Thursday, 7 April 2016

PENGERTIAN PENILAIAN AUTENTIK

 PENGERTIAN PENILAIAN AUTENTIK 
 
Asesmen didefinisikan sebagai proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui pengukuran untuk menganalisis atau menjelaskan unjuk kerja/kinerja atau prestasi peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas terkait (Hart, dalam Muslich, 2011:2). Dengan demikian, berbeda dengan istilah evaluasi (evaluation) yang kita pahami selama ini, yaitu proses pemberian penafsiran dan keputusan atas suatu informasi. Selanjutnya, asesmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa atau mahasiswa (Salam dan Hamzah Upu, 2005:1). Gambaran perkembangan belajar peserta didik perlu diketahui oleh guru atau dosen agar mereka bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan baik dan benar. Oleh karena itu, asesmen tidak dilakukan pada akhir periode melainkan dilakukan bersama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.

Karena asesmen menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan oleh siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Sejalan dengan berbagai pendapat yang telah dikemukakan di atas maka (Surapranata. S & Hatta. M, 2006:3) berpendapat bahwa penilaian merupakan proses menyimpulkan dan menafsirkan fakta-fakta dan membuat pertimbangan dasar yang profesional untuk mengambil kebijakan pada sekumpulan informasi, yaitu informasi tentang peserta didik.

Program belajar peserta didik dapat dinilai dengan melihat perkembangan hasil pribadi dan prestasi peserta didik dan sekaligus dapat dibandingkan peserta didik lain dalam kelompoknya. Oleh karena itu, asesmen berfungsi membantu guru untuk merencanakan kurikulum dan pengajaran di dalam program belajar mengajar, maka kegiatan asesmen membutuhkan informasi bervariasi dari setiap individu atau kelompok peserta didik serta guru. Sehingga, suatu asesmen dinyatakan autentik bilamana asesmen itu melibatkan peserta didik pada tugas-tugas yang bermanfaat, penting, serta bermakna (Hart, dalam Widodo, 2009:67). Lebih lanjut (Johnson, 2002) menyatakan bahwa asesmen autentik mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan ilmiah pada suatu konteks riil untuk suatu maksud yang jelas.

Sejalan dengan pendapat di atas Grant (1990) dalam Widodo (2009:68) mengemukakan bahwa suatu asesmen dikatakan autentik jika asesmen itu memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau prestasi peserta didik berkaitan tugas intelektual yang layak. Jadi, penilaian autentik (authentic assessment) sebenarnya adalah suatu istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian. Menurut (Nurhadi dalam Sudirman, 2010:10) penilaian autentik (authentik assessment) adalah penilaian yang sebenarnya melalui proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar.

Dengan demikiaan, suatu asesmen dikatakan “autentik” apabila:
1.  Sasaran penilaiannya mengarah kepada kompetensi yang ingin dicapai;
2. Penilaian yang melibatkan peserta didik pada tugas-tugas atau kegiatan yang bermanfaat, penting, dan bermakna;
3. Penlaian yang mampu menantang peserta didik menerapkan informasi/keterampilan akademik pada situasi nyata dan untuk maksud yang jelas;
4. Penilaian yang mampu mengukur perbuatan atau penampilan yang sebenarnya atas kompetensi pada suatu mata pelajaran;
5. Penilaian yang mampu mengukur penguasaan peserta didik terhadap kompetensi mata pelajaran tertentu dengan cara yang akurat;
6. Penilaian yang menguji atau memeriksa kemampuan kolektif peserta didik dalam rangka mengevaluasi secara tepat apa yang telah dipelajarinya;
7. Penilaian yang menguji atau memeriksa secara langsung perbuatan/ perstasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak; dan
8. Penilaian yang melibatkan peserta didik untuk mendemostrasikan apa yang mereka katahui dalam suatu konteks kehidupan nyata

A. Implementasi (penilaian autentik) dalam pembelajaran
1. Penilaian Kinerja 
Danielson (1997:1) mendefinisikan penilaian unjuk kerja sebagai berikut: 
“Performance assessment means any assessment of student learning that requires the evaluation of student writing, products, or behavior. That is, it includes all assessment with the exeption of multiple choice, matching, true/false testing, or problems with a single correct answer.” Penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar siswa yang meliputi semua penilaian dalam bentuk tulisan, produk, atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat.

