Tuesday, 5 April 2016

SIKAP SOSIAL



1.       Pengertian Sikap
            Masalah sikap adalah masalah yang urgen dalam bidang psikologi sosial . Azwar (dalam Anas Muhammad : 2007) mengemukakan pendapat ahli mengenai pengertian tentang sikap, di antaranya yaitu: thurstone berpandangan bahwa sikap merupakan suatu hal pada tindakan afektif, baik itu bersifat positif maupun bersifat negatif dalam hubungannya dengan obyek-obyek psikologi. Kimball young (dalam Anas Muhammad : 2007), menyatakan bahwa sikap merupaka suatu predisposisi mental untuk melakukan suatu tindakan.sementara itu fithein dan ajzen, menyebutkan bahwa sikap sebagai predisposisi yan dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam cara tertentu dan berkenaan dengan obyek tertentu.
           BACA JUGA : PERKEMBANGAN SOSIOEMOSIONAL ANAK

            Sherif & sherif (dalam Anas Muhammad : 2007) , mengemukakan bahwa sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku  seoramg dalam hubungan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbutan atau tingkah laku.
            Memperhatikan beberapa pengertian yang dikemukakan beberapa ahli tersebut dapat ditemukan unsur yang hampir sama pada sikap, yaitu: sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap ransangan. Oleh karena itu manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup
a.        Komponen sikap
            Pada hakikatnya sikap adalah suatu interaksi dari berbagai komponen, dimana komponen tersebut menurut alport (Anas Muhammad : 2007) ada tiga yaitu: komponen kognitf, afekti dan konatif.
1)    Komponen kognitif
Kognitif yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang objek sikapnya. Dari pengetahuan itu kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut
2)    Komponen afektif
Afektif yaitu yang berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatuf yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimiliki.
3)    Komponen konatif.
Konatif, yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya.
            Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa sikap seseorang pada suatu objek sikap merupakan merupakan manifestasi dari konstelasi ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk saling memahami merasakan dan berpelrilaku terhadap objek sikap. Ketiga komponen itu saling berinterelasi dan konsisten satu dengan lain. Jadi, terdapat penorganisasian secara internal di antara ketiga komponen tersebut.
            Selain pendapat tersebut, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa sikap melibatkan satu komponen yaitu komponen yaitu komponen afek seperti yang dikemukakan thurstone. Komponen afek atau perasaan tersebut memiliki dua sifat, posistif dan negatif. Individu yang mempunyai perasaan positif terhadap suatu objek psiklogis dikatakan menyukai objek tersebut atau mempunyai sikap yang faravorable terhadap objek psikologis. Sebaliknya, jika mempunyai perasaan negatif dikatakan mempunyai sikap yang unfaporable terhadap objek tersebut. Pada sikap yang positif, reaksi seseorang cenderung untuk mendekati atau menyenangi obyek tersebut, sedangkan pada sikap yang negatif, orang cenderung untuk menjauhi atau menghindari objek tersebut.
b.       Karakteristik sikap
Menurut Brigham (Dalam Anas Muhammad : 2007) ada beberapa ciri sifat (Karakter)  dasar dari sikap, yaitu :
1)    Sikap disimpulkan dari cara-cara individu betingkah laku
2)    Sikap ditunjukan mengarah kepada objek psikologis atau kategori, dalam hal ini skema yang dimilikiorang membimbing mereka bagaimana mengkategorisasikan targt obyek dimana sikap diarahkan
3)    Sikap itu dipelajari (hasil belajar)
4)    Sikap itu mempengaruhi perilaku. Dimilikinya suatu sikap yang mengarah pada suatu objek memberikan satu alasan untuk berperilaku mengarah pada objek tersebut dengan suatu cara tertentu.
c.        Fungsi sikap
Menurut Katz (dalam Anas Muhammad : 2007) ada empat fungsi sikap yaitu:
1)     Utilitarian function. Sikap memungkinkan seseorang untuk memperoleh atau memakasimalkan ganjaran (reward) atau persetujuan dan meminimalkan hukuman. Dengan kata lain, sikap dapat berfungsi sebagai penyesuaian sosial, misalnya seseorang dapat memperbaiki ekspresi dari sikapnya terhadap sesuatu obyek tertentu untuk mendapatkan persetujuan atau dukungan.
2)     Knowledge function. Sikap membantu dalam memahami lingkungan         (sebagai skema) dengan melengkapi ringkasan evaluasi tentang obyek dan kelompok atau segala sesuatu yang dipunyai di dunia ini.
3)     Value-expressive function. Sikap kadang-kadang mengkomunikasikan nilai dan identitas yang dimiliki seseorang terhadap orang lain.
4)     Ego devensive function. Sikap melindungi diri, menutupi kesalahan, agresi dan sebagainya dalam rangka mempertahankan diri. Sikap ini mencerminkan kepribadian individu yang bersangkutan dan masalah-masalah yang belum mendapatkan penyelesaian secara tuntas, sehingga individu berusaha mempertahankan dirinya secara tidak wajar karena dia merasa takut kehilangan statusnya.
d.       Pembentukan dan perubahan sikap
            Pada dasarnya sikap bukan merupakan suatu pembawaan, melainkan sebagai hasil interaksi secara individu dengan lingkungan sehingga sikap bersifat dinamis. Faktor pengalaman besar peranannya dalam pembentukan sikap.
            Sikap juga dapat dinyatakan sebagai hasil belajar, karenanya sikap dapat mengalami perubahan, sesuai dengan yang dinyatakan Sherif (dalam Anas Muhammad : 2007) sikap dapat berubah karena kondisi dan pengaruh yang diberikan. Sebagai hasil belajar dari sikap senantisa akan berlangsung dalam interaksi manusia berkenaan dengan obyek tertentu.
            Lebih tegas menurut Bimo Walgito (dalam Anas Muhammad : 2007) bahwa pembentukan dan perubahan sikap ditentukan oleh dua faktor, yaitu:
1)    Faktor internal (individu itu sendiri) yaitu secara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan efektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima dan ditolak.
2)    Faktor eksternal, yaitu keadaan-keadaan yang ada di luar individu yang merupakan stimulus untuk membentuk atau merubah sikap.
         BACA JUGA: PERAN SOSIAL GURU


Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon