Tampilkan posting dengan label SISWA. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label SISWA. Tampilkan semua posting

Sabtu, 17 Juni 2017

Hari Pertama Masuk Sekolah Tahun Ajaran 2017/2018 Untuk SD, SMP dan SMA

Hari Pertama Masuk Sekolah Tahun Ajaran 2017/2018 Untuk SD, SMP dan SMA _ Artikel ini sengaja ditulis oleh admin karena melihat ada beberapa pihak yang mencoba mencari tahu kapan sih atau tanggal berapa dan bulan berapa tahun ajaran baru dimulai pada tahun 2017.

source: websitependidikan.com

Salah satu alasan seseorang mencoba mencari tahu hari pertama masuk sekolah, salah satunya agar bisa emmpersiapkan sedini mungkin segala keperluan sekolah dan perlengkapan sekolah yang dibutuhkan.

Baca juga: Jadwal libur sekolah tahun ajaran 2017/2018

Lantas ditahun ajaran 2017/2018 ini, kapan hari pertama masuk sekolah bagi siswa SD, SMP dan SMA? untuk mengetahui jawabannya, berikut ulasannya;

Hari Pertama Masuk Sekolah Tahun Ajaran 2017/2018 Untuk SD, SMP dan SMA

Bedasarkan jadwal yang telah ditetapkan pemerintah khusunya yang membidangi pendidikan menetapkan bahwa;

Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2017/2018 untuk SD, SMP dan SMA 

Masuk sekolah dimulai pada hari senin tanggal 17 Juli tahun 2017 dan berakhir pada 6 juni 2018

Jumlah hari belajar efektif 

jumlah hari belajar efektif yakni 214 hari

Jumlah minggu efektif

32 minggu dalam 2 semester

Demikianlah artikel tentang Hari Pertama Masuk Sekolah Tahun Ajaran 2017/2018 Untuk SD, SMP dan SMA, semoga bermanfaat.

Sabtu, 10 Juni 2017

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun 2017 Terapkan Sistem Zonasi



Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun 2017 Terapkan Sistem Zonasi
Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau Bentuk Lain yang Sederajat. Dalam permendikbud tersebut, diatur mengenai sistem zonasi yang harus diterapkan sekolah dalam menerima calon peserta didik baru.

Berdasarkan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017, dengan menerapkan sistem zonasi, sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90 persen dari total jumlah peserta didik yang diterima. Domisili calon peserta didik tersebut berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat enam bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

Radius zona terdekat ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kondisi di daerah tersebut. Kemudian sebesar 10 persen dari total jumlah peserta didik dibagi menjadi dua kriteria, yaitu lima persen untuk jalur prestasi, dan lima persen untuk peserta didik yang mengalami perpindahan domisili. Namun, sistem zonasi tersebut tidak berlaku bagi sekolah menengah kejuruan (SMK).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, sistem zonasi merupakan implementasi dari arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai pentingnya pemerataan kualitas pendidikan.

“Semua sekolah harus jadi sekolah favorit. Semoga tidak ada lagi sekolah yang mutunya rendah,” ujar Mendikbud dalam acara Sosialisasi Peraturan Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta, Rabu (7/5/2017). Acara sosialisasi tersebut dihadiri sekitar 200 kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia.

Dalam Permendikbud ini memang disebutkan bahwa seleksi PPDB pada kelas VII SMP dan kelas X SMA/SMK mempertimbangkan kriteria dengan urutan prioritas sesuai dengan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar. Urutan prioritas itu adalah: 1. Jarak tempat tinggal ke sekolah sesuai dengan ketentuan zonasi; 2. Usia; 3. Nilai hasil ujian sekolah (untuk lulusan SD) dan Surat Hasil Ujian Nasional atau SHUN (bagi lulusan SMP); dan 4. Prestasi di bidang akademik dan non-akademik yang diakui sekolah sesuai dengan kewenangan daerah masing-masing. 

PPDB bertujuan untuk menjamin penerimaan peserta didik baru berjalan secara objektif, akuntabel, transparan, dan tanpa diskriminasi sehingga mendorong peningkatan akses layanan pendidikan. 

PPDB dapat dilakukan dengan dua acara. Pertama, pendaftaran melalui jejaring (daring/online), yaitu melalui laman (website) resmi PPDB daerah masing-masing. Kedua, pendaftaran melalui luring (luar jaringan/offline), yaitu dengan mendaftar langsung ke sekolah. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah wajib mengumumkan secara terbuka proses pelaksanaan dan informasi PPDB, antara lain terkait persyaratan, seleksi, daya tampung, dan hasil penerimaan peserta didik baru.

Masyarakat diharapkan dapat mengawasi dan melaporkan pelanggaran dalam pelaksanaan PPDB melalui kanal pelaporan dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota masing-masing. Pengaduan terkait PPDB juga bisa melalui laman: http://ult.kemdikbud.go.id . (Desliana Maulipaksi).

Source: Kemendikbud.go.id

Minggu, 14 Mei 2017

Jadwal Libur Sekolah Tahun Ajaran 2017/2018

Jadwal Libur sekolah Tahun Ajaran 2017/2018 _ Salah satu hal yang sering ditanyakan oleh siswa maupun guru adalah jadwal libur sekolah, hal tersebut dinilai cukup wajar, mengingat aktivitas belajar mengajar selama 5-6 hari selama seminggu di sekolah, baik dari pihak siswa maupun guru membuat hari libur sekolah menjadi hal yang sangat istimewa dan selalu dinanti-nanti.

Jadwal Libur Sekolah Tahun Ajaran 2017/2018
source:Newsth.com
Dalam tahun pelajaran 2017/2018, setidaknya ada beberapa jadwal liburan sekolah, selain libur sekolah pada hari minggu, masih banyak lagi liburan sekolah lainnya pada tahun ajaran 2017/2018. Hal tersebut bisa menjadi kabar gembira bagi guru maupun siswa, yang berharap untuk mengisi waktu liburan sekolah tersebut dengan melakukan kegiatan menyenangkan bersama kerabat, teman dan keluarga.

Baca juga: 11 Tips merencanakan liburan bersama keluarga

Penasaran jadwal liburan sekolah yang ada pada tahun ajaran 2017/2018, berikut kalender pendidikan untuk tahun ajaran 2017/2018 yang bisa menjadi pedoman dalam melhat jadwal libur sekolah pada periode tahun ajaran 2017/2018.

Download Jadwal Libur Sekolah Tahun Ajaran 2017/2018.
Untuk lebih jelasnya anda bisa mendownload kalender pendidikan di bawah ini, agar bisa lebih mendalami dan mengingat dengan jelas jadwal libur sekolah tahun 2017/2018.

Rabu, 15 Maret 2017

Cara Memberi Bimbingan Dan Konseling Untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa

Cara Memberi Bimbingan Dan Konseling Untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa_ Dalam mendidik dan mengajar siswa atau peserta didik tak jarang ditemui masalah atau kesulitan belajar yang dialami siswa, mengatasi masalah belajar siswa perlu memperhatikan beberapa hal agar metode atau cara yang diterapkan dalam mengatasi masalah belajar siswa bisa maksimal. Bimbingan dan konseling adalah salah satu metode yang biasa diterapkan di sekolah-sekolah dalam mengatasi siswa yang nakal, berperilaku menyimpang dan mengalami kesulitan belajar. Bagaimanakah baiknya dalam memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang bermasalah, berikut pemaparannya.

Cara Memberi Bimbingan Dan Konseling Untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa

A. Bimbingan terhadap anak lamban belajar
Pada anak lamban belajar (slow learning) adalah anak yang perkembangan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan rata-rata teman seusianya dan tingkat kecerdasannya pun di bawah rata-rata. Mereka di sebut juga dengan anak sub normal, mentally reterted.

Baca juga:

Sedangkan gejala tingkah laku lambat belajar adalah : (1) kelemahan (lambat menerima pelajaran, lambat bekerja, lambat membaca, lambat memahami dan lain-lain), (2) kekurangan kemampuan (kurang kosentrasi, berkomunikasi, kurang kreatif, kurang kemampuan memimpin), (3) Prestasi yang rendahn (baik belajar/kerja), (4) Kelainan tingkah laku (kebiasaan jelek,acuh tak acuh, apatis, kurang inisiatif)

Sebab-sebab/kemungkinan latar belakang anak lambat belajar.
a. Kecerdasan kurang
b. Kehidupan sosial dan ekonomi orang tua kurang.
c. Perhatian orang tua kurang sibuk
d. Keluarga yang terlalu besar dan banyak.
e. Pendidikan orang tua rendah.
f. Hubungan sosial dengan teman kurang.

Kemungkinan masalah
a. Lemah dalam pelajaran karena kurang kemampuan belajar dan kecerdasan.
b. Lemah dalam pelajaran karena kurang kecakapan pelajarannya.
c. Lemah dalam pelajaran karena bantuan belajardari orang tua
d. Lemah dalam pelajaran karena kurang pengaruh kesulitan mental sosial ekonomi orang tua
e. Lemah dalam pelajaran karena kurang pengaruh hubungan sosial dengan teman
f. Lemah dalam pelajaran karena kurang sikap orang tua yang memanjakan
g. Lemah dalam pelajaran karena kurang biasa di bantu
h. Lemah dalam pelajaran karena gangguan penyakit.

Kemungkinan bimbingan
a. Penyuluh terhadap anak
b. Pertemuan dengan guru
c. Pertemuan dengan orang tua
d. Pemberian informasi
e. Sosiodrawa
f. Penempatan anak dalam kegiatan ekstra kurikuler

B. Teknik konseling dalam mengatasi Kesulitan belajar siswa.

1. Pendekatan Trait and factor
a. Kondisi Pribadi tidak sehat (Bermasalah)
Ada beberapa model pengkategorian masalah yang dapat kita ikuti. Pengaktegorian masalah yang selam ini banyak dikenal adalah pengkateforian sosiologis dan psikologis. Pengkategorian secara sosiologis ini, misalnya membagi macam-macam masalah atas masalah pendidikan. Keluarga, ekonomi, pergaulan dan sebagainya. Pengkategorian lain yang lebih banyak diikuti adalah pengkategorian secara psikologis. Pengkategorian secara psikologis yang terkenal dalam konseling trait and factor ada dua, yaitu modelnya Bordin dan modelnya Pepnsky. Pengkategorian masalah menurut Bordin adalah sebagai berikut :

a) Dependence (bergantung) contoh: “dalam setiap ulangan saya belum yakin kebenaran jawaban saya kalau tidak melihat jawaban teman saya”.

b) Lack of information (kurang informasi), contoh: “saya tidak berani datang kerumahnya Pak Ahmad, jangan-jangan beliau nanti marah” (padahal sebenarnya Pak Ahmad orang yang baik dan ramah). Seorang siswa memutuskan untuk keluar sekolah karena tidak ada biaya, padahal sebenarnya ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Seorang siswa tidak mau masuk jurusan bimbingan dan konseling, padahal sebenarnya dia memiliki bakat dalam jurusan tersebut.

c) Self-conflict (konflik diri), contohnya: “hari ini orang tua saya menyuruh saya pergi ke Surabaya, tetapi hari ini juga saya ada janji dengan pacar saya, apa yang harus saya perbuat?”

d) Choice anxiety (cemas memilih), contoh: “Tahun ini saya mengikuti UMPTN dengan memilih dua jurusan sesuai dengan ketentuannya, yaitu pilihan pertama dan pilihan kedua. Selain itu saya juga mendaftar di salah satu fakultas swasta (PTS) yang mutunya tidak kalah dengan PTN. Orang tua saya menyerahkan kepada saya sepenuhnya untuk memilih yang mana, tetapi sampai sekaran ini saya belum dapat menentukan pilihan saya”.

e) No Problem (bukan masalah-masalah di atas), dalam arti individu mengalami masalah yang tidak dapat digolongkan pada masalah-masalah di atas, atau masalah lain-lain.

Pengkategorian Pepinsky (dalam Andi Mapiare, 2004) yang dalam beberapa hal mirip dengan yang dikemukakan oleh Bordin, yaitu sebagai berikut : (1) Lack of assurance (kurang percaya diri sendiri), contoh: “teman-teman maupun sebagian bapak ibu guru telah mendorong saya untuk mengikuti lomba karya ilmiah remaja, tetapi saya kurang yakin apakah saya mampu”, (2) Lack of information (kurang informasi), (3) Lack of skill (kurang keterampilan), contoh: Tidak mengetahui cara membaca efiosien, tidak mengetahui cara menemukan ide pokok pada suati kalimat ataupun pragraf, tidak dapat mengatur jadwal harian dan sebagainya, (4) Dependence (bergantung), (5) Self-conflict (konflik diri), dan (6) Choice anxiety (cemas memilih).

Masalah sebagaimana yang dijabarkan di atas, dapat timbul karena faktor internal maupun eksternal. Termasuk faktor internal bagi timbulnya masalah, antara lain: (1) individu banyak dipengaruhi kehidupan emosi, sehingga kemampuan berpikir rasionalnya terhambat, (2) potensi-potensinya kurag berkebang atau tidak mendapat kemampuan berpikir rasionalnya terhambat, (3) kurang memiliki kontrol diri, (4) memiliki kekurangan tertntu, baik cacat fisik maupun mental, dan yang merupakan faktor keturunan.

Adapun yang tergolong faktor eksternal, antara lain : (1) Perlakuan orang tua; sikap orang tua yang terlalu menekan, menolak maupun melindungi merupakan sumber timbulnya masalah, (2) Kondisi lingkungan dan masyarakatnya (meliputi lingkungan fisik dan sosial), (3) Pengalaman atau sejarah pribadi yang menimbulkan trauma, dan (4) ada tidaknya kesempatan mengembangkan diri, baik yang menyangkut situasi maupun pendukung (orangnya).

b. Kondisi Pribadi yang ideal (sehat)
Pribadi yang ideal menurut ancangan trait and factor dapat dirumuskan sebagai berikut: Pribadi yang ideal adalah apabila pribadi tersebut mampu menggunakan kemampuan berpikir rasionalnya memecahkan masalah-masalah kehidupan secara bijaksana. Selain itu pribadi yang bersangkutan dapat memahami kekuatan dan kelemahannya dirinya serta mampu dan mau mengembanghkan segala potensinya secara penuh (khususnya potensi baiknya), memiliki motivasi untuk meningkatkan diri atau menyempurnakan diri, memiliki kontrol diri untuk menyeleksi pengaruh yang baik dan buruk, dan dapat menyesuaikan diri di tengah-tengah masyarakatnya, sehingga dia dapat digolongkan sebagai warga negara yang baik.

c. Kondisi-kondisi bagi timbulnya perubahan
Konseling dapat dikatakan sebagai salah satu cara dalam pendidikan untuk membantu individu yang bermasalah menemukan cara pemecahan masalah untuk membantu individu yang bermasalah menemukan cara pemecahan masalah agar individu mampu mengembangkan potensi-potensinya (konseling memiliki fungsi remediatif dan develomental). Dengan konseling tersebut, kita (konselor) bermaksud untuk membawa individu dapat menjadi pribadi-pribadi yang ideal. Untuk itu, sudah barang tentu diperlukan kondisi-kondisi tertentu menunjang bagi tercapainya tujuan yang dimaksud.

Berbicara komponen dalam konseling di atas merupakan kondisi bagi timbulnya perubahan  (ke arah yang ideal), terkait langsung dengan komponen-komponen tersebut adalah konselor, klien situasi hubungan dan tujuan.

Keempat komponen dalam konseling di atas merupakan kondisi bagi timbulnya perubahan, bukan berkenaan dengan ada tidaknya, tetapi juga pada bagaimananya. Konselor yang bagaimana yang dapat menunjang timbulnya perubahan; situasi yang bagaimana yang merupakan prasyarat bagi timbulnya perubahan. Konselor yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a) Sikap konselor, Sikap ini antara lain : (1) dapat menempatkan diri sebagai seorang guru, (2) menerima tanggung jawab atas keselamatan klien (walaupun penangggung jawab utamanya adalah klien yang bersangkutan), (3) bersedia mengarahkan klien ke arah yang lebih baik, (4) tidak netral sepenuhnya terhadap nilai (value), Yakin terhadap asumsi-asumsi konseling yang efektif.

b) Keterampilan. Yaitu : (1) Memiliki pengalaman, keahlian dalam teori perkembangan manusia dan pemecahan masalah, (2) Dapat memanfaatkan teknik-teknik pemecahan individu baik teknik testing maupun teknik konseling, (3) Dapat melaksanakan proses konseling secara fleksibel, (4) Dapat menerapkan strategi pengubahan tingkah laku beserta teknik-tekniknya, (5) Menjalankan keempat peranan utamanya secara terpadu, yaitu : 1) Mengajar atau menolong individu belajar memahami dan menerima dirinya sendiri yang meliputi kemampuan, bakat dan minatnya, 2) Mengajar dan menolong individu untuk mengenali motivasi-motivasinya sendiri dan teknik-teknik atau cara kehidupannya sendiri, 3) Memperhitungkan dua kelompok aspek di atas yaitu pada poin 1 dan 2 dari segi konsekwensi dan implementasinya, 4) Mengajar individu mengganti atau megubah tingkah lakunya dengan yang lebih memadai guna mencapai tujuan pribadinya.

Dalam menunjang adanya perubahan dalam konseling trait and factor, selain mensyaratkan konselor, juga dibutuhkan peranan klien. Adapun peranan klien selama proses konseling adalah : (1) Sedapat mungkin datang secara sukarela, tetapi jika klien tersebut dikirim berdasarkan pengalaman dan tidak terlalu berbeda efektifitasnya, (2) Bersedia belajar memahami dirinya sendiri dan mengarahkan diri dengan mengubah responnya yang kurang tepat, (3) menggunakan kemampuan berfikirnya untuk lebih memperbaiki dirinya sehingga dapat mencapai kehidupan yang rasional dan memuaskan, dan (4) bekerja sama dengan konselor dn bersedia mengikuti arahan konselor dalam hal proses pengubahan.

Sedangkan situasi hubungan dalam konseling trait and factor ditandai dengan ciri-ciri situasi hubungan sebagai berikut : (1) Konseling merupakan suatu thinking relationship yang lebih mementingkan peranan berpikir rasional, tetapi tidak meninggalkan sama sekali aspek emosional seseorang, (2) Konseling berlangsung dalam siatuasi hubungan yang bersifat pribadi, bersahabat, akrab dan empatik, (3) Konseling yang berlangsung dapat bersifat remediatif maupun developmental, (4) Setiap pihak (konselor-klien) melakukan peranannya secara proporsional.

 Sedangkan tujuan dari konseling trait and factor, dapat diringkas sebagai berikut : (a) Self-clarification (kejelasan diri), (b) Self-understanding (pemahaman diri), (c) Self-acceptance (penerimaan diri), (d) Self- direction (pengarahan diri), dan (5) Self-actualization (perwujudan diri).

C. Tahap-tahap Konseling
Konseling trait and factor memiliki enam tahap dalam prosesnya, yaitu : analisis, sinetesis, diagnosis, prognosis, konseling (treatment), dan follow-up. Keenam tahap tersebut merupakan suatu urutan yang jelas dan logis, dan menggambarkan langkah-langkah yang lazim digunakan dalam dunis ilmu pengetahuan atau kedokteran. Namun begitu dalam prakteknya urut-urutan di atas tidak perlu digunakan secara kaku. Tahap-tahap itu direncanakan secara fleksibel, bahkan terjadi tumpang tindih (overlapping). Hal itu terjadi, sebab dalam konseling tersebut dimungkinkan untuk kembali pada tahap yang lebih awal (setelah mencapai tahap-tahap akhir) apabila dianggap tahap yang terdahulu memang belum sempurna, masih terdapat kekurangan-kekurangan.

Selama mengikuti tahap-tahap konseling, klien bertangungjawab penuh untuk belajar dalam proses memahami dirinya, sedang konselor berperan sebagai orang kedua atau mengambil peran pembantu sebagai layaknya seorang guru yang bertugas agar proses belajar dapat berlangsung sebaik-baiknya.

Dari antara enam tahap yang dikemukakan konseling trait and factor, tahap pertama sampai keempat dapat dilakukan tanpa bertatap muka dengan klien. Konselor dapat saja melakukannya, misalnya dengan mempelajari catatan komulatif siswa. Setelah selesai baru diadakan pertemuan dengan siswa dalam situasi konseling dengan sasaran utamanya menemukan pemecahan masalah. Dengan demikian untuk melaksanakan empat tahapan awal dalam konseling ala Williamson, yang dikenal sebagai tahap-tahap persiapan bagi wawancara konseling, pada suatu sesi tatap muka dengan klien. Kedua, dilaksanakan di luar atau sebelum bertatap muka dengan klien dalam suatu sesi konseling. Ketiga, cara kombinasi, yaitu dilakukan sebelum bertemu dengan klien sejauh bisa, kemudian kekurangan-kekurangannya dilengkapi pada saat wawancara konseling berlangsung.

a) Analisis
 Analisis merupakan langkah mengumpulkan informasi tentang diri klien beserta latar belakang. Informasi atau data yang dikumpulkan mencakup segala aspek kepribadian klien, seperti kemampuan, minat motif, kesehatan fisik, dan karakteristik lainnya yang dapat mempermudah atau mempersulit bagi pemerolehan peyesuaian diri yang memuaskan  baik dalam kehidupannya di sekolah maupun dalam dunia kereja serta penyesuaian diri pada umumnya.

Tujuan dari tahap analisis adalah untuk memperoleh pemahaman tentang diri siswa atau klien dalam hubunganya dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh penyesuaian diri baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Bagi tujuan itulah data tentang diri klien dikumpulkan, dengan syarat data yang terkumpul harus sahih (valid), relevan dan komprehensip.

Untuk membuat analisis tentang diri klien ini, konselor dapat menggunakan alat-alat tertentu. Enam alat yang dikemukakan Williamson yang dikemukakan oleh Petterson (1980) adalah: (1) catatan komulatif, (2) wawancara, (3) format distribusi waktu, (4) otobiografi, (5) catatan anekdot, dan (6) tes psikologis.

Selain menyebutkan enam alat di atas, diterangkan pula oleh Patterson  mengenai studi kasus sebagai suatu alat, yaitu metode untuk memadukan semua data mencakup sejarah keluarga, sejarah kesehatan, sejarah pendidikan, sejarah pekerjaan atau jabatan, minat rekreasi dan sosial serta kebiasaan kebiasaan. Ketika data obyektif tentang diri siswa dikumpulkan, konselor memperhatikan pikiran-pikiran (ide-ide) dan sikap klien. Bagaimana klien mendekati masalahya tidak hanya menunjukkan gaya hidupnya, tetapi menunjukkan reaksinya terhadap analisis dan diagnosis. Sikap klien terhadap masalahnya terhadap cara dan alat untuk mencapai penyesuaian yang maksimal merupakan satu dari antara yang terpenting dari seluruh data analisis. Penting data ini adalah bersangkutpaut dengan kerjasama klien. Jika klien menunjukkan sikap kooperatif, berarti dia dapat bekerjasama dengan konselor mengenai keyakinan dan pemahaman klien tentang konseling yang bila dijumpai kesalahpahaman, konselor segera mengoreksinya.

 Untuk lebih memperjelas tentang data macam apa yang perlu dikumpulkan, dapat dibuatkan klasifikasi-klasifikasi: (a) Data vertikal (menyangkut diri klien ), yang dapat dibagi lebih lanjut atas: data fisik, kesehatan, ciri-ciri fisik, penampakan/penampilan fisik dan sebagainya.(b) data psikis: bakat, minat, sikap, cita-cita, kebiasaan, dan sebagainya.

b) Sintesis
Sintesis adalah usaha merangkum, menggolong-golongkan dan menghubung-hubungkan data yang telah terkumpul pada tahap analisis, yang disusun sedemikian sehingga dapat menunjukkan keseluruhan gambaran tentang diri klien. Rumusan dari klien dalam sintesis ini bersifat ringkas dan padat. Dalam sintesis juga harus tercermin tentang kekurangan atau kelebihan dan kelemahan klien, kemampuan penyesuaian dirinya malasuianya (maladjusments).

Ada tiga cara yang dapat dilakukan dalam merngkum data pada tahap sintesis tersebut. Cara pertama, dibuat oleh konselor; kedua, dilakukan klien; ketiga adalah cara kolaborasi atau kerjasama klien-konselor. Dalam prakte, disarankan untuk menggunakan cara kolaburasi. Cara ini didahului dengan  konselor meminta kepada klien untuk membuat rangkuman, setelah itu, konselor menyempurnakan rangkuman yang telah dibuat klien. Atau kalau konselor ingin lebih mempermuadah klienya, dapat pula didahului dengan memberikan kerangka bagi membuat rangkuman oleh klien.

c) Diagnosis
Diagnosis merupakan tahap menginterpretasikan data daalm ebntuk (dari sudut) problema yang ditunjukkan. Rumusan diagnosis dilakukan melalui proses pengambilan atau penarikan simpulan yang logis.

(1). Identifikasi masalah. Pada langkah ini, ditunjukkan atau ditentukan masalah apa yang dialami klien. Penentuan macam masalahnya didasarkan pada pengkategorian masalah baik ala Bordin atau Papinsky sebagaimana yang dijelaskan di atas. Identifikasi masalah ini merupakan langkah penentuan hakekat masalah yang sebenar-benarnya, bukan gejala-gejalanya. Masalah yang diidentifikasikan mungkin satu atau lebih dari satu saja. Jika masalh lebih dari satiu, dan berdasarkan pertimbangan tertentu, misalnya waktu, tidak akan tuntas bila dibahas semua, konselor dapat membuat kesepakatan tentang pembatasan topik (gunakan teknik structuring dan topik limit).

(2).Menemukan sebab-sebab (etiologi). Langkah ini merupakan langkah mencari sumber bagi timbulnya suatu masalah yang mencakup pencarian hubungan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan yang mungkin menuntun kita untuk memahami sebab-sebab dari gejala (symtoms). Jika terdapat hanya sedikit atau tidak ada hasil penelitian ilmiah atau pengetahuan berdasarkan pemikiran rasional dalam hubungannya dengan sebab-sebab gejala, konselor juga dapat menggunakan intuisinya untuk menduga sebab-sebab itu yang kemudian di cek dengan logika maupun reaksi klien. Dalam mencari sebab ini dapat dihubungkan (menggunakan) data yang terungkap pada tahap analisis, tetapi, konselor harus dapat membedakan antara sebab dengan sekedar hubungan sederhana.

(3). Prognosis (tahap ke-4 dalam konseling). Menurut Williamson, prognosis merupakan bagian dari diagnosis. Prognosis ini bersangkutan dengan upaya memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan data yang ada sekarang. Misalnya : bila seorang klien berdasarkan data sekarang dia malas, maka kemungkinan nilainya akan rendah; jika intelegensinya rendah, kemungkinan nanti tidak dapat diterima dalam UMPTN.

Pada tahap atau langkah prognosis ini, klien diajak untuk menyadari kemungkinan-kemungkinan apa akan yang terjadi jika keadaan seperti sekarang ini tetap berlanjut.

d) Konseling (treatment)
Dalam konseling, konselor membantu klien untuk menemukan sumber-sumber lembaga dan masyarakat guna membantu klien mencapai penyesuaian yang optimal sejauh dia bisa. Bantuan dalam konseling ini mencakup lima jenis bantuan, yaitu:

a. Hubungan konseling yang mengacu pada belajar yang terbimbing kearah pemahaman diri.

b. Konseling jenis re-edukasi atau belajar kembali yang individu butuhkan sebagai alat untuk mencapai penyesuaian hidup dan tujuan personalnya.

c. Konseling dalam bentuk bantuan yang dipersonalisasikan untuk klien dalam memahami dan untuk terampil mengaplikasikan prinsip dan teknik dalam kehidupan sehari-hari.

d. Konseling yang mencakup bimbingan dan teknik yang mempunyai pengaruh terapiutik atau kuratif.

e. Konseling bentuk reedukasi bagi diperolehnya katarsis secara terapiutik.

Dengan mendasarkan tipe-tipe bantuan itu, sesuai dengan masalah klien, pada tahap konseling ini dikembangkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Melalui pengujian untung rugi atau kelebihan dan krangan setiap alternatif yang terbaik atau paling mungkin dilaksanakan.

e) Follow-up
Tindak lanjut merujuk pada segala kegiatan membantu siswa setelah mereka memperoleh layanan konseling, tetapi kemudian menemui masalah-masalah baru atau munculnya kembali masa yang lampau. Tindak lanjut ini juga mencakup penentuan keefektifan konseling yang telah dilaksanakan. 

Selasa, 21 Februari 2017

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa_ kecemasan belajar siswa adalah dorongan pikiran dan perasaan dalam diri individu/siswa yang berisikan ketakutan akan bahaya atau ancaman di masa yang akan datang tanpa sebab khusus, sehingga mengakibatkan terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku sebagai hasil tekanan dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademis, dimana ditandai adanya rasa takut, gelisah dan tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar sehingga pencapaian prestasi tidak dapat dicapai dengan optimal.

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

faktor penyebab dari kecemasan dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. , faktor internal meliputi gangguan atau ketidakmampuan psiko-fisik siswa yang dapat bersifat kognitif (rendahnya intelektual/ inteligensi siswa), afektif (labilnya emosi dan sikap), dan psikomotor (terganggunya alat indera siswa). Faktor Eksternal, faktor eksternal meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar siswa (lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah).

Baca juga:
Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, menurut Sudrajat (2011) di antaranya dapat dilakukan melalui:

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. 
Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya.

2. Mengembangkan “sense of humor”
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat mengembangkan “sense of humor” dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, lelucon atau “joke” yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.

3. Melakukan kegiatan selingan 
Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi “game” atau “ice break” tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya sangat diperlukan.

4.  Pembelajaran diluar kelas
Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.

5. Memberikan tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat
Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.

6. Menggunakan pendekatan humanistik

Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.

7. Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan

Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.

8. Menanamkan kesan positif dalam diri siswa
Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.

9. Pengembangan menajemen sekolah

Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.

10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. 
Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.

Langkah-langkah memberikan bimbingan dan bantuan yang efektif bagi siswa yang mengalami kecemasan belajar 

Untuk memberikan bimbingan dan bantuan yang efektif bagi siswa yang mengalami kecemasan belajar, maka seorang guru terlebih dahulu melakukan diagnosis kesulitan belajar . Syah (2012) mengemukakan langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain :
1. Mengenal peserta didik yang mengalami kecemasan belajar.
2. Memahami sifat dan jenis kecemasan belajar yang dialami oleh siswa
3. Menetapkan latar belakang siswa yang mengalami kecemasan belajar
4. Menetapkan usaha-usaha bantuan
5. Pelaksanaan bantuan
6. Tindak lanjut

Uraian selengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Mengenal peserta didik yang mengalami kecemasan belajar.
Identifikasi siswa yang mengalami kecemasan belajar dilakukan dengan :
a. Menganalisis prestasi belajar
b. Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
c. Menganalisis hubungan sosial

2. Memahami sifat dan jenis kecemasan belajar yang dialami oleh siswa Setelah siswa-siswa yang mengalami kecemasan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
a. Pada mata pelajara apa yang bersangkutan mengalami kecemasan;
b. Pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kecemasan terjadi;
c. pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kecemasan terjadi;
d. pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kecemasan terjadi.

3. Menetapkan latar belakang kecemasan belajar
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kecemasan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Teknik pengungkapan faktor penyebab kecemasam belajar dapat dilakukan dengan : 1) observasi;  2) wawancara;   3) kuesioner; 4) skala sikap, 5) tes; dan 6) pemeriksaan secara medis.

4. Menetapkan usaha-usaha bantuan
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik teknik yang dipilih untuk mengatasi kecemasan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kecemasan belajar tidak terjadi lagi.

5. Pelaksanaan bantuan
Tahap ini, apa saja yang telah ditetapkan pada tahap keeempat dilaksanakan.

6. Tindak Lanjut

Demikianlah 10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa serta langkah-langkahnya yang bisa anda coba aplikasikan dalam menangani kesulitan belajar yang dialami siswa. semoga artikel ini bermanfaat bagi anda

Minggu, 12 Februari 2017

7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi

7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi_ Banyak siswa yang berharap memiliki prestasi gemilang karena dengan prestasi yang berhasil digapai menjadi bukti pada orang yang ada disekitarnya tentang kemampuan yang dimilikinya. Prestasi yang dicapai juga menjadi bukti pada diri sendiri bahwa jika terus berusaha dengan sungguh-sungguh semua yang diimpikan bisa terwujud. Menjadi siswa berprestasi memiliki kharisma tersendiri, seperti akan lebih dihargai orang lain, diakui, menjadi kebanggaan orang tua dan akan mendapat banyak teman karena beberapa alasan tersebut banyak siswa yang memiliki obsesi besar untuk berprestasi. Ada beberapa alasan atau inspirasi tersendiri sehingga seseorang bisa meraih suatu prestasi seperti ingin membanggakan orang tua, memiliki mimpi besar yang ingin dicapai dan lain-lain.



Namun tak jarang beberapa siswa yang sudah bersungguh-sungguh untuk belajar akan tetapi belum mampu meraih prestasi yang membanggakan. Oleh karena itu untuk menjadi siswa yang berprestasi tidak ada salahnya belajar bagaimana cara orang lain sehingga bisa meraih suatu prestasi, hal tersebut bisa dimulai dari mengamati cara belajar siswa tersebut, tingkah lakunya, dan keterampilan yang dimiliki.

Baca juga:
Bagaimana sih cara belajar yang diterapkan oleh siswa yang berprestasi? Dalam artikel ini akan diulas teknik, strategi, cara yang biasanya diterapkan oleh siswa berprestasi, berikut ulasannya.

7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi

1. Rajin Membaca
Buku adalah jendela dunia, dengan rajin membaca akan banyak ilmu pengetahuan yang bisa didapatkan dan akan memperkaya khazanah wawasan yang dimiliki seorang siswa. rajin membaca adalah syarat mutlak yang harus dilakukan untuk bisa menjadi siswa yang berprestasi. Rata-rata siswa yang berprestasi di sekolah memiliki minat membaca yang cukup besar, kebiasaan membaca tidak hanya ketika berada di sekolah tetapi juga ketika berada di rumah atau di lingkungan sekitar. Mendapatkan ilmu melalui membaca saat ini bukan hanya melalui buku tetapi juga bisa melalui media laptop, smartphone dan lain-lain.

2. Memiliki keingintahuan yang tinggi
Coba anda amati siswa yang juara kelas atau siswa yang berprestasi di sekolah anda, bagaimana motivasinya untuk mengetahui sesuatu yang baru atau seberapa besar rasa keingintahuannya terhadap hal-hal baru atau yang baru, besar bukan rasa keingintahuannya. Salah satu kebiasaan yang dimiliki beberapa siswa yang berprestasi adalah mereka memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, misalkan ketika diberikan tugas yang sulit atau masalah yang sulit dipecahkan justru mereka akan semakin bersemangat untuk menyelesaikan tugas tersebut.

3. Fokus dalam belajar
Siswa yang berprestasi selalu fokus ketika belajar, fokus bukan berarti mereka menjadi kutu buku atau jarang bergaul akan tetapi fokus disini adalah dia mampu belajar dalam kondisi apapun, misalkan ketika kondisi kelas yang ribut dimana teman-teman yang lain sedang bermain dia tetap bisa mencerna pembelajaran dengan baik selain itu mereka tidak mudah terganggu ketika belajar.

4. Memiliki inisiatif
Selanjutnya siswa yang berprestasi juga biasanya memiliki inisiatif yang tinggi, misalkan ketika guru meminta seorang siswa untuk maju kedepan menyelesaikan sebuah soal maka dengan inisiatifnya dia akan terlebih dahulu maju untuk menyelesaikan soal-soal tersebut sebelum teman-teman yang lain, juga memiliki inisiatif untuk bertanya jika ada pelajaran yang tidak diketahui dan tidak merasa malu akan ketidaktahuaannya tersebut.

5. Disiplin dalam belajar
Gaya belajar siswa berprestasi adalah memiliki displin tinggi, siswa yang berprestasi biasanya sudah membuat jadwal belajar dan jadwal bermain setiap harinya, ketika jadwal belajarnya telah tiba maka dia akan segera untuk mulai belajar dan meninggalkan aktivitas yang sedang dia lakukan selain itu siswa yang berprestasi tidak suka menunda-nunda pekerjaan, jika ada tugas atau pekerjaan rumah maka dia akan berusaha segera menyelesaikannya.

6. Berusaha memahami dan menguasai konsep pembelajaran
Cara belajar selanjutnya yang dimiliki orang yang berprestasi adalah selalu berusaha memahami konsep suatu materi pembelajaran, jika dia telah menguasai dan memahami konsep pembelajaran tersebut barulah ia akan melangkah ke pelajaran selanjutnya. misalnya ketika belajar matematika dengan materi pembagian maka ia akan fokus mempelajari cara pembagian tersebut baik secara konsep maupun praktik dan ketika ia telah benar-benar paham tentang pembagian barulah ia melangkah ke materi pelajaran selanjutnya. 

7. Menggunakan metode swot
Swot adalah singkatan dari Strenght (kekuatan), Weaknes (kelemahan), Oportunitis (kesempatan) dan Threats (ancaman). Siswa yang berprestasi biasanya akan menganalisa apa kekuatan yang dimiliki, kelemahan yang dimiliki, kesempatan dan ancaman pada dirinya setelah memahami keempat hal tersebut kemudian diakan memperbaiki apa yang kurang darinya dan memaksimalkan apa yang menjadi kelebihannya.

