PEDAGOGIK PENDIDIKAN

PEDAGOGIK PENDIDIKAN  
Seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik di sekolah, perlu memiliki seperangkat ilmu tentang bagaimana ia harus mendidik anak. Guru bukan hanya sekadar terampil dalam menyampaikan bahan ajar, namun disamping itu ia juga harus mampu mengembangkan pribadi anak, mengembangkan watak anak, dan mengembangkan serta mempertajam hati nurani anak. Pedagogik merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana membimbing anak, bagaimana sebaiknya pendidik berhadapan dengan anak didik, apa tugas pendidik dalam mendidik anak, apa yang menjadi tujuan mendidik anak. Pada bagian ini akan dibahas pengertian pedagogik pendidikan dalam arti khusus dan dalam arti luas. Pendidikan mengandung tiga aspek yaitu mendidik, mengajar dan melatih. 

1.Pendidikan Dalam Arti Khusus 
Pedagogik, berasal dari kata Yunani “ paedos “, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos“ artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogik secara harfiah berarti pembantu anak laki-laki pada jaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Kemudian secara kiasan adalah seorang ahli, yang membimbing anak kearah tujuan hidup tertentu. Menurut Prof. Dr. J. Hoogveled (Belanda) pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya.” Jadi pedagogik adalah ilmu mendidik anak.

Langeveld (1980) membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan, suatu pemikiran bagaimana kita membimbing dan mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak. 

Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif mengembangkan konsep-konsepnya tentang hakikat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan. Tetapi keduanya antara pedagogi dan pedagogik tidak dapat dipisahkan secara jelas, keduanya harus dilaksanakan secara berdampingan, saling memperkuat peningkatan mutu dan tujuan pendidikan.

Dalam bahasa Inggris kata yang berhubungan dengan pedagogik, yaitu pendidikan dengan menggunakan perkataan “education”.Sekarang digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut. Kata education berhubungan dengan kata Latin “educere” yang berarti mengeluarkan suatu kemampuan” (e = keluar, ducere = memimpin), jadi berarti membimbing untuk mengeluarkan suatu kemampuan yang tersimpan di dalam diri anak.

Kemudian pendidikan dapat diartikan secara khusus dan secara luas. Dalam pengertian secara khusus pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya (Langeveld). Dalam bukunya Ahmadi dan Uhbiyati (2001) mengemukan beberapa definisi pendidikan menurut para tokoh diantaranya : 
a)     Menurut John Dewey pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. 
b)     Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. 
c)      Langeveld : Mendidik adalah membimbing anak dalam mencapai kedewasaan. 
d)     Bojonegoro : Mendidik adalah memberi tuntunan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangannya sampai tercapai kedewasaan.

Jadi pendidikan dalam arti khusus hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Pendidikan dalam arti khusus ini menggambarkan upaya pendidikan yang terpusat dalam lingkungan keluarga, dalam arti tanggung jawab keluarga. Hal tersebut lebih jelas dikemukakan oleh Drijarkara (Ahmadi, Uhbiyati: 1991), bahwa : 
a)     Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, yang mana terjadi pemanusiaan anak. Dia berproses untuk memanusiakan sendiri sebagai manusia purnawan. 
b)     Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, yang mana terjadi pembudayaan anak. Dia berproses untuk akhirnya bisa membudaya sendiri sebagai manusia purnawan. 
c)      Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, yang mana terjadi pelaksanaan nilai-nilai, dengan mana dia berproses untuk akhirnya bisa melaksanakan sendiri sebagai manusia purnawan.

Menurut Drijarkara, pendidikan secara prinsip adalah berlangsung dalam lingkungan keluarga. Pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu yang merupakan figur sentral dalam pendidikan. Ayah dan ibu bertanggung jawab membantu memanusiakan, membudayakan dan menanamkan nilai-nilai terhadap anak-anaknya. Bimbingan dan bantuan ayah dan ibu tersebut akan berakhir apabila anak menjadi dewasa, menjadi manusia sempurna.

Dari uraian diatas pedagogik pembahasannya terbatas kepada anak, jadi yang menjadi objek kajian pedagogik adalah pergaulan pendidikan antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa, menurut Langeveld disebut “situasi pendidikan”. Jadi proses pendidikan menurut pedagogik berlangsung sejak anak lahir sampai anak mencapai dewasa. Pendidik dalam hal ini bisa orang tua dan/atau guru yang fungsinya sebagai pengganti orang tua, membimbing anak yang belum dewasa mengantarkannya untuk dapat hidup mandiri, agar anak dapat menjadi dirinya sendiri. 

2.     Pendidikan Dalam Arti Luas 
Pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Henderson (1959) mengemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari pengertian-pengertian pendidikan diatas ada beberapa prinsip dasar tentang pendidikan yang akan dilaksanakan : 
1) Pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia lahir dari kandungan ibunya, sampai tutup usia, sepanjang ia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. Suatu konsekuensi dari pendidikan sepanjang hayat adalah bahwa pendidikan tidak identik dengan persekolahan. Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. 
2) Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua manusia : tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan tanggung jawab pemerintah. 
3) Bagi manusia pendidikan merupakan suatu keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang, yang disebut manusia seluruhnya.

Bagi orang dewasa ilmu pendidikan yang mengkajinya disebut “andragogi” yang berasal dari bahasa Yunani “andr” dan “agogos”. Dalam bahasa Yunani “andr” berarti orang dewasa dan “agogos’ berarti memimpin atau mendidik.Knowles (1980) mendefinisikan andragogi sebagai ilmu atau seni dalam membantu warga belajar.Berbeda dengan pedagogik yang dapat diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak.

Orang dewasa, tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, melainkan dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang dikatakan telah dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa bila ia telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.

Andragogik adalah suatu model proses pembelajaran peserta didik dewasa. Untuk itu sumber belajar hendaknya mampu membantu warga belajar untuk : 
a)     Mengidentifikasi kebutuhan. 
b)     Merumuskan tujuan belajar. 
c)      Ikut serta memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajar. 
d)     Ikut serta dalam mengevaluasi kegiatan belajar. 

3.   Mendidik, Mengajar, Melatih 
Pada hakekatnya pendidikan mengandung tiga unsur yaitu mendidik, mengajar dan melatih.Ketiga istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Tetapi secara sepintas mungkin menurut orang awam dianggap sama pengertiannya. Dalam praktek sehari-hari dilapangan kita sering mendengar kata-kata seperti: pendidikan olahraga, pengajaran olahraga, latihan olahraga, pendidikan kemiliteran, pengajaran kemiliteran dan pelatihan kemiliteran.

Dalam bahasa sehari-hari kita juga sering mendengar kata-kata lain yang sering digunakan memelihara anak dan mengurus anak.Memelihara anak dapat diartikan memberi perlindungan kepada anak supaya lestari hidupnya. Perkataan demikian kadang-kadang dihubungkan dengan perkataan memelihara ayam, memelihara anjing, memelihara ternak. Oleh karena itu sebaiknya jangan dipakai kepada anak. Mendidik menurut Darji Darmodiharjo menunjukkan usaha yang lebih ditujukan kepada pengembangan budi pekerti, hati nurani, kecintaan, rasa kesusilaan, ketaqwaan dan sebagainya.

Mengajar berarti memberi pelajaran tentang ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan berpikirnya, atau disebut juga pendidikan intelektual. Intelek anak adalah kemampuan anak berpikir dalam berbagai bidang kehidupan. Pengajaran atau pendidikan intelektual marupakan bagian dari seluruh proses pendidikan, atau pengajaran mempunyai arti lebih sempit dari pendidikan.

Lebih sempit lagi perkataan latihan, seperti latihan menggambar, latihan membaca dan menulis, latihan naik sepeda, latihan menembak dan sebagainya. Latihan ialah usaha untuk memperoleh keterampilan dengan melatihkan sesuatu secara berulang-ulang, sehingga terjadi mekanisasi atau pembiasaan.

Tujuan dari ketiga jenis kegiatan itu juga berbeda. Mendidik ingin mencapai kepribadian yang terpadu, terintegrasi, yang sering dirumuskan untuk mencapai kepribadian yang dewasa. Tujuan pengajaran yang bersifat intelek anak ialah supaya anak kelak sebagai orang dewasa memiliki kemampuan berpikir seperti yang diharapkan dari orang dewasa secara ideal, yaitu mampu berpikir logis, kritis, objektif, sistematis, analitis, integratif dan inovatif.

Tujuan latihan ialah untuk memperoleh keterampilan tentang sesuatu. Keterampilan adalah sesuatu perbuatan yang berlangsung secara mekanis, yang mempermudah kehidupan sehari-hari dan dapat pula membantu proses belajar.

Jika kita perhatikan, kita temukan gejala mendidik dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak (yang belum dewasa), tetapi tidak setiap pergaulan dengan orang dewasa dan anak mengandung arti mendidik, seperti bila seorang yang sedang berusaha supaya dagangannya laku dibeli oleh anak sekolah.Bahkan pergaulan antara anak dengan orang dewasa kadang-kadang tidak membawa anak ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya ada orang dewasa yang menjual gambar-gambar porno kepada anak-anak.Pendidikan hanya ditujukan terhadap anak yang belum dewasa oleh orang yang telah mencapai kedewasaan dengan tujuan yang positif dan konstruktif, supaya anak mencapai kedewasaan.Jika tujuannya negatif dan tidak konstruktif bahkan destruktif hal itu tidak dikatakan pendidikan, tetapi disebut “demagogi”.

Tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kedewasaan, oleh Hoogveld diartikan "agar dapat melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri". Kedewasaan menurut Langeveld diartikan sebagai "kemampuan menentukan dirinya sendiri secara mandiri atas tanggungjawab sendiri".

Anak hidup dalam berbagai situasi yang mengandung segala kemungkinan; karena itu ia selalu memperoleh pengaruh oleh berbagai faktor, dari rumah, sekolah, masyarakat secara luas dan pengaruh alam sekelilingnya. Majalah, koran, atau buku-buku yang dibaca anak, film yang dilihatnya, kawan-kawan sepermainan, sawah, ladang atau laut yang mengelilinginya, semuanya berpengaruh terhadap perkembangannya. Tetapi segala pengaruh tersebut walaupun bersifat positif dan konstruktif, tidak dapat disebut pendidikan.Bila ada pendapat bahwa segala pengaruh positif disebut pendidikan, pendapat itu dapat disebut "Panpedagogisme". Pendidikan dalam ilmu mendidik, hanya kita batasi pada pengaruh yang dengan sengaja diusahakan oleh orang dewasa terhadap anak yang belum dewasa; dan pengaruh tersebut harus bersifat positif dan konstruktif. 

B.   Pentingnya Pendidikan Bagi Manusia 
Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada hakikatnya  manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya dan tidak langsung dapat berdiri sendiri, dapat memelihara dirinya sendiri. Manusia pada saat lahir sepenuhnya memerlukan bantuan orang tuanya, karena itu pendidikan merupakan bimbingan orang dewasa mutlak diperlukan manusia.Pada hakekatnya anak merupakan titipan Tuhan Yang Maha Esa kepada orang tuanya untuk mendidiknya, membesarkannya menjadi manusia dewasa yang penuh tanggung jawab, terutama tanggung jawab moral.

Pendidikan tidak saja berusaha melimpahkan segala milik kebudayaan dari generasi sepanjang masa kepada generasi muda, melainkan juga berusaha agar generasi yang akan datang dapat mengembangkan dan meningkatkan kebudayaan ketaraf yang lebih tinggi. Dengan insting yang ada pada manusia hanya merupakan modal pokok kemampuan yang permulaan, yang memungkinkan manusia mempertahankan dan mengembangkan hidupnya.

Lebih tinggi lagi cita-cita manusia sebagai individu menginginkan kehidupan ukhrawi yang baik, karena ia percaya, bahwa setelah kehidupan duniawi, masih ada kehidupan lanjut alam rokhani. Dalam rangka seluruh kegiatan pendidikan, pendidikan perlu memperhatikan segi-segi kehidupan moral, religi dan kesehatan jiwa. Kadang-kadang usaha pendidikan spiritual itu dapat hambatan atau gangguan dari munculnya nafsu dari instingnya primitif. Oleh karena itu pendidikan membantu seorang individu dapat mengatasi segala permasalahan hidup, mengatasi jenis konflik kejiwaan, meningkatkan kemampuan individu menyesuaikan diri dengan lingkungan serta dengan segala jenis masalah kesulitan dan perubahan nilai-nilai.

Manusia tidak saja hidup sebagai individu yang mempunyai kebebasan dan hak-haknya sebagai individu, namun manusia hidup pula dalam ikatan kerja sama dengan sesama manusia yang disebut kehidupan bermasyarakat. Pendidikan dalam prakteknya berbentuk pergaulan antara pendidik dan anak didik, namun tentu suatu pergaulan yang tertuju kepada tujuan pendidikan yaitu manusia mandiri, memahami nilai, norma-norma susila dan sekaligus mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma tersebut. Proses mempengaruhi adalah proses psiko social yang berlangsung antara individu yang satu dengan individu yang lain karena manusia adalah makhluk sosial.

Menurut Jan Ligthart pendidikan itu didasari oleh kasih sayang yang merupakan sumber  bagi dua syarat yang lain yaitu kesabaran dan kebijaksanaan. Sikap kesabaran sangat diperlukan untuk menghadapi anak karena sikap tidak sabar atau lekas marah tidak akan menggairahkan kejiwaan anak. Lagi pula hasil pendidikan kita tidak dapat dengan segera kita saksikan dalam satu dua tahun.Hasil pendidikan, baru dapat kita nilai bila anak telah mencapai kedewasaannya.

Mendidik sebagai proses terdapat dalam pergaulan antara pendidik dan anak didik. Kedua individu terlibat dalam suatu hubungan sosial yang dinamis dan sifatnya dipengaruhi dan mempengaruhi secara timbal baik dan saling  mengikat. Hasil pendidikan bukan saja bergantung kepada pendidik, melainkan juga bergantung kepada kondisi dan situasi anak didik sendiri. Bila anak didik tidak mengadakan respons atau reaksi yang positif, aktif dan komunikatif serta kooperatif, usaha pendidik tidak akan banyak hasilnya. Jika sebaliknya maka pendidik juga dapat bereaksi negatif. Tetapi bila anak mengadakan reaksi, sangat bergantung kepada sikap pendidiknya.

Dari pemaparan diatas, dikatakan bahwa proses pendidikan terjadi dalam pergaulan antara pendidik dan anak didik, yang melibatkan kedua pihak dalam suatu proses dinamika social-psikologi secara timbal balik. Dalam kegiatan keterlibatan antara pendidik dan anak didik sebagai proses pendidikan, terdapat suatu sistem saling mengikat, untuk mencapai suatu tujuan, yang sering dirumuskan sebagai pencapaian kedewasaan pada anak didik 

C.  Ilmu Pendidikan Sebagai Teori 
Teori pendidikan pada hakikatnya sangat penting karena pendidikan merupakan suatu kegiatan yang hanya dapat dilakukan oleh manusia, memiliki lapangan yang sangat luas. Pendidikan sebagai suatu kegiatan manusia, dapat kita amati sebagai suatu praktek dalam kehidupannya, seperti halnya dengan kegiatan manusia yang lain misalnya kegiatan dalam ekonomi, kegiatan dalam hukum, beragama dan sebagainya. Disamping itupula kita dapat mengkaji pendidikan secara akademik, baik secara empirik (pengalaman), yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikannya, maupun dengan renungan-renungan, yang mencoba melihat makna pendidikan dalam suatu lingkup yang lebih luas. Hal yang pertama dapat disebut praktek pendidikan, sedangkan yang kedua disebut teori pendidikan.

Antara teori dan praktek pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena memiliki hubungan komplementer (saling melengkapi), saling mengisi satu sama lainnya. Seperti misalnya pelaksanaan pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, sehingga dapat dijadikan sumber dalam menyusun teori pendidikan.Begitu sebaliknya suatu teori pendidikan sangat bermanfaat sebagai suatu pedoman dalam melaksanakan praktek pendidikan.

Dalam prakteknya, memang ada orang yang tidak mengetahui atau mempelajari suatu teori pendidikan, namun ia berhasil membimbing anak-anaknya. Sebaliknya juga dapat terjadi, seorang ahli teori pendidikan belum dapat dijamin bahwa ia akan menjadi pendidik yang baik, belum dapat dijamin ia akan berhasil mendidik anaknya sendiri. Namun dari kasus diatas, jangan dijadikan alasan bahwa tidak perlu atau tidak ada manfaatnya apabila kita mempelajari teori pendidikan.Dalam hal ini J.H Gunning (Belanda) pernah mengemukakan bahwa “teori tanpa praktek merupakan perbuatan yang amat istimewa (genius), sebaliknya praktek tanpa teori bagi orang gila dan penjahat. Namun menurut Gunning bagi kebanyakan pendidik perlu paduan mesra dari keduanya (teori dan praktek).

Teori pendidikan (dalam hal ini pedagogik), perlu dipelajari secara akademik (secara ilmiah di Perguruan Tinggi), khususnya di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pendidik baik di sekolah maupun di luar sekolah. Sebab kalau tidak dibekali  teori pendidikan, jangan sampai terjerumus seperti yang dikemukakan oleh Gunning.

Ilmu pendidikan sebagai teori perlu dipelajari, karena akan memberikan beberapa manfaat : 
a. Dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui arah serta tujuan mana yang akan dicapai. 
b. Untuk menghindari atau sekurang-kurangnya mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktek, karena dengan memahami teori pendidikan, seseorang akan mengetahui mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, walaupun teori tersebut bukan suatu resep yang jitu. 
c. Dapat dijadikan sebagai tolak ukur, sampai  dimana seseorang telah berhasil melaksanakan tugas dalam pendidikan.

Melaksanakan pendidikan merupakan tugas moril yang tidak ringan. Ini berarti bahwa membuat kesalahan dalam mendidik anak, walaupun tidak disengaja, dan walaupun kecil, tidak dapat kita anggap sepeleh. Itikad baik pendidik dalam menunaikan tugasnya selalu berusaha untuk mengurangi kesalahan-kesalahan atau membatasi kesalahan-kesalahan seminimal mungkin.

Pada umumnya kesalahan-kesalahan teknis dalam mendidik dengan akibat-akibat yang merugikan, tidak sukar dibetulkan atau dikoreksi. Bentuk kesalahan mendidik yang kedua, ialah kesalahan yang bersumber pada kepribadian pendidik sendiri, kesalahan ini tidak mudah dibetulkan, karena mengoreksi struktur kepribadian seseorang tidaklah mudah dan untuk memperbaiki kepribadian dan prilakunya memerlukan kesediaan dan kerelaan yang bersangkutan serta memakan waktu yang lama.

Kesalahan mendidik yang ketiga ialah kesalahan konseptual, yaitu dalam menjalankan proses pendidikan, pendidik kurang menyadari bahwa kesalahannya dapat mempunyai akibat yang mendalam pada anak didik. Sebagai contohnya pada umumnya orang tua kurang menyadari, bahwa lima tahun yang pertama dalam kehidupan anak, merupakan dasar bagi perkembangan kejiwaan dan nasib kehidupan selanjutnya, banyak orang tua mengira bahwa proses mendidik itu harus dilakukan dengan banyak memberi nasihat dan sebagainya. Dalam mempelajari teori pendidikan yaitu teori tentang membimbing dan memperbaiki anak didik adalah cara yang paling praktis. 

D. Pendidikan Dalam Ruang Lingkup Mikro dan Makro 
Pendidikan dalam ruang lingkup mikro artinya mengkaji pendidikan yang dilaksanakan dalam skala kecil, dan pendidikan dalam ruang lingkup makro, mengkaji pendidikan yang dilaksanakan dalam skala besar. Pendidikan yang dilakukan secara nasional dengan segala perangkat aturannya seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan mencakup pendidikan sekolah dan luar sekolah, berlangsung seumur hidup, hal tersebut melakukan tinjauan pendidikan secara makro (besar).

Disamping kita mengkaji pendidikan dalam skala luas, kita bias mempelajari pendidikan dalam skala kecil, misalnya pendidikan dalam keluarga saja, pendidikan di sekolah saja, hal tersebut merupakan suatu kajian pendidikan dalam skala mikro (kecil).
Pengelompokkan kajian pendidikan secara mikro dan makro tersebut dapat dilihat dari dua segi, yaitu : 1) Manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat  dan 2) Tanggung jawab pendidikan. 
1. Manusia Sebagai Individu dan Sebagai Anggota Masyarakat
Manusia sebagai individu pada hakikatnya hidup bersama-sama di masyarakat, hidup bersama dengan orang banyak diluar dirinya. Antara individu dan masyarakat bagi seorang manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain, Havigurst mengatakan bahwa manusia tidak akan menjadi manusia kalau ia tidak hidup bersama dengan dan dalam masyarakat. Pendidikan individual termsuk ke dalam ruang lingkup mikro. Hal ini terutama terjadi dalam lingkungan keluarga

Pendidikan kelompok yakni pendidikan yang dilaksanakan dalam kelompok misalnya pendidikan di sekolah, pendidikan pramuka, dan sebagainya.Dalam bentuk makro, seperti telah dikemukan di atas dapt dijumpai di lingkungan sekolah.

Alasan mengapa sampai menyelenggarakan pendidikan sekolah atau yang disebut pendidikan formal, baik pemerintah maupun swasta ini disebabkan karena : 
1) Orang tua yang kurang mampu memberikan pendidikan lanjutan setelah pendidikan di keluarga. 
2) Pendidikan sekolah relative lebih mahal dibandingkan dengan pendidikan keluarga, karena dalam pelaksanaannya menggunakan tenaga ahli beserta alat-alat pendidikannya. 
3) Sudah waktunya anak-anak yang tergolong dalam kelompok umur sekolah yang diberikan pendidikan dalam kelompok, karena anak tersebut sudah mulai belajar hidup bermasyarakat. 
4) Belajar dalam kelompok berbagai ilmu dan menyelesaikan tugas lebih jauh efisien dari pada belajar individual.

Pendidikan sekolah sebagai suatu sistem merupakan suatu investasi jangka panjang untuk mengembangkan sumber daya manusia serta menyiapkan barisan bekerja yang dibutuhkan untuk menempati berbagai jabatan dan fungsi dalam masyarakat yang akan dating. Hal itu sangat erat hubungannya dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja bangsa Indonesia sehingga Indonesia akan dapat menaikan pendapatan pertahun kapita. 

DAFTAR PUSTAKA
Priyatno, 2009.Dasar teori dan praktis pendidikan. Padang. Grasindo
Sadulloh, Uyoh. 2004. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta
Tim Pengembang Ilmu pendidikan. 2007. Ilmu dan aplikasi pendidikan. Bandung. IMTIMA

0 Response to "PEDAGOGIK PENDIDIKAN"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close