Tampilkan posting dengan label SISWA. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label SISWA. Tampilkan semua posting

Selasa, 21 Februari 2017

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa_ kecemasan belajar siswa adalah dorongan pikiran dan perasaan dalam diri individu/siswa yang berisikan ketakutan akan bahaya atau ancaman di masa yang akan datang tanpa sebab khusus, sehingga mengakibatkan terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku sebagai hasil tekanan dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademis, dimana ditandai adanya rasa takut, gelisah dan tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar sehingga pencapaian prestasi tidak dapat dicapai dengan optimal.

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

faktor penyebab dari kecemasan dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. , faktor internal meliputi gangguan atau ketidakmampuan psiko-fisik siswa yang dapat bersifat kognitif (rendahnya intelektual/ inteligensi siswa), afektif (labilnya emosi dan sikap), dan psikomotor (terganggunya alat indera siswa). Faktor Eksternal, faktor eksternal meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar siswa (lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah).

Baca juga:
Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, menurut Sudrajat (2011) di antaranya dapat dilakukan melalui:

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. 
Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya.

2. Mengembangkan “sense of humor”
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat mengembangkan “sense of humor” dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, lelucon atau “joke” yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.

3. Melakukan kegiatan selingan 
Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi “game” atau “ice break” tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya sangat diperlukan.

4.  Pembelajaran diluar kelas
Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.

5. Memberikan tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat
Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.

6. Menggunakan pendekatan humanistik

Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.

7. Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan

Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.

8. Menanamkan kesan positif dalam diri siswa
Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.

9. Pengembangan menajemen sekolah

Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.

10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. 
Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.

Langkah-langkah memberikan bimbingan dan bantuan yang efektif bagi siswa yang mengalami kecemasan belajar 

Untuk memberikan bimbingan dan bantuan yang efektif bagi siswa yang mengalami kecemasan belajar, maka seorang guru terlebih dahulu melakukan diagnosis kesulitan belajar . Syah (2012) mengemukakan langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain :
1. Mengenal peserta didik yang mengalami kecemasan belajar.
2. Memahami sifat dan jenis kecemasan belajar yang dialami oleh siswa
3. Menetapkan latar belakang siswa yang mengalami kecemasan belajar
4. Menetapkan usaha-usaha bantuan
5. Pelaksanaan bantuan
6. Tindak lanjut

Uraian selengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Mengenal peserta didik yang mengalami kecemasan belajar.
Identifikasi siswa yang mengalami kecemasan belajar dilakukan dengan :
a. Menganalisis prestasi belajar
b. Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
c. Menganalisis hubungan sosial

2. Memahami sifat dan jenis kecemasan belajar yang dialami oleh siswa Setelah siswa-siswa yang mengalami kecemasan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
a. Pada mata pelajara apa yang bersangkutan mengalami kecemasan;
b. Pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kecemasan terjadi;
c. pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kecemasan terjadi;
d. pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kecemasan terjadi.

3. Menetapkan latar belakang kecemasan belajar
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kecemasan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Teknik pengungkapan faktor penyebab kecemasam belajar dapat dilakukan dengan : 1) observasi;  2) wawancara;   3) kuesioner; 4) skala sikap, 5) tes; dan 6) pemeriksaan secara medis.

4. Menetapkan usaha-usaha bantuan
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik teknik yang dipilih untuk mengatasi kecemasan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kecemasan belajar tidak terjadi lagi.

5. Pelaksanaan bantuan
Tahap ini, apa saja yang telah ditetapkan pada tahap keeempat dilaksanakan.

6. Tindak Lanjut

Demikianlah 10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa serta langkah-langkahnya yang bisa anda coba aplikasikan dalam menangani kesulitan belajar yang dialami siswa. semoga artikel ini bermanfaat bagi anda

Minggu, 12 Februari 2017

7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi

7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi_ Banyak siswa yang berharap memiliki prestasi gemilang karena dengan prestasi yang berhasil digapai menjadi bukti pada orang yang ada disekitarnya tentang kemampuan yang dimilikinya. Prestasi yang dicapai juga menjadi bukti pada diri sendiri bahwa jika terus berusaha dengan sungguh-sungguh semua yang diimpikan bisa terwujud. Menjadi siswa berprestasi memiliki kharisma tersendiri, seperti akan lebih dihargai orang lain, diakui, menjadi kebanggaan orang tua dan akan mendapat banyak teman karena beberapa alasan tersebut banyak siswa yang memiliki obsesi besar untuk berprestasi. Ada beberapa alasan atau inspirasi tersendiri sehingga seseorang bisa meraih suatu prestasi seperti ingin membanggakan orang tua, memiliki mimpi besar yang ingin dicapai dan lain-lain.



Namun tak jarang beberapa siswa yang sudah bersungguh-sungguh untuk belajar akan tetapi belum mampu meraih prestasi yang membanggakan. Oleh karena itu untuk menjadi siswa yang berprestasi tidak ada salahnya belajar bagaimana cara orang lain sehingga bisa meraih suatu prestasi, hal tersebut bisa dimulai dari mengamati cara belajar siswa tersebut, tingkah lakunya, dan keterampilan yang dimiliki.

Baca juga:
Bagaimana sih cara belajar yang diterapkan oleh siswa yang berprestasi? Dalam artikel ini akan diulas teknik, strategi, cara yang biasanya diterapkan oleh siswa berprestasi, berikut ulasannya.

7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi

1. Rajin Membaca
Buku adalah jendela dunia, dengan rajin membaca akan banyak ilmu pengetahuan yang bisa didapatkan dan akan memperkaya khazanah wawasan yang dimiliki seorang siswa. rajin membaca adalah syarat mutlak yang harus dilakukan untuk bisa menjadi siswa yang berprestasi. Rata-rata siswa yang berprestasi di sekolah memiliki minat membaca yang cukup besar, kebiasaan membaca tidak hanya ketika berada di sekolah tetapi juga ketika berada di rumah atau di lingkungan sekitar. Mendapatkan ilmu melalui membaca saat ini bukan hanya melalui buku tetapi juga bisa melalui media laptop, smartphone dan lain-lain.

2. Memiliki keingintahuan yang tinggi
Coba anda amati siswa yang juara kelas atau siswa yang berprestasi di sekolah anda, bagaimana motivasinya untuk mengetahui sesuatu yang baru atau seberapa besar rasa keingintahuannya terhadap hal-hal baru atau yang baru, besar bukan rasa keingintahuannya. Salah satu kebiasaan yang dimiliki beberapa siswa yang berprestasi adalah mereka memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, misalkan ketika diberikan tugas yang sulit atau masalah yang sulit dipecahkan justru mereka akan semakin bersemangat untuk menyelesaikan tugas tersebut.

3. Fokus dalam belajar
Siswa yang berprestasi selalu fokus ketika belajar, fokus bukan berarti mereka menjadi kutu buku atau jarang bergaul akan tetapi fokus disini adalah dia mampu belajar dalam kondisi apapun, misalkan ketika kondisi kelas yang ribut dimana teman-teman yang lain sedang bermain dia tetap bisa mencerna pembelajaran dengan baik selain itu mereka tidak mudah terganggu ketika belajar.

4. Memiliki inisiatif
Selanjutnya siswa yang berprestasi juga biasanya memiliki inisiatif yang tinggi, misalkan ketika guru meminta seorang siswa untuk maju kedepan menyelesaikan sebuah soal maka dengan inisiatifnya dia akan terlebih dahulu maju untuk menyelesaikan soal-soal tersebut sebelum teman-teman yang lain, juga memiliki inisiatif untuk bertanya jika ada pelajaran yang tidak diketahui dan tidak merasa malu akan ketidaktahuaannya tersebut.

5. Disiplin dalam belajar
Gaya belajar siswa berprestasi adalah memiliki displin tinggi, siswa yang berprestasi biasanya sudah membuat jadwal belajar dan jadwal bermain setiap harinya, ketika jadwal belajarnya telah tiba maka dia akan segera untuk mulai belajar dan meninggalkan aktivitas yang sedang dia lakukan selain itu siswa yang berprestasi tidak suka menunda-nunda pekerjaan, jika ada tugas atau pekerjaan rumah maka dia akan berusaha segera menyelesaikannya.

6. Berusaha memahami dan menguasai konsep pembelajaran
Cara belajar selanjutnya yang dimiliki orang yang berprestasi adalah selalu berusaha memahami konsep suatu materi pembelajaran, jika dia telah menguasai dan memahami konsep pembelajaran tersebut barulah ia akan melangkah ke pelajaran selanjutnya. misalnya ketika belajar matematika dengan materi pembagian maka ia akan fokus mempelajari cara pembagian tersebut baik secara konsep maupun praktik dan ketika ia telah benar-benar paham tentang pembagian barulah ia melangkah ke materi pelajaran selanjutnya. 

7. Menggunakan metode swot
Swot adalah singkatan dari Strenght (kekuatan), Weaknes (kelemahan), Oportunitis (kesempatan) dan Threats (ancaman). Siswa yang berprestasi biasanya akan menganalisa apa kekuatan yang dimiliki, kelemahan yang dimiliki, kesempatan dan ancaman pada dirinya setelah memahami keempat hal tersebut kemudian diakan memperbaiki apa yang kurang darinya dan memaksimalkan apa yang menjadi kelebihannya.

Demikianlah 7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi yang bisa anda coba tiru dan terapkan pada diri anda agar mampu dan bisa menjadi siswa yang berprestasi dan menjadi kebanggan orang tua. Dan ingat prestasi yang dicapai seseorang adalah hasil perkalian antara usaha, kesabaran dan doa maka lakukan ketiga hal tersebut agar anda bisa menjadi siswa yang berprestasi.

Sabtu, 21 Januari 2017

7 Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa

7 Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa_ Minat belajar merupakan suatu sikap tertentu yang bersikap sangat pribadi pada setiap orang yang ingin belajar (Sudarsono, 2003). Minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing  orang. 

Baca juga: 
9 Cara Menjadi Guru Yang Menyenangkan Bagi Siswa 

Pihak lain hanya memperkuat menumbuhkan minat dan untuk memelihara minat yang  telah dimiliki seseorang. Beberapa hal yang bisa dilakukan  oleh siswa untuk menumbuhkan minat terhadap bidang studi tertentu, yaitu :

 

Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa Terhadap Bidang Studi Tertentu
 

1. Berusaha memperoleh informasi tentang bidang studi tersebut. 
Siswa dapat mencari berbagai informasi selengkap mungkin tentang bidang studi tersebut, seperti mengenal sejarahnya, tokoh-tokohnya, bidang-bidang kerja yang dapat dimasuki, kesempatan untuk maju dan hal-hal menarik lainnya.
 

2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bidang studi tersebut. 
Membuat catatan-catatan pribadi, menulis karangan ilmiah popular, melakukan penelitian-penelitian sederhana atau berdiskusi dengan teman (Loekmono, 1994).

Crow (Loekmono, 1994) mengemukakan lima butir motif penting yang dapat dijadikan alasan-alasan untuk mendorong tumbuhnya minat belajar dalam diri seseorang yakni :
 

Cara Menumbuhkan Minat Belajar dalam Diri Sendiri

#1. Suatu hasrat keras untuk memperoleh nilai-nilai yang lebih baik dalam semua mata pelajaran.
#2. Suatu dorongan batin memuaskan rasa ingin tahu dalam satu atau lain bidang studi.
#3. Hasrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi.
#4. Hasrat untuk menerima pujian dari orang tua, guru dan teman-teman.
#5. Gambaran diri dimasa mendatang untuk  meraih sukses dalam bidang khusus tertentu.  

Cara Guru Dalam Menumbuhkan Minat Belajar Siswa
 

Ada beberapa macam cara yang dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai berikut :
1. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, sehingga dia rela belajar tanpa paksaan. 
2. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah menerima bahan pelajaran. 
3. Memberikan kesempatan kepada anak  didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif. 
4. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual anak didik (Djamarah, 1994).

'Fungsi Minat dalam Belajar'

Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Jika seorang siswa memiliki rasa ingin belajar, ia akan cepat dapat mengerti dan mengingatnya.
Hurlock (Wahid, 1998) menulis tentang fungsi minat bagi kehidupan seorang anak sebagai berikut:


1. Minat mempengaruhi bentuk intensitas cita-cita. 
Sebagai contoh anak yang berminat pada olah raga maka cita-citanya adalah menjadi olahragawan yang berhasil, sedangkan anak yang berminat pada kesehatan fisiknya maka cita-citanya menjadi dokter.
 

2. Minat sebagai tenaga pendorong yang kuat. 
Minat anak untuk menguasai pelajaran bisa mendorongnya untuk belajar kelompok di tempat temannya meskipun  suasana sedang hujan.
 

3. Hasil selalu dipengaruhi oleh jenis dan intensitas. 
Minat seseorang meskipun diajar oleh guru yang sama dan diberi pelajaran tapi antara satu anak dan yang lain mendapatkan jumlah pengetahuan yang berbeda. Hal ini terjadi karena berbedanya daya serap mereka dan daya serap ini dipengaruhi oleh intensitas minat mereka.
 

4. Minat yang terbentuk sejak kecil 
Masa kanak-kanak sering terbawa seumur hidup karena minat membawa kepuasan. Minat menjadi guru yang telah terbentuk sejak kecil akan terus terbawa sampai hal ini menjadi kenyataan. Apabila ini terwujud maka semua suka duka menjadi guru tidak akan dirasa karena semua tugas dikerjakan dengan penuh sukarela.  Dan apabila minat ini tidak terwujud maka bisa menjadi obsesi yang akan dibawa sampai mati.
 

Dalam hubungannya dengan pemusatan perhatian, minat mempunyai peranan dalam melahirkan perhatian yang serta merta, memudahkan terciptanya pemusatan perhatian dan mencegah gangguan perhatian dari luar. Oleh karena itu minat mempunyai pengaruh yang besar  dalam belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, sebab tidak ada daya tarik baginya. Sedangkan bila bahan pelajaran itu menarik minat siswa, maka ia akan mudah dipelajari dan disimpan karena adanya minat sehingga menambah kegiatan belajar.
 

Fungsi minat dalam belajar lebih besar sebagai motivating force yaitu sebagai kekuatan yang mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk terus tekun karena tidak ada pendorongnya. Oleh sebab itu untuk memperoleh hasil yang baik dalam belajar seorang siswa harus mempunyai minat terhadap pelajaran sehingga akan mendorong ia untuk terus belajar.

Demikianlah artikel tentang 7 Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa yang bisa menjadi refrensi atau bahan masukan bagi anda dalam proses menumbuhkan minat belajar siswa atau anak anda semoga artikel tersebut bermanfaat.

Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa)

Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa)_ LKS atau biasa disebut dengan lembar kerja siswa adalah sebuah buku yang dibagikan kepasa siswa yang berisi soal-soal dan materi pelajaran secara singkat. LKS bertujuan untuk meningkatkan atau menambah sumber belajar siswa sekaligus sebagai media untuk latihan soal-soal.

Baca juga:
Cara Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)



Namun tahukah kita bahwa LKS yang diedarkan di sekolah-sekolah jharus memenuhi syarat-syarat dalam penerbitannya. apa saja syarat dalam dalam menyusun LKS. Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam menyusun/membuat LKS menurut Rudiyanto (dalam Mervin, 2003:48) antara lain.

"Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa)"


a. Syarat-syarat didaktik.
LKS sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya proses pembelajaran harus mengikuti asas-asas pembelajaran yang efektif, yaitu:
1. Tekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep sehingga LKS di sini berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi siswa untuk mencari tahu,
2. Tidak memperhatikan adanya perbedaan individual sehingga LKS yang baik itu adalah yang dapat digunakan baik oleh siswa yang lambat, sedang, maupun yang pandai.
 

b. Syarat-syarat konstruksi
Persyaratan konstruksi yang harus dipenuhi dalam penyusunan LKS adalah syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kesederhanaan penggunaan kata-kata dan kejelasan yang pada hakekatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh siswa. Berkaitan dengan hal tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun dan membuat LKS, yaitu:
1. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan (tingkat perkembangan kognitif) siswa;
2. Menggunakan struktur kalimat atau kata-kata yang jelas;
3. Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, apabila konsep yang hendak dituju merupakan sesuatu yang kompleks, dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana;
4. Menggunakan kalimat yang pendek dan sederhana;
5. Memiliki tujuan pembelajaran yang jelas serta manfaat dari pelajaran itu sebagai sumber motivasi;
6. Mempunyai identitas untuk lebih memudahkan administrasi, misalnya nama, kelas, mata pelajaran, tanggal, dan sebagainya.
 

c. Syarat-syarat teknis
Penyusunan dan pembuatan LKS juga harus memenuhi syarat-syarat teknis sebagai berikut:

1. Tulisan
Tulisan atau huruf yang harus digunakan adalah (1) menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf romawi/latin disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa, (2) menggunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, bukan garis bawah, (3) banyak kata dalam satu baris tidak lebih dari 10 kata.
 

2. Gambar
Gambar harus dapat menyampaikan pesan/isi dari gambar tersebut secara efektif terhadap pengguna LKS. Gambar/ilustrasi sesuai dengan keadaan setempat dan penggunaan orang.

3. Penampilan

Penampilan harus memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan. Di samping itu harus memperhatikan pada format dan syarat-syarat penulisan yang sesuai dengan kurikulum. Dalam menyusun LKS hendaknya memenuhi beberapa komponen antara lain: (1) topik yang dibahas, (2) waktu yang tersedia untuk melakukan kegiatan, (3) tujuan pembelajaran, (4) kompetensi dasar, (5) rangkuman materi, (6) alat pelajaran yang digunakan, dan (7) prosedur kegiatan.

Berdasarkan uraian di atas maka lembar kerja siswa (LKS) yang dibuat pada penelitan ini berisikan petunjuk yang harus siswa ikuti, tujuan pembelajaran khusus, tugas yang harus dikerjakan untuk melihat kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika. Buku pendukung siswa mengerjakan LKS adalah buku siswa. Demikinalah artikel tentang Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa) semga bermanfaat

6 Cara Penulisan Buku siswa

Cara Penulisan Buku siswa_ Buku siswa tak dapat dipungkiri memberi andil dalam proses belajar siswa, buku siswa bisa menjadi bahan refrensi dalam pembelajaran selain itu buku siswa juga bisa memperkaya media dan sumber belajar siswa dan guru.

Baca juga:
Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa) 

Nagh oleh karena itu penulis dalam artikel ini akan sedikit berbagi tips bagaimana sih cara penulisan buku siswa yang baik dan benar. berikut ulasan cara penulisan buku siswa yang baik dan benar:

6 Cara Penulisan Buku siswa

6 Cara Penulisan Buku siswa
Cara Penulisan Buku siswa_ Beberapa petunjuk tentang  penulisan buku siswa menurut Collette & Chiappetta (dalam Mervin, 2003) antara lain:
 

1. Isi  
Isi buku siswa yang dibuat sesuai dengan keadaan sekarang, sesuai dengan tingkat usia siswa yang meliputi latar belakang dan perkembangan dari konsep dan prinsip serta relevan dengan siswa (misalnya kota atau desa).
 

2. Organisasi
Organisasi penulisan buku siswa,  topik dan sub topik memenuhi silabus/kurikulum, fleksibel dan materi dalam sub bab diorganisasikan dengan baik.
 

3. Tingkat bacaan
Penggunaan kalimat atau kata dalam buku siswa serta jenis dan ukuran huruf disesuaikan dengan tingkat usia siswa, kata-kata teknis diusahakan minimal, dan diterangkan dengan jelas.
 

4. Ilustrasi 
Ilustrasi dalam buku siswa sesuai dengan keadaan sekarang, foto harus jelas dan bermutu, ilustrasi sesuai dengan isi buku, judul halaman dan bab ditulis dengan baik dan tepat, ilustrasi berguna dalam pembelajaran dan ilustrasi ditempatkan secara strategis dalam teks.
 

5. Alat pembelajaran (latihan) 
Pada akhir satu atau dua sub topik dibuat pertanyaan yang disusun dengan baik dan berguna untuk review, cocok untuk jangkauan yang luas dari kemampuan siswa, kegiatan disarankan menantang dan memacu pemikiran.
 

6. Hiasan fisik dari buku siswa 
Agar supaya siswa termotivasi pada saat melihat buku siswa maka sampul buku siswa harus menarik, buku dibuat dengan baik dan tahan lama, ukuran buku sesuai, cetakannya menarik, mudah dibaca, rancangan halaman tidak kacau, dan kertas yang digunakan berkualitas baik.; Sementara buku siswa dalam penelitian ini memuat tujuan pembelajaran, isi, dan latihan-latihan soal.

Demikianlah artikel tentang bagaimana 6 Cara Penulisan Buku siswa yang bisa menjadi pedman bagi bapak atau ibu guru dalam menyusun buku siswa. semga bermanfaat

Selasa, 17 Januari 2017

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa_ Salah satu metode dalam proses pembelajaran untuk mengukur pemahaman siswa adalah dengan metode pemberian tugas. Pemberian tugas bisa dalam bentuk ulangan, tugas harian, tugas lisan dan tugas praktik.

Baca juga:
11 Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler Bagi Siswa 
5 Manfaat Pembelajaran Kooperatif Bagi Siswa

Selain itu tugas dalam bentuk kerja kelompok juga cukup efektif dalam mengetahui tingkat pemahaman siswa dan kemampuan bekerja secara berkelompok maupun bekerja secara individual. Pemberian tugas kepada siswa juga harus secara proporsional atau sesuai dengan kemampuan siswa, agar tugas yang diberikan tidak menjadi beban bagi siswa.

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa

Pemberian tugas kepada siswa juga memiliki banyak manfaat serta kelebihan. Oleh karena itu sebaiknya selalu menyempatkan memberi tugas kepada siswa agar manfaat-manfaat dari pemberian tugas kepada siswa bisa terinterpretasikan dalam diri siswa. Apa saja manfaat dari pemberian tugas kepada siswa? Setidaknya Pemberian tugas kepada siswa memiliki 5 manfaat yang baik bagi siswa. berikut pemaparannya. 

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada Siswa

Menurut Roestiah (2008), bahwa suatu proses belajar mengajar yang dilaksanakan dengan metode pemberian tugas, mempunyai kelebihan-kelebihan diantaranya adalah:
 

1. Mengaktifkan siswa untuk mempelajari sendiri masalah dengan jalan mencoba menyelesaikan sendiri. 
Manfaat pertama pemberian tugas kepada siswa adalah siswa akan menjadi lebih aktif, berusaha mencari solusi atas masalah atau tugas yang dihadapinya dengan melakukan hal tersebut siswa akan menjadi pribadi yang pekerja keras, pantang menyerah dan kemampuan berpikir siswa dalam mencari jalan keluar atas masalahnya semakin meningkat. siswa yang aktif dalam menyelesaikan tugasnya akan berdampak positif kepada kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor siswa.
 
2. Mengerjakan soal sendiri
Manfaat selanjutnya pemberian tugas kepada siswa adalah siswa menjadi terbiasa mengerjakan tugasnya sendiri hal tersebut akan mengajarkan sikap mandiri kepada siswa dan tidak selalu mengandalkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya.
 

3. Membiasakan anak berfikir
Hal positif lainnya dengan memberikan tugas kepada siswa adalah membiasakan siswa berpikir berpikir terbuka dan mencari pemecahan masalah dengan berbagai sudut pandang. Hal tersebut juga akan memancing kemampuan berpikir kritis siswa.
  
4. Melatih anak berhadapan dengan persoalan, tidak hanya hafalan. 
Selain itu pemberian tugas juga membuat siswa belajar dengan lebih realistis dan kontekstual bukan hanya mempelajari berbagai teori dan konsep saja namun siswa juga akan belajar dalam hal aplikatif atau bagaimana menerapkan ilmu yang telah dipelajari melalui penyelesaian tugas yang diberikan.

5. Mengembangkan inisiatif serta tanggung jawab dari siswa.
Manfaat terakhir pemberian tugas kepada siswa adalah siswa akan belajar bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadapad tugas dan amanah yang dibebankan kepadanya selain itu pemberian tugas juga mendidik anak menjadi lebih inisiatif dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Demikianlah sedikit ulasan tentang 5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa dan hal yang juga perlu diperhatikan terhadap tugas yang diberikan kepada siswa, apakah komponen-komponen atau unsur-unsur dalam tugas tersebut baik dari unsur kognitif, afektif dan psikomotor mampu tertanan dalam diri siswa agar tujuan pembelajaran dalam bentuk tugas bisa tercapai. Oleh karena itu dibutuhkan analisis butir-butir soal yang matang oleh guru sebelum memberikan tugas kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran tercapai maksimal. semoga artikel 5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa bermanfaat bagi anda.

Senin, 16 Januari 2017

6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti pembelajaran di Sekolah

6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti pembelajaran di Sekolah_ Setiap guru pasti berharap proses pembelajaran berlangsung secara menyenangkan dan membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena ketika siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran maka kemampuan siswa dalam menangkap materi pembelajaran juga bisa maksimal sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai. Namun harapan terkadang berbanding balik dengan fakta yang anda,  terkadang dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah muncul perasaan jenuh dan bosan untuk mengikuti pembelajaran. Perasaan bosan dan jenuh pada siswa biasanya muncul diakhir-akhir jam sekolah karena pada waktu tersebut konsentrasi anak dalam mengikuti pembelajaran mulai menurun jadi untuk mengatasi hal tersebut butuh cara khusus agar semangat dan motivasi belajar siswa tetap tinggi dalam mengikuti pembelajaran.


Terkadang juga kita menemukan beberapa guru yang sudah susah payah menjelaskan panjang lebar suatu materi pelajaran namun siswa kurang mampu memahami maksud guru, namun guru kurang menyadari hal tersebut dan terus melanjutkan materi pembelajaran tanpa berusaha mengecek pemahaman siswa, sehingga ketika pertemuan selanjutnya guru bertanya tentang materi pelajaran yang telah pelajari sebelumnya akan tetapi kebanyakan siswa sudah tidak mengingat materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya. Hal demikian sebaiknya bisa diminimalisir agar pembelajaran tidak menjadi kurang bermakna, ibaratkan “masuk telinga kiri keluar di telinga kanan” atau kurang membekas dalam ingatan siswa.
 

Baca juga:
7 Cara Mengatasi Anak Yang Lambat Memahami Pelajaran 
 
Perasaan bosan dan jenuh dalam mengikuti pembelajaran menjadi hal yang mesti diminimalisir oleh guru dengan menerapkan metode dan teknik pembelajaran yang efektif membangkitkan semangat belajar siswa. Bagaimana sih Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengkuti pembelajaran ? dalam artikel ini akan diulas secara detail Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengkuti pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai; berikut pemaparannya.
 

6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti pembelajaran di Sekolah

1. Menerapkan pembelajaran yang bervariasi 
Salah satu yang menyebabkan munculnya perasaan bosan dan jenuh dalam diri siswa adalah pembelajaran yang monoton atau dengan cara yang begitu-begitu saja. Oleh karena itu cara agar siswa tidak bosan mengkuti pembelajaran, sebaiknya guru menerapkan pembelajaran yang bervariasi, misalkan dalam pertemuan pertama guru menggunakan model pembelajaran mind mapping maka dalam pertemuan selanjutnya guru menggunakan model lain seperti model pembelajaran berbasis pengalaman dan begitupun dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jika hal tersebut dilakukan maka siswa akan selalu antusias mengikuti pembelajaran sehinggan perasaan bosan dan jenuh bisa dihindari.
 

2. Melibatkan siswa dalam pembelajaran 
Penyebab lain munculnya rasa bosan dan jenuh dalam diri siswa adalah cara guru dalam mengajar yang kurang tepat. Sebagian guru mengajar dengan menggunakan metode teacher center yakni pembelajaran lebih banyak berpusat pada guru sehingga siswa seolah-olah hanya sebagai pendengar dalam pembelajaran, sebaiknya dalam proses pembelajaran diterapkan metode student center dimana siswa yang menjadi pusat pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif dan terlibat dalam pembelajaran, peran guru dalam student center sebagai fasilitator, katalisator, motivator dan inspirator. Dengan metode tersebut siswa akan lebih antusias dalam mengikuti pelajaran serta bisa mencegah perasaan jenuh dan bosan dalam belajar
 

3. Kontekstual learning
Cara selanjutnya agar siswa tidak bosan mengikuti pembelajaran adalah dengan mempaktikan pembelajaran Kontekstual learning. Kontekstual learning adalah pembelajaran yang membawa siswa dalam pembelajaran yang nyata bukan hanya sekedar teori namun disertai dengan media yang bisa membuat proses pembelajaran lebih nyata, menerapkan pembelajaran kontekstual bisa dilakukan dengan mengajark siswa belajar diluar ruangan atau dialam misalkan di lingkungan sekitar sekolah, mata pelajaran yang cocok dalam pembelajaran ini seperti mata pelajaran IPA, PKN, dan IPS. Selain menyenangkan pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa bisa melihat secara nyata wujud benda yang dipelajari misalkan siswa belajar tentang tumbuhan maka siswa diajak belajar di sekitar sekolah untuk melihat berbagai jenis tumbuhan yang ada di sekitarnya.

4. Belajar sambil bermain 
Cara selanjutnya agar siswa tidak bosan mengikuti pembelajaran adalah dengan menerapkan 
metode belajar sambil bermain. Kebiasaan bermain dalam diri siswa tidak bisa dihilangkan begitu saja, dan tak jarang kita menemukan siswa yang bermain-main dalam ketika pembelajaran sedang berlangsung dan hal tersebut wajar. Oleh karena itu tidak ada salahnya mencoba menerapkan pembelajaran yang membawa siswa bermain namun tetap berisi nilai-nilai pelajaran di dalamnya. Misalkan permainan games dengan model TGT (teams games tournamnet), Problem solving,  GI (group investigation) dan lain-lain.
 

5. Menjadi guru yang menyenangkan
Guru memegang peranan sentral dalam suatu pembelajaran, kondusif atau tidaknya suatu pembelajaran, menyenangkan atau tidaknya suatu pembelajaran, antusias atau tidaknya siswa semua tergantung dari cara guru dalam menyajikan pembelajaran. Jadi jangan tanyakn kenapa siswa bosan dan jenuh untuk belajar tapi tanyakanlah apakah pembelajaran yang anda terapkan sudah tepat. Dengan menjadi guru dengan pribadi yang menyenangkan akan membuat siswa lebih enjoy dalam mengikuti pembelajaran, perasaan tertekan dapat diminimalisir.

6. Mengajar dengan menggunakan media pembelajaran
Langkah terakhir yang bisa guru coba terapkan untuk mengatasi perasaan bosan dan jenuh siswa belajar adalah dengan menggunakan media pembelajaran ketika mengajar. Dengan menggunakan media pembelajaran pemahaman siswa lebih realistis atau nyata tidak hanya sebatas teori dan konsep saja.

Berdasarkan 6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti Pembelajaran di sekolah maka dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peranan yang sentral dalam proses pembelajaran sehingga guru dituntut unutk lebih inovatif dan kreatif sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan maksimal. Demikianlah artikel tentang 6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti Pembelajaran di Sekolah. semoga bermanfaat

Selasa, 10 Januari 2017

5 Manfaat Pembelajaran Kooperatif Bagi Siswa

5 Manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa_ Pembelajaran kooperatif banyak menjadi pilihan guru dalam pembelajaran karena ada banyak manfaat yang bisa muncul jika menerapkan pembelajaran koperatif dalam pembelajaran. 

Baca juga

Namun juga tak dapat dipungkiri bahwa sebagian guru masih banyak yang belum memahami petingnya pembelajaran kooperatif dalam membentuk karakter siswa. alhasil metode komvesional menjadi pilihan yang kadang digunakan guru. oleh karena itu dalam artikel ini akan dibahas tuntas tentang manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa. 

5 Manfaat Pembelajaran Kooperatif Bagi Siswa

Baiklah agar pembaca bisa lebih memahami apa itu pembelajaran kooperatif maka kita akan mengkajinya secara terstruktur mulai dari unsur pembelajaran kooperatif, konsep pembelajaran kooperatif serta manfaat dari pembelajaran kooperatif. baiklah kita mulai dari unsur dalam belajar kooperatif. Terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu seperti berikut ini.

Lima unsur penting dalam belajar kooperatif

1. Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa
Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok.

2. Interaksi antara siswa yang semakin meningkat
Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini, terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.

3. Tanggung jawab individual
Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung
jawab siswa dalam hal (a) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (b) siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman
jawab siswa dalam hal (a) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (b) siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman sekelompoknya.

4. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil
Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.

5. Proses kelompok
Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.

berikutnya kita akan mengulas sedikit tentang konsep pembelajaran kooperatif. Konsep utama dari belajar kooperatif menurut Slavin (1995: 5) adalah sebagai berikut.

Konsep pembelajaran kooperatif

1. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.

2. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain.

3. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan  bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.

Nagh yang terakhir kita akan mengulas  manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa, berikut pemaparan singkat dari  5 Manfaat Pembelajaran Kooperatif Bagi Siswa

5 Manfaat pembelajaran koperatif bagi siswa

1. mengembangkan tingkah laku kooperatif
belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa belajar lebih banyak dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada dari guru

2. memacu terbentuknya ide baru
interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa

3. memperbaiki hubungan antara siswa
efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnis dalam kelas multibudaya dan memperbaiki hubungan antara siswa normal dan siswa penyandang cacat

4. peningkatan prestasi akademik 
memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.

5. mengembangkan solidaritas sosial 
belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.

Demikianlah sedikit pemaparan tentang unsur pembelajaran kooperatif, konsep pembelajaran kooperatif serta 5 manfaat dari pembelajaran kooperatif bagi siswa semoga artikel ini bermanfaat.

Sabtu, 07 Januari 2017

7 Cara Mengukur Pemahaman Siswa Terhadap Pembelajaran

7 Cara Mengukur Pemahaman Siswa Terhadap Pembelajaran_ Sebagai guru yang baik mesti memahami dan mengetahui apakah materi pelajaran yang diajarkan kepada siswa telah benar-benar dipahami siswa atau belum, karena terkadang ketika siswa ditanya “apakah sudah memahami pelajaran tersebut, mereka terkadang diam saja, atau mengangguk-ngangguk, biasa juga menyahut bahwa telah paham padahal mereka belum paham.
 
7 Cara Mengukur Pemahaman Siswa Terhadap Pembelajaran

Berangkat dari hal tersebut guru dituntut menerapkan metode atau cara yang bisa mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap suatu pembelajaran. Sebelum kita terlanjur membahas tentang bagaimana cara mengukur pemahaman siswa dalam pembelajaran, sebaiknya kita terlebih dahulu mencoba mengkaji pengertian dari pemahaman itu sendiri. Pemahaman diartikan sebagai proses, perbuatan, cara memahami atau menanamkan. ”Pemahaman merupakan perangkat standar program pendidikan yang merefleksikan kompetensi sehingga dapat mengantarkan siswa untuk menjadi kompeten dalam berbagai bidang kehidupan”. Seorang siswa dapat dikatakan paham yaitu apabila dia dapat membangun hubungan atau mengkonstruksikan inti dari berbagai ranah pengetahuannya atau menciptakan inti dari beberapa objek. Siswa yang paham adalah siswa yang dapat mengkoneksikan pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan yang baru didapatkannya. 

Baca juga:
5 Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa

Nagh setelah mengetahui pengertian dari pemahaman selanjutnya kita akan mengulas Cara mengukur pemahaman siswa dalam pembelajaran. Langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif, berikut ulasannya: 

7 Cara Mengukur Pemahaman Siswa Terhadap Pembelajaran 

1. Menafsirkan (interpreting)  
Cara pertama mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran  yakni melalui cara penafsiran. Penafsiran terjadi saat seorang siswa dapat mengubah suatu bentuk informasi pada bentuk infomasi yang lain. Misalnya dari grafik ke kalimat atau sebaliknya, dari kata ke angka atau sebaliknya, maupun dari kata ke kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. format asesment berupa format tes, jawaban singkat (siswa mencari jawaban) dan pilihan ganda (siswa memilih jawaban). 

2. Memberikan contoh (exemplifying)
Cara kedua mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran yakni melalui cara mencontohkan. Mencontohkan atau mengilustrasikan dapat dilakukan seorang siswa dapat dikatakan paham saat dia dapat memberikan contoh dari suatu konsep atau prinsip yang bersifat umum. Memberikan contoh ini dapat menunjukkan bahwa seorang siswa sebagai wujud yang dapat atau mampu mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri-ciri dari konsep yang didapatkan tersebut untuk membuat contoh. Mencontohkan melibatkan proses indetifikasi ciri-ciri pokok dari konsep ataupun prinsip umum.. Format assesment: Format tes, jawaban singkat (siswa mencari jawaban) dan pilihan ganda (siswa memilih jawaban). 

3. Mengklasifikasikan (classifying)  
Cara ketiga mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran  yakni melalui cara mengklasifikasikan. Seorang siswa disebut memahami saat dia dapat mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengklasifikasikan ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Melibatkan proses medeteksi ciri-ciri atau pola-pola yang sesuai dengan contoh dan konsep atau prinsip tersebut. Format Asesment: Tes Jawaban singkat, siswa diberi contoh dan diharuskan membuat konsep atau prinsip yang sesuai dengan contoh. Tes Pilihan ganda, siswa diberi suatu contoh dan kemudian diharuskan memilih konsep atau prinsip dari pilihan-pilihan konsep atau prinsip. Atau siswa diberi sejumlah contoh dan diharuskan menentukan manakah yang termasuk dalam suatu kategori dan manakah yang tidak, atau diharuskan menempatkan satuu contoh ke dalam salah satu dari banyak kategori. 

4. Meringkas (Summarizing)  
Cara keempat mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran  yakni melalui cara meringkas. Meringkas merupakan kegiatan membuat suatu pertanyaan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuah tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya, yairu dapat menspesifikkan suatu kondisi. Proses membuat ringkasan informasi. Nama lain merangkum adalah menggeneralisasi dan mengabstraksi. Format asesmen: Tes jawaban singkat atau pilihan ganda yang berkenaan dengan penentuan tema atau pembuatan rangkuman. 

5. Menarik inferensi (inferring)  
Cara kelima mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran  yakni melalui cara menarik inferensi. Infering terjadi saat seorang siswa mampu mengabstraksikan sebuah sampel atau menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Misalnya, memprediksikan perkembangan suatu populasi dalam sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi dalam sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi selama sepuluh tahun terakhir. Disebut juga mengekstrapolasi, menginterpolasi, memprediksi dan menyimpulkan. Format asesmen berupa tes melengkapi, tes analogi, dan tes pengecualian. 

6. Membandingkan (comparing)  
Cara keenam mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran  yakni melalui cara membandingkan. Seorang siswa dapat membandingkan saat dia dapat mendeteksi persamaan dan perbedaaan yang dimiliki oleh dua objek atau lebih. Melibatkan proses mendeteksi persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih objek, peristiwa, ide, masalah, atau situasi seperti menentukan bagaimana suatu peristiwa terkenal. Format asesmen berupa pemetaan. 

7. Menjelaskan (explaining)  
Cara ketujuh mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran yakni melalui cara menjelaskan. Siswa dapat menjelaskan saat dia dapat memberikan model dari suatu teori atau dapat mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu sistem. Menjelaskan, membuat dan menggunakan model sebab akibat dalam sebuah sistem. Format asesmen menjelaskan adalah berupa tugas-tugas penalaran, penyelesaian masalah, desain ulang, dan prediksi. 

Demikianlah sedikit pemaparan 7 Cara Mengukur Pemahaman Siswa Terhadap Pembelajaran yang bisa guru coba untuk aplikasikan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam pembelajaran. Semoga artikel ini bermanfaat.