Demikianlah 7 Cara Belajar Siswa Yang Berprestasi yang bisa anda coba tiru dan terapkan pada diri anda agar mampu dan bisa menjadi siswa yang berprestasi dan menjadi kebanggan orang tua. Dan ingat prestasi yang dicapai seseorang adalah hasil perkalian antara usaha, kesabaran dan doa maka lakukan ketiga hal tersebut agar anda bisa menjadi siswa yang berprestasi.

Sabtu, 21 Januari 2017

7 Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa

7 Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa_ Minat belajar merupakan suatu sikap tertentu yang bersikap sangat pribadi pada setiap orang yang ingin belajar (Sudarsono, 2003). Minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing  orang. 

Baca juga: 
9 Cara Menjadi Guru Yang Menyenangkan Bagi Siswa 

Pihak lain hanya memperkuat menumbuhkan minat dan untuk memelihara minat yang  telah dimiliki seseorang. Beberapa hal yang bisa dilakukan  oleh siswa untuk menumbuhkan minat terhadap bidang studi tertentu, yaitu :

 

Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa Terhadap Bidang Studi Tertentu
 

1. Berusaha memperoleh informasi tentang bidang studi tersebut. 
Siswa dapat mencari berbagai informasi selengkap mungkin tentang bidang studi tersebut, seperti mengenal sejarahnya, tokoh-tokohnya, bidang-bidang kerja yang dapat dimasuki, kesempatan untuk maju dan hal-hal menarik lainnya.
 

2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bidang studi tersebut. 
Membuat catatan-catatan pribadi, menulis karangan ilmiah popular, melakukan penelitian-penelitian sederhana atau berdiskusi dengan teman (Loekmono, 1994).

Crow (Loekmono, 1994) mengemukakan lima butir motif penting yang dapat dijadikan alasan-alasan untuk mendorong tumbuhnya minat belajar dalam diri seseorang yakni :
 

Cara Menumbuhkan Minat Belajar dalam Diri Sendiri

#1. Suatu hasrat keras untuk memperoleh nilai-nilai yang lebih baik dalam semua mata pelajaran.
#2. Suatu dorongan batin memuaskan rasa ingin tahu dalam satu atau lain bidang studi.
#3. Hasrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi.
#4. Hasrat untuk menerima pujian dari orang tua, guru dan teman-teman.
#5. Gambaran diri dimasa mendatang untuk  meraih sukses dalam bidang khusus tertentu.  

Cara Guru Dalam Menumbuhkan Minat Belajar Siswa
 

Ada beberapa macam cara yang dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai berikut :
1. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, sehingga dia rela belajar tanpa paksaan. 
2. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah menerima bahan pelajaran. 
3. Memberikan kesempatan kepada anak  didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif. 
4. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual anak didik (Djamarah, 1994).

'Fungsi Minat dalam Belajar'

Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Jika seorang siswa memiliki rasa ingin belajar, ia akan cepat dapat mengerti dan mengingatnya.
Hurlock (Wahid, 1998) menulis tentang fungsi minat bagi kehidupan seorang anak sebagai berikut:


1. Minat mempengaruhi bentuk intensitas cita-cita. 
Sebagai contoh anak yang berminat pada olah raga maka cita-citanya adalah menjadi olahragawan yang berhasil, sedangkan anak yang berminat pada kesehatan fisiknya maka cita-citanya menjadi dokter.
 

2. Minat sebagai tenaga pendorong yang kuat. 
Minat anak untuk menguasai pelajaran bisa mendorongnya untuk belajar kelompok di tempat temannya meskipun  suasana sedang hujan.
 

3. Hasil selalu dipengaruhi oleh jenis dan intensitas. 
Minat seseorang meskipun diajar oleh guru yang sama dan diberi pelajaran tapi antara satu anak dan yang lain mendapatkan jumlah pengetahuan yang berbeda. Hal ini terjadi karena berbedanya daya serap mereka dan daya serap ini dipengaruhi oleh intensitas minat mereka.
 

4. Minat yang terbentuk sejak kecil 
Masa kanak-kanak sering terbawa seumur hidup karena minat membawa kepuasan. Minat menjadi guru yang telah terbentuk sejak kecil akan terus terbawa sampai hal ini menjadi kenyataan. Apabila ini terwujud maka semua suka duka menjadi guru tidak akan dirasa karena semua tugas dikerjakan dengan penuh sukarela.  Dan apabila minat ini tidak terwujud maka bisa menjadi obsesi yang akan dibawa sampai mati.
 

Dalam hubungannya dengan pemusatan perhatian, minat mempunyai peranan dalam melahirkan perhatian yang serta merta, memudahkan terciptanya pemusatan perhatian dan mencegah gangguan perhatian dari luar. Oleh karena itu minat mempunyai pengaruh yang besar  dalam belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, sebab tidak ada daya tarik baginya. Sedangkan bila bahan pelajaran itu menarik minat siswa, maka ia akan mudah dipelajari dan disimpan karena adanya minat sehingga menambah kegiatan belajar.
 

Fungsi minat dalam belajar lebih besar sebagai motivating force yaitu sebagai kekuatan yang mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk terus tekun karena tidak ada pendorongnya. Oleh sebab itu untuk memperoleh hasil yang baik dalam belajar seorang siswa harus mempunyai minat terhadap pelajaran sehingga akan mendorong ia untuk terus belajar.

Demikianlah artikel tentang 7 Cara Menumbuhkan Minat Belajar Siswa yang bisa menjadi refrensi atau bahan masukan bagi anda dalam proses menumbuhkan minat belajar siswa atau anak anda semoga artikel tersebut bermanfaat.

Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa)

Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa)_ LKS atau biasa disebut dengan lembar kerja siswa adalah sebuah buku yang dibagikan kepasa siswa yang berisi soal-soal dan materi pelajaran secara singkat. LKS bertujuan untuk meningkatkan atau menambah sumber belajar siswa sekaligus sebagai media untuk latihan soal-soal.

Baca juga:
Cara Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)



Namun tahukah kita bahwa LKS yang diedarkan di sekolah-sekolah jharus memenuhi syarat-syarat dalam penerbitannya. apa saja syarat dalam dalam menyusun LKS. Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam menyusun/membuat LKS menurut Rudiyanto (dalam Mervin, 2003:48) antara lain.

"Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa)"


a. Syarat-syarat didaktik.
LKS sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya proses pembelajaran harus mengikuti asas-asas pembelajaran yang efektif, yaitu:
1. Tekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep sehingga LKS di sini berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi siswa untuk mencari tahu,
2. Tidak memperhatikan adanya perbedaan individual sehingga LKS yang baik itu adalah yang dapat digunakan baik oleh siswa yang lambat, sedang, maupun yang pandai.
 

b. Syarat-syarat konstruksi
Persyaratan konstruksi yang harus dipenuhi dalam penyusunan LKS adalah syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kesederhanaan penggunaan kata-kata dan kejelasan yang pada hakekatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh siswa. Berkaitan dengan hal tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun dan membuat LKS, yaitu:
1. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan (tingkat perkembangan kognitif) siswa;
2. Menggunakan struktur kalimat atau kata-kata yang jelas;
3. Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, apabila konsep yang hendak dituju merupakan sesuatu yang kompleks, dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana;
4. Menggunakan kalimat yang pendek dan sederhana;
5. Memiliki tujuan pembelajaran yang jelas serta manfaat dari pelajaran itu sebagai sumber motivasi;
6. Mempunyai identitas untuk lebih memudahkan administrasi, misalnya nama, kelas, mata pelajaran, tanggal, dan sebagainya.
 

c. Syarat-syarat teknis
Penyusunan dan pembuatan LKS juga harus memenuhi syarat-syarat teknis sebagai berikut:

1. Tulisan
Tulisan atau huruf yang harus digunakan adalah (1) menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf romawi/latin disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa, (2) menggunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, bukan garis bawah, (3) banyak kata dalam satu baris tidak lebih dari 10 kata.
 

2. Gambar
Gambar harus dapat menyampaikan pesan/isi dari gambar tersebut secara efektif terhadap pengguna LKS. Gambar/ilustrasi sesuai dengan keadaan setempat dan penggunaan orang.

3. Penampilan

Penampilan harus memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan. Di samping itu harus memperhatikan pada format dan syarat-syarat penulisan yang sesuai dengan kurikulum. Dalam menyusun LKS hendaknya memenuhi beberapa komponen antara lain: (1) topik yang dibahas, (2) waktu yang tersedia untuk melakukan kegiatan, (3) tujuan pembelajaran, (4) kompetensi dasar, (5) rangkuman materi, (6) alat pelajaran yang digunakan, dan (7) prosedur kegiatan.

Berdasarkan uraian di atas maka lembar kerja siswa (LKS) yang dibuat pada penelitan ini berisikan petunjuk yang harus siswa ikuti, tujuan pembelajaran khusus, tugas yang harus dikerjakan untuk melihat kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika. Buku pendukung siswa mengerjakan LKS adalah buku siswa. Demikinalah artikel tentang Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa) semga bermanfaat

6 Cara Penulisan Buku siswa

Cara Penulisan Buku siswa_ Buku siswa tak dapat dipungkiri memberi andil dalam proses belajar siswa, buku siswa bisa menjadi bahan refrensi dalam pembelajaran selain itu buku siswa juga bisa memperkaya media dan sumber belajar siswa dan guru.

Baca juga:
Syarat-Syarat Dalam Menyusun / Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa) 

Nagh oleh karena itu penulis dalam artikel ini akan sedikit berbagi tips bagaimana sih cara penulisan buku siswa yang baik dan benar. berikut ulasan cara penulisan buku siswa yang baik dan benar:

6 Cara Penulisan Buku siswa

6 Cara Penulisan Buku siswa
Cara Penulisan Buku siswa_ Beberapa petunjuk tentang  penulisan buku siswa menurut Collette & Chiappetta (dalam Mervin, 2003) antara lain:
 

1. Isi  
Isi buku siswa yang dibuat sesuai dengan keadaan sekarang, sesuai dengan tingkat usia siswa yang meliputi latar belakang dan perkembangan dari konsep dan prinsip serta relevan dengan siswa (misalnya kota atau desa).
 

2. Organisasi
Organisasi penulisan buku siswa,  topik dan sub topik memenuhi silabus/kurikulum, fleksibel dan materi dalam sub bab diorganisasikan dengan baik.
 

3. Tingkat bacaan
Penggunaan kalimat atau kata dalam buku siswa serta jenis dan ukuran huruf disesuaikan dengan tingkat usia siswa, kata-kata teknis diusahakan minimal, dan diterangkan dengan jelas.
 

4. Ilustrasi 
Ilustrasi dalam buku siswa sesuai dengan keadaan sekarang, foto harus jelas dan bermutu, ilustrasi sesuai dengan isi buku, judul halaman dan bab ditulis dengan baik dan tepat, ilustrasi berguna dalam pembelajaran dan ilustrasi ditempatkan secara strategis dalam teks.
 

5. Alat pembelajaran (latihan) 
Pada akhir satu atau dua sub topik dibuat pertanyaan yang disusun dengan baik dan berguna untuk review, cocok untuk jangkauan yang luas dari kemampuan siswa, kegiatan disarankan menantang dan memacu pemikiran.
 

6. Hiasan fisik dari buku siswa 
Agar supaya siswa termotivasi pada saat melihat buku siswa maka sampul buku siswa harus menarik, buku dibuat dengan baik dan tahan lama, ukuran buku sesuai, cetakannya menarik, mudah dibaca, rancangan halaman tidak kacau, dan kertas yang digunakan berkualitas baik.; Sementara buku siswa dalam penelitian ini memuat tujuan pembelajaran, isi, dan latihan-latihan soal.

Demikianlah artikel tentang bagaimana 6 Cara Penulisan Buku siswa yang bisa menjadi pedman bagi bapak atau ibu guru dalam menyusun buku siswa. semga bermanfaat

Selasa, 17 Januari 2017

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa_ Salah satu metode dalam proses pembelajaran untuk mengukur pemahaman siswa adalah dengan metode pemberian tugas. Pemberian tugas bisa dalam bentuk ulangan, tugas harian, tugas lisan dan tugas praktik.

Baca juga:
11 Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler Bagi Siswa 
5 Manfaat Pembelajaran Kooperatif Bagi Siswa

Selain itu tugas dalam bentuk kerja kelompok juga cukup efektif dalam mengetahui tingkat pemahaman siswa dan kemampuan bekerja secara berkelompok maupun bekerja secara individual. Pemberian tugas kepada siswa juga harus secara proporsional atau sesuai dengan kemampuan siswa, agar tugas yang diberikan tidak menjadi beban bagi siswa.

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa

Pemberian tugas kepada siswa juga memiliki banyak manfaat serta kelebihan. Oleh karena itu sebaiknya selalu menyempatkan memberi tugas kepada siswa agar manfaat-manfaat dari pemberian tugas kepada siswa bisa terinterpretasikan dalam diri siswa. Apa saja manfaat dari pemberian tugas kepada siswa? Setidaknya Pemberian tugas kepada siswa memiliki 5 manfaat yang baik bagi siswa. berikut pemaparannya. 

5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada Siswa

Menurut Roestiah (2008), bahwa suatu proses belajar mengajar yang dilaksanakan dengan metode pemberian tugas, mempunyai kelebihan-kelebihan diantaranya adalah:
 

1. Mengaktifkan siswa untuk mempelajari sendiri masalah dengan jalan mencoba menyelesaikan sendiri. 
Manfaat pertama pemberian tugas kepada siswa adalah siswa akan menjadi lebih aktif, berusaha mencari solusi atas masalah atau tugas yang dihadapinya dengan melakukan hal tersebut siswa akan menjadi pribadi yang pekerja keras, pantang menyerah dan kemampuan berpikir siswa dalam mencari jalan keluar atas masalahnya semakin meningkat. siswa yang aktif dalam menyelesaikan tugasnya akan berdampak positif kepada kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor siswa.
 
2. Mengerjakan soal sendiri
Manfaat selanjutnya pemberian tugas kepada siswa adalah siswa menjadi terbiasa mengerjakan tugasnya sendiri hal tersebut akan mengajarkan sikap mandiri kepada siswa dan tidak selalu mengandalkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya.
 

3. Membiasakan anak berfikir
Hal positif lainnya dengan memberikan tugas kepada siswa adalah membiasakan siswa berpikir berpikir terbuka dan mencari pemecahan masalah dengan berbagai sudut pandang. Hal tersebut juga akan memancing kemampuan berpikir kritis siswa.
  
4. Melatih anak berhadapan dengan persoalan, tidak hanya hafalan. 
Selain itu pemberian tugas juga membuat siswa belajar dengan lebih realistis dan kontekstual bukan hanya mempelajari berbagai teori dan konsep saja namun siswa juga akan belajar dalam hal aplikatif atau bagaimana menerapkan ilmu yang telah dipelajari melalui penyelesaian tugas yang diberikan.

5. Mengembangkan inisiatif serta tanggung jawab dari siswa.
Manfaat terakhir pemberian tugas kepada siswa adalah siswa akan belajar bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadapad tugas dan amanah yang dibebankan kepadanya selain itu pemberian tugas juga mendidik anak menjadi lebih inisiatif dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Demikianlah sedikit ulasan tentang 5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa dan hal yang juga perlu diperhatikan terhadap tugas yang diberikan kepada siswa, apakah komponen-komponen atau unsur-unsur dalam tugas tersebut baik dari unsur kognitif, afektif dan psikomotor mampu tertanan dalam diri siswa agar tujuan pembelajaran dalam bentuk tugas bisa tercapai. Oleh karena itu dibutuhkan analisis butir-butir soal yang matang oleh guru sebelum memberikan tugas kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran tercapai maksimal. semoga artikel 5 Manfaat Pemberian Tugas Kepada siswa bermanfaat bagi anda.

Senin, 16 Januari 2017

6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti pembelajaran di Sekolah

6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti pembelajaran di Sekolah_ Setiap guru pasti berharap proses pembelajaran berlangsung secara menyenangkan dan membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena ketika siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran maka kemampuan siswa dalam menangkap materi pembelajaran juga bisa maksimal sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai. Namun harapan terkadang berbanding balik dengan fakta yang anda,  terkadang dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah muncul perasaan jenuh dan bosan untuk mengikuti pembelajaran. Perasaan bosan dan jenuh pada siswa biasanya muncul diakhir-akhir jam sekolah karena pada waktu tersebut konsentrasi anak dalam mengikuti pembelajaran mulai menurun jadi untuk mengatasi hal tersebut butuh cara khusus agar semangat dan motivasi belajar siswa tetap tinggi dalam mengikuti pembelajaran.


Terkadang juga kita menemukan beberapa guru yang sudah susah payah menjelaskan panjang lebar suatu materi pelajaran namun siswa kurang mampu memahami maksud guru, namun guru kurang menyadari hal tersebut dan terus melanjutkan materi pembelajaran tanpa berusaha mengecek pemahaman siswa, sehingga ketika pertemuan selanjutnya guru bertanya tentang materi pelajaran yang telah pelajari sebelumnya akan tetapi kebanyakan siswa sudah tidak mengingat materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya. Hal demikian sebaiknya bisa diminimalisir agar pembelajaran tidak menjadi kurang bermakna, ibaratkan “masuk telinga kiri keluar di telinga kanan” atau kurang membekas dalam ingatan siswa.
 

Baca juga:
7 Cara Mengatasi Anak Yang Lambat Memahami Pelajaran 
 
Perasaan bosan dan jenuh dalam mengikuti pembelajaran menjadi hal yang mesti diminimalisir oleh guru dengan menerapkan metode dan teknik pembelajaran yang efektif membangkitkan semangat belajar siswa. Bagaimana sih Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengkuti pembelajaran ? dalam artikel ini akan diulas secara detail Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengkuti pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai; berikut pemaparannya.
 

6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti pembelajaran di Sekolah

1. Menerapkan pembelajaran yang bervariasi 
Salah satu yang menyebabkan munculnya perasaan bosan dan jenuh dalam diri siswa adalah pembelajaran yang monoton atau dengan cara yang begitu-begitu saja. Oleh karena itu cara agar siswa tidak bosan mengkuti pembelajaran, sebaiknya guru menerapkan pembelajaran yang bervariasi, misalkan dalam pertemuan pertama guru menggunakan model pembelajaran mind mapping maka dalam pertemuan selanjutnya guru menggunakan model lain seperti model pembelajaran berbasis pengalaman dan begitupun dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jika hal tersebut dilakukan maka siswa akan selalu antusias mengikuti pembelajaran sehinggan perasaan bosan dan jenuh bisa dihindari.
 

2. Melibatkan siswa dalam pembelajaran 
Penyebab lain munculnya rasa bosan dan jenuh dalam diri siswa adalah cara guru dalam mengajar yang kurang tepat. Sebagian guru mengajar dengan menggunakan metode teacher center yakni pembelajaran lebih banyak berpusat pada guru sehingga siswa seolah-olah hanya sebagai pendengar dalam pembelajaran, sebaiknya dalam proses pembelajaran diterapkan metode student center dimana siswa yang menjadi pusat pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif dan terlibat dalam pembelajaran, peran guru dalam student center sebagai fasilitator, katalisator, motivator dan inspirator. Dengan metode tersebut siswa akan lebih antusias dalam mengikuti pelajaran serta bisa mencegah perasaan jenuh dan bosan dalam belajar
 

3. Kontekstual learning
Cara selanjutnya agar siswa tidak bosan mengikuti pembelajaran adalah dengan mempaktikan pembelajaran Kontekstual learning. Kontekstual learning adalah pembelajaran yang membawa siswa dalam pembelajaran yang nyata bukan hanya sekedar teori namun disertai dengan media yang bisa membuat proses pembelajaran lebih nyata, menerapkan pembelajaran kontekstual bisa dilakukan dengan mengajark siswa belajar diluar ruangan atau dialam misalkan di lingkungan sekitar sekolah, mata pelajaran yang cocok dalam pembelajaran ini seperti mata pelajaran IPA, PKN, dan IPS. Selain menyenangkan pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa bisa melihat secara nyata wujud benda yang dipelajari misalkan siswa belajar tentang tumbuhan maka siswa diajak belajar di sekitar sekolah untuk melihat berbagai jenis tumbuhan yang ada di sekitarnya.

4. Belajar sambil bermain 
Cara selanjutnya agar siswa tidak bosan mengikuti pembelajaran adalah dengan menerapkan 
metode belajar sambil bermain. Kebiasaan bermain dalam diri siswa tidak bisa dihilangkan begitu saja, dan tak jarang kita menemukan siswa yang bermain-main dalam ketika pembelajaran sedang berlangsung dan hal tersebut wajar. Oleh karena itu tidak ada salahnya mencoba menerapkan pembelajaran yang membawa siswa bermain namun tetap berisi nilai-nilai pelajaran di dalamnya. Misalkan permainan games dengan model TGT (teams games tournamnet), Problem solving,  GI (group investigation) dan lain-lain.
 

5. Menjadi guru yang menyenangkan
Guru memegang peranan sentral dalam suatu pembelajaran, kondusif atau tidaknya suatu pembelajaran, menyenangkan atau tidaknya suatu pembelajaran, antusias atau tidaknya siswa semua tergantung dari cara guru dalam menyajikan pembelajaran. Jadi jangan tanyakn kenapa siswa bosan dan jenuh untuk belajar tapi tanyakanlah apakah pembelajaran yang anda terapkan sudah tepat. Dengan menjadi guru dengan pribadi yang menyenangkan akan membuat siswa lebih enjoy dalam mengikuti pembelajaran, perasaan tertekan dapat diminimalisir.

6. Mengajar dengan menggunakan media pembelajaran
Langkah terakhir yang bisa guru coba terapkan untuk mengatasi perasaan bosan dan jenuh siswa belajar adalah dengan menggunakan media pembelajaran ketika mengajar. Dengan menggunakan media pembelajaran pemahaman siswa lebih realistis atau nyata tidak hanya sebatas teori dan konsep saja.

Berdasarkan 6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti Pembelajaran di sekolah maka dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peranan yang sentral dalam proses pembelajaran sehingga guru dituntut unutk lebih inovatif dan kreatif sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan maksimal. Demikianlah artikel tentang 6 Cara Agar Siswa Tidak Bosan Mengikuti Pembelajaran di Sekolah. semoga bermanfaat