Penilaian unjuk kerja memiliki kelebihan yang dapat mengungkap potensi siswa dalam memecahkan masalah, penalaran, dan komunikasi dalam bentuk tulisan maupun lisan.  Marhaeni (2008:12) mengklasifikasikan bahwa terdapat tiga komponen utama dalam asesmen kinerja, yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance rubrics), dan cara penilaian (scoring guide). Tugas kinerja adalah suatu tugas yang berisi topik, standar tugas, deskripsi tugas, dan kondisi penyelesaian tugas. Rubrik performansi merupakan suatu rubrik yang berisi komponen-komponen suatu performansi ideal, dan deskriptor dari setiap komponen tersebut. Cara penilaian kinerja ada tiga, yaitu (1) holistic scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan impresi penilai secara umum terhadap kualitas performansi; (2) analytic scoring, yaitu pemberian skor terhadap aspek-aspek yang berkontribusi terhadap suatu performansi; dan (3) primary traits scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan beberapa unsur dominan dari suatu performansi.
2.Penilaian Diri 
Asesmen diri merupakan suatu model yang menghubungkan antara hakikat penilaian diri dengan hasil belajar siswa. Apabila siswa merancang sendiri tujuan kemampuannya, maka ia memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan kemampuannya. Bila asesmen dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran, maka fokus berpindah dari memberi tes menjadi membantu siswa memahami tujuan pengalaman belajar dan kriteria keberhasilan. Oleh karena itu dalam penilaian diri terdapat tiga proses regulasi diri, yaitu:

1.Siswa melakukan observasi sendiri yang berfokus pada aspek kinerja yang relevan dengan tujuan dan standar keberhasilan
2. Siswa mempertimbangkan sendiri dan menentukan tujuan khusus dan umum yang akan dicapai
3. Siswa melakukan reaksi diri, menafsirkan tingkat pencapaian tujuan, dan menghayati keberhasilan/kemajuan sebagai bahan refleksi diri.

Salvia dan Ysseldike dalam Marhaeni (2008:19)  berpendapat bahwa: “Refleksi dan asesmen diri merupakan cara untuk menumbuhkan rasa kepemilikan (ownership), yaitu timbul suatu pemahaman bahwa apa yang dilakukan dan dihasilkan peserta didik tersebut memang merupakan hal yang berguna bagi diri dan kehidupannya.” Jadi, penilaian diri merupakan suatu metode penilaian yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil tanggung jawab terhadap belajar mereka sendiri. Mereka diberi kesempatan untuk menilai pekerjaan dan kemampuan mereka sesuai dengan pengalaman yang mereka rasakan.

Hal ini sejalan dengan pendapat Reys, Suydam, Linguist, & Smith (1989) mengatakan bahwa: “Siswa merupakan penilai yang baik (the best assessor) terhadap perasaan dan pekerjaan mereka sendiri. Oleh karena itu, guru dapat memulai proses penilaian diri dengan memberi kesempatan siswa untuk melakukan validasi pemikiran mereka sendiri atau jawaban-jawaban hasil pekerjaan mereka.” Siswa perlu memeriksa pekerjaan mereka dan memikirkan tentang apa yang terbaik untuk dilakukan dan area mana mereka perlu dibantu. Untuk menuntun siswa dalam memahami proses penilaian diri, guru perlu melengkapi mereka dengan lembaran self-assessment.
3. Penilaian Esai 
Asesmen esai menghendaki peserta didik untuk mengorganisasikan, merumuskan, dan mengemukakan sendiri jawabannya. Ini berarti peserta didik tidak memilih jawaban, akan tetapi memberikan jawaban dengan kata-katanya sendiri secara bebas. Esai terbuka/tak terstruktur merupakan bentuk asesmen autentik. Kelemahan asesmen esai adalah berkaitan dengan penskoran. Ketidakkonsistenan pembaca merupakan penyebab kurang objektifnya dalam memberikan skor dan terbatasnya reliabilitas tes. Namun hal ini dapat diminalkan melalui penggunaan rubrik penilaian, dan penilai ganda (inter-rater) (Muslich, 2011:73). Berikut disajikan contoh pedoman penilaian/rubrik untuk setiap tugas/soal esai (disebut dengan benchmark).

Kriteria Penilaian
Deskriptor
Skor (1-10)
Bobot
1.
Kualitas argumentasi
Mengambil posisi secara jelas, argumentasi rasional, menggunakan fakta pendukung secara proporsional

5
2.
Keruntutan ide (koherensi)
Pengungkapan secara logis, hubungan antar fakta dan konsep dibangun terangkai dengan baik, menggunakan ungkapan penyambung dan transisi secara tepat

3
3.
Penggunaan bahasa
Lugas, mudah dimengerti, kalimat-kalimat gramatikal, kaya, dan variatif

2
Sumber: Marhaeni (2008:30)

4.Penilaian Portofolio
Portofolio adalah sekumpulan artefak (bukti karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian suatu program. Wyatt & Looper (2002) dalam Muslich (2011:74) menyebutkan, berdasarkan tujuannya sebuah portofolio dapat berupa developmental portfolio, bestwork portfolio, dan showcase portfolio. Developmental portfolio disusun demikian rupa sesuai dengan langkah-langkah kronologis perkembangan yang terjadi. Oleh karena itu, pencatatan mengenai kapan suatu artefak dihasilkan menjadi sangat penting, sehingga perkembangan program tersebut dapat dilihat dengan jelas. Bestwork portfolio adalah portofolio karya terbaik. Karya terbaik diseleksi sendiri oleh pemilik portofolio dan diberikan alasannya. Karya terbaika dapat lebih dari satu. Showcase portfolio adalah portofolio yang lebih digunakan untuk tujuan pajangan, sebagai hasil dari suatu kinerja tertentu.

Asesmen portofolio adalah suatu pendekatan asesmen yang komprehensif karena:
1. Dapat mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara bersama-sama,
2. Berorientasi baik pada proses maupun produk belajar, dan
3. Dapat memfasilitasi kepentingan dan kemajuan peserta didik secara individual.
Asesmen portofolio mengandung tiga elemen pokok, yaitu: (1) sampel karya peserta didik, (2) evaluasi diri, dan (3) kriteria penilaian yang jelas dan terbuka.
1. Karya peserta didik menunjukkan perkembangan belajarnya dari waktu ke waktu. Sampel tersebut dapat berupa tulisan/karangan, audio atau video, laporan, problem matematika, maupun eksperimen. Isi dari sampel tersebut disusun secara sistematis tergantung pada tujuan pembelajaran, preferensi pengajar, maupun preferensi peserta didik.
2. Evaluasi diri dalam asesmen portofolio, O’malley & Valdez Pierce (1994) dalam Muslich (2011:75) mengatakan bahwa ‘self-assessment is the key to portfolio’. Hal ini disebabkan karena melalui evaluasi diri peserta didik dapat membangun pengetahuannya serta merencanakan dan memantau perkembangannya apakah rute yang ditempuhnya telah sesuai. Melalui evaluasi diri peserta didik dapat melihat kelebihan maupun kekurangannya, untuk selanjutnya kekurangan ini menjadi tujuan perbaikan (improvement goal). Dengan demikian peserta didik lebih bertanggung jawab terhadap proses belajarnya dan pencapaian tujuan belajarnya.
3. Kriteria penilaian yang jelas dan terbuka, bila pada jenis-jenis asesmen konvensional kriteria penilaian menjadi ‘rahasia’ pengajar atau tester, dalam asesmen portofolio justru harus disosialisasikan kepada peserta didik secara jelas. Kriteria tersebut dalam hal ini mencakup prosedur dan standar penilaian.


5. Penilaian Projek 
Projek, atau seringkali disebut pendekatan projek (project approach) adalah investigasi mendalam mengenai suatu topik nyata. Dalam projek, siswa mendapat kesempatan mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya. Pelaksanaan projek dapat dianalogikan dengan sebuah cerita, yaitu memiliki fase awal, pertengahan, dan akhir projek. Asesmen projek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan dari siswa pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Dalam penilaian projek setidaknya ada (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

1. Kemampuan pengelolaan, kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
2. Relevansi, kesesuaian dengan mata pelajaran dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran
3. Keaslian, projek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap projek peserta didik.

Untuk melakukan asesmen-asesmen autentik di atas, dapat dilakukan dengan berbagai teknik dan instrumen. Yang penting, teknik dan instrumen tersebut dapat menampilkan autentisitas pembelajaran dan hasil belajar siswa


B. Manfaat Penerapan Penilaian Autentik (Authentic Assessment) terhadap Peningkatan Kualitas Pembelajaran 
Dalam proses pembelajaran banyak siswa yang lemah dalam kompetensi yang dibutuhkan. Banyak yang hanya terfokus pada nilai ujian saja, tidak memiliki ability maupun skill. Hal ini disebabkan karena selama ini fokus perhatian dari semua ujian hanya melihat kemampuan siswa dalam mengerjakan tes pada waktu itu saja. Sehingga hal ini tentu mengurangi makna pengajaran dan pembelajaran. Sementara itu instrumen yang digunakan dalam penyelenggaraan UAN hanya berupa tes pilihan ganda (multiple choice). Sedangkan tipe tes tersebut tidak dapat digunakan untuk melihat kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa secara menyeluruh.

Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan penilaian autentik. Penerapan penilaian autentik akan memberikan banyak manfaat dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Di antaranya, penilaian autentik dapat membantu siswa menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut Johnson (2002) dalam Sudirman (2010:25), penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar mengajar. Selain itu, penilaian autentik dapat mempermudah cara mengakses bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa belajar. Dalam konteks ini, diharapkan penilaian autentik dapat digunakan bukan saja untuk memperbaiki pendidikan, tetapi juga bermanfaat bagi siswa, guru, dan keluarga.

Oleh karena itu, dengan adanya penilaian autentik siswa dapat menjadi partisipan aktif dalam aktifitas penilaian, mengingat instrumen yang digunakan tidak terbatas pada tes saja yang mungkin kerap memberikan tekanan tertentu kepada siswa secara psikologis dan merasa cemas terhadap hasil tes yang dapat menurunkan atau meningkatkan penghargaan terhadap diri mereka. Sehingga secara tidak langsung penilaian autentik dapat meningkatkan kompetensi siswa. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis bermaksud akan mengembangkan alat penilaian autentik yang secara spesifik dalam penelitian ini terdiri atas tiga penilaian alternatif, yaitu: (1) Penilaian Kinerja (Performance Assessment), (2) Penilaian Portofolio (Portfolio Assessment), dan (3) Penilaian Diri (Self Assessment).

Artikel: #PENGERTIANPENILAIANAUTENTIK

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon