Showing posts with label ANAK. Show all posts
Showing posts with label ANAK. Show all posts

Friday, 9 February 2018

9 Cara Mendidik Anak dalam Islam

9 Cara Mendidik Anak dalam Islam_ Anak adalah amanah yang dititipkan oleh allah pada orangtua, sehingga sudah semestinya setiap orangtua berusaha mendidik anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mendidik anak yang baik haruslah berpedoman atau mengambil pembelajaran dari nilai-nilai keislaman.Islam adalah agama yang sangat sempurna, sampai pada hal mendidik anak diterangkan di dalamnya.

9 Cara Mendidik Anak dalam Islam

Dalam al-Quran sendiri terdapat beberapa kisah yang menceritakan tentang bagaimana mendidik anak yang baik, seperti halnya dalam surah Luqman yang mengkisahkan bagaimana luqman mendidik/menasehati anaknya agar bisa menjadi manusia yang selalu bersyukur, selalu mengerjakan kebaikan dan berusaha meninggalkan keburukan.

Baca juga: 10 Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Anak

Selain itu teladan yang dicontohkan rasulullah dalam memperlakukan anak-anak bisa menjadi pembelajaran bagi kita orangtua dalam mendidik anak.Rasulullah Muhammada SAW terkenal sebagai manusia yang sangat mulia, bukan hanya menghormati orang tua dan dewasa namun perlakuannya pada anak-anak tak kalah mulianya.

Maka dari itu sebagai ummat islam sangatlah penting bagi kita untuk mendidik anak kita dengan berpedoman pada ajaran al-Quran dan suri tauladan rasulullah Muhammad SAW.Nabi Muhammad sendiri terkenal sebagai guru yang hebat, karena melalui didikan beliau tampillah generasi-genarasi yang cerdas namun tetap memiliki akhlak yang baik.

Kembali ke tema artikel kita tentang bagaimana sih cara mendidik anak yang sesuai dengan tuntunan islam, agar kelak anak anda bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas namun tetap santun, berikut ulasannya untuk anda

9 Cara mendidik anak dalam islam

1. Mengajarkan anak Al-Quran
Hal pertama yang paling subtansial untuk diajarkan pada anak yakni Al-Quran, bahkan jika perlu selama anak masih dalam kandungan anda sebaiknya mulai memperdengarkan Al-Quran pada anak anda. Al-Quran adalah kita yang penuh berkah dan rahmat sehingga akan memberikan efek positif bagi yang mendengarnya.

Dalam proses tumbuh kembang anak, sebaiknya anda senantiasa mengajarkan anak anda untuk membaca Al-Quran, karena AL-Quran mampu membekas dalam hati pembacanya, sehingga insya allah jika istiqomah dalam mengajarkan anak anda untuk mengaji maka anak anda dengan izin allah akan menjadi pribadi yang cinta dengan dinul islam.

Agar anak anda bisa menjadi sosok yang cerdas namun tetap beraklak maka mulailah dari hal yang sangat mulia yakni mendidik anak untuk mencintai Al-Quran, karena Al-Quran adalah Nur, wasilah, Syfaat, bisa dibanyangkan bukan jika keberkahan Al-Quran teralirkan pada diri anak anda.

Jadi jangan hanya bersegera agar anak anda bisa belajar hal-hal yang lagi trend seperti belajar bahasa inggris, kursus dan lain-lain, lantas mengabaikan untuk mengajarinya belajar Al-Quran.

2. Bersikap lemah lembut pada anak
Sesungguhnya didikan yang paling baik pada anak bukan pada apa yang kita sampaikan pada anak, misalnya saja kita mengatakan; kamu jangan nakal ya!, kamu harus rajin belajar ya!, karena hal tersebut hanya berupa konsep saja, bisa jadi anak anda mengerti apa yang anda katakana tapi belum tentu anak anda cakap dalam mempraktikannya.

Namun hal yang sebenarnya lebih mudah untuk ditiru, diikuti, diasimilasi oleh anak adalah perilaku yang sering anda tunjukan dihadapan anak anda. Coba anda perhatikan anak yang tumbuh dilingkungan keluarga yang senantiasa bersikap lemah lembut dan santun terhadap sesama anggota keluarganya, sudah pasti anaknya pun akan menjadi pribadi yang penyayang.

Kenapa hal demikian bisa terjadi? Karena karakter anak menurut ahli bahwasanya anak ibaratkan kertas kosong yang akan meniru hal-hal yang ada disekitarnya. Dan seperti yang kita ketahui bersama bahwa waktu yang dominan anak lalui dalam sehari adalah bersama orangtuanya, maka otomatis anak akan banyak meniru sikap dan perilaku dari mereka.

