Tampilkan posting dengan label PEMBELAJARAN. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label PEMBELAJARAN. Tampilkan semua posting

Senin, 23 Januari 2017

Pengertian Media Pembelajaran Menurut Ahli

Pengertian Media Pembelajaran Menurut Ahli_ Media berasal dari bahasa latin “medius” yang secara harfiah berarti “tengah”, perantara atau “pengantar”, pesan dari pengirim kepada penerima.  Menurut Gerlach dan Ely (1971) dalam Arsyad (2007 : 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi, sehingga membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.

Pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat peraga, sebagai perantara dalam menangkap, memproses, menyusun kembali informasi visual atau verbal.  Sementara itu pengertian lain tentang media dikemukakan beberapa pendapat, dalam (Ahmad Rohani, 2007 : 3) sebagai berikut :
 

Pengertian Media Pembelajaran Menurut Ahli

#1. Media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar ide, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima (Santosa. S. Hamijaya).

#2. Media adalah channel (saluran) karena pada hakikatnya media telah memperluas atau memperpanjang kemampuan manusia untuk merasakan, mendengar dan melihat dalam batas-batas jarak, ruang dan waktu tertentu, dan dengan media batas-batas itu hampir menjadi tidak ada (Mc Lauhan).

#3. Media adalah medium yang digunakan untuk membawa / menyampaikan pesan, dimana medium ini merupakan jalan atau kilat dengan satu pesan berjalan antara komunikator dengan keunikan (Blacke and Harolsen)

#4. Media adalah segala benda yang dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang digunakan untuk kegiatan tersebut NEA (National Education Association)

#5. Selanjutnya menurut Donald P. Ely & Vernom S. Gerlach mengatakan bahwa media terbagi atas dua bagian yaitu arti sempit, berwujud grafik, foto, alat mekanik chard, yang dapat digunakan untuk menangkap, memproses serta menyampaikan informasi dan arti luas yaitu suatu kegiatan yang dapat menciptakan suatu kondisi sehingga memungkinkan peserta didik dapat  memperoleh pengetahuan keterampilan dan sikap yang baru.

Uraian beberapa pendapat tentang media penulis dapat menarik satu kesimpulan bahwa media adalah segala sesuatu yang berfungsi sebagai alat perantara dalam proses berkomunikasi atau proses belajar mengajar agar lebih mudah untuk dipahami. demikianlah artikel tentang Pengertian Media Pembelajaran Menurut Ahli semoga bermanfaat

Kamis, 12 Januari 2017

Model Pembelajaran Cooperative Learning Strategies (CLS)

A. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning Strategies (CLS)
Lonning (1993:1087) mengemukakan Cooperative Learning Strategies (CLS) untuk membangkitkan perubahan konseptual siswa di kelas pada mata pelajaran sains. Strategi ini menawarkan suatu bentuk pembelajaran yaitu belajar kelompok yang dapat menciptakan empat kondisi yang harus dipenuhi untuk membangkitkan perubahan konseptual siswa berdasarkan konstruktivisme. Bentuk pembelajaran ini memberi kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dengan teman sebaya (belajar kelompok) dan gurunya.
 

Baca juga:
Pengertian Model Snowball Throwing

Siswa mengemukakan idenya secara eksplisit pada teman sebaya, guru dan yang terpenting pada diri mereka sendiri. Dengan membandingkan ide siswa sendiri dengan ide teman sebaya, mereka terdorong untuk memperoleh perspektif yang berbeda dari konsep yang mereka miliki sehingga mereka dapat mengevaluasi kembali konsepsi yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpuasan yang menjadi tujuan utama dari langkah perubahan konseptual.

B. Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning Strategies (CLS)

Adapun langkah-langkah yang diterapkan Lonning didasarkan pada langkah-langkah yang dikemukakan oleh Driver. Secara lengkap, langkah-langkah pembelajaran untuk menerapkan CLS menurut Lonning adalah sebagai berikut.
1.  Orientasi (orientation), yaitu pengenalan topik yang akan dipelajari.
2. Pemunculan gagasan (elicitation of ideas), siswa diberi kesempatan untuk  menyatakan secara eksplisit gagasan (konsepsi) mereka kepada teman, guru, dan yang  terpenting pada diri mereka sendiri.
3.  Penyusunan ulang gagasan, perubahan dan perluasan (restructuring, modi-fication and extension), meliputi aktivitas yang memberi kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar pikiran dengan teman sebaya dan membentuk serta menilai ide yang baru diperoleh pada saat bertukar pikiran tersebut.
4. Aplikasi (application), memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan         konsep baru yang telah dibentuk ke dalam konteks yang baru dan sudah dikenal.
 

Agar empat kondisi untuk membangkitkan perubahan konseptual siswa di atas dapat dipenuhi, maka penulis mengembangkan langkah-langkah pembelajaran perubahan konseptual dengan berpedoman pada langkah-langkah yang dikemukakan oleh Lonning  yaitu Cooperative Learning Strategies (CLS) dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Orientasi 

Pada langkah ini, guru membuka pelajaran dengan memberikan uraian singkat tentang materi yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran.

b. Pemunculan gagasan 

Pada langkah ini, siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok kecil 4 -5 orang. Guru berusaha memunculkan (memancing) gagasan siswa dengan berdasarkan masalah yang diungkapkan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS), berupa beberapa butir soal. Siswa diminta untuk menyatakan secara eksplisit gagasannya kepada teman dalam  kelompoknya, kepada gurunya, dan terutama kepada diri mereka sendiri.

c. Penyusunan Ulang Gagasan 

Pada  langkah  ini,  siswa  menyusun  kembali  gagasan  yang  telah diperoleh pada langkah kedua. Langkah ini terbagi lagi menjadi tiga langkah, yaitu:

1.pertukaran gagasan.
Siswa mendiskusikan jawaban pada langkah pemunculan gagasan dalam  kelompok mereka. Hasil diskusi ditulis pada LKS dan dijelaskan oleh salah seorang siswa dari setiap kelompoknya. Dengan langkah ini diharapkan siswa mengungkapkan kembali gagasannya dan saling bertukar pikiran.

2. pembukaan situasi konflik.
Pada langkah ini, guru meminta kepada siswa untuk mendiskusikan jawabannya yang sudah ditulis pada LKS. Ini dimaksudkan agar jawaban mereka sesuai dengan konsep ilmuwan mengenai materi yang sedang dipelajari. Hal ini dapat dibandingkan dengan pengetahuan guru atau buku pelajaran yang digunakan. Pengetahuan guru di sini adalah jawaban terhadap suatu permasalahan oleh guru yang dikemukakan secara lisan atau secara tertulis di papan tulis.

3.  pembentukan dan penilaian gagasan baru.
Pada langkah ini siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan baru berdasarkan konsepsi mereka, baik yang dianggap berbeda maupun yang hampir sesuai dengan konsep ilmuwan. Pada kegiatan ini, guru dapat memberikan bimbingan seperlunya. Dengan langkah ini diharapkan siswa menilai sendiri gagasannya yang dirasakan  sesuai dengan konsep yang dipelajari. Pada langkah ini diharapkan pemahaman siswa berkembang.

d. Penerapan gagasan baru (Aplikasi) 

Pada langkah ini, siswa mendiskusikan kembali jawaban pada tahap pemunculan  gagasan. Selain itu siswa diminta pula untuk menjawab soal-soal lainnya yang berkaitan dengan materi yang dipelajari (seperti soal-soal di buku paket). Hal ini dimaksudkan untuk mencoba (menerapkan) konsep-konsep yang telah dikembangkan dan diperolehnya dalam situasi baru. Pada langkah ini diharapkan siswa dapat merasakan manfaat dan makna perubahan konseptual.

e. Pengkajian ulang perubahan gagasan 

Pada langkah ini, guru memberikan umpan balik untuk memperkuat pemahaman siswa tentang konsep yang sudah sesuai dengan konsepsi ilmuwan. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan siswa dapat mengubah miskonsepsinya.
Secara skematis langkah-langkah pembelajaran Cooperative Learning  Strategies  (CLS)  menurut Lonning yang dikembangkan peneliti adalah sebagai berikut. 

Model Pembelajaran Cooperative Learning Strategies (CLS)

C. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Perubahan Konseptual dengan CLS Berdasarkan Konstruktivisme  

Setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran perubahan konseptual dengan CLS berdasarkan konstruktivisme.
 

1. Kelebihan Model Pembelajaran Cooperative Learning Strategies (CLS) 
a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapat, gagasan, ide, dan pengertian/pemahamannya tentang suatu konsep, baik yang belum dipelajari maupun sudah dipelajari secara formal.
b. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengkaji kembali konsepsi yang sudah dimilikinya terutama yang merupakan miskonsepsi.
c. Menciptakan suasana kelas yang partisipatif. Para siswa dituntut untuk aktif  berdiskusi dengan temannya secara kelompok sedangkan guru hanya sebagai motivator dan fasilitator.
d. Para siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri pengetahuan yang diajarkan berdasarkan konsepsi yang sudah dimilikinya. Selain itu siswa dapat mengkonstruk sendiri pengetahuan (konsep) yang sedang dipelajarinya dan dapat mengubah atau menghilangkan miskonsepsinya. Ini berarti siswa belajar bermakna.
e. Dapat meningkatkan kreatifitas guru, sebab guru dituntut mencari alternatif untuk meluruskan (memperbaiki) miskonsepsi siswa, serta mengembangkan konsepsi siswa yang sudah mengarah pada konsepsi ilmuwan.
f. Siswa dapat berbagi ide/gagasan dengan teman sebaya di dalam kelompok belajarnya dalam mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Dengan kegiatan semacam ini berarti siswa juga belajar bermakna.

2.  Kekurangan Model Pembelajaran Cooperative Learning Strategies (CLS)

a. Karena untuk menerapkan model pembelajaran ini harus dimulai dengan menggali terlebih dahulu konsepsi siswa sebelum kegiatan pembelajaran, maka para siswa yang belum terbiasa dengan situasi semacam ini dapat merasa “diteror” dengan beberapa pertanyaan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
b. Membutuhkan waktu yang banyak.
c. Bagi guru yang kurang berpengalaman akan mengalami kesulitan karena materi pembelajaran disusun berdasarkan miskonsepsi siswa yang beraneka ragam.
d. Beberapa siswa merasa cepat bosan (jenuh) karena materinya sudah pernah diajarkan. Kenyataan ini terlihat dari jawaban empat siswa dalam mengisi format tanggapan siswa tentang pelaksanaan pembelajaran yang menyatakan bahwa pembelajaran seperti yang diikutinya membosankan.

Rabu, 11 Januari 2017

3 Pendekatan Yang Biasa Digunakan Dalam Pembelajaran Matematika


3 Pendekatan Yang Biasa Digunakan Dalam Pembelajaran Matematika_ Pelajaran matematika banyak mengakji tentang hal yang bersifat abstrak, oleh karena itu pembelajaran matematika membutuhkan pendekatan khusus dalam mengajarkannya agar siswa mampu memahami seutuhnya materi-materi dalam pembelajaran matematika. Dalam artikel ini akan sedikit diulas tentang 3 model pendekatan yang biasa digunakan dalam pembelajaran matematika,hal ini dirasa perlu untuk sedikit dikaji karena beberapa fakta berbicara bahwa beberapa guru masih mengajar secara konvensional, alhasil pemahaman siswa tidak terlalu tersentuh. 

Baca juga:

Oleh karena itu sebagai guru yang baik mesti menggunakan pendekatan khusus dalam mengajar khususnya dalam pembelajaran matematika. jadi pendekatan apa yang biasa digunakan dalam pembelajaran matematika? berikut ulasannya


3 Pendekatan Yang Biasa Digunakan Dalam Pembelajaran Matematika

1. Pendekatan mekanistik
yaitu suatu model pembelajaran yang bersifat pemberian informasi dari pengajar kepada peserta didik dengan urutan prosedur pengajaran: (1) pengajar menjelaskan kepada peserta didik, (2) pengajar memberikan contoh penggunaan rumus dan diikuti dengan pemberian latihan, (3) pengajar memberikan soal-soal latihan dan mencontohkan cara penyelesaiannya, dan (4) peserta didik dilatih menyelesaikan soal-soal serupa.


2. Pendekatan empiristik
yaitu suatu model pengajaran yang memberikan kesempatan peserta didik untuk melakukan latihan-latihan soal dalam rangka memahami topik yang dipelajari. Pada umumnya, latihan-latihan soal yang diberikan sudah dalam bentuk jadi tujuan pengajaran yang telah dirancang oleh pengajar.


3. Pendekatan strukturalis
 yaitu suatu model pengajaran yang memungkinkan terjadinya kegiatan interaktif antara peserta didik dan topik yang dipelajari. Pada umumnya, model pengetahuan untuk melakukan kegiatan interaktif tersebut berupa pengetahuan yang sudah jadi dan diberikan oleh pengajar.


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan dapat diadaptasikan oleh siswa. semoga artikel tentang 3 Pendekatan Yang Biasa Digunakan Dalam Pembelajaran Matematika bemanfaat bagi para pembaca yang budiman

Senin, 09 Januari 2017

Cara Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Cara Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)_ Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan panduan kegiatan guru dalam kegiatan pembelajaran sekaligus uraian kegiatan peserta didik yang berhubungan dengan kegiatan guru yang dimaksudkan. Rencana pelaksanaan pembelajaran dijabarkan dari silabus yang untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD.
 

Baca juga:
Cara Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) 
 
Namun tak jarang kita menemui guru yang tidak tahu cara membuat RPP untuk kegiatan pembelajaran, hal ini sungguh ironis karena fungsi rpp adalah sebagai pedoman dalam pembelajaran, jadi jika ada guru belum bisa membuat RPP kemungkinan arah dan tujuan pembelajaran tidak bisa tercapai secara maksimal.


Cara Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


Jadi bagaimana sih cara menyusun RPP untuk diaplikasikan dalam pembelajaran? Dalam artikel ini kami akan sedikit berbagi cara menyusun atau membuat rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP. Berikut sedikit ulasan tentang Cara Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Cara Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

A. Komponen RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Komponen-komponen dalam RPP (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007) adalah sebagai berikut:

1. Identitas mata pelajaran, meliputi:
a. Satuan pendidikan,
b. Kelas,
c. Semester,
d. Program studi,
e. Mata pelajaran atau tema pelajaran,
f. Jumlah pertemuan.

2. Standar kompetensi
Merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

3. Kompetensi dasar
Adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indicator kimpetensi dalam suatu pelajaran.

4. Indikator pencapaian kompetensi
Adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indicator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

5. Tujuan pembelajaran
Menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

6. Materi ajar
Memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indicator pencapaian kompetensi.

7. Alokasi waktu
Ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.

8. Metode pembelajaran
Digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indicator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indicator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

9. Kegiatan pembelajaran
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu pada Standar Penilaian.
­ 
11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

B. Langkah-langkah Penyusunan RPP
Langkah-langkah penyusunan RPP perlu memperhatikan Permendikbud RI Nomor 81A Tahun 2013 tentang pedoman umum pembelajaran meliputi: (1) mengkaji silabus, (2) mengidentifikasi materi pembelajaran, (3) menentukan tujuan, (4) mengembangkan kegiatan pembelajaran, (5) penjabaran jenis penilaian, (6) menentukan alokasi waktu, dan (7) menentukan sumber belajar.
Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebagai berikut.

1. Mencantumkan Identitas
Terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah:
-RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar (KD)
-Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), dan Indikator dikutip dari silabus, dan merupakan suatu alur pikir yang saling terkait.
-Indikator merupakan:
-Ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa peserta didik telah mencapai kompetensi dasar.
-Penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
-Dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.
-Rumusannya menggunakan kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi
-Digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
-Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 40 menit).

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran.Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.

3. Menentukan Materi Pembelajaran
Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat mengacu pada indikator.

4. Menentukan Metode Pembelajaran
Metode dapat diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih. Karena itu pada bagian ini dicantumkan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:
a. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, saintifik dan sebagainya.
b. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, discovery, observasi, diskusi, e-learning dan sebagainya.

5. Menetapkan Kegiatan Pembelajaran
a. Untuk mencapai suatu kompetensi dasar, langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
-Kegiatan Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam satu pertemuan yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan menfokuskan perhatian peserta didik untuk berpastisipasi aktif dalam proses belajar mengajar.
-Kegiatan Inti
Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing. Langkah-langkah tersebut disusun sedemikian rupa agar peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator.
-Kegiatan Penutup
Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk membuat rangkuman/kesimpulan, penilaian dan refleksi hasil belajar peserta didik, dan tindak lanjut pembelajaran (dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remedy/pengayaan).
Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

6. Memilih Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan.Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, nara sumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan.

7. Menentukan Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah media yang akan digunakan dalam proses pembelajan.

8. Menentukan Penilaian
Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrument, dan instrument yang dipakai

C. Prinsip-prinsip pengembangan RPP
Secara umum prinsip-prinsip pengembangan RPP (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007) harus berpedoman pada prinsip pengembangan RPP, yaitu sebagai berikut:

1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkar intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, niali, dan/atau lingkungan peserta didik.

2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didk untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, kemandirian, dan semangat belajar.

3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis. 
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengaayaan dan remedial.

5.Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. 

D. Contoh RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)


Nama Sekolah        : SMA
Mata Pelajaran       : Kimia
Alokasi wakt          : 2X45 menit
Kelas/Semester     : XI / 2
Materi Pokok         : Teori Asam Basa Arrhenius dan pH Larutan Asam Basa        
  
Standar Kompetensi: 4.  memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya. 

Kompetensi Dasar  : 4.1   Mendeskripsikan teori-teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan.

Indikator                   :4.1.1 Menjelaskan pengertian asam basa menurut Arrhenius 
A. Tujuan Pembelajaran: 
Setelah pembelajaran ini selesai, siswa diharapkan dapat:
Mendiskripsikan teori-teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan

B. Materi Pembelajaran:
Asam basa Arrhenius

C. Metode Pembelajaran:
Diskusi kelompok

D. Strategi Pembelajaran:
Kooperatif jenis STAD

E. Langkah-langkah Pembelajaran

Kegiatan guru
Alokasi waktu
(menit)
 Pendahuluan
-Guru memberi salam dan mempresensi siswa
-Guru menggali pengetahuan siswa dengan memberikan pertanyaan tentang larutan elektrolit yang nantinya berkaitan dengan asam dan basa.
G : ”Apakah  kalian  masih ingat materi kelas I tentang larutan?”
 ” Ada berapa macam larutan?”
 ” Sebutkan apa saja larutannya!”
 ” Larutan elektrolit terdiri dari 2, yaitu elektrolit kuat dan elektrolit lemah. Apakah yang kalian ketahui tentang larutan elektrolit kuat dan lemah?”
”Nah, zat elektrolit itu terionisasi di dalam larutan dan masing-masing ion-ion bergerak bebas dalam larutan. Ini sama halnya dengan asam basa yang akan kita pelajari saat ini”
-Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mendiskripsikan teori-teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan serta menjelaskan pengertian asam basa Arrhenius.
-Guru menginformasikan model pembelajaran yang digunakan selama pembelajaran teori asam-basa Arrhenius.
-Guru membagi siswa dalam 5 kelompok dan masing-masing kelompok ada 6 orang


-Kegiatan Inti
 Diskusi Kelompok
-Guru menugaskan kepada masing-masing kelompok mendiskusikan materi hal 1 dan menjawab pertanyaan.
-Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan membimbing siswa dalam melakukan diskusi kelompok
-Guru meminta siswa menukarkan jawaban kelompoknya dengan kelompok yang lain.
-Guru meminta siswa salah satu perwakilan kelompok secara bergiliran menjawab soal.
-Guru meminta kelompok yang tidak dapat menanggapi kebenaran jawaban kelompok tersebut dan guru memberi jawaban yang benar serta menentukan skor untuk masing-masing soal di papan tulis.
-Setelah selesai, guru meminta tugas kelompok yang telah dikoreksi dikumpulkan.
 Tahap Pengetesan
Guru memberikan soal kuis kepada masing-masing siswa dan guru memberikan kesempatan siswa untuk mengerjakan kuis secara individu.
Guru meminta siswa untuk mengumpulkan jawaban kuis.







Penutup
Guru meminta siswa menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.
Tahap Penghargaan
Guru mengumumkan kelompok yang memperoleh nilai paling tinggi untuk sementara dan meminta siswa untuk memberikan tepuk tangan serta memberitahukan penghargaan untuk kelompok terbaik yang akan diumumkan pada pertemuan selanjutnya.
Guru mengakhiri pembelajaran dan memberi salam.



F. Sumber Belajar
Buku Kimia
Bahan ajar

G. Penilaian (instrumen terlampir)
Presentasi dan diskusi
Kuis
                                                                                                                                                Jeneponto, ......Januari 2011
Mengetahui                                                                          
Kepala Sekolah                                                 Guru Mata pelajaran Kimia

Drs. H. Usman, M.M                                    Edy Sabara, S.Pd.
NIP. 19670524198621005                            NIP. 197607242005021002