maka terlebih dahulu kita harus menjawab pertanyaan seperti  apakah motivasi tokoh, apa problemnya dan apa keputusannya yang diambilnya. Selain itu harus dijejaki konflik sentral. Dan konflik sentral inilah akan menjurus kepada sesuatu yang hendak dicari.

Selain pendapat di atas Zuchdi dan Budiasih (dalam Ridayani, 2004:8) berpendapat bahwa tema cerita merupakan konsep abstrak yang dimasukkan pengarang ke dalam cerita yang ditulisnya, tema mungkin berupa gagasan-gagasan misalnya kesetiakawanan, kehidupan keluarga atau kemandirian. Tema sering mendidik atau memberikan persuasi kepada pembaca tentang sesuatu.  

b) Alur atau Plot 
Semi (dalam Ridayani, 2004:9) mengatakan: alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan-urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Brooks (dalam Ridayani, 2004:9) alur adalah struktural gerak yang terdapat dalam fiksi dan drama.

Dari kedua pengertian di atas, dapat dipahami bahwa alur merupakan jalan cerita atau peristiwa suatu cerita yang kesemuanya harus terikat dalam suatu kesatuan waktu. Seperti yang telah dikemukakan terdahulu bahwa satu unsur fiksi harus bertalian dengan unsur lainnya. Demikian halnya dengan plot, sangat dipengaruhi atau dibentuk oleh banyak hal antara lain adalah karakter tokoh pikiran atau suasana hati sang tokoh, setting, waktu, dan suasana lingkungan.

Alur cerita suatu cerpen pada umumnya terdiri atas (1) bagian pembuka, yaitu situasi yang mulai terbentang sebagai suatu kondisi permulaan yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikut, (2) bagian tengah, yaitu kondisi bergerak ke arah yang mulai memuncak, (3) bagian puncak, yaitu kondisi mencapai titik puncak sebagai klimaks peristiwa, (4) bagian penutup, yaitu kondisi memuncak sebelumnya mulai menampakkan pemecahan masalah atau penyelesainnya.

Alur merupakan tulang punggung cerita sebab alur menuntun pembaca menelusuri cerita secara keseluruhan tidak ada jalan cerita yang bisa kita tinggalkan apabila kita akan mengetahui jalan cerita secara utuh. Tetapi unsur alur yang paling perlu adalah konflik dan klimaks. Sebab dalam konflik itulah tampak masalah secara utuh dan jelas secara menarik pembaca untuk mengikuti kejelasan cerita. Alur dalam cerita fiksi biasanya alur maju dan kalimatnya tidak terlalu berbelit-belit melainkan bergerak sesuai dengan kejadian. 

c) Perwatakan atau Penokohan 
Sumarjo (dalam Ridayani, 2004:10) berpendapat, karakter adalah sifat-sifat khas pelaku/tokoh yang diceritakan, bagaimana kualitas nalar, sikap, tingkah laku pribadi, jiwa, yang membedakan dengan tokoh lain dalam sebuah cerita.

Masalah perwatakan/penokohan adalah suatu hal yang kehadirannya dalam sebuah fiksi amat penting dan menentukan karena tidak mungkin ada suatu karya fiksi tanpa adanya tokoh yang diceritakan yang membetuk alur.

Tokoh dan perwatakan harus terstruktur pula. Ia memiliki fisik dan mental secara bersama membentuk totalitas pelaku yang bersangkutan. Segala tindakan dan prilaku merupakan jalinan hubungan logis, suatu hubungan yang termasuk akal walaupun relatif.

Untuk mengetahui tokoh utama atau tokoh tambahan dalam sebuah cerita, maka kita harus melihat keseringan pemunculannya dalam sebuah cerita. Selain itu dapat juga diketahui lewat petunjuk yang diberikan oleh pengarang dan juga lewat judulnya.

Tokoh dalam sebuah cerita digambarkan oleh pengarang seperti halnya manusia mempunyai watak-watak yang berbeda, ada yang baik ada pula yang jahat, sehingga dalam cerita dikenal istilah pelaku protagonis, yaitu pelaku disenangi dan pelaku antagonis yaitu pelaku yang tidak disenangi pembaca.

Dalam cerita fiksi, penggambaran penokohan tidak serumit yang di atas tetapi pengarang langsung menyebutkan karakter pelakunya misalnya, langsung disebutkan bahwa tokoh itu licik. penyabar, dungu, dan sebagainya. Demikian pula posisi tokoh sangat jelas yang memihak kepada kebaikan dan yang memihak kepada kejahatan. 

d) Latar 
Latar adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi, latar belakang fiksi, unsur dan ruang dalam suatu cerita. Dalam konteks latar segala yang berkaitan dengan tempat, waktu, musim, periode, kejadian-kejadian di sekitar peristiwa cerita semua termasuk latar.

Tarigan (dalam Ridayani, 2004:13) mengemukakan bahwa latar yang dapat dipergunakan untuk beberapa maksud atau tujuan tertentu antara lain: 
1. Latar harus mudah dikenal kembali dan juga  yang dilukiskan dengan terang dan jelas serta mudah diingat, biasanya cenderung untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan gerak serta tindakannya. 
2. Latar suatu cerita mempunyai suatu relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan arti umum. 
3. Kadang-kadang mungkin juga terjadi bahwa latar itu dapat bekerja bagi maksud-maksud yang lebih tertentu dan terarah dari   pada menciptakan suatu atmosfer yang bermanfaat dan berguna. 
ARTIKEL TERKAIT : PENGERTIAN CERITA FIKSI
 MANFAAT CERITA FIKSI

0 Response to "MANFAAT CERITA FIKSI"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close