Tampilkan posting dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua posting

Rabu, 22 Maret 2017

12 Manfaat internet bagi dunia pendidikan

12 Manfaat internet bagi dunia pendidikan_ Dewasa ini kemajuan teknologi memberi pengaruh besar dalam segala aspek kehidupan, salah satu produk teknologi adalah munculnya sistem jaringan international atau bisa disebut internet (international network). Keberadaan internet semakin memudahkan segala aktivitas manusia termasuk dalam dunia pendidikan.

10 Manfaat internet dalam dunia pendidikan
Manfaat internet bagi dunia pendidikan
Kehadiran internet memeliki peranan yang sangat signifikan dalam kemajuan dunia pendidikan, ada banyak kemudahan kepada yang bisa didapatkan dengan adanya internet. Keberadaan internet ibaratkan pisau bermata dua bagi dunia pendidikan khususnya bagi siswa dan anak-anak apabila tidak bijaksana dalam menggunakan internet justru akan berdampak negatif bagi dunia pendidikan.

Baca juga:
6 Dampak Positif Dan Negatif Internet Bagi Anak
6 Dampak Positif dan Negatif Gagdet Bagi anak

Namun terlepas dari dampak negatif yang bisa ditimbulkan dengan keberadaan internet dalam dunia pendidikan. Internet juga memiliki banyak sekali manfaat bagi kemajuan pendidikan dan menjadi salah satu jalan munculnya berbagai inovasi dalam dunia pendidikan. Apa sajakah manfaat internet bagi dunia pendidikan? Berikut ulasannya.

12 Manfaat internet bagi dunia pendidikan

1. Internet sebagai sumber belajar
Jika dulu sumber belajar adalah buku, majalah dan melalui kegiatan pembelajaran langsung di alam namun saat ini dengan keberadaan internet telah merubah gaya belajar siswa yang dulunya bersifat konvensional menuju kearah yang lebih efektif dan praktis. Internet telah menjadi sumber belajar alternatif dengan materi pelajaran yang bisa dibilang tidak terbatas. Internet memiliki berbagai kelebihan dibandingkan sumber belajar seperti buku, majalah dll yakni melalui internet siswa bisa mencari materi pelajaran dari berbagai sumber sehingga pengetahuan siswa akan lebih kaya. Selain itu kemudahan dalam menemukan materi pelajaran melalui internet menjadi nilai plus tersendiri. Internet juga bisa diakses dimana pun sehingga memiliki sifat praktis serta internet juga bisa diakses melalui berbagai perangkat elektronik sehingga tidak terpaku pada satu perangkat saja. Cukup dengan mengetik materi pelajaran yang di cari maka semua materi yang dicari serta yang terkait dengan akan muncul dalam hitungan detik sehingga semakin memudahkan siswa untuk belajar.

2. Internet menjadi sumber informasi
Selain sebagai sumber belajar Internet juga menjadi sumber untuk mendapatkan informasi baru yang terkait dengan kegiatan pendidikan. Jika dahulu proses penyebaran informasi butuh waktu yang cukup lama maka dengan adanya internet dalam hitungan menit informasi yang baru bisa segera diketahui. Hal tersebut membuat informasi tentang regulasi dalam dunia pendidikan bisa cepat diketahui selain itu inovasi-inovasi yang berhasil ditemukan dalam dunia pendidikan bisa cepat tersebar sehingga lebih efektif dalam penerapannya​ dalam pembelajaran. Penyajian informasi yang begitu cepat melalui internet membuat perkembangan dunia pendidikan terus mengalami proses dinamisasi menuju pendidikan yang berkualitas dalam segala aspek.

3. Berfungsi sebagai media pembelajaran
Manfaat internet bagi dunia pendidikan selanjutnya ialah dengan keberadaan internet pembelajaran akan lebih bervariasi. Internet bisa menjadi media pembelajaran, jika selama ini guru hanya bisa memaparkan teori atau gambar tentang materi pelajaran tertentu namun dengan adanya teknologi internet materi pelajaran yang dulunya hanya dijelaskan dengan metode ceramah bisa disaksikan langsung dengan keberadaan internet melalui tayangan video misalnya melalui YouTube sehingga pembelajaran tidak terkesan sebatas konsep semata namun bisa membuat pembelajaran menjadi konkret sehingga pengalaman belajar siswa menjadi lebih berkesan.

4. Membuat siswa lebih pekah dengan kemajuan teknologi
Internet adalah bukti kemajuan luar biasa dari peradaban manusia. Manfaat internet bagi dunia pendidikan ialah melalui internet siswa akan menjadi lebih pekah terhadap teknologi sehingga mereka tidak gaptek (gagap teknologi) . Internet bisa membuat siswa memiliki imajinasi tinggi dan daya cipta sehingga bisa membuat siswa menjadi pribadi yang memiliki ambisi untuk melakukan hal besar memanfaatkan teknologi internet. Namun jika tidak digunakan dengan bijak dan kurang mendapatkan bimbingan dari orang guru maupun orang tua justru akan memberikan efek negatif bagi siswa.

5. Sarana untuk mencari beasiswa
Siswa yang berprestasi namun kurang mampu dalam segi ekonomi untuk melanjutkan pendidikan sangat terbantu dengan keberadaan internet pasalnya melalui internet siswa yang kurang mampu maupun siswa yang memiliki bakat dan minat dalam bidang tertentu bisa mencari informasi tentang beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah. Seperti yang kita ketahui saat ini ada begitu banyak jenis beasiswa yang disediakan oleh pemerintah maupun lembaga swasta yang bisa diketahui melalui internet, jadi tidak ada batasan lagi antara anak yang berada di kota maupun anak yang ada di ujung negeri sehingga semua memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah.

6. Sarana berkomunikasi dan berinteraksi
Saat ini ada begitu banyak media komunikasi yang tersedia di internet misalnya saja Facebook, Twitter, g+, WhatsApp dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan sebagai forum belajar berkomunikasi dan berinteraksi. Melalui media sosial tersebut siswa bisa mendapatkan lebih banyak teman serta informasi-i formasi yang bermanfaat. Selain itu teman yang bisa diajak berkomunikasi tidak terbatas oleh tempat misalnya saja orang yang berada di satu kota bisa mengobrol dan berkomunikasi dengan orang di kota lain hal tersebut sangat berbeda dengan komunikasi dalam dunia nyata yang dibatasi oleh ruang dan tempat.

7. Kelas online
Jika dulu untuk bisa mengikuti pembelajaran harus berada dalam kelas dan melakukan tatap mata langsung dengan guru maka dengan keberadaan internet gaya belajar mengalami sedikit inovasi. Dengan adanya internet siswa tidak harus untuk hadir dalam kelas untuk mengikuti pembelajaran melainkan bisa mengikuti pembelajaran melalui bantuan internet yakni melalui kelas online. Jadi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak semakin mudah dan efesien.

8. Memudahkan pelaksanaan ujian nasional
Manfaat internet bagi dunia pendidikan selanjutnya adalah dengan hadirnya pelaksanaan ujian nasional berbasis online yang selain menghemat biaya pelaksanaan ujian nasional juga meminimalisir kecurangan dalam ujian. Internet juga membuat proses pemeriksaan hasil ujian nasional yang selama ini membutuhkan waktu yang cukup lama menjadi lebih singkat dengan hasil yang akurat.

9. Memudahkan penguasaan bahasa asing
Internet merupakan sumber literasi berbagai bahasa asing, sebagian konten yang ada didalam internet yang disajikan dalam berbagai bahasa membuat anak secara tidak langsung akan belajar bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya secara otodidak. Selain itu untuk belajar bahasa asing melalui internet juga cukup praktis dan yang pasti gratis.

10. Memudahkan pendataan siswa secara nasional
Pemberlaku nisn, nuptk, PIN (penomoran ijazah Nasional) akan sulit terealisasi tanpa kehadiran internet. Dengan adanya internet sistem data pendidikan nasional bisa dikelola melalui satu database terpadu sehingga membuatnya menjadi lebih praktis dan memudahkan stackholder dalam dunia pendidikan.

11. Internet media untuk melakukan inovasi dalam dunia pendidikan.
Manfaat internet bagi dunia pendidikan ialah dengan keberadaan internet membuat segalanya menjadi mudah. Ada begitu banyak kebijakan dalam dunia pendidikan yang muncul dengan adanya internet. Internet akan terus memicu munculnya berbagai ide brilian untuk mendukung kemajuan pendidikan.

12. Sarana untuk menyimpan informasi
Internet juga menjadi data base yang digunakan untuk menyimpan data data pendidikan, misalnya saja data pendidikan bisa disimpan di Google Drive, Google dokumen bisa. Data dan informasi tersebut juga bisa disimpan dalam website-website sehingga juga bisa menjadi referensi bagi orang lain yang mencarinya.

Demikianlah 12 Manfaat internet bagi dunia pendidikan, sebenarnya ada masih banyak manfaat lainnya namun dalam artikel kali ini hanya dibahas 12 saja. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda.

Jumat, 10 Maret 2017

Contoh Angket Kecerdasan Naturalistik

CONTOH ANGKET KECERDASAN NATURALISTIK

Identitas Responden 
Nama Murid     :
Kelas / Sekolah:
Jenis Kelamin  :


Petunjuk Pengisian Angket
a. Di bawah ini ada beberapa pernyataan yang menghubungkan tentang diri anda
b.Anda diminta untuk memberikan tanggapan mengenai pernyataan tersebut dengan cara memilih salah satu dari empat alternatif jawaban yang tersedia
c.Pilihlah satu dari empat pilihan tanggapan yang anda anggap paling sesuia dengan keadaan diri anda dengan cara memberi tanda centang (X ) pada salah satu kolom dilembar jawaban yang tersedia
d.Semua nomor harap dikerjakan jangan sampai ada yang terlewatkan

Baca juga:
Contoh Angket/Kuisioner Kecerdasan Interpersonal
Contoh Angket Motivasi Berafiliasi 
 
Pilihlah
1. SS bila anda Sangat Sesuai dengan pernyataan tersebut
2. S bila anda Sesuai dengan pernyataan tersebut
3. TS bila anda Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut
4. STS bila anda Sangat Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut

No. Pernyataan 
1. Saya tidak suka membuang sampah disembarang tempat
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
2. Saya suka berkeliling, atau sekedar berjalan-jalan di alam terbuka              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
3. Saya melakukan kesenangan yang berkaitan dengan alam                              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
4. Saya senang membaca buku dan majalah atau menonton acara televisi atau film yang menggambarkan alamp              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
5. Ketika berlibur, saya lebih memilih pergi ke alam terbuka (taman, kebun binatang, perkemahan, hiking) dari pada ke hotel, tempat peristirahatan, ke kota              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
6. Saya suka pergi ke kebun binatang, akuarium, atau tempat yang mempelajari kehidupan alam      
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS    
7. Saya suka membawa binatang kecil/serangga, bunga atau benda alam lain ke sekolah untuk dipamerkan
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS           
8. Saya sering berbicara tentang keadaan alam              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
9. Saya tidak bisa mengerjakan tugas dengan baik materi yang berkaitan dengan alam sekitar              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
10. Saya senang belajar matematika, bahasa Indonesia/IPS dari pada IPA              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
11. Saya suka mengerjakan tugas dengan baik yang bersinggungan dengan sistem kehidupan (misalnya biologi)              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
12. Saya dapat membedakan berbagai jenis tumbuhan dan hewan              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
13. Saya ikut semacam organisasi sukarela yang berkaitan dengan lingkungan dan ingin ikut membantu menyelamatkan lingkungan dari perusakan              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
14. Saya mengerjakan dengan baik tugas-tugas yang tentang binatang/manusia              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
15. Saya lebih senang belajar jika dibawa ke alam dari pada di dalam kelas              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
16. Saya menghindari pembicaraan tentang alam sekitar              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
17. Saya tidak suka berkemah karena takut berada diluar rumah              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
18. Saya suka perhatikan sesuatu di lingkungan: pohon, bunga, burung atau hewan dan tumbuhan lainnya              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
19. Saya bisa membedakan lingkungan yang sejuk dan tidak sejuk              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
20. Saya senang menyiram atau merawat tanaman               
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
21. Saya memiliki kebun dan senang berkebun di sana              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
22. Saya suka membawa bunga/daun-daun ke sekolah              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
23. Saya merasa bosan bila belajar tentang tumbuh-tumbuhan              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
24. Saya suka memetik bunga-bunga di halaman sekolah              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
25. Saya sering berbicara tentang binatang atau tumbuh-tumbuhan              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
26. Saya suka bermain dan memelihara binatang               
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
27. Saya suka melihat kolam ikan/akuarium              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
28. Saya dibesarkan di keluarga yang menyukai binatang piaraan              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
29. Saya suka melihat sangkar burung,/kandang binatang              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
30. Saya ngeri/takut jika berada di dalam kebun binatang              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
31. Saya serinng berbicara tentang hak-hak binatang              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
32. Saya tidak jijik dengan hewan ternak              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
33. Saya bisa membedakan tanah yang subur dan tanah yang tidak subur              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
34. Saya tahu tanda-tanda akan turun hujan              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS
35. Saya tidak tahu proses terjadinya pergantian musim              
a. SS               c. TS
b. S                 d. STS

Jumat, 24 Februari 2017

Contoh Angket/Kuisioner Kecerdasan Interpersonal

Contoh Angket/Kuisioner Kecerdasan Interpersonal
Identitas Responden
Nama Murid     : ..................................................................................................
Kelas / Sekolah : ..................................................................................................
Jenis Kelamin   : .................................................................................................

Petunjuk Pengisian Angket
1.Di bawah ini ada beberapa pernyataan yang menghubungkan tentang diri anda
2.Anda diminta untuk memberikan tanggapan mengenai pernyataan tersebut dengan cara memilih salah satu dari empat alternatif jawaban yang tersedia
3.Pilihlah satu dari empat pilihan tanggapan yang anda anggap paling sesuia dengan keadaan diri anda dengan cara memberi tanda centang (X ) pada salah satu  jawaban yang tersedia
4.Semua nomor harap dikerjakan jangan sampai ada yang terlewatkan

Baca juga:
Contoh Angket Motivasi Berafiliasi 
 
Pilihlah
1.SS bila anda Sangat Sesuai dengan pernyataan tersebut
2.S bila anda Sesuai dengan pernyataan tersebut
3.TS bila anda Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut
4.STS bila anda Sangat Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut

1.Saya dapat mengetahui arti ekspresi wajah teman
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     
2.Saya dapat mengobrol dengan teman dalam waktu yang lama               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

3.Saya selalu memiliki bahan atau topik pembicaraan               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

4.Saya senang memiliki banyak teman               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

5.Saya senang berada dalam tempat yang banyak orang               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

6.Saya sering menjadi tempat berkeluh kesah seseorang.
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     
               
7.Saya merasa sungkan (tidak enak hati) untuk menolak jika teman (seseorang) meminta pertolongan.               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

8.Saya senang berkenalan dengan teman baru dan bertanya tentang kesukaannya               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

9.Saya tidak merasa sungkan (tidak enak hati) untuk memulai suatu obrolan dengan orang di sekitar saya.               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

10.Teman saya selalu mengikuti saya kemanapun saya pergi.               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

11.Teman-teman selalu mendengarkan saran serta pendapat saya               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

12.Ketika teman saya bersedih saya merasakan hal yang sama               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

13.Saya selalu bergembira dan membuat teman saya merasa gembira.               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

14.Ketika melihat orang lain kesusahan saya akan membantu               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

15.Jika ada masalah, saya selalu mencari solusi bersama agar tidak terjadi masalah               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

16.Saya harus mengulang perkataan saya ketika orang lain tidak memahaminya.               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

17.Saya senang berada di kerumunan orang.               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

18.Saya mencoba untuk mengalihkan atau mengakhiri percakapan yang tidak menarik minat saya.   
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     
           
19.Saya selalu bertanya kepada teman tentang apa yang dia inginkan                
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

20.Saya senang mengungkapkan rasa kasihan saat mendengarkan keluahan teman saya               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

21.Ketika berbicara dengan orang, saya memperhatikan bahasa tubuh mereka (cth. ekspresi wajah, gerakan tangan, dll)               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

22.Saya harus mengulang perkataan saya ketika orang lain tidak memahaminya.               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

23.Senang mengajak teman berdiskusi untuk mencari suatu penyelesaian masalah               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

24.Saya tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh teman saya               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

25.Saya dapat mengatakan “Tidak” tanpa merasa bersalah, jika saya tahu bahwa hal itu benar.           
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     
   
26.Saya akan marah jika ada yang mengkritik saya               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

27.Saya suka senyum kepada setiap orang                
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

28.Saya selalu ingin mengungkapkan pembicaraan yang hangat dengan orang lain               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

29.Saya selalu ingin mencari tau hal-hal yang disukai teman saya               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

30.Saya sering memberi pujian kepada teman saya yang berprestasi               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

31.Saya selalu mempertimbangkan dengan baik keputusan yang akan saya ambil dalam menyelesaikan masalah               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

32.Saya suka menolong orang yang butuh               
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

33.Ketika saya kurang paham dengan pembicaraan teman, maka saya akan bertanya kepadanya         
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     
       
34.Saya suka mencari kesamaan saya dengan kesamaan teman saya                
a. SS     c. TS
b. S       d. STS     

35.Saya suka mengatur berbagai kegiatan harian rumah dan sekolah                
a. SS     c. TS
b. S       d. STS

Rabu, 08 Februari 2017

3 Syarat Pragraf Yang Baik Dan Contohnya

3 Syarat Pragraf Yang Baik Dan Contohnya_ Menyusun sebuah kalimat menjadi sebuah pragraf bukannlah hal yang sulit bagi yang telah memahami namun bagi yang baru mau belajar menyusun sebuah pragraf bisa jadi merupakan hal yang cukup sulit. Dalam menyusun pragraf sebaiknya merujuk pada pedoman yang baku agar pragraf yang disusun memiliki kualitas. setidaknya ada 3 syarat dalam menyusun pragraf yang baik yang mesti diketahui. Oleh karena itu dalam artikel ini penulis akan berbagi bagaimana cara menyusun pragraf yang baik. Paragraf yang baik dan efektif memiliki paling tidak tiga syarat, yaitu ketunggalan (unity), koherensi, dan adekuasi (Bander, 1978; Leggert, 1978 dalam Tri Rijanto, 2009).



3 Syarat Pragraf Yang Baik Dan Contohnya

1. Azas ketunggalan
Pertama, azas ketunggalan dalam paragraf dapat dikonstruksi jika penulis mampu memberikan hanya sebuah ide atau gagasan sebagai pengendali paragraf. Artinya, penulis tidak diperkenankan memiliki gagasan pokok kembar atau bahkan ganda dalam sebuah paragraf. Untuk itu, penulis harus dapat merumuskan ide pokok yang akan dikembangkan dalam paragraf itu ke dalam kalimat yang pendek, lugas, jelas, dan padat. Menurut terminologi teknik menulis, kalimat pengendali gagasan dalam sebuah paragraf biasa disebut dengan topic sentence. Biasanya topic sentence terletak pada kalimat pertama dan/atau terakhir dari sebuah paragraf. 

Setelah penulis memiliki gagasan pengendali paragraf, langkah berikutnya yang harus dilakukan ialah menopang gagasan pengendali dengan berbagai gagasan pendukungnya (supporting ideas). Gagasan pendukung ini bisa berupa teori, fakta, hasil pengamatan, hasil penelitian, pendapat orang yang memiliki otoritas, berbagai contoh, dan sebagainya. Dalam memberikan gagasan pendukung itu penulis bisa saja mengambil berbagai gaya tulisan secara bervariasi, misalnya gaya naratif, deskriptif, komparatif, induktif, deduktif, dan sebagainya.


2. Koherensi

Kedua, koherensi, yang merupakan pengembangan dan tindak lanjut dari syarat yang pertama. Artinya, untuk memenuhi syarat ini penulis harus mampu merangkai gagasan-gagasan pendukung bagi gagasan pengendali secara koheren. Semua gagasan pendukung yang ditampilkan harus menunjukkan adanya dukungan yang kait-mengkait dalam memberi dukungan terhadap gagasan pengendali. Ibarat orang menenun, maka benang-benang yang ada dari segala macam warna harus dianyam dalam bentuk dan posisi saling kait-mengkait. Dengan cara ini maka penulis bisa membimbing dan mengajak pembaca menelusuri alur gagasan secara logik. Paragraf yang koheren berarti paragraf yang memiliki sejumlah gagasan pendukung yang tertata secara logik dan relevan dengan gagasan pengendalinya.

Sebaliknya, sebuah paragraf yang tidak koheren ia akan banyak menampilkan gagasan pendukung yang tidak relevan, melompat-lompat dan jungkir-balik dilihat dari alur logikanya.
Koherensi sebuah paragraf dapat dipertahankan dengan menyusun semua kalimat atas dasar kronologi waktu, ruang, klimaks, dan kronologi logika yang bersifat umum ke khusus. Kronologi waktu dan ruang gampang dilakukan. Namun, hal itu sering diabaikan oleh kebanyakan penulis pemula. Kronologi atas dasar klimaks suatu gagasan dapat disusun dengan berangkat dari gagasan sederhana, yang kurang penting, sampai pada klimaksnya, yaitu gagasan inti yang teramat penting dalam suatu pembahasan topik tertentu. Begitu juga kronologi gagasan yang umum menuju khusus dapat dilakukan dengan menampilkan ide yang luas cakupannya kemudian bergerak ke fenomena yang lebih khusus dan spesifik. Agar seorang penulis bisa mengorganisasikan segala macam bentuk kronologi dengan tampilan yang segar dan lancar perlu kiranya menggunakan berbagai kata transisi secara silih berganti dan bervariasi. 


Dengan cara ini akhirnya sebuah paragraf akan memiliki alur yang alami, enak dibaca, dan jelas kandungan pesan ilmiahnya. Betapapun banyaknya ilmu yang dimiliki seseorang, jika tidak dikomunikasikan dengan cara yang jelas, tidak ada maanfaatnya. Oleh karena itu tidak cukup seorang pendidik hanya menghasilkan sebuah laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), tetapi lebih jauh dari itu, suatu kemampuan untuk menyajikannya dalam bahasa tulis yang jelas dan mudah dipahami orang lain masih merupakan sebuah tantangan berikutnya yang harus terus-menerus diatasi.

3. Adekuasi

Ketiga, adekuasi. Syarat ketiga ini sangat penting bagi seorang penulis untuk memiliki gagasan pendukung yang cukup memadai. Kriteria cukup di sini bukan dilihat dari segi kuantitasnya, tetapi harus dilihat dari segi kualitasnya. Paragraf yang adekuat berarti memiliki banyak detail, penjelasan, contoh, bukti, eksplanasi, deskripsi yang disusun secara koheren. Dengan demikian paragraf tersebut memiliki validitas yang tinggi dilihat dari keberhasilan penulis mempertahankan gagasan pengendalinya.
 

Contoh
Sebagai contoh, berikut ini merupakan sebuah paragraf  yang dikembangkan dengan tanpa memperhatikan persyaratan minimal bagi layaknya sebuah paragraf laporan ilmiah atau karya tulis ilmiah. 

”Prestasi belajar tinggi merupakan dambaan setiap orang dan guru. Namun perlu disadari bahwa prestasi belajar merupakan hasil suatu proses yang melibatkan berbagai faktor. Oleh karena itu GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) menegaskan bahwa pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat, maka faktor-faktor itu pulalah yang menyebabkan tingginya prestasi belajar siswa. Menurut Daoed Yoesoef (1986:347). Baik disengaja ataupun tidak, lingkungan ini turut mempengaruhi pendidikan. Karenanya lingkungan ini perlu diperhatikan, bahkan dibina, sehingga menjadi satu lingkungan yang bermanfaat (condusive) bagi perkembangan pendidikan, termasuk lingkungan sekolah. Masih dalam artikel Daoed Yoesoef yang sama dinyatakan bahwa lingkungan lain yang juga sangat menentukan tingkah laku  anak-anak adalah keluarga atau rumah tangga. Dari orangtua yang tidak terdidik memang sulit diharapkan dapat membina rumah tangganya menjadi lingkungan yang condusive untuk pendidikan anak. Celakanya dari orangtua yang terpelajar juga tidak semuanya dapat diandalkan (hal 348).”

Paragraf tersebut jelas melanggar kaedah eksistensi sebuah paragraf. Namun, bukan berarti penulisnya tidak berilmu. Hanya saja kepada yang bersangkutan belum terinformasikan bagaimana menyusun paragraf yang efektif. Sebenarnya banyak informasi yang ditampilkan dalam paragraf tersebut, tetapi karena tidak memenuhi prinsip: unity, koherensi, dan adekuasi (adequacy), maka paragraf tersebut gagal mengkomunikasikan muatan ilmiahnya. Apabila paragraf semacam itu muncul untuk proposal atau laporan PTK, jelas sulit dipahami oleh orang lain. Paragraf tersebut dapat disempurnakan seperti berikut ini.


”Prestasi belajar tinggi merupakan dambaan setiap orang dan guru.  Prestasi belajar merupakan hasil suatu proses yang melibatkan berbagai faktor. Faktor tersebut di antaranya adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Hal ini telah ditegaskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) bahwa pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Menurut Daoed Yoesoef (1986:347), baik disengaja ataupun tidak, lingkungan turut mempengaruhi pendidikan. Oleh karena itu lingkungan perlu diperhatikan, bahkan dibina, sehingga menjadi satu lingkungan yang bermanfaat (condusive) bagi perkembangan pendidikan, termasuk lingkungan sekolah. Lingkungan lain yang juga sangat menentukan tingkah laku  anak adalah keluarga atau rumah tangga. Dari orangtua yang tidak terdidik sulit diharapkan dapat dibina lingkungan keluarga yang condusive untuk pendidikan anak. Celakanya dari orangtua yang terpelajar pun tidak semua lingkungan keluarganya kondusif untuk pendidikan anak. Dengan demikian lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat amat menentukan keberhasilan pendidikan.”

Pembahasan mengenai paragraf yang cukup panjang di sini, bukan berarti penulis mengajak pembaca untuk melangkah mundur (setback) ke pelajaran bahasa Indonesia di SLTA atau perguruan tinggi. Namun, persoalan ini diangkat berdasarkan pengalaman selama membimbing dan menguji skripsi. Pada hakikatnya konstruksi paragraf merupakan titik paling rawan bagi para penulis pemula. Namun demikian, penulis minta maaf kepada pemerhati bahasa Indonesia, jika sekiranya pembahasan ini dianggap sebagai hal yang terlalu trivial. semoga artikel 3 Syarat Pragraf Yang Baik Dan Contohnya bermanfaat bagi anda. 

Sabtu, 14 Januari 2017

5 Syarat Sekolah Yang Diizinkan Tarik Uang SPP

5 Syarat Sekolah Yang Diizinkan Tarik Uang SPP_ Pendidikan gratis yang telah nikmati oleh sebagian besar siswa mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA nampaknya mulai memasuki fase baru, hal tersebut terjadi karena kebijakan beberapa provinsi yang membolehkan sekolah untuk menarik uang SPP dari siswa namun hal yang patut disyukuri bahwa kebijakan tersebut hanya untuk sekolah menengah atas (SMA) dan berlaku dibeberapa provinsi saja. Namun pendidikan gratis yang selama ini digalakkan pemerintah mulai menemui berbagai tantangan dan rintangan.


 5 Syarat Sekolah Yang Diizinkan Tarik Uang SPP

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ‎Muhadjir Effendy mengeluarkan aturan baru. Mulai tahun ini, semua sekolah diizinkan menghimpun dana masyarakat, seperti dari donatur dan alumni, hal itu berarti pendidikan gratis secara kasat mata mulai di kebiri dengan berbagai kebijakan yang mengatasnamakan kemajuan pendidikan. Ditambah lagi dengan semakin meningkatnya biaya hidup membuat beberapa pihak khawatir banyak siswa yang akan putus sekolah karena tidak sanggup membayar biaya sekolah.

Baca juga:

Namun kabar baiknya ialah mendikbud telah memberi batasan atau syarat-syarat sekolah yang bisa melakukan pungutan SPP, hal ini dinilai sangat perlu agar penghimpunan dana bisa terkontrol dan sesuai dengan jalur yang telah disepakati.

Apa saja syarat yang harus dipenuhi sekolah sehingga diperbolehkan menghimpun dana atau memungut pembayaran SPP? berikut Syarat-Syarat Sekolah Yang Diizinkan Tarik Uang SPP.

"5 Syarat Sekolah Yang Diizinkan Tarik Uang SPP"
 

#1. Sekolah dibolehkan menghimpun dana dari masyarakat asalkan tidak memaksa.

#2. Tujuan penarikan dana untuk memperkuat pendanaan sekolah dengan semangat gotong royong.

#3. Resmi dan tidak melanggar undang-undang dan pemanfaatannya untuk pengembangan sekolah serta transparan,".

#4.Kepada alumni yang sudah sukses seperti menteri, pejabat di instansi pemerintah maupun swasta bisa dijadikan donatur karena saatnya mereka memberikan sumbangan bagi adik-adik di sekolahnya dulu.

#5. Jenis pungutan yang ditarik dari masyarakat bukan pungutan liar.

Demikianlah 5 Syarat Sekolah Yang Diizinkan Tarik Uang SPP, semoga dengan kebijakan ini bisa menjadi lokomotif yang akan mendorong kemajuan pendidikan di indonesia dan dapat melahirkan generasi yang berkualitas dan berakhlak.

Selasa, 10 Januari 2017

PENGERTIAN PERSEPSI

A. Pengertian Persepsi
Persepsi yaitu sekumpulan tindakan mental yang mengatur impuls-impuls sensorik menjadi suatu pola bermakna. Persepsi merupakan dasar belajar, berpikir, dan bertindak, dan penemuan mengenai proses-proses ini seringkali ditempatkan dalam penggunaan praktis. Sebuah pemahaman mengenai persepsi dapat juga membantu seseorang berpikir lebih kritis mengenai pengalamannya (Wade & Tavris, 2007).

Persepsi merupakan proses yang integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Moskowitz dan Ogel dalam Walgito, 2003).
Baca juga:
Persepsi sangat beragam antara individu satu dengan yang lain yang mengalami realitas yang sama. Seseorang dapat memiliki persepsi yang berbeda terhadap objek yang sama. Dengan adanya  perbedaan individu  maka stimulus yang diterima siswa pada saat pembelajaran akan dipersepsi berbeda baik secara afeksi maupun kognisi. Ada siswa yang memiliki persepsi yang positif dan adapula siswa yang memiliki persepsi yang negatif terhadap pembelajaran (Kotler & Keller dalam Pramitasari, dkk, 2011).

Seseorang yang sedang mengalami proses persepsi dituntut untuk aktif yang ditunjukkan oleh prilaku jiwanya dengan penuh perhatian menggunakan kecakapan inderawinya untuk menyadari adanya rangsangan yang ditangkap. Proses terjadinya persepsi adalah sebagai berikut (Walgito, 2003):

1. Proses kealaman yaitu adanya obyek yang menimbulkan adanya stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor.
2. Proses fisiologi ialah stimulus yang diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh saraf sensorik ke otak.
3. Proses psikologis adalah terjadinya proses di otak sehingga individu dapat menyadari apa yang diterimanya.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Faktor yang mempengaruhi dalam menafsirkan kesan-kesan indera menjadi suatu persepsi ada tiga faktor, yaitu (Robbins dalam Simbolon, 2008):
1. Faktor dari karakteristik pribadi atau pemersepsi seperti: sikap, motif, kepentingan, pengalaman dan pengharapan (ekspektasi).
2. Faktor situasional seperti: waktu, keadaan/ tempat kerja dan keadaan sosial.
3. Faktor dalam target seperti: hal-hal yang baru, gerakan, bunyi, suara, ukuran, latar belakang, kedekatan dan kesamaan.
4. Faktor-faktor psikologis seseorang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang itu mempersepsikan serta apa yang dia persepsikan.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang berpengaruh (Wade & Tavris, 2007):
1. Kebutuhan. Ketika seseorang membutuhkan sesuatu, atau memiliki ketertarikan akan suatu hal, atau menginginkannya, orang itu akan dengan mudah mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhan ini.
2. Kepercayaan. Apa yang seseorang anggap sebagai benar dapat mempengaruhi interpretasi orang itu terhadap sinyal sensorik yang ambigu.
3. Emosi. Emosi dapat mempengaruhi interpretasi seseorang mengenai suatu informasi sensorik.
4. Ekspektasi. Pengalaman masa lalu sering mempengaruhi cara seseorang mempersepsikan dunia.

Bagi seorang guru, mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip yang bersangkut paut dengan persepsi sangat penting, karena makin baik suatu obyek, orang, peristiwa atau hubungan diketahui, makin baik obyek, orang, peristiwa atau hubungan tersebut dapat diingat. Dalam pengajaran, menghindari salah pengertian merupakan hal yang harus dapat dilakukan oleh seorang guru, sebab salah pengertian akan menjadikan siswa belajar sesuatu yang keliru atau yang tidak relevan dan jika dalam mengajarkan sesuatu guru perlu mengganti benda yang sebenarnya dengan gambar atau potret dari benda  tersebut, maka guru harus  mengetahui bagaimana gambar atau potret tersebut harus dibuat agar tidak terjadi persepsi yang keliru (Slameto, 2010).

Berikut ini beberapa prinsip dasar tentang persepsi yang perlu diketahui oleh seorang guru agar ia dapat mengetahui siswanya secara lebih baik dan dengan demikian menjadi komunikator yang efektif (Slameto, 2010):

1. Persepsi itu relatif bukannya absolut

Manusia bukanlah instrumen ilmiah yang mampu menyerap  segala sesuatu persis seperti keadaan sebenarnya. Sehubungan dengan kerelatifan persepsi, dampak pertama dari  suatu perubahan rangsangan dirasakan lebih besar daripada rangsangan yang datang kemudian. Seseorang akan menggigil kedinginan pertama kali ia terjun ke dalam kolam renang. Berdasarkan adanya kenyataan bahwa suatu persepsi itu bersifat relatif maka seorang guru dapat meramalkan dengan lebih baik persepsi dari siswanya  untuk pelajaran berikutnya karena guru tersebut telah mengetahui lebih dahulu persepsi yang telah dimiliki oleh siswa dari  pelajaran sebelumnya.

2. Persepsi itu selektif
Seseorang hanya memperhatikan beberapa rangsangan saja dari banyak  rangsangan yang ada di sekelilingnya pada saat-saat tertentu. Ini berarti bahwa rangsangan  yang  diterima akan tergantung  pada apa yang pernah ia pelajari, apa yang pada suatu saat menarik perhatiannya dan ke arah mana persepsi itu mempunyai kecenderungan. Ini berarti juga bahwa ada keterbatasan dalam kemampuan seseorang untuk menerima rangsangan. Berdasarkan prinsip ini, dalam memberikan pelajaran seorang guru harus dapat memilih bagian  pelajaran yang perlu diberi tekanan  agar mendapat perhatian dari siswa dan sementara itu harus dapat menentukan bagian pelajaran yang tidak penting sehingga dapat dihilangkan agar perhatian siswa tidak terpikat pada bagian yang tidak penting ini.

3. Persepsi itu mempunyai tatanan

Orang menerima rangsangan tidak dengan cara sembarangan. Ia akan menerimanya dalam bentuk hubungan-hubungan atau kelompok-kelompok. Jika  rangsangan yang datang tidak lengkap, ia akan melengkapinya sendiri sehingga hubungan itu menjadi jelas. Bagi seorang guru, prinsip ini menunjukkan  bahwa pelajaran yang disampaikan harus tersusun dalam tatanan yang baik. Jika butir-butir pelajaran  tidak tersusun baik, siswa akan  menyusun sendiri butir-butir pelajaran tersebut dalam hubungan atau kelompok yang dapat dimengerti oleh siswa tersebut dan yang mungkin berbeda dengan yang dikehendaki oleh guru. Hasilnya adalah salah interpretasi atau salah  pengertian.

4. Persepsi dipengaruhi oleh harapan dan kesiapan  dari si penerima  pesan

Harapan dan kesiapan penerima pesan akan menentukan pesan mana yang akan dipilih untuk diterima, selanjutnya bagaimana pesan yang dipilih itu akan ditata  dan demikian pula bagaimana pesan  tersebut akan diinterpretasi. Dalam proses pembelajaran, guru dapat menyiapkan siswanya untuk pelajaran-pelajaran selanjutnya  dengan cara menunjukkan pada  pelajaran pertama urutan-urutan kegiatan yang harus dilakukan dalam pelajaran tersebut. Jika hari pertama guru mengajak  siswa  berdoa sebelum pelajaran dimulai, maka dapat dipastikan bahwa pada hari-hari berikutnya siswa  akan menanti guru untuk memulai dengan doa sebelum pelajaran dimulai.

5. Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama
Perbedaan  persepsi ini dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individual, perbedaan dalam  kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi. Bagi seorang guru  ini berarti bahwa agar dapat diperoleh persepsi yang kurang lebih sama  dengan persepsi yang dimiliki oleh kelas lain yang telah diberikan materi pelajaran serupa, guru harus menggunakan materi yang sama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun metode yang akan mampu memberikan hasil yang sama pada kelas atau bahkan orang yang berbeda.

Senin, 09 Januari 2017

Peranan Dan Tugas Kepala Sekolah

Peranan Dan Tugas Kepala Sekolah_ Tak disangkali bahwa banyak orang yang berkeinginan untuk bisa menjadi kepala sekolah oleh karena itu dalam artikel kali ini kita akan sedikit membahas apa Peranan Dan Tugas sorang Kepala Sekolah. Memangnya apa sih Peranan Dan Tugas Kepala Sekolah? berikuti sedikit ulasannya. Kepala sekolah sebagai pemimpin lembaga pendidikan sekolah menunjukkan bahwa keberhasilan tugas-tugas manajemen pendidikan di sekolah banyak tergantung kepada pimpinannya.

Baca juga:
17 Tugas Pokok Dan Fungsi Guru 

Karena itu, kepala sekolah sebagai seorang yang bertugas membina lembaganya agar berhasil mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan harus mampu mengarahkan dan mengkordinasi segala kegiatan. Tugas demikian tidak lain adalah tugas manajemen. Menurut Henry (Thoha, 2001) kepala sekolah sebagai manajer dapat melaksanakan fungsinya dengan baik maka ada tiga peranan utama sebagai yang harus dilakukan, yaitu:

Peranan Dan Tugas Kepala Sekolah

Peranan kepala sekolah
 

1.Peranan hubungan antar pribadi (interpersonal role)  
Kepala sekolah sebagai manajer maka dia harus berperan sebagai figurehead, leader, liaison manager.
 

a. Peranan sebagal figurehead 
yakni suatu peranan yang dilakukan untuk mewakili organisasi yang dipimpinnya dalam setiap kesempatan dan persoalan yang timbul secara formal, karena otoritas formalnya, maka manajer dianggap sebagai simbol dan berkewajiban untuk melaksanakan serangkaian tugas-tugas bersifat temporer. Contoh seperti menghadiri acara pembukaan, peresmian dan lain-lain.

b. Peranan sebagai pimpinan (leader)

Dalam peranan ini kepala sekolah sebagai manajer juga sebagai pimpinan. Ia melakukan hubungan interpersonal dengan yang dipimpin. Melakukan fungsi-fungsi fokoknya di antaranya memimpin, memotivasi, mengem-bangkan dan mengendalikan.

c. Peranan sebagai pejabat perantara (ilaision manager). 

Disini manajer melakukan peranan berinteraksi dengan teman sejawat, staf, dan orang lain di luar organisasinya, untuk mendapatkan informasi. Oleh karena itu kepala sekolah harus menyadari bahwa sekolah yang dipimpinnya itu tidak berdiri sendiri, maka Ia harus menempuh cara dengan memperbanyak hubungan dengan sejumlah individu-individu atau kelompok-kelompok tertentu di luar organisasi guna kepentingan sekolah yang dipimpinnya, minimal sebagai tukar informasi demi pengembangan sekolah.

2. Peranan yang berhubungan dengan informasi (informational role)  

Kelanjutan dan peranan interpersonal di atas maka Mintzberg (Thoha, 2001) merancang peranan kedua yang berkaitan dengan informasi. Sebagai kepala sekolah dalam melaksanakan fungsinya maka harus bertindak sebagai monitor, disseminator, dan spokesman.
 

a. Sebagai monitor
Maka harus siap menerima dan mengumpul informasi, agar Ia mampu untuk mengembangkan suatu pengertian yang baik dari organisasi yang dipimpinnya, dan mempunyai pemahaman yang komplit tentang lingkungannya. Sebab tanpa informasi tidak mungkin dapat mendeteksi perubahan-perubahan, mendefinisikan persoalan-persoalan.

b. Sebagal disseminator

Kepala sekolah dalam menerima informasi dan berbagal segi baik dari luar organisasi maupun dari bawahannya sendiri.

c. Sebagai juru bicara (spokesman)

Agaknya kebalikan dari disseminator. Kalau spokesman adalah untuk menyampaikan informasi ke luar untuk lingkungannya, maka disseminator berarti penyaluran informasi ke dalam organisasi.

Sebagai kepala sekolah, secara formal mewakili atau bertindak atas nama sekolah yang dipimpinnya, maka disebut spokesman. Oleh karena itu kepala sekolah banyak tahu tentang sekolahnya maka dia bisa bertindak efektif dalam mewakili organisasinya. Misalnya mengadakan suatu negosiasi  untuk kepentingan sekolahnya.

3. Peranan pembuat keputusan (desicional role)  

Peran kepala sekolah sebagai manajer maka secara pasti harus terlibat dalam suatu proses pembuatan strategi di dalam sekolah yang mereka pertanggung jawabkan. Menurut Mintzberg (Thoha, 2001) bahwa keterlibatannya karena: (1) secara otoritas yang formal sebagai manajer adalah satu-satunya yang diperbolehkan terlibat untuk memikirkan tindakan-tindakan yang penting atau yang baru dalam lembaga pendidikan binaanya, (2) sebagai pusat informasi, kepala sekolah sebagai manajer dapat memberikan jaminan atas keputusan yang baik, mencerminkan pengetahuan terbaru dan nilai-nilai organisasi atau pendidikan, dan (3) keputusan-keputusan strategi akan lebih mudah diambil secara terpadu dengan adanya satu orang pengontrol atas semuanya dalam pembuatan keputusan.
 

Nagh itulah tadi sedikit ulasan tentang peranan kepala sekolah, selanjutnya kita akan mengulas tugas dari seorang kepalah sekolah. Stoner (Wahjosumijo, 2002), menguraikan delapan fungsi manajer (kepala sekolah) sebagai berikut:
 

8 Tugas Kepala sekolah 

a. Kepala sekolah bekerja dengan dan melalui orang lain. Pengertian orang lain yaitu mencakup, staf, siswa ,guru, dan semua stakeholder. Ini berarti kepala sekolah berprilaku sebagai saluran komunikasi di lingkungan sekolah;
 

b. Kepala sekolah bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan semua aktivitas yang dilakukannya;
 

c. Kepala sekolah harus mampu menghadapi berbagai persoalan bilamana terjadi konflik antara kepentingan bawahan dan kepentingan sekolah;
 

d. Kepala sekolah harus berpikir secara analisis dan konsepsional dalam setiap tugas sebagai suatu keseluruhan yang saling berkaitan;
 

e. Kepala sekolah sebagai juru penengah atau pelerai secara adil dan bijaksana;
 

f. Kepala sekolah sebagai politisi untuk mengembangkan kerjasama melalui pendekatan persuasif dan kesepakatan;
 

g. Kepala sekolah adalah seorang diplomat dari wakil resmi dari sekolah yang dipimpinnya;
 

h. Kepala sekolah berfungsi sebagai pengambil keputusan yang sulit yang berperan sebagai orang yang dapat menyelesaikan persoalan dan kesulitan yang dihadapi.

Demikianlah sedikit pembahasan dari Peranan Dan tugas Kepala sekolah, kepala memiliki seabrek tugas dan tanggung jawab dalam memimpin sekolahnya untuk menjadi lebih baik sekaligus, oleh karena itu kepala sekolah sebaiknya harus memaksimalkan peranan dan tugasnya di sekolah.

Minggu, 08 Januari 2017

3 Cara Analisis Butir Soal

Cara Analisis Butir Soal_ Analisis soal bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan. 

Baca juga:

Tiga masalah yang berhubungan dengan analisis soal, yaitu taraf kesukaran, daya pembeda, dan pola jawaban soal atau pengecoh (Arikunto, 2010). namun terkadang sebagian guru belum memahami kariteria pemberian skor kepada soal-soal yang berdasarkan kategori kesukaran, daya pembeda dan pola jawaban soal, alhasil soal mudah, sedang dan sulit diberi standar skor yang sama.  

3 Cara Analisis Butir Soal

Oleh karena itu memahami cara anilisis butir soal menjadi hal yang mesti dikuasai oleh setiap guru agar pemberian soal dan skor tidak terkesang asal-asalan. jadi bagaimana cara analisis butis soal berdasarkan engkategoriannya? berikut ulasan cara analisis butir soal.
  
3 Cara Analisis Butir Soal
1. Berdasarkan Taraf Kesukaran
Tingkat kesukaran (difficulty level) suatu butir soal didefinisikan sebagai proporsi atau persentase subjek yang menjawab butir tes tertentu dengan benar. Sedangkan angka yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu butir soal dinamakan indeks kesukaran yang dilambangkan dengan p, nilai p ini terletak antara 0 dan 1. Berbicara tentang karakteristik butir soal berdasarkan teori klasik, maka yang perlu kita pahami dan perhatikan yaitu adanya butir soal dan peserta tes (testee). Bisa saja terjadi bahwa suatu butir tes dianggap mudah oleh kelompok siswa kelas A misalnya, tetapi pada kelompok siswa kelas B butir tes tersebut dianggap sulit. Jadi, berdasarkan teori ini, analisis tingkat kesukaran soal tidak lepas dari butir soal dan testee. Biasanya, testee dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok, misalnya, kelompok testee yang memiliki skor tinggi, skor sedang, dan skor rendah (jika kita bermaksud membagi mereka dalam tiga kelompok). Tetapi jika kita bermaksud menbagi mereka dalam dua kelompok, maka ada kelompok testee yang memiliki skor tinggi dan memiliki skor rendah. Begitu juga dengan butir soal, ada butir soal yang dapat dijawab oleh semua testee, ada juga butir soal yang dijawab oleh sebagian, dan ada yang tidak dapat dijawab oleh semua testee (Mansyur, dkk., 2009). Lebih lanjut menurut Sukiman (2012) kriteria yang digunakan untuk menentukan jenis tingkat kesukaran soal adalah sebagai berikut:
 Tabel 2.2  Kriteria Indeks Tingkat Kesukaran Soal
Indeks Tingkat kesukaran
Kategori
0,00 – 0,30
Soal tergolong sukar
0,31 – 0,70
Soal tergolong sedang
0,71 – 1,00
Soal tergolong mudah
Sumber: Sukiman, 2012
2. Berdasarkan Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Menurut Sukiman (2012) memberikan kriteria daya beda soal sebagai berikut:
            Tabel 2.3  Kriteria Indeks Daya Beda Soal
Indeks Daya Beda
Kategori
Tanda negatif
Tidak ada daya beda
< 0,20
Daya beda lemah
0,20 – 0,39
Daya beda cukup
0,40 – 0,69
Daya beda baik
0,70 – 1,00
Daya beda baik sekali
Sumber: Sukiman, 2012
3. Berdasarkan Pola Jawaban Soal (Distractor / Pengecoh)
Dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagai pengecoh dengan baik atau tidak. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh testee berarti bahwa pengecoh itu jelek. Sebaliknya sebuah distraktor (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi pengikut-pengikut tes yang kurang memahami konsep atau kurang menguasai bahan. Sesuatu distraktor dapat diperlakukan dengan 3 cara, yaitu: (1) diterima, karena sudah baik, (2) ditolak karena tidak baik, (3) ditulis kembali, karena kurang baik. Kekurangannya mungkin hanya terletak pada rumusan kalimatnya sehingga hanya perlu ditulis kembali, dengan perubahan seperlunya. Menulis soal adalah suatu pekerjaan yang sulit, sehingga apabila masih dapat diperbaiki, sebaiknya diperbaiki saja, tidak dibuang (Arikunto, 2010). Pengecoh dikatakan berfungsi efektif apabila paling tidak ada siswa yang terkecoh memilih (Purwanto, 2013).

Demikianlah artikel tentang 3 Cara Analisis Butir Soal yang bisa ibu atau bapak guru coba praktikan agar kualitas soal yang dibuat bisa maksimal dan mampu mengukur kemampuan siswa dengan tepat .