Jadi jika anda ingin anak anda tumbuh menjadi pribadi yang lemah lembut dan penyayang maka anda sendirilah sebagai orangtua yang harus memberi banyak contoh melalui interaksi dengan anak anda dalam kegiatan sehari-hari.

3. Mengajarkan anak untuk menjadi pribadi pekerja keras
Mungkin kita semua tahu bagaimana riwayat hidup rasulullah, yang semasa kecilnya dia menjadi pengembala kambing dan juga beliau membantu pamanya dalam berdagang, suri tauladan rasulullah dalam masa kecilnya patut menjadi contoh bagi kita para orangtua dalam mendidik anak.

Kisah rasulullah Muhammad  yang suka bekerja keras  adalah sebuah barometer bahwasanya sejak kecil anak sebaiknya mulai dididik untuk menjadi pribadi yang pekerja keras, jangan selalu memberikan apa yang diinginkan anak secara instan/tanpa proses usaha dalam memilikinya.

Misalnya saja jika anak anda meminta uang seribu, lalu kemudian anda langsung memberinya maka itu termasuk memberi hal yang instan pada anak atau ketika anak anda minta untuk dibelikan baju baru lalu kemudian anda langsung membelikannya maka hal tersebut juga termasuk hal instan bagi anak.

Lalu bagaimana, mengajarkan kerja keras pada anak? Sebenarnya mudah saja, misalnya saja; anak anda minta uang seribu maka anda jangan langsung memberikannya tapi biarkan anak berproses untuk bisa mewujudkan keinginannya, anda bisa saja menyuruh anak anda dengan mengatakan “ ibu akan memberikan kamu uang seribu asalkan kamu mau bantu ibu mencuci atau mengepel atau memasak dan lain-lain”, anak anda pasti dengan senang hati akan melakukannya agar keinginannya bisa terwujud.

Nagh melalui proses tersebut anak anda akan belajar bahwasanya setiap yang dinginkan selalu butuh usaha dan perjuangan. Bagaimana jika anak anda minta dibelikan baju baru?Katakana saja “Ibu akan membelikan kamu baju baru asalkan kamu mau mebantu ayahmu mencuci mobil/motor selama satu minggu”. Dengan begitu anak akan belajar tentang kerja keras untuk meraih keinginannya.

4. Mengajarkan anak untuk menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan bersabar
Hal yang tak boleh anda lewatkan untuk diajarkan pada anak anda yakni mengajari anak anda menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan bersabar.Apa sih manfaat melatih anak menjadi sosok yang pandai bersyukur dan bersabar? Manfaat sangat besar bagi perjalanan hidup anak anda kelak.
Dengan menjadi pribadi yang pandai bersyukur maka anak anda akan selalu mudah merasakan kebahagian, jika kelak dia mencapai sesuatu yang besar maka dia akan bersyukur namun jika dia belum bisa mewujudkan apa yang dia impikan maka dia akan bersabar.

Dalam Al-Quran sendiri ayat tentang syukur dan sabar sering diulang-ulang, hal tersebut mengisyaratkan bahwa kedua hal tersebut penting untuk dimiliki.Kata seorang cendekiawan bahwasanya “sabar dan syukur ibaratkan dua sayap burung, jika salah satunya tidak ada maka tidak bisa terbanglah burung tersebut.

5. Mengajarkan anak untuk menjadi pribadi yang sosialis
Dalam Al-Quran terdapat sebuah makna yang menekankan pentingya untuk membangun hubungan yang vertikal pada Allah dan hubungan horizontal terhadap sesame (manusia), Oleh karena itu jangan hanya fokus untuk beribadah pada allah kemudian anda mengabaikan membina hubungan silahturahmi terhadap sesama.

Jangan terlalu menekan dan membatasi anak dalam melakukan interaksi dengan teman sejawatnya, selama teman yang diajak bergaul memberi pengaruh positif maka sebagai orangtua anda harus memberi dukungan pada anak anda.

Tugas anda sebagai orangtua hanya mengarahkan dan membimbing anak dalam melakukan pergaulan. Pergaulan/inteaksi melatih kecakapan social anak, dengan begitu anak tidak akan minder, malu, dalam hidup bermasyarakat.

Kemampuan kecakapan social sangat penting karena pada akhirnya anak anda akan menjadi bagian dari masyarakat , sehingga sejak dini anak harus diajarkan menjadi sosok yang sosialis, hal ini juga bisa meminimalisir sikap individualis anak.

6. Memanggil anak dengan namanya
Hal sepeleh yang terkadang dilakukan oleh sebagian orangtua adalah memanggil anