Wednesday, 25 April 2018

Cara Prosedur Melaporkan Kepala Sekolah dan Guru Bermasalah di Situs Resmi Kemendikbud Secara Online

Cara Prosedur Melaporkan Kepala Sekolah dan Guru Bermasalah di Situs Resmi Kemendikbud Secara Online_ Dalam artikel ini saya ingin berbagi tips, cara mengajukan pengaduan baik secara manual maupun secara online kepihak kemendikbud, pengaduan tersebut bisa berkaitan seputar pendidikan dan tenaga kependidikan.

Bukan hal yang tidak lazim lagi jika berbicara tentang tendik (tenaga pendidik) baik itu guru maupun kepala sekolah, tak lepas dari berbagai problematika dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Namun tidak berarti semua guru maupun kepala sekolah bermasalah/tidak maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, namun tidak dapat dipungkiri pula bahwasanya masih ada sebagian kecil guru dan kepala sekolah yang mesti diperingatkan, ditegasi, diadukan pada pihak yang terkait agar kinerja dan performancenya bisa lebih proporsional.

Lantas bagaimana melaporkan atau mengadukan guru dan kepala sekolah yang bermasalah kepihak kemendikbud? berikut prosedurnya yang sengaja penulis posting untuk anda.

Cara Prosedur Melaporkan Kepala Sekolah dan Guru Bermasalah di Situs Resmi Kemendikbud Secara Online

1. Layanan pengaduan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dikelola secara terpadu pada Unit Layanan Terpadu (ULT) Gedung C Lt.1, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, di bawah koodinasi Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat.

2. Laporan pengaduan ke ULT Kemdikbud, dapat disampaikan secara langsung datang ke ULT maupun tidak langsung melalui telepon, SMS, email, surat, faks, dan laman. Adapun formulir

3. Laporan pengaduan dapat diunduh melalui laman informasi dan pengaduan atau email ke pengaduan@kemdikbud.go.id

4. Untuk pelapor pengaduan yang datang ke ULT harus mendaftarkan diri kepada petugas yang memberikan nomor antrian.

5. Petugas ULT memberikan nomor antrian dan formulir data pengunjung untuk di isi dan mengarahkan untuk menuju tempat duduk tunggu yang sudah ditentukan sesuai dengan loket layanan yang diminta.

6. Petugas loket memanggil nomor urut antrian pengunjung sesuai dengan layanan yang diminta sebanyak tiga kali dan jika tidak datang akan dilanjutkan pemanggilan ke nomor berikutnya dan akan dipanggil kembali setelah yang bersangkutan melapor ke petugas loket dengan meloncat tiga nomor antrian. Apabila terjadi alat komunikasi elektronik tidak berfungsi maka petugas ULT memanggil pemohon secara manual.

7. Pengunjung menuju loket layanan dan menyerahkan nomor antrian dan formulir data pengunjung yang sudah di isi lengkap.

8. Pelapor harus menyampaikan laporan secara tertulis yang menyebutkan:
Identitas diri pelapor yang sah dan masih berlaku (KTP/SIM);
Tempat dan waktu kejadian pelanggaran;
Bentuk pelanggaran yang terjadi;
Identitas pelaku pelanggaran;
Bukti fisik pelanggaran;

9. Laporan atau pengaduan tersebut ditelaah dan diklasifikasikan oleh petugas melalui tahapan sebagai berikut:
Identifikasi masalah;
Pemeriksaan substansi pengaduan;
Klarifikasi;
Evaluasi bukti; dan
Seleksi.

10. Laporan atau pengaduan yang telah memenuhi persyaratan, akan ditindaklanjuti ke unit kerja terkait sesuai dengan jenis laporan dan pengaduannya.

11. Unit kerja akan memproses dan melakukan investigasi lebih lanjut atas laporan dan pengaduan tersebut.

12. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik, jangka waktu penyelesaian pengaduan paling lambat 60 hari sejak berkas pengaduan dinyatakan lengkap.

13. Identitas pelapor atau pengadu dijamin kerahasiaannya sesuai ketentuan perundang-undangan.

14. Pelapor atau pengadu tidak di pungut biaya, namun jika ada dokumen yang harus di foto copy dan penggandaan CD dibebankan kepada pelapor atau pengadu.

Cara Melakukan pengaduan Secara Online disitus Resmi Kemendikbud
First step untuk mengajukan pengaduan dusitus resmi kemendikbud, silahkan buka link berikut: http://ult.kemdikbud.go.id/publik/form/pengaduan, setelah anda mengklik link tersebut maka akan muncul gambar seperti di bawah ini;

Cara Prosedur Melaporkan Kepala Sekolah dan Guru Bermasalah di Situs Resmi Kemendikbud Secara Online


Isi semua kolom di atas dengan benar, kemudian pada kolom deskripsi laporan kejadian, anda bisa menulis hal-hal apa saja yang ingin anda adukan.


Upload document, pdf, foto/jpg yang bisa menjadi bukti yang menguatkan pengaduan anda, setelah seluruh kolom sudah anda isi serta dokumen pelengkapnya. Selanjutnya isi jawaban dari pertanyaan keamanan pada bagian bawah kolom.

Jika semua sudah clear maka klik kolom I'm not robot. setelah itu klik meni kirim.

Catatan:
Setelah dikirim maka :

1. Kami akan mengirim email konfirmasi secara otomatis.
2. Lakukanlah konfirmasi dengen mengklik link yang disediakan.
3. Kami kirimkan Nomor Laporan dan password.
4. Anda bisa login di web kami dengan Nomor Laporan atau Kode Email dan password tersebut.
5. Interaksi selanjutnya akan berlansung via halaman web tersebut.
6. Anda diberi kesempatan untuk menutup laporan ini dalam waktu dua minggu setelah konfirmasi akhir dari Tim Layanan Terpadu.
7. Jika tidak ada tanggapan setelah konfirmasi maka laporan ini akan ditutup secara otomatis.
cara melaporkan kepala sekolah, tempat pengaduan kepala sekolah, pengaduan sekolah dasar, cara pengaduan ke diknas, pengaduan sekolah bermasalah, pengaduan guru bermasalah, selamat datang ke lapor, alamat email kemendikbud

Tuesday, 24 April 2018

Penambahan bidang Studi dan Perpanjangan Waktu Pendaftaran PPG Prajabatan Bersubsidi Tahun 2018

Penambahan bidang Studi dan Perpanjangan Waktu Pendaftaran PPG Prajabatan Bersubsidi Tahun 2018_ Memperhatikan kebijakan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan permintaan stakeholder tentang pemenuhan kebutuhan guru profesional, serta untuk memberi kesempatan kepada putera-puteri terbaik Indonesia yang berminat dan berbakat menjadi guru untuk mengikuti seleksi calon peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Bersubsidi Tahun 2018, maka dengan ini kami sampaikan bahwa pendaftaran online Program PPG tersebut akan kami perpanjang sampai tanggal 6 Mei 2018.

Baca Juga: Potensi Dan Keuntungan Mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG)

Implementasi/Penerapan Pembelajaran Tematik di SD

Implementasi/Penerapan Pembelajaran Tematik di SD

Implementasi Pembelajaran Tematik di SD
Pembelajaran tematik di sekolah dasar (SD) merupakan suatu hal yang relatif baru,  sehingga dalam implementasinya belum sebagaimanayang diharapkan. Masih banyak guru yang merasa sulit dalam melaksanakan pembelajaran tematik ini.

Hal ini terjadi antara lain karena guru belum mendapat pelatihan secara intensif  tentang pembelajaran tematik ini. Disamping itu juga guru masih sulit meninggalkan  kebiasan kegiatan pembelajaran yang penyajiannya berdasarkan mata pelajaran/bidang studi. Pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar pada saat ini difokuskan pada kelas-kelas bawah (kelas 1 dan 2) atau kelas yang anak-anaknya masih tergolong pada anak usia dini, walaupun sebenarnya pendekatan pembelajaran tematik ini bisa dilakukan di semua kelas sekolah dasar.

Penerapan pembelajaran tematik Pada tahap ini intinya guru melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Pembelajaran tematik ini akan dapat diterapkan dan dilaksanakan dengan baik perlu didukung laboratorium yang memadai. Laboratorium yang memadai  tentunya berisi berbagai sumber belajar yang dibutuhkan bagi pembelajaran di sekolah dasar.

Dengan tersedianya laboratorium yang memadai tersebut maka guru ketika menyelenggarakan pembelajaran tematik akan dengan mudah memanfaatkan sumber belajar yang ada di laboratorium tersebut, baik dengan cara membawa sumber belajar ke dalam kelas maupun mengajak siswa ke ruang laboratorium yang  terpisah dari ruang kelasnya. Pelaksanaan pembelajaran seyogyanya dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang.Jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).

Sebuah model pembelajaran diharapkan dapat dipergunakan sebagaiwawasan untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik di masing-masing sekolah. Peserta didik perlu dipersiapkan baik secara internal maupun eksternal, baik  ketika di dalam kelas maupun di luar kelas. Terlebih bagi peserta didik yang masih berada di sekolah dasartentu saja tidak dapat disamakan pelayannya dengan peserta didik yang ada di kelas menengah.

Namun demikian baik peserta didik di kelas 1 sampai dengan kelas 6 di kondisikan menggunakan pendekatan tematik Terpadu dengan tema sebagai pemersatunya.  Peran Tema dalam Proses PembelajaranTema berperan sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran, dengan memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus.

Adapun mata pelajaran yang dipadukan adalah mata pelajaran Agama (Akhlak Mulia/Budi Pekerti/ tata krama), PPKn dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (terdiri atas: Bahasa Indonesia, IPS,IPA, Matematika,), Estetika (Seni Budaya-Keterampilan) dan Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan.Di dalam struktur Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah disebutkan bahwa untuk peserta didik kelas 1, sampai dengan kelas 6  penyajian pembelajarannya menggunakan pendekatan tematik. Penyajian pembelajaran dengan alokasi waktu komulatif 30 JP per minggu. Pembuatan tema diharapkan memperhatikan kondisi peserta didik, lingkungan sekitar dan kompetensi guru dengan presentase penyajian disesuaikan dengan aloasi waktu yang tersedia.

Guru dalam penyajian diharapkan tidak terkonsentrasi pada salah satu mata pelajaran, melainkan harus tetap memperhatikan presentase penyajianya. Namun demikian penjadwalan dalam hal ini tidak terbagi secara kaku melainkan diatur secara luwes. Mata Pelajaran Agama yang disajikan secara terpadu adalah yang sifatnya budi pekerti luhur, akhlak mulia dan tata krama serta bagaimana bersopan santun dalam pergaulan di dalam keluarga dan masyarakat, keterkaitan dengan pendidikan karakter bangsa.

Sedangkan untuk materi-materi yang sifatnya aqidah dan khusus keagamaannya disajikan oleh guru agama sendiri. Demikian juga untuk Pendidikan Jasmani dan kesehatan, yang sifatnya gerakan ringan yang dapat disajikan di dalam kelas, bisa dilakukan oleh guru kelas. Sedangkan yang sifatnya gerakan olah raga yang memerlukan fisik, gerakan bebas, tetap dilakukan oleh guru olah raga dan dilaksanakan di luar kelas/ lapangan olah raga.

Pembelajaran tematik diawali dengan pembuatan tema selama satu tahun, kemudian dengan tema-tema yang telah dibuat tersebut, guru menganalisis semua standar kompetensi lulusan yang diturunkan ke dalam kompetensi inti dan selanjutnya mengalir ke kompetensi dasar dan membuat indikator dari masing-masing mata pelajaran yang ada di setiap kelas. Setelah itu dibuat hubungan antara KD dan indikator dengan tema yang telah disiapkan selama satu tahun.

Berikutnya dari pemetaan hubungan tersebut dilanjutkan dengan membuat jaringan KD &indikator dari setiap tema yang telah dibuat. Setelah jadi semua jaringan selama satu tahun dilanjutkan dengan menyusun silabus tematik dan yang terakhir menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.
Model Pembelajaran Tematik Terpadu Model  pembelajaran tematik  integratif melalui beberapa tahapan yaitu pertama guru harus mengacu pada tema sebagai pemersatu berbagai matapelajaran untuk satu tahun.

Kedua guru melakukan analisis standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar dan membuat indikator dengan tetap memperhatikan muatan materi dari Standar Isi, ketiga membuat hubungan antara kompetensi dasar, indikator dengan tema, keempat membuat jaringan KD, indikator, kelima  menyusun silabus tematik dan keenam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran tematik dengan mengkondisikan pembelajaran yang menggunakan pendekatan scientific. Untuk lebih jelasnya akan dibahas di bawah ini.

Tahapan Berpikir Pembelajaran Tematik Adalah Struktur KurikulumStruktur Kurikulum 2013 merupakan acuan dalam merancang pembelajaran yang akan  menjadi landasan penetapan presentase penyajian pembelajaran. Di Kelas I sampai dengan Kelas IV membelajarkan materi dengan tema sebagai pemersatunya, tidak parsial per mata pelajaran. penetapan alokasi waktu dimaksudkan agar guru dapat mempertimbangan batasan pembahasan, supaya tidak lagi fokus atau berlama-lama pada salah satu mata pelajaran saja.

Meskipun telah dituangkan alokasi waktu di dalam struktur masing-masing mata pelajaran, namun tetap menjadi satu kesatuan per minggu komulatif  30 JP untuk Kelas I, berarti per hari 5 JP. Untuk Kelas II komulatif satu  minggu 32 JP maka per hari ada yang 5 JP, ada yang 6 JP. KelasIII komulatif satu  minggu 34 JP, maka per hari ada yang 5 JP, ada yang 6 JP. Sedangkan Kelas IV sampai dengan Kelas VI  komulatif satu minggu 36 JP, jadi rata-rata per harinya 6 JP, bagi sekolah reguler.  Struktur Kurikulum sebagai di berikut:Struktur Kurikulum SD/MIMATA PELAJARANALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGUI,II,III,IV,V,VI

Kelompok A1.Pendidikan Agama dan Budi Pekerti  4444442. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan5664443. Bahasa Indonesia88107774. Matematika5666665. Ilmu Pengetahuan Alam3336. Ilmu Pengetahuan Sosial 333

Kelompok B1. Seni Budaya dan Prakarya(termasuk muatan lokal)*4445552. Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan (termasuk muatan lokal)444444 Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30,32,34,36,36,36. Beban Belajar Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Beban belajar di SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu.

Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi peserta didik aktif. Proses pembelajaran peserta didik aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk mengamati, menanya, mengasosiasi, dan berkomunikasi.

Proses pembelajaran yang dikembangkan menghendaki kesabaran guru dalam mendidik pesertadidik sehingga mereka menjadi tahu, mampu dan mau belajar dan menerapkan apa yang sudah mereka pelajari di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya. Selain itu bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar. Sekolah mendapat  kesempatan mengkondisikan beban belajar sesuai hasil kesepakatan warga sekolah, Kepala Sekolah, Guru, dan
Komite Sekolah.4.

Langkah Guru yang akan membelajarkan materi dengan menggunakan pendekatan tematik  integratif antara lain: Memilih/Menetapkan  TemaDibawah ini adalah  Tema untuk pesertadidik Sekolah Dasar kelas I dan IV Tema-Tema di Sekolah Dasar KELAS I-IV

1. Diriku
2. Kegemaranku
3. Kegiatanku
4. Keluargaku
5. Pengalamanku
6. Lingkungan Bersih dan Sehat
7. Benda, Binatan dan Tanaman di Sekitar
8. Peristiwa alam
9. Indahnya Kebersamaan
10. Selalu Berhemat Energi
11. Peduli Makhluk Hidup
12. Berbagai Pekerjaan.
13. Menghargai Jasa Pahlawan
14. Indahnya Negeriku
15. Cita-citaku 8.Daerah Tempat Tinggalku
16. Makanan Sehat dan Bergizi.

Melakukan Analisis SKL, KI,  Kompetensi Dasar,  Membuat  IndikatorDalam melakukan Analisis Kurikulum (SKL, KI dan KD serta membuat Indikator) dengan cara membaca semua Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti, dan Kompetensi Dasar dari semua mata pelajaran. Setelah memiliki sejumlah Tema untuk satu tahun, barulah dapat dilanjutkan dengan menganalisis Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti serta Kompetensi Dasar (SKL, KI danKD) yang ada dari berbagai mata pelajaran (Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPKn, Matematika, Seni-Budaya dan Keterampilan, Olah Raga dan Kesehatanserta Agama yang sifatnya Tata Krama, Budi Pekerti dan Akhlak Mulia). Kemudian masing-masing Kompetensi Dasar dibuatkan Indikatornya dengan mengikuti kriteria pembuatan Indikator.

Melakukan Pemetaan KI, Mata Pelajaran ,Kompetensi Dasar, Indikator dengan Tema Kompetensi Dasar dari semua mata pelajaran telah disediakan dalam Kurikulum 2013, demikian juga sejumlahTema untuk proses pembelajaran selama satu tahun untuk Kelas 1 sampaidengan Kelas 6 telah disediakan pula. Namun demikian guru masih perlu membuat Indikator dan melakukan kegitan pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator tersebut dikaitkan degan Tema yang tersedia dimasukkan ke dalam format pemetaan agar lebih memudahkan proses penyajian pembelajaran, Indikator mana saja yang dapat disajikan secara terpadu dengan cara memberikan cek ( √ ).

Membuat Jaringan Kompetensi Dasar Kegiatan berikutnya setelah dilakukan pemetaan Kompetensi Dasar, Indikator dengan Tema dalam satu Tahun dan telah terpetakan Indikator mana saja yang akan disajikan dalam setiap Tema, maka sebaiknya dilanjtkan dengan membuat Jaringan KD dan Indikator dengan cara menurunkan hasil cek dari pemetaan ke dalam format Jaringan KD& Indikator.
Menyusun Silabus Tematik TerpaduSetelah dibuat  Jaringan KD & Indikator, langkah Guru selanjutnya adalah menyusun Silabus Tematik untuk lebih memudahkan Guru dalam melihat seluruh desain pembelajaran untuk setiap Tema sampai tuntas tersajikan didalam proses pembelajaran. Di Dalam Silabus Tematik ini memberikan gambaran secara menyeluruh Tema yang telah dipilh akan disajikan berapa minggu dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam penyajian Tema tersebut. Silabus Tematik Terpadu memuat komponen sebagaimana panduan dari Standar Proses yang meliputi
1. Kompetensi Dasar mana saja yang sudah terpilih (dari Jaringan KD),
2. Indikator (dibuat oleh Guru, juga diturunkan dari Jaringan)
3. Kegiatan Pembelajaran yang memuat perencanaan penyajian untuk berapa minggu Tema tersebut akan di belajarkan,
4. Penilaian proses dan hasil belajar (diwajibkan memuat penilaian dari aspek sikap, keterampilan dan pegetahuan) selama  proses pembelajaran berlangsung
5. Alokasi  waktu ditulis secara utuh komlatif satu minggu berapa jam pertemuan (misalnya 30 JP x 35 menit) x 4 minggu)
6. Sumber dan Media

Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik TerpaduLangkah terakhir dari sebuah perencanaan adalah dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu.  Di dalam RPP Tematik Terpadu ini diharapkan dapat tergambar proses penyajian secara utuhdengan memuat berbagai konsep mata pelajaran yang disatukan dalam Tema. Di dalam RPP Tematik Terpadu ini peserta didik diajak belajar memahami konsep kehidupan secara utuh. Penulisan identitas tidak mengemukakan mata pelajaran, melainkan langsung ditulis Tema apa yang akan dibelajarkan.Penyusunan RPP Tematik Terpadu  sebagaimana dalam penyusunan silabus seyogyanya mengacu pada komponen penyusunan RPP dari Standar Proses yang meliputi: Identitas: Satuan Pendidikan, Tema, Kelas, Semester, Alokasi Waktu.
1. Kompetensi Inti: merupakan jabarn dari SKL  ada 4 Kompetensi Inti yang harus ditulis semuanya, karena merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dicapai.
2. Kompetensi Dasar hasil penyempurnaan Standar Isi  dari Kurikulum 2013 semua mata pelajaran yang telah  dipilih dan tertulis di Jaringan KD & Indikator
3. Indikator darisemua mata pelajaran yang telah dibuatdan di tuangkan di Pemetaan
4. Tujuan Pembelajaran yang diharapkan dicapai dari keterpaduan berbagai mata pelajaran
5. Materi Pembelajaran  meliputi berbagai mata pelajaran
6. Pendekatan dan Metode pembelajaran
7. Langkah Pembelajaran memuat kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti (memuat langkah pembelajaran Tematik Terpadu memadukan berbaai mata pelajaran yang diatukan dalam Tema, tersaji secara sistematis dan sistemik  dalam tuangan Eksplorasi, Elaborasi dan Konfirmasi, serta menggambarkan pendekatan Scientific dan diakhiri dengan  Kegiaan Penutup
8. Sumber dan Media yang memuat semua sumber dan media pembelajaranyang dipergunakan dalm pembelajaran
9. Penilaian, meliuti proses dan hasil belajar seyogyanya dilampirkan instrumen dan rubrik penilaiannya, baik untuk kepentingan proses dan ketercapaian hasil belajar siswa.

Daftar pustaka
http://www.materibelajar.id/2015/12/definisi-implementasi-dan-teori.html
https://alihamdan.id/implementasi/amp/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C1432966875
http://chyrun.com/implementasi-pembelajaran-tematik-terpadu-dengan-pendekatan-scientific/

similiar search: implikasi pembelajaran tematik, implementasi pembelajaran terpadu, pembelajaran tematik, pembelajaran tematik terpadu, pembelajaran tematik di SD


Friday, 20 April 2018

Download Juknis (Petunjuk Teknis) Penggunaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2018

Download Juknis (Petunjuk Teknis) Penggunaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2018_


Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS NONFISIK BANTUAN OPERASIONAL PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI TAHUN 2018. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Dana Alokasi Khusus Nonfisik yang selanjutnya disebut DAK Nonfisik adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus Nonfisik yang merupakan urusan daerah.

2. Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini yang selanjutnya disingkat BOP PAUD adalah program pemerintah untuk membantu penyediaan pendanaan biaya operasional non personalia bagi satuan pendidikan anak usia dini yang diberikan kepada satuan pendidikan anak usia dini dan satuan pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan anak usia dini untuk mendukung kegiatan operasional pendidikan.

3. Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini selanjutnya disebut DAK Nonfisik BOP PAUD adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah untuk

membantu penyediaan pendanaan biaya operasional non personalia bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan anak usia dini.

4. Pendidikan Anak Usia Dini selanjutnya disingkat PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

5. Satuan PAUD adalah Taman Kanak-kanak (TK), Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD sejenis (SPS).

6. Satuan Pendidikan Non Formal adalah satuan pendidikan non formal yang menyelenggarakan program PAUD.

7. Nomor Pokok Satuan Pendidikan Nasional yang selanjutnya disingkat NPSN adalah kode pengenal yang ditetapkan oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK).

8. Pemerintah Daerah adalah pemerintah kabupaten/kota dan provinsi DKI Jakarta yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan anak usia dini.

Untuk lebih jelasnya tentang Juknis (Petunjuk Teknis) Penggunaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2018 anda bisa mendownloadnya melalui link berikut: Download

Hakikat Dan Fungsi Pancasila

Hakikat Dan Fungsi Pancasila
Hakikat Dan Fungsi Pancasila

A. Hakikat Pancasila
Bicara tentang hakikat berarti membicarakan tentang hal-hal yang hakiki atau mendasar. Demikian juga halnya dengan upaya memahami hakikat pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena pancasila memiliki keluasan arti filosofis, maka dari dua pengertian pokok tersebut  dapat diberi arti yang bermacam-macam, antara lain sebagai berikut;

1. Pancasila sebagai dasar Negara
Pancasila bukan lahir secara mendadak pada tahun 1945, melainkan proses panjang yang di dasari oleh sejarah perjuangan bangsa Indonesia serta malihat pengalaman bangsa-bangsa lain, kedudukan pancasila sebagai dasar Negara, sebagai mana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, merupakan sumber tertib hukum tertinggi yang mengatur kehidupan Negara dan masyarakat.

2. Pancasila sebagai pandangan hidup
Fungsi pokok pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia adalah sebagai pegangan hidup, pedoman hidup, dan petunjuk arah bagi semua kegiatan hidup dan penghidupan bangsa Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

3. Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia
Kepribadian, artinya gambaran  tentang sikap dan prilaku, atau amal perbuatan manusia, yang khas yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain. Ciri-ciri khas kepribadian bangsa Indonesia tercermin dalam sila-sila pancasila, yaitu bahwa bangsa Indonesia bangsa yang:
a. Berketuhanan yang maha esa
b. Berkemanusiaan yang adil dan beradab
c. Berjiwa persatuan dan kesatuan bangsa
d. Berjiwa musyawarah mufakat untuk mencapai hikmat kebijaksanaan, dan
e. Bercita-cita mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

4. Pancasila sebagai pejanjian luhur bangsa Indonesia
Istilah ‘’ pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa indonesia’’ ini muncul dalam pidato kenegaraan presiden soekarno di depan sidang dewan perwakilan rakyat gotong royong (DPR-GR). Pada tanggal 16 agustus 1967. Pancasila dinyatakan sebagai perjanjian luhur seluruh rakyat Indonesia.

5. Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia
Untuk lebih jelasnya, gambaran pancasila sebagai citi-cita dan tujuan bangsa Indonesia akan tampak pada rincian dan tujuan bangsa dan Negara Indonesia dalam alenia keempat pembukaan UUD 1945, yaitu;
a. Melindungi segenap bangsa Indonesia da seluruh tumpah darah Indonesia
b. Memajukan kesejahteraan umum
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Terkait penjelasan kelima sila tersebut sebagai berikut
1. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ketuhanan berasal dari kata Tuhan, ialah AllAh, pencipta segala yang ada dan semua makhluk. Atas keyakinan yang demikianlah, maka Negara Indonesia memberikan jaminan kebebasan kepada setiap penduduk untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Dengan kata lain di dalam Negara Indonesia tidak ada dan tidak boleh ada paham yang meniadakan Tuhan Yang Maha Esa (atheisme).

Sebagai sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sumber pokok nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia, menjiwai dan mendasari serta membimbing perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab.

2. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradab
Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu makhluk berbudi yang memiliki potensi pikir, rasa, karya dan cipta. Kemanusiaan terutama bersifat manusia yang merupakan esensi dan identitas manusia karena martabat kemanusiaannya. Adil terutama mengandung arti, bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas norma-norma yang objektif, jadi tidak subjektif apalagi sewenang-wenang.

Beradab berasal dari kata adab, yang berarti budaya, jadi beradab arti kebudayaan.
Jadi kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan manusia didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya, baik terhadap diri pribadi, sesama manusia maupun terhadap alam dan hewan.
Pada prinsipnya kemanusiaan yang adil dan baradab adalah sikap dan perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat dan hakikat manusia yang berbudi, sadar nilai, dan berbudaya.

3. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
Persatuan berasal dari kata satu, yang berarti utuh tidak terpecah belah. Persatuan mengandung pengertian bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam menjadi satu kesatuan. Pertama : makna geografis, yang berarti sebagian bumi yang membentang dari 950–1410 Bujur Timur dan dari 60 Lintang Utara sampai 110 Lintang Selatan. Kedua : makna bangsa dalam arti politis, yaitu bangsa yang hidup  di dalam wilayah tersebut. Indonesia dalam sila III ini ialah Indonesia dalam pengertian bangsa.

Jadi Persatuan Indonesia ialah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Bangsa yang mendiami wilayah Indonesia ini bersatu karena didorong untuk mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat.

4. Sila Keempat : Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Kerakyatan berasal dari kata Rakyat, yang berarti sekelompok manusia yang berdiam di suatu wilayah tertentu. Hikmat kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk merumuskan dan atau memutuskan suatu hal yang berdasarkan kehendak rakyat, hingga tercapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat.

Perwakilan adalah suatu sistem dalam arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara. Antara lain dilakukan dengan melalui badan-badan perwakilan.

Jadi : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan berarti, bahwa rakyat dalam menjalankan kekuasaannya melalui sistem perwakilan dan keputusan-keputusannya diambil dengan jalan musyawarah yang dipimpin oleh pikiran yang sehat serta penuh tanggung jawab, baik kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada rakyat dan wakilnya.

5. Sila  kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan Sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat disegala bidang kehidupan, baik materil maupun spirituil.

Seluruh rakyat Indonesia berarti setiap orang yang menjadi Rakyat Indonesia, baik yang berdiam diwilayah kekuasaan Republik Indonesia maupun warga negara Indonesia yang berada diluar negeri.
Jadi : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berarti bahwa setiap orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Sesuai dengan UUD 1945 makna keadilan sosial mencakup pula pengertian adil dan makmur.

Sila “keadilan sosial” adalah tujuan dari empat sila yang mendahuluinya, merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam bernegara, yang perwujudannya ialah tata-masyarakat adil-makmur berdasarkan Pancasila.

B. Fungsi dan Peranan Pancasila
Fungsi dan Peranan Pancasila, memiliki fungsi dan peranan yang luas dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Pancasila sebagai dasar negara indonesia dan pandangan hidup bangsa indonesia merupakan sebuah tuntunan bagi setiap elemen-elemen negara yang wajib dijadikan pedoman dalam hidup. Fungsi dan peranan Pancasila terus berkembang karena Pancasila merupakan ideologi yang terbuka yang dapat digunakan dalam setiap zaman asalkan tidak bersinggungan dengan nilai-nilai Pancasila. Fungsi dan Peranan Pancasila terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman sehingga Pancasila mempunyai predikat yang menggambarkan fungsi dan peranan.

Fungsi dan Peranan Pancasila, dari Makna Pancasila yang sangat luas dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa dan bernegara  dapat diketahui dari fungsi dan peranan Pancasila. Fungsi dan Peranan Pancasila adalah sebagai berikut.

• Pancasila Sebagai Jiwa Bangsa Indonesia : Hal ini berarti, Pancasila berfungsi dan berperan memberikan gerak atau dinamika, serta membimbing ke arah tujuan guna mewujudkan masyarakat Pancasila. Pancasila sebagai jiwa bangsa yang lahir bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia.

• Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia : Hal ini berarti, Pancasila berfungsi dan berperan dalam menunjukkan kepribadian bangsa Indonesia yang dapat dibedakan dengan bangsa lain, yaitu sikap mental, tingkah laku, dan amal perbuatan bangsa Indonesia.

• Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia : Pancasila berfungsi dan berperan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan negara atau penyelenggara negara. Pancasila sebagai dasar negara terdapat dalam Pembukaan UUD NRI (Negara Republik Indonesia) Tahun 1945 Alinea IV dan sebagai landasan konstitusional.

• Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum Negara : Di dalam Pasal 2 UU RI No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menyatakan "Pancasila merupakan sumber segala hukum negara". Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah sesuai dengan Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 Aline IV. Menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis negara sehingga setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

• Pancasila Sebagai Perjanjian Luhur : Pancasila sebagai perjanjian luhur berarti bahwa pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI (sebagai wakil seluruh rakyat Indonesia) yang menetapkan dasar negara Pancasila secara konstitusional dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.

• Pancasila Sebagai Cita-Cita dan Tujuan Bangsa Indonesia : Pancasila yang dirumuskan dan terkandung dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, memuat cita-cita dan tujuan nasional (Alinea II dan IV). Cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia,hal tersebut lalu dijabarkan ke dalam tujuan pembangunan nasional. Dengan kata lain, Pembukaan UUD NRI Tahun1945 merupakan penuangan jiwa proklamasi, yaitu Pancasila. Oleh karena itu, Pancasila juga merupakan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia.

• Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia : Dalam hal ini Pancasila disebut dengan way of life, weltanschauung, pandangan dunia, pegangan hidup, pedoman hidup, dan petunjuk hidup. Dalam hal ini, Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk sehari-hari. Artinya, Pancasila diamalkan dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, Pancasila digunakan sebagai penunjuk arah semua kegiatan atau aktivitas hidup dan kehidupan dalam segala seperti yang terpancar pada sila Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.

• Pancasila Sebagai Moral Pembangunan : Hal ini mengandung maksud nilai-nilai luhur Pancasila (norma-norma yang tercantum dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945) dijadikan tolok ukur dalam melaksanakan pembangunan nasional, baik dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, maupun dalam evaluasinya.

• Pembangunan Nasional Sebagai Pengamalan Pancasila : Pancasila di samping sebagai dasar negara juga merupakan tujuan nasional. Tujuan ini dapat diwujudkan melalui pembangunan nasional. Dengan perkataan lain, untuk mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila harus dilaksanakan pembangunan nasional di segala bidang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945.
Jadi, fungsi pokok Pancasila adalah sebagai dasar negara sesuai dengan Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, dan pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum negara.

C. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila
1. Sikap yang sesuai dengan sila pertama
Sila pertama pancasila berbunyi : Ketuhanan yang Maha Esa. Sila ini berhubungan dengan perilaku kita sebagai umat beragama pada Tuhannya. Contoh sikap yang mencerminkan sila tersebut:
a. Percaya dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa sesuai ajaran agama yang dianut masing-masing
b. Menjalankan perintah agama sesuai ajaran yang dianut masing-masing
c. Saling menghormati antarumat beragama
d. Tidak memaksakan suatu agama pada orang lain

2. Sikap yang sesuai dengan sila kedua
Sila kedua pancasila berbunyi : Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila ini berhubungan dengan perilaku kita sebagai manusia yang pada hakikatnya semuanya sama didunia ini. Contoh sikap yang mencerminkan sila tersebut:
a. Tidak membeda bedakan manusia berdasarkan suku, agama, warna kulit, tingkat ekonomi, maupun tingkat pendidikan
b.Menyadari bahwa kita diciptakan sama oleh Tuhan
c. Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama
d. Tidak melakukan diskriminatif

3. Sikap yang sesuai dengan sila ketiga.
Sila ketiga pancasila berbunyi : Persatuan Indonesia. Sila ini berhubungan dengan perilaku kita sebagai warga Negara Indonesia untuk bersatu membangun negeri ini. Contoh sikap yang mencerminkan sila tersebut:
a. Cinta pada tanah air dan bangsa
b. Menjaga nama baik bangsa dan Negara
c. Tidak membangga banggakan bangsa lain dan merendahkan bangsa sendiri
d. Ikut serta dalam ketertiban dunia
e. Menjunjung tinggi persatuan bangsa
f. Mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan

4. Sikap yang sesuai sila keempat
Sila keempat pancasila berbunyi : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sila ini berhubungan dengan perilaku kita untuk selalu bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah. Contoh sikap yang mencerminkan sila tersebut:
a. Selalu mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan masalah
b. Tidak memaksakan kehendak pada orang lain
c. Mengutamakan kepentingan masyarakat, bangsa, dan Negara
d. Menghormati hasil musyawarah
e. Ikut serta dalam pemilihan umum

5. Sikap yang sesuai sila kelima.
Sila kelima pancasila berbunyi : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini berhubungan dengan perilaku kita dalam bersikap adil pada semua orang. Contoh sikap yang mencerminkan sila tersebut:
a. Berusaha menolong orang lain sesuai kemampuan
b. Menghargai hasil karya orang lain
c. Tidak mengintimidasi orang dengan hak milik kita
d. Menjunjung tinggi nilai kekeluargaan
e. Menghormati hak dan kewajiban orang lain

DAFTAR PUSTAKA
Ekaidrisup.blogspot.co.id/2017/10/hakikat-dan-fungsi-pancasila.html
www.artikelsiana.com/2015/03fungsi-peranan-pancasila-fungsi.html

DI SUSUN OLEH
RAMADAN
NADIA
RAI BAWA WISUARYA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
BAUBAU 2018

Wednesday, 18 April 2018

Tujuan Pelaksanaan PPG (Pendidikan Profesi Guru)

Tujuan Pelaksanaan PPG (Pendidikan Profesi Guru)_ Regulasi baru dari pemerintah pusat khususnya dalam bidang pendidikan yang mewajibkan guru untuk mengikuti pendidikan profesi guru (PPG) memunculkan tanda tanya tersendiri tentang apa sih tujuan dari pelaksanaan PPG tersebut.

Tujuan Pelaksanaan PPG (Pendidikan Profesi Guru)

Lantas apa saja tujuan dari pelaksanaan pendidikan profesi guru (PPG), sehingga pemerintah mengarahkan guru untuk mengikuti PPG (PPG dalam jabatan) dan calon guru untuk mengikuti PPG? berikut ulasannya untuk anda


Tuesday, 17 April 2018

Strategi Pembelajaran Tematik


Strategi Pembelajaran Tematik

A. Pengertian Strategi Pembelajaran Tematik
Strategi pembelajaran tematik adalah perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran dan siswa-siswi, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Kemp (1995): Mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Kozma (Sanjaya, 2007): Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.

Gerlach dan Ely (1990): Strategi merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya mereka menjabarkan bahwa strategi pembelajaran dimaksudkan meliputi sifat, lingkup, dan urutan  kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.

Gropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998): Strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Mereka menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktekkan.

Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya, 2007): Strategi Pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu.  Strategi pembelajaran bukan hanya sebatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Raka Joni (1980): Pola umum perbuatan guru siswa didalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar yang menunjuk kepada karakteristik abstrak dari pada rentetan perbuatan guru-siswa tersebut.

B.Klasifikasi Strategi Pembelajaran Tematik
Strategi pembelajaran berkenaan dengan kegiatan pembelajaran secara kongkrit yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, dan kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup.

Wina Senjaya mengemukakan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

J.R David menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan, artinya bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.

Dick dan Carey (1985) mengemukakan bahwa suatu strategi pembelajaran menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tertentu untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada peserta didik.

 Komponen set bahan dan prosedur yang akan dalam pembelajaan, Dick dan Carey (1995) menyebutkan lima komponen utama yaitu:
1. Kegiatan pembelajaran,
2. Penyajian informasi,
3. Pertisipasi mahasiswa ,
4. Tes, dan
5. Tindak lanjut.

Sedangkan Gagne dan Briggs (1979) menyebutkan sembilan urutan kegiatan pembelajaran, yaitu:
1. Memberikan motivasi atau menarik perhatian,
2. Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada mahasiswa,
3. Mengingatkan kompetensi prasyarat,
4. Memberi stimulus yang behubungan dengan masalahtopik, konsep,
5. Memberi petunjuk cara mempelajari,
6. Menimbulkan penampilan mahsiswa,
7. Memberi umpan balik,
8. Menilai penampilan mahasiswa, dan
9. Memberi kesimpulan.

Senada dengan pendapat diatas, Suciati dan Irawan (1993: 45) mengajukan sembilan peristiwa pembelajaran untuk membantu proses belajar dalam peserta didik, sebagai berikut:
a. Menimbulkan minat dan memusatkan perhatian siswa dengan mengemukakan sesuatu yang baru, aneh, kontradiksi atau kompleks.
b. Menyampaikan tujuan pembelajaran agar siswa dapat memahami apa yang diharapkan dari dirinya.
c. Mengingat kembali konsep/prinsip atau informasi yang sebelumnya pernah dipelajari untuk dapat mempelajari matei baru dengan baik.
d. Menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan contoh, penekanan untuk menunjukan perbedaan atau bagian yang penting, bik secara verbal maupun non verbal.
e. Memberikan bimbingan belajar melalui pertanyaan-pertanyaan yang membimbing proses atau berpikir siswa.
f. Memperoleh unjuk kerja siswa terhadap apa yang dipelajari.
g. Memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas.
h. Mengukur mengevaluasi hasil belajar siswa melalui pemberian tugas atau melakukan suatu tugas.
i. Memperkuat restensi dengan berkali-kali berlatih menggunakan prinsip yang dipelajari dalam konteks yang berbeda, dan transper belajar dengan meningkatkan perbedaan antara situai waktu belajar dengan situasi transfer.

Pendapat lain yang juga berkaitan dengan strategi pembelajaran, dikemukakan oleh turney. Turney (1981) mengklasifikasi 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap sangat berperan dalam kebrhasilan kegiatan belajar mengajar. Kedelapan keterampilan dasar mengajar tersebut adalah: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.

Dari pandangan beberapa ahli seperti yang dikemukakan di atas, nampaknya mereka sepakat bahwa strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara sistematis, sehingga isi pelajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Di dalamnya terkandung empat pengertian sebagai berikut:
1. Urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan pengajar dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa.
2. Metode pembelajaran, yaitu cara pengajar mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien.
3. Media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan pengajar dan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
4. Waktu yang digunakan oleh pengajar dan siswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam keggiatan pembelajaran.

Strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Urutan kegiatan secara garis besar terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan penutup. Masing-masing kegiatan akan digunakan serangkaian metode pembelajaran. Ada beberapa alternatif yang dapat digunakan pada pembelajaran kelas awal, artinya pada usia dan kondisi anak kelas awal. Alternatif maetode antara lain dapat diklarifikasiakan sebagain berikut:
a. Pembelajaran langsung, dengan metode ceramah,tanya jawaab, demontrasi, latihan dan drill.
b. Pembelajaran tidak langsung dengan inkuiri, studi kasus,pemecahan masalah ,peta konsep.
c. Pembelajaran interaksi dengan metode diskusi kelas,diskusi kelompok kecil atau projek, kerja berpasangan.
d. Pembejaran mandiri, dengan metode pekerjaan rumah, projek penelitian, belajar berbasis komputer.
e. Belajar belajar melalui pengalaman, dengan bermain peran, observasi/survey,simulasi
Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang berfariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang dicapaai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran

Mengingat yang akan dikembangkan adalah pembelajaran PAKEM, maka metode yang akan diplih adalah metode yang dapat memotivasi siswa siswi untuk aktif dan kreatif dengan asih dipertimbangkan keefektifan an dalam suasana yang menyenangkan. Untuk supaya siswa siswi  banyak mengingat apa yang telah dipelajari, maka siswa siswi diberi banyak kesempatan untuk membaca, mendengar, melihat, mempraktekkan dan mendiskusikan materi pembelajaran.
Untuk menyusun strategi yang benar maka harus dikenal beberapa spesifikasi Pembelajaran Tematik sebagai berikut, diantaranya
1. Ciri-Ciri
Sesuai dengan perkembangan fisik dan mental siswa pembelajaran pada tahap ini haruslah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, diantaranya:
a. Berpusat pada anak
b. Memberikan pengalamana langsung
c. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran
d. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat , dan kebutuhan anak

C. Pemilihan Strategi Pembelajaran Tematik
Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwa strategi pembelajaran merupakan perpaduan berbagai kegiatan, melibatkan penguna media dan pengaturan tahapan dari setiap tahap untuksetiap langkah. Oleh karena itu, menentukan strategi pembelajaran perlu dilakukan pemilihandan disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Pemilihan strategi pembelajaran paling tidak didasarkan pada dua argumentasi. Pertama, strategi yang disusun didukung dengan teori-teori psikologis dan teori pembelajaran. Kedua, strategi yang disusun menunjukan efektifitas dalam membuat siswa mencapai tujuan pembelajaran seperti yang telah ditetapkan. Argumentasi ini diperlukan karena didalam pembelajaran dipahami bahwa: “tidak semua materi cocok dengan metode, tidak semua metode cocok untuk semua  media, tidak semua pembelajaran memerlukan seluru urutankegiatan pembelajaran tergantung pada karakteristik siswa dan jenis perilaku yang ada dalam tujuan pembelajaran”. Dengan demikian dalam menentukan strategi pembelajaran diperlukan pemilihan,dan sedapat mugkin disusun berdasarkan  alasan-alasan yang bersifat rasional.

Dalam pemilihan strategi perlu memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan metode danfaktor-faktor dalam menentukan metode. Prinsip-prinsip penggunaan metode antara lain: efektif dan efesiens, digunakan secara bervariasi, digunakandengan memadukan metode. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan metode pembelajaran, antara lain:
1. Tujuanpembelajaran/indikator dan kopentensi dasar
2. Tema pembelajaran
3. Kondisi siswa ( kemampuan siswa siswai, jumlah siswa siswi )
4. Waktu
5. Fasilitas yang ada.
6. Penentuan metode juga ditentukan pada kegiatan mana metode tersebuat akan digunakan. Hal ini disebabkan karena masing-masing kegiatan mempunyai tujuan yangberbeda. Kegiatann awal bertujuan untuk:
7. Memfokuskan perhatian siswa siswi  dan menciptakan ketertarikan
8. Merangsang pemikiran siswa siswi
9. Mengungkapkan pengalaman awal yang dimiliki siswa siswi
10. Memotivasi siswa siswi mempelajari materi
11. Memahami tujan pembelajaran

D. Pengertian Metode Pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan wajib yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan guna mencetak generasi bangsa yang berilmu pengetahuan tinggi. Untuk mewujudkan tujuan ini diperlukan pembelajaran efektif. Namun untuk pelaksanaannya tentu tidaklah mudah oleh karenanya para pendidik sangat membutuhkan metode pembelajaran yang tepat untuk membuat pembelajaran menyenangkan, efektif dan efisien.

Metode merupakan satu kata yang murujuk pada cara yang akan digunakan untuk mencapai sebuah tujuan yang diharapkan. Dan jika dikaitkan dengan proses pembelajaran, maka definisi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara yang dipilih oleh pendidik untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Metode pembelajaran ini memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran, selain agar proses belajar mengajar tidak membosankan, peserta didik juga akan semakin mudah mencerna materi yang diberikan. Untuk itulah ketika memilih sebuah metode pendidik harus memperhatikan karakteristik peserta didik. Pendidik dapat menggunakan metode yang berbeda untuk tiap kelasnya disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik.

E. Macam-Macam Metode Pembelajaran
Ada beberapa jenis metode pembelajaran yang umum digunakan dalam proses pembelajaran. Metode yang paling umum digunakan adalah metode ceramah. Namun terkadang metode ini menjadi cukup membosankan apabila tidak disertai oleh kemampuan manajemen kelas yang kurang. metode ceramah biasanya dibarengi dengan metode tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disampaikan.

Metode pembelajaran selanjutnya adalah metode diskusi. Metode ini dilakukan dengan menyajikan sebuah materi untuk kemudian dianalisis secara terbuka hingga ditemukan sebuah penyelesaian masalahnya. Metode ini akan lebih efektif jika melibatkan seluruh peserta didik. Selain itu pendidik juga dapat mengkolaborasikan metode ini dengan metode pemberian tugas baik secara individu ataupun kelompok yang selanjutnya dipresentasikan dan didiskusikan secara terbuka di kelas.

Selanjutnya ada metode eksperimen, yang merupakan sebuah metode yang akan memberikan kesempatan peserta didik untuk melakukan uji coba terhadap sebuah materi yang telah dipelajarinya. Melalui metode ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengamati, menganalisis dan membuktikan sendiri teori yang telah dipelajarinya.

Metode pembelajaran yang kelima adalah metode demonstrasi, metode ini juga sangat umum dilakukan dalam proses pembelajaran. Dilakukan dengan memperagakan atau menunjukkan proses ataupun cara kerja dari materi yang sedang dipelajari untuk selanjutnya ditirukan oleh peserta didik. Dan terakhir adalah metode tutorial. Dalam proses pembelajaran metode ini dapat sesekali dilakukan baik secara kelompok ataupun individu.

Namun sebelumnya pendidik harus menjelaskan mengenai materi secara umum, untuk selanjutnya dikerjakan oleh peserta didik dengan bimbingan guru. Pada metode pembelajaran tematik ini mempunyai pengertian yaitu sebuah metode yang memadukan antara satu pokok bahasan yang sedang dipelajari dari beberapa ilmu yang dikemas dengan bentuk tema. Dengan pembelajaran model tematik ini peran guru adalah sebagai fasilitator siswa dimana guru akan menyatukan pemahaman pada siswa terhadap beberapa materi tanpa kita terbatasi oleh suatu mata pelajaran lainnya.

Dengan ini juga dapat meminimalkan semua pengontakan akan antara mata pelajaran lainnya. Salah satu contoh soal dari metode pembelajaran tematik yaitu pada soal mengenai stek. Mungkin pada pembahasan yang menyangkut masalah bagaimana cara bercocok taman dengan menggunakan metode stek, yang nantinya akan memunculkan ide - ide lain dari siswa. Dalam hal ini, sebaiknya para siswa juga terjun langsung dan mempraktekkannya.

Cara belajar tidak hanyalah melalui pada metode belajar yang berfokus pada teori saja. Namun teori juga  dibutuhkan didalalam rangka mengajar standar kurikulum  tersebut dibutuhkan juga media untuk belajar yang bisa membuat para siswa menjadi lebih mengerti. Dengan memikirkan kenyamanan serta hal-hal yang membuat siswa lebih semangat di dalam belajar maka secara otomatis juga akan membantu para siswa untuk memahami  dengan cepat materi.

F. Metode  Pembelajaran Tematik Integratif
Metode pembelajaran integratif adalah pendekatan pembelajaran yang menggabungkan atau menintegrasikan berbagai macam pelajaran kedalam sebuah tema yang ditentukan. Denganharapan siswa dapat lebih luas dalam mengembangkansuatu materi atau masalah yang diberikan sesuai dengan kehidupannya sehari-hari. Pengintegrasian yang dimaksud dapat dilakukan dalam tiga cara yakni secara sikap (afektif), keterampilan (psikomotorik), dan pengetahuan kognitif.

Sebagai contoh jika kita mengunakan tema bermain diligkunganku, kitabisa mengintegrasikan mata pelajaran ilmu pengetahuan alam untuk mengambarkan keadaan alam dan mengintergasikan ilmu pengetahuan sosial utnuk mengambarkan hubungan sosial masyarakat yang ada dilingukungan ku seperti yang dimaksudkan tema. Dalam pembelajaran pun bisa dimasukan materi penjaskes dengan menceritakan pengalaman bermain sepak bola dilingkunganku.kemudian perhitungan matematika yang mengambarkan waktu bermain sepak bola dapat menjadi muatan materi metematika. Begitu pula jika kita menghubungkan permainan sepak bola dengan prestasi timnas Indonesia yang bisa menigkatkan jiwa nasionalisme yang diajarkan dalam PPKN. Mata pelajaran bahasa Ibdonesia tentuakan sangat mudah diterapkan pada berbagai topik yang disampaikan.

Dengan mengunakan metode tematik integratif ini pembelajaran tidak diberikan berdasarkan mata pelajaran tertentu melainkan dengan menghubungkan materi pelajaran yang satudenganyang lainnya membentuk sebuah topik yang bisa direfleksi dengan mudah oleh siswa sesuai dengan yang ada pada RPP.

Daftar Pustaka
https://atibilombok.blogspot.co.id/2014/06/makalah-strategi-pembelajaran-tematik.html  (Diakses : Minggu,15 April 2018 )
http://thelon3r.blogspot.co.id/2012/05/strategi-pembelajaran-tematik.html (Diakses : Minggu,15 April 2018 )
http://www.asikbelajar.com/2015/04/definisi-strategi-pembelajaran-menurut-ahli.html (Diakses : Minggu,15 April 2018 )
http://artikel-az.com/pengertian-metode-pembelajaran/            
(Diakses : Minggu,15 April 2018 )
http://www.areabaca.com/2014/04/menerapkan-pembelajaran-dengan-metode.html    (Diakses : Minggu,15 April 2018 )



Monday, 16 April 2018

Model – Model Kurikulum



Model – Model Kurikulum

Pengembangan kurikulum berkenaan dengan model kurikulum yang  dikembangkannya. Minimal ada empat model kurikulum yang banyak diacu dalam pengembangan kurikulum, yaitu model kurikulum subjek Akademis, Humanistik, Rekonstruksi Sosial dan Kompetensi (Sukmadinata, 2009).

Masing-masing model sejalan dengan teori yang mendasarinya, bertolak dari asumsinya atau keyakinan dasar yang  berbeda sehingga menimbulkan pandangan yang berbeda pula tentang kedudukan dan peranan pendidik, peserta didik, isi maupun proses pendidikan. Keempat model kurikulum tersebut memiliki acuan teori atau konsep pendidikan yang berbeda.

Kurikulum subjek akademis mengacu pada pendidikan klasik, yaitu perenialisme dan esensialisme; kurikulum humanistic mengacu pada pendidikan pribadi; kurikulum rekonstruksi social mengacu pada pendidikan interaksional dan kurikulum kompetensi mengacu pada teknologi pendidikan.

A. Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum subjek akademis merupakan salah satu model kurikulum yang paling tua. Kurikulum ini menekankan isi atau materi pelajaran yang bersumber dari disiplin ilmu.
Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik, yang berorientasi pada masa lau, bahwa semua ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai budaya telah ditemukan oleh para ahli di masa lalu.

Fungsi pendidikan adalah memelihara dan mewariskanya kepada generasi baru. Kurikulum ini sangat mengutamakan isi pendidikan. Ukuran keberhasilan peserta didik dalam belajar adalah yang menguasai seluruh atau sebagian besar dari isi pendidikan yang diajarkan guru.
Para pengembang kurikulum tinggal memilih bahan-bahan materi ilmu yang telah dikembangkan oleh para ahli disiplin ilmu, kemudian mengorganisasinya secara sistematis, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan peserta didik.

Guru sebagai penyampai bahan ajar harus menguasai semua pengetahuan yang menjadi isi kurikulum.
Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting menurut Sukmadinata (2009) di antaranya sebagai berikut.

a. Correlated curriculum
Pola organisasi materi atau konsep yang dipelajari dalam suatu peajaran dikorelasikan denga pelajaran lainnya.

b. Unfied atau concentrated curriculum
pola organisasi bahan peajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.

c. Integrated curriculum
Kalau dalam unified masih tampak warna disiplin ilmunya, maka dalam pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebut sudah tidak kelihatan lagi. Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu.

d. Problem solving curriculum
Pola organisasi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampian yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu

B. Kurikulum humanistic
Model kurikulum humanistic menekankan pengembangan kepribadian peserta didik secara utuh dan seimbang, antara perkembangan segi intelektual (kognitif), afektif, dan psikomotor. Kurikulum humanistic menekankan pengembangan potensi dan kemampuan dengan memperhatikan minat dan kebutuhan peserta didik.

Pembelajaran segi-segi social, moral, dan afektif mendapat perhatian utama dalam model kurikulum ini. Pembelajarannya berpusat pada peserta didik (student centererd).
Model kurikulum ini bersumber dari pendidikan pribadi.

Kurikulum humanistic dikembangkan oleh pata ahli pendidikan humanistic, didasari oleh konsep-konsep pendidikan pribadi (personalized education), yaitu John Dewey (progressive education) dan J.J. Rousseau (Romantic Education).

C. Kurikulum rekonstruksi social
Kurikulum rekontruksi social lebih memusatkan perhatiannya pada pemersalahan yang dihadapi peserta didik dalam masyarakat kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan intruksional.
Pendidikan merupakan kegiatan bersama, interaksi dan kerja sama. Kerja sama atau interaksi bukan hanya terjadi pada peserta didik dan guru melainkan juga antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan orang-orang lingkungannya dan sumber-sumber belajar lainnya. Melalui interasi kerjasama ini, peserta didik berusaha memecahkan permasalahan yang dihadapinya dengan masyarakat, menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.

Kurikulum rekonstruksi social memiliki kompenen-kompenen yang sama dengan model kurikulum lain, tetapi isi dan bentuk-bentuknya berbeda. Setiap tahun program pendidikan mempunyai tujuan yang berbeda. Tujuan utama dari rekonstruksi social adalah menghadapkan para peserta didik dengan tantangan, ancaman, hambatan, atau gangguan yang biasanya dihadapi manusia. Tantangan merupakan bidang garapan dari studi social yang perlu didekati dari bidang-bidang lain, seperti ekonomi, sosialogi, spikologi, estetika, bahkan pengetahuan alam dan matematika. Masalah-masalah masyarakat bersifat universal dan hal ini dapat dikaji dalam kurikulum.

Dalam pembelajaran rekonstruksi social, para pengembangan kurikulum berusaha mencari keselarasan antara tujuan nasional dengan tujuan peserta didik. Guru-guru berusaha membantu para peserta didik menemukan minat dan kebutuhannya. Para peserta didik sesuai dengan minatnya masing-masing, berusaha memecahkan masalah social yang dihadapinya.

Kerja sama yang terbentuk baik antara individu dalam kegiatan kelompok, maupun antarkelompok dalam kegiatan pleno, sangat mewarnai metode rekonstruksi social. Kerja sama ini juga terjadi antara peserta didik dengan tokoh masyarakat. Bagi rekontruksi social, belajar merupakan kegiatan bersama, ada ketergantungan antara seorang dengan yang lainnya. Dalam kegiatan belajar mereka tidak ada kompetesi, yang ada adalah kerja sama, saling pengertian dan consensus. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang cocok adalah pendekatan pembelajaran kooperatif, bukan kompetitif (Widyastono, 2000).

D. Kurikulum kompetensi
Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan kompetensi menjadi suatu keharusan. Setiap orang dituntut kompeten dibidangnya. Kompetensi dapat didefinisikan sebagai pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (depdiknas, 2004.).
sementara itu, menurut spencer dan spencer (1993) kompetensi merupakan karakteristik mendasar seseorang yang berhubungan timbal balik dengan suatu criteria efektif atau kecakapan terbaik seseorang dalam pekerjaan atau keadaan.

Selanjutnya, berdasarkan kajian dari literature. Widyastono (2013) merumuskan kompetensi adalah pengetahuan (kognitif) yang setelah dimiliki seseorang, harus diwujudkan dalam bertindak (spikomotor) dan bersikap (afektif). Seseorang dikatakan kompeten dibidang tertentu, apabila ia memiliki pengetahuan dibidang itu, kemudian pengetahuan tersebut diwujudkan dalam bertindak dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, kita tau bahwa merokok dapat mengganggu kesehatan, tetapi masih ada diantara kita hobi nya merokok. Nah, orang yang hobi nya merokok itu, dapat dikatakan baru sekadar memiliki pengetahuan dibidang kesehatan, tetapi belum memiliki kompetensi atau belum kompeten dibidang kesehatan karena pengetahuannya belum diwujudkan dalam bertindak dan bersikap.

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan tekonologi , dibidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemelihararaa  dan pengawetan ilmu tersebut, melainkan pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yang benar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih spesifik dan menjadi perilaku yang dapat diamati atau diukur. Penerapan tekonologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum ada dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat keras (teknologi alat) dan perangkat (teknologi system).

Model – Model Pengembangan Kurikulum
Model pengembangan kurikulum adalah model yang digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.

Untuk melakukan pengembangan kurikulum ada berbagai model pengembangan kurikulum yang dapat dijadikan acuan atau diterapkan sepenuhnya. Secara umum, pemilihan model pengembangan kurikulum dilakukan dengan cara menyesuaikan sistem pendidikan yang dianut dan model konsep yang digunakan.

Terdapat banyak model pengembangan kurikulum yang dikembangkan oleh para ahli. Sukmadinata (2005:161) menyebutkan delapan model pengembangan kurikulum yaitu: the administrative ( line staff ), the grass roots, Bechamp’s system, The demonstration, Taba’s inverted model, Rogers interpersonal relations,Systematic action, dan Emerging technical model. Idi (2007:50) mengklasifikasikan model-model ini ke dalam dua grup besar model pengembangan kurikulum yaitu model Zais dan model Roger. Masing-masing kelompok memuat beberapa model yang telah diklasif ikasikan oleh Sukmadinata di atas.

A. Model Robert Zais
Robert S. Zais adalah ahli kurikulum yang banyak melontarkan ide-idenya sekitar tahun 1976. Zais mengemukakan delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: The Administrative (Line –Staff) Model, The Grass-Roots Model, The Demostration Model,Beauchamp’s System Model,Taba’s Inverted Model, Roger’s Interpersonal Relations Model, The Systematic Action-Research Model, Emerging Technical Model.

1. The Asdministratif (line-staff) / Model Administrasi
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model pengembangan kurikulum paling lama dan paling banyak dikenal. Model ini diberi nama model administratif atau line-staff atau bisa juga dikenal top-down karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator atau dari pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan, kemudian secara struktural dilaksanakan di tingkat bawah.
Menurut Sanjaya Proses pengembangan kurikulum model ini dilakukan dengan empat langkah, yaitu sebagai berikut:
• Langkah pertama, dimulai dari pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Anggota tim biasanya terdiri dari pejabat yang ada di bawahnya, seperti para pengawas pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan bisa juga ditambah dari tokoh dunia kerja. Tugas tim pengarah ini adalah merumuskan konsep dasar, garis-garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah, dan tujuan umum pendidikan.

• Langkah kedua, menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. Anggota kelompok kerja ini adalah para ahli kurikulum, para ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, ditambah dengan guru-guru senior yang dianggap sudah berpengalaman. Tugas pokok tim ini adalah merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan umum, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran dan alat atau petunjuk evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru.

• Langkah ketiga, apabila kurikulum telah selesai disusun, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi. Bila dianggap perlu kurikulum itu diuji cobakan dan dievaluasi kelayakannya oleh suatu tim yang ditunjuk oleh para administrator. Hasil uji coba tersebut digunakan sebagai bahan penyempurnaan.
•  Langkah keempat, para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah tersusun itu. Berdasarkan langkah-langkah pengembangan seperti yang telah dijabarkan di atas tampak bahwa dalam model pengembangan kurikulum ini guru hanya sebagai pelaksana kurikulum yang telah ditentukan oleh para pemegang kebijakan.

A. Model Grass-Roots 
Model Inisiatif pengembangan kurikulum dalam model ini dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator. Dalam model pengembangan ini, seorang guru, sekelompok guru, atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum.

Model grass-Root ini didasarkan atas empat prinsip yang dikemukakan oleh Smith, Stanley, dan Shores yaitu:
• Kurikulum bertambah baik jika kemampuan profesional guru bertambah baik.
• Kompetensi guru akan bertambah baik jika guru terlibat secara pribadi di dalam merevisi kurikulm.
• Jika guru terlibat dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi, mendefinisikan dan memecahkan masalah, mengevaluasi hasil, maka hasil pengembangan kurikulum akan lebih bermakna.
• Hendaknya diantara guru-guru terjadi kontak langsung sehingga mereka dapat saling memahami dan mencapai suatu konsensus tentang prinsip-prinsip dasar, tujuan, dan rencana.

Adapun kondisi yang memungkinkan guru dapat melakukan pengembangan kurikulum berdasarkan model grass-root ini menurut Sanjaya adalah sebagai berikut:
• Manakala kurikulum itu benar-benar bersifat lentur sehingga memberikan kesempatan kepada setiap guru secara lebih terbuka untuk memperbaharui atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan.
• Pengembangan kurikulum hanya mungkin terjadi manakala guru memiliki sikap profesional yang tinggi disertai kemampuan yang memadai.

Menurut Sanjaya ada beberapa langkah pengembangan kurikulum yang dapat dilakukan sesuai dengan model Grass-Root ini, yaitu sebagai berikut:
• Menyadari adanya masalah, diawali dengan keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya dirasakan ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau masalah kurangnya motivasi belajar siswa dan lain sebagainya.

• Mengadakan refleksi, setelah dirasakan adanya masalah selanjutnya mencari penyebab munculnya masalah tersebut. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan, atau melakukan diskusi dengan teman sejawat, dan mengkaji sumber dari lapangan.

• Mengajukan hipotesis, berdasarkan hasil kajian refleksi, selanjutnya guru memetakan berbagai kemungkinan munculnya masalah dan cara penanggunalangannya.

• Menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.

• mengimpelementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus-menerus hingga terpecahkan masalah yang dihadapi.

• Membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass-root. Langkah ini sangat penting untuk dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi sehingga memungkinkan dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain yang pada gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar.

Berdasarkan penjabaran di atas bahwa di dalam model grass-root ini peranan guru sebagai implementator perubahan dan penyempurnaan kurikulum sangat menentukan. Tugas para administrator dalam pengembangan model ini hanya sebagai motivator dan fasilitator.

A. The Demostration Model 
Model demontrasi pada dasarnya bersifat grass-root, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan kurikulum.
Menurut Smith, Stanley, dan Shores dikutip oleh Sukmadinata model demonstrasi ini terdiri atas dua bentuk, yaitu:

• Bentuk pertama cenderung bersifat formal, sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum. Proyek ini bertujuan mengadakan penelitian dan pengembangan tentang salah sat atu beberapa segi/komponen kurikulum. Hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan dapat digunakan bagi lingkungan yang lebih luas. Kegiatan penelitian dan pengembangan ini biasanya diprakarsai dan diorganisasi oleh instansi pendidikan yang berwenang, seperti direktorat pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, dan sebagainya.

• Bentuk kedua kurang bersifat formal. Beberapa orang guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri. Dengan kegiatan ini mereka mengharapkan ditemukan kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih baik untuk kemudian digunakan di daerah yang lebih luas.

Ada beberapa kebaikan dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini yaitu:
• Karena kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan dihasilkan suatu kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih parkatis.

• Pengembangan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit kemungkinan untuk ditolak oleh administrator dibandingkan dengan pengembangan yang menyeluruh.

• Pengembangan kurikulum dalam skala kecil dengan model ini dapat mengatasi hambatan yang sering dialami, yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaannya tidak ada.

• Model ini menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru. Selain memiliki kebaikan, model ini juga memiliki kelemahan, yaitu bagi guru-guru yang tidak berpartisifasi akan menerimanya dengan separuh hati dan yang terburuk mungkin akan terjadi apatisme.

D. Beauchamp’s System Model / Model Beauchamp
Pengembangan kurikulum dengan menggunakan metode beauchamp memiliki lima bagian pembuat keputusan. Lima tahap tersebut adalah:
1. Memutuskan arena pengembangan kurikulum, suatu keputusan yang menjabarkan ruang lingkup upaya pengembangan.
2. Menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa sajakah yang ikut terlibat dalam pengembangan kurikulum.
3. Organisasi dan prosedur pengembangn kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhandesain kurikulum.
4. Implementasi kurikulum, yakni kegiatan untuk menerapkan kurikulum seperti yang sudah diputuskan dalam ruang lingkup pengembangan kurikulum.
5. Evaluasi kurikulum.

E. Model Taba (Converter Model)
Model ini dikembangkan oleh Hilda Taba atas dasar data induktif yang disebut model terbalik, karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnya dari atas secara deduktif, terlebih dahulu mencari data dari lapangan dengan cara mengadakan percobaan, kemudian disusun teori atas dasar hasil nyata, baru diadakan pelaksanaan.

Taba menggunakan pendekatan akar rumput (grass-roots approach) bagi perkembangan kurikulum. Taba percaya kurikulum harus dirancang oleh guru dan bukan diberikan oleh pihak berwenang. Menurut Taba guru harus memulai proses dengan menciptakan suatu unit belajar mengajar khusus bagi murid-murid mereka disekolah dan bukan terlibat dalam rancangan suatu kurikulum umum. Karena itu Taba menganut pendekatan induktif yang dimulai dengan hal khusus dan dibangun menjadi suatu rancangan umum

Menghindari penjelasan grafis dari modelnya, Taba mencantumkan lima langkah urutan untuk mencapai perubahan kurikulum, sebagai berikut :
a. Producing Pilot Units (membuat unit percontohan) yang mewakili peringkat kelas atau mata pelajaran. Taba melihat langkah ini sebagai penghubung antara teori dan praktek.
1) Diagnosis of needs (diagnosa kebutuhan). Pengembang kurikulum memulai dengan menentukan kebutuhan-kebutuhan siswa kepada siapa kurikulum direncanakan.
2) Formulation of objectives (merumuskan tujuan). Setelah kebutuhan siswa didiagnosa, perencana kurikulum memerinci tujuan – tujuan yang akan dicapai.
3) Selection of content (pemilihan isi). Bahasan yang akan dipelajari berpangkal langsung dari tujuan-tujuan
4) Organization of content (organisasi isi). Setelah isi/bahasan dipilih, tugas selanjutnya adalah menentukan pada tingkat dan urutan yang mana mata pelajaran ditempatkan.
5) Selection of learning experiences (pemilihan pengalaman belajar). Metodologi atau strategi yang dipergunakan dalam bahasan harus dipilih oleh perencana kurikulum.
6) Orgcmzation of learning activities (organisasi kegiatan pembelajaran). Guru memutuskan bagaimana mengemas kegiatan-kegiatan pembelajaran dan dalam kombinasi atau urutan seperti apa kegiatan-kegiatan tersebut akan digunakan.
7) Determination of what to evaluate and of the ways and means of doing it (Penentuan tentang apa yang akan dievaluasi dan cara serta alat yang dipakai untuk melakukan evaluasi). Perencana kurikulum harus memutuskan apakah tujuan sudah tercapai.
8) Checking for balance and sequence (memeriksa keseimbangan dan urutan). Taba meminta pendapat dari pekerja kurikulurn untuk melihat konsistensi diantara berbagai bagian dari unit belajar mengajar, untuk melihat alur pembelajaran yang baik dan untuk keseimbangan antara berbagai macam pembalajaran dan ekspresi.

b. Testing Experimental Units (menguji unit percobaan/eksperimen). Uji ini diperlukan untuk mengecek validitas dan apakah materi tersebut dapat diajarkan dan untuk mcnetapkan batas atas dan batas bawah dari kemampuan yang diharapkan.

c. Revising and Consolidating (revisi dan konsolidasi). Unit pembelajaran dimodifikasi menyesuaikan dengan keragaman kebutuhan dan kemampuan siswa, sumber daya yang tersedia dan berbagai gaya mengajar sehingga kurikulum dapat sesuai dengan semua tipe kelas.

d. Developing a framework (pengembangan kerangka kerja). Setelah sejumlah unit dirancang, perencana kurikulum harus memeriksa apakah ruang lingkup sudah memadai dan urutannya sudah benar.

e. Installing and disseminating new units (memasang dan menyebarkan unit-unit baru). Mengatur pelatihan sehingga guru-guru dapat secara efektif mengoperasikan unit belajar mengajar di kelas mereka.

F. Roger’s Interpersonal Relations Model 
Kurikulum yang dikehendaki hendaknya dapat mengembangkan individu secara fleksibel terhadap perubahan-perubahan dengan cara melatih diri berkomunikasi secara Interpersonal.
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model ini:
• Pertama; pemilihan target dari system pendidikan. Dalam penentuan target ini satu-satunya kriteriya yang menjadi pegangan adalah adanya kesediaan dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan kelompok yang intensif. Selama satu minggu para pejabat pendidikan/administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana yang rileks, tidak formal.

• Kedua; partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Sama seperti yang dilakukan para pejabat pendidikan, guru juga turut serta dalam kegiatan kelompok. Keikutsertaan guru dalam kelompok tersebut sebaiknya bersifat suka rela, lama kegiatan bisa satu minggu atau kurang.
• Ketiga; pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran. Selama lima hari penuh siswa ikut serta dalam kegiatan kelompok, dengan fasilitator para guru atau administrator atau fasilitator dari luar.
• Keempat; partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok. Kegiatan ini bertujuan memperkaya orang-orang dalam hubungannya dengan sesama orang tua, dengan anak dan dengan guru.
Model ini tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegiatan kelompok. Bagi rogers yang terpenting adalah aktivitas dan interaksi. Berkat aktivitas dalam interaksi individu akan berubah. Metode pendidikan yang diutamakan Rogers adalah sensitivility, encounter group dan training group.

G. The Systematic Action-Research Model 
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal yaitu hubungan antarmanusia, organisasi sekolah dan masyarakat, serta otoritas ilmu. Penyusunan kurikulum harus memasukkan pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action research.
Langkah-langkah dalam model ini adalah sebagai berikut:
1. Merasakan adanya suatu masalah dalam kelas atau sekolah yang perlu diteliti secara mendalam
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya
3. Merencanakan secara mendalam tentang bagaimana pemecahan masalahnya
4. Menentukan keputusan-keputusan apa yang perlu diambil sehubungan dengan maslah tersebut
5. Melaksanakan keputusan yang telah diambil dan menjalankan rencana yang telah disusun
6. Mencari fakta secara meluas
7. Menilai kekuatan dan kelemahannya.

H. Emerging Technical Model 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis juga mempengaruhi perkembangan perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal tersebut yang menurut Sukmadinata diantaranya:

a. The behavioral Analysis Model
menekankan pada penguasaan perilaku atau kemampuan. Perilaku/kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku-perilaku perilaku sederhana yang tersusun secara hierarkis. Siswa mempelajari perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks.

b. The System Analysis Model,
berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil belajar tersebut. Langkah ketiga adalah mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.

c. The Computer-Based Model, 
suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentfikasi seluruh unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil yang diharapkan. Guru dan siswa diwawancarai tentang pencapaian tujuan tersebut. Data tersebut disimpan di dalam komputer dan dimanfaatkan dalam menyusun materi pelajaran untuk peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Cholis, Muhammad Nur. 2015. Model – Model kurikulum. Dalam www.muh.cholis.co.id Di unduh pada tanggal 29 – 03 – 2018
Erlita. 2016 . Pengembngan Kurikulum Model Rogers. Dalam http://erlitapunyacerita.blogspot.co.uk/2016/01/pengembangan-kurikulum-model-rogers.html?m=1 Diunduh pada tanggsl 10 – 04 - 2018
Ridha, Salma. 2016. Pengembangan Kurikulum Model Zais Dan Tyler. Dalam
https://saimahridha.wordpress.com/2016/10/13/pengembangan-kurikulum-model-zais-dan-tyler/

Sunday, 15 April 2018

Hakikat Dan Unsur-Unsur Negara


Hakikat Dan Unsur-Unsur Negara

A. Hakikat Negara 

1. Menurut Para tokoh
Keberadaan suatu negara menjadi penting manakala rakyat membutuhkan wadah yang dapat menjamin kelangsungan hidup mereka. Berikut ini adalah pendapat beberapa tokoh tentang hakikat negara..

Plato 
Menurut plato Hakikat negara adalah suatu tubuh yang senantiasa maju, berevolusi, dan terdiri dari orang-orang (individu-individu)

Hugo de Groot (Grotius) 
Menurut Hugo de Groot (Grotius) Hakikat negara adalah ibarat suatu perkakas yang dibuat manusia untuk melahirkan keberuntungan dan kesejahteraan umum.

Thomas Hobbes 
Menurut Thomas Hobbes Hakikat negara adalah suatu tubuh yang dibuat oleh orang banyak, yang masing-masing berjanji akan memakainya menjadi alat untuk keamanan dan perlindungan mereka

J.J. Rousseau 
Menurut J.J. Rousseau Hakikat negara adalah perserikatan rakyat dalam melindungi dan mempertahankan hak masing-masing diri dan harta benda anggota-anggota yang tetap hidup dengan bebas merdeka.

Karl Marx  
Menurut Karl Marx Hakikat negara adalah suatu alat kekuasaan bagi manusia (penguasa) untuk menindas kelas manusia yang lain.

J.H.A. Logemann 
Menurut J.H.A. Logemann, Hakikat negara adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang mempunyai tujuan melalui kekuasaannya dalam mengatur serta menyelenggarakan sesuatu yang berkaitan dengan jabatan, fungsi lembaga kenegaraan, atau lapangan kerja yang terdapat dalam masyarakat.

Roger F. Soltau 
Menurut Roger F. Soltau, Hakikat negara adalah suatu alat (agency) atau kewenangan (authority) yang mengatur atau mengendalikan dalam berbagai persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat

Hans Kelsen 
Menurut Hans Kelsen, Hakikat negara adalah suatu pergaulan hidup bersama dengan tata paksa

R. Kranenburg 
Menurut R.Kranenburg, Hakikat negara adalah suatu organisasi yang kekuasaan diciptakan oleh sekelompok manusia yang disebut dengan bangsa

Ibnu Khaldun 
Menurut Ibnu Khaldun, Hakikat negara adalah suatu tubuh yang persis sama seperti tubuh manusia. Tubuh manusia mengalami masa lahir dan tumbuh (groei). Ada masa muda dan dewasa (bloei). Ada masa tua dan mati (vergaan).

Secara Umum Hakikat Negara - Sejak kata "negara" diterima sebagai pengertian yang menunjukkan organisasi bangsa yang bersifat teritorial (kewilayahan) dan mempunyai kekuasaan tertinggi, yang perlu ada untuk menyelenggarakan kepentingan bersama dan mencapai tujuan bersama, sejak itu pula kata "negara" ditafsirkan dalam berbagai antara lain sebagai berikut :

• "Negara" dipakai dalam arti penguasa, yaitu orang yang melakukan kekuasaan tertinggi atas persekutuan rakyat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu

• "Negara" dipakai dalam arti persekutuan rakyat, yaitu suatu bangsa yang hidup di suatu daerah, dengan dibawah kekuasaan tertinggi menurut kaidah-kaidah hukum yang sama.

Dari penafsiran diatas dapat diketahui bahwa pengertian negara dibedakan menjadi dua yaitu dalam arti formal dan material.

• Dalam arti formal, pengertian negara adalah suatu organisasi kekuasaan dengan suatu pemerintahan pusat. Negara dalam pengertian diartikan seagai pemerintah (staat-overheid). Karakteristik negara formal adalah kewenangan pemerintah untuk menjalankan paksaan fisik secara legal.

• Dalam arti material, pengertian negara adalah suatu masyarakat (staat-gemenschaap) atau negara sebagai persekutuan hidup.

2. Hakikat Negara secara Sosiologis 
a. Ikatan suatu bangsa.
b. Sebagai suatu organisasi kewibawaan.
c. Organisasi sebagai jabatan (ambten organisatie).
d. Organisasi kekuasaan.

3. Hakikat Negara secara Yuridis 
a. Pemilik atau penguasa atas tanah (teori patrimonial-feodal).
b. Pihak yang menguasai atau memerintah (hasil perjanjian timbal balik antara dua pihak – dualistis).
c. Sebagai pelindung dari hak-hak asasi manusia, negara sebagai pelaksana dari kehendak umum (volente generale).
d. Penjelmaan tata hukum nasional (personificatie van het rechtorde) karena eksistensi negara tampak dari adanya bangunan sistem hukum yang berlaku dalam mengatur kehidupan komunitas bangsa tersebut.

B. Unsur-Unsur Negara
Yang dimaksud dengan unsur- unsur negara adalah bagaian- bagian yang menjadikan negara itu ada, unsur- unsur negara adalah :

1. Wilayah tertentu
2. Rakyat.
3. Pemerintahan yang berdaulat.
4. Pengakuan dari negara lain.
5. Wilayah
Wilayah merupakan unsur mutlak suatu negara. Jika warga negara merupakan dasar personal suatu negara, maka "wilayah" merupakan landasan material atau landasan fisik negara. Suatu bangsa nomaden (selalu berpindah-pindah) tidak mungkin mempunyai negara, walaupun mereka memiliki warga dan penguasa sendiri. Luas wilayah negara yang ditentukan oleh perbatasannya.

Di dalam batas- batas itu negara menjalankan yurisdiksi teritorial atas orang dan benda yang berada dalam wilayah itu, kecuali ada beberapa golongan orang dan benda yang dibebaskan dari yurisdiksi itu. Contohnya adalah perwakilan diplomatik negara asing dengan harta benda mereka. Wilayah negara secara umum dapat dibedakan atas wilayah daratan, wilayah lautan, wilayah udara, dan wilayah ekstrateritorial.

a. Wilayah Daratan 
Wilayah daratan tidak sepenuhnya dapat dimiliki sendiri oleh suatu negara. Ini berarti bahwa suatu negara harus berbagi suatu wilayah daratan dengan negara lain. Hal itu jika negara-negara tersebut berada dalam suatu wilayah darat yang sama, seperti benua atau pulau yang sama. Perbatasan wilayah suatu negara umumnya disepakati melalui suatu perjanjian antarnegara (perjanjian internasional).

Perjanjian tersebut dapat berbentuk bilateral apabila hanya menyangkut kepentingan dua negara, dan dapat pula berbentuk multilateral jika perbatasan dengan negara lain itu melibatkan lebih dua negara. Batas-batas daratan biasanya ditentukan dalam perjajian perbatasan dengan negara-negara tetangga. Sebagai batas biasanya ditentukan ciri-ciri alamiah seperti gunung dan sungai. Kadang-kadang batas "buatan" harus dibangun, misalnya dalam bentuk tembok pembatas. Batas wilayah suatu negara dengan negara lain di darat dapat berwujud :
• Batas alamiah, yaitu batas suatu negara dengan negara lain yang terjadi secara alamiah, seperti dalam bentuk sungai, pegunungan dan hutan
• Batas buatan, batas suatu negara dengan bentuk negara lain yang sengaja dibuat oleh manusia dalam bentuk pagar tembok, pos penjagaan, dan kawat berduri
• Batas secara geografis, yaitu batas wilayah suatu negara dengan negara lain yang dapat ditentukan berdasarkan letak geografis yang melalui garis lintang dan garis bujur. Misalnya, letak negara Indonesia secara geografis berada pada 6°LU - 11°LS, 95°BT- 141°BT.

b. Wilayah Lautan 
Tidak semua negara diberi anugerah memiliki laut, apalagi kalau negara tersebut berada di tengah-tengah benua. Negara yang demikian disebut dengan negara land-locked (negara yang tidak memili laut). Negara yang memiliki wilayah laut patut bersyukur karen wilaya ini dapat dijadikan modal bagi kesejahteraan rakyat dan negara. Sebagaimana wilayah daratan, wilayah laut pun memiliki batas-batas.

c. Wilayah Udara 
Wilayah udara suatu negara dapat diklaim berdasarkan perjanjian internasional. Perjanjian internasional yang pernah disepakati mengenai wilayah udara suatu negara adalah konvensi Paris 1919 dan Konvensi Chicago 1944. Di Indonesia, ketentuan wilayah udara suatu negara diatur dalam UU No. 20 tahun 1982.

Berdasarkan UU tersebut dinyatakan bahwa batas wilayah kedaulatan dirgantara yang termasuk orbit geostasioner adalah setinggi 35. 761 km. Dalam Konvensi Paris (1949) dinyatakan dalam bahwa negara-negara merdeka dan berdaulat berhak mengadakan eksplorasi dan eksploitasi di wilayah udaranya, seperti untuk kepentingan radio, penerbangan dan satelit.

d. Wilayah Ekstrateritorial
Wilayah ekstrateritorial adalah wilayah suatu negara yang berada di luar wilayah negara itu. Dengan kata lain, wilayah negara tersebut berada di wilayah negara lain atau di luar wilayah teritorial suatu negara. Contoh untuk ini adalah kantor kedutaan besar suatu negara di negara lain atau kapal asing yang berlayar di laut bebas dengan berbendera suatu negara.

Seorang dua besar memiliki hak ekstrateritorial, selain itu kekebalan diplomatik (hak imunitas yang bersifat pribadi), yaitu hak kedaulatan atas bangunan, gedung dan halaman keduataan besar sampai sebatas pagar. Tak seorang pun boleh memasuki halaman kedutaan besar tanpa izin dari negara atau kedutaan besar yang bersangkutan.

2. Rakyat 
Rakyat secara devinitive sebagai sekumpulan manusia yang hidup disuatu tempat yang dilawankan dengan makhluk- makhluk lain yang hidup didunia. Beberapa istilah yang erat pengertiannaya dengan rakyat :
a) Rumpun (Ras)
b) Bangsa (Volks)
c) Nazi (Natie)

Rumpun diartikan sebagai sekumpulan manusia yang merupakan suatu kesatuan karena mempunyai ciri- ciri jasmaniah yang sama. Karena persamaan ciri- ciri jasmaniah ini sendiri maka penduduk dunia ini dibagi- bagi dalam macam- macam rumpun seperti rumpun melayu, kuning, putih, hitam, dll.

Bangsa diartikan sebagai sekumpulan manusia yang merupakan suatu kesatuan karena mempunyai perasaan kebudayaan, misalnya Bahasa, adat, agama, dll. Oleh karena itu orang menyebut bangsa arab, walaupun didalamnya terdiri bangsa- bangsa mesir, irak, yordania, dll. Dengan ciri-ciri di atas maka jelaslah bahwa arti rumpun dibedakan daripada bangsa.

Natie(nazi) juga sering disebut dengan bangsa akan tetapi mempunyai ciri yang berbeda. Natie diartikan sebagai sekumpulan manusia yang merupaka suatu kesatuan karena mempunyai kesatuan politik yang sama, contoh: Swis karena sebenarnya terdiri dari bangsa- bangsa yang berbeda bahasanya sehingga negara itu disebut sebagai negara nasional karena negara itu didirikan atas keadaan nasional.

Setelah diuraikan arti rumpun, bangsa dan natie maka rakyat itu mempunyai arti yang netral dan rakyat sebagai salah satu unsur daripada negara harus dihubungkan dengan ikatannya dengan negara karena itu rakyat harus dimaksudkan sebagai warga negara yang dibedakan dengan orang asing.
   
Ikatan seseorang yang menjadi warga negara menimbulkan hak dan kewajiban maka kedudukan seorang warga negara dapat disimpulkan dalam empat hal yang disebut:

1. Status positif.
Memberi hak kepadanya untuk menuntut tindakan positif daripada negara mengenai perlindungan atas jiwa , raga, milik, kemerdekaan dan sebagainya. Untuk itu maka negara membentuk badan- badan penyenggaraan negara demi kepentingan warganya.

2. Status negatif.
Status negatif seorang warga negara akan memberi jaminan kepadanya bahwa negara tidak boleh mencampuri terhadap hak- hak asasi warga negaranya terkecuali untuk kepentingan umum.

3.Status aktif.  
Status pasif ini merupakan kewajiban bagi setiap warga negaranya untuk mentaati dan tunduk terhadap segala perintah negaranya, contoh: wajib militer saat terjadi perang.

Mengenai soal kewarganegaraan masing- masing negara menganut asas yang menguntungkan, misalnya orang mengenal dua macam asas kewarganegaraan dan lainnya adalah campuran dari kedua asas itu.

1. Ius Sanguinus adalah suatu asas dimana seseorang menjadi warga negara negara    berdasarkan keturunan jadi seorang menjadi WNI karena dia lahir di Indonesia dengan orang tua yang berkewarganegaraan Indonesia.

2. Ius Soli adalah suatu asas yang seorang menjadi warga negara berdasarkan tempat kelahiran. Jadi seorang menjadi WNI bila dia lahir diwilayah Indonesia.
Bisa dikatakan dengan campuran apabila kedua asas itu diperlakukan.

3. Pemerintahan yang Berdaulat 
Adanya suatu pemerintahan yang berkuasa atas seluruh wilayahnya dan segenap rakyatnya merupakan syarat mutlak keberadaan negara. Pemerintahan lain atau negara lain tidak berkuasa di wlayah dan atas rakyat negara itu.

Kekuasaan seperti itu disebut kedaulatan (sovereignty). Jadi, kedaulatan adalah kekuasaan terntinggi dalam suatu negara yang berlaku terhadap seluruh wilayah dan segenap rakyat negara itu. Kedaulatan negara itu bersifat (1) asli, karena bukan berdasarkan kekuasaan lain; (2) tertinggi, karena tidak ada kekuasaan lain yang lebih tinggi di atasnya; dan (3) tidak dapat dibagi-bagi, karena baik ke dalam maupun keluar, negara itu berdaulat sepenuhnya.

Menurut Jean Bodin, ada empat sifat kedaulatan, yaitu (1) asli, artinya kekuasaan itu tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih tinggi; (2) permanen, artinya kekuasaan itu tetap ada selama negara itu berdiri, walaupun pemegang kedaulatan berganti-ganti; (3) tunggal (bulat, artinya kekuasaan itu merupakan satu-satunya kekuasaan tertinggi dalam negara yang tidak dibagi-bagi kepada badan lain; dan (4) tidak terbatas, artinya kekuasaan itu tidak dibatasi oleh kekuasaan lain.

Bila ada kekuasaan lain yang membatasinya, maka kekuasaan tertinggi yang dimilikinya akan lenyap. Pemerintah bida dibedakan atas pemerintah dalam arti luas dan pemerintah dalam arti sempit. Pemerintah dalam arti luas adalah keseluruhan alat perlengkapan negara yang memegang kekuasaan, yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Di pihak lain, pemerintah dalam arti sempit adalah seluruh alat perlengkapan negara yang melaksanakan fungsi pemerintahan saja, yaitu lebmaga negara yang melaksanakan fungsi pemerintahan saja, yaitu lembaga eksekutif (presiden dan para menteri) yang bertugas menjalankan undang-undang yang telah dibuat oleh lembaga legislatif.

Adapun kedaulatan yang dimiliki pemerintah dapat berupa :
• Kedaulatan ke dalam, artinya pemerintah memiliki kewenangan tertinggi dalam mengatur dan menjalankan organsiasi negara sesuai dengna peraturan perundangan yang berlaku

• Kedaulatan ke luar, artinya pemerintah berkuasa bebas, tidak terikat dan tidak tunduk kepada kekuatan lain. Pemerintah harus pula menghoramti kekuasaan negara yang bersangkutan dengan tidak mencampuri urusan dalam negerinya.

4.Pengakuan dari Negara Lain
Pengakuan dari negara lain merupakan unsur yang memperkuat terbentuknya sebuah negara. Pengakuan dari negara lain merupakan unsur yang menerangkan bahwa suatu negara telah berdiri sehingga negara tersebut dikenal oleh negara-negara lain. Pengakuan dari negara lain terdiri atas dua macam antaralain sebagai berikut.

a. Pengakuan de facto, adalah pengakuan yang berdasarkan kenyataan yang berupa ada atau fakta yang sungguh-sungguh nyata tentang berdirinya suatu negara
• Pengakuan de facto yang bersifat tetap, adalah pengakuan dari negara lain terhadap suatu negara yang bisa menimbulkan hubungan di bidang perdagangan dan ekonomi.
• Pengakuan de facto yang bersifat sementara, adalah pengakuan yang diberikan oleh negara lain tanpa melihat perkembangan negara tersebut. Apabila negara tersebut hancur, maka negara lain akan menarik pengakuannya.

b. Pengakuan de jure, adalah pengakuan yang berdasarkan pada pernyataan resmi menurut hukum internasional.
• Pengakuan de jure bersifat tetap , adalah pengakuan dari negara lain yang berlaku untuk selamanya karena kenyataan yang menunjukkan adanya pemerintahan yang stabil.
• Pengakuan de jure bersifat penuh, adalah terjadinya hubungan antarnegara yang mengakui dan diakui dalam hubungan dagang, ekonomi dan diplomatik. Negara yang mengakui berhak menempati konsulat atau membuka kedutaan di negara yang diakui.                              

DAFTAR  PUSTAKA
http://www.artikelsiana.com/2015/05/sifat-negara-hakikat-negara-pengertian.html
http://www.tugassekolah.com/2016/01/penjelasan-unsur-unsur-negara.html
http://agil-asshofie.blogspot.co.id/2011/11/teori-asal-mula-negara.html

KELOMPOK 4

                     RABIA    
    RUSLIN BADIRUHAN
                                       MUSRIANTO                   

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON
BAUBAU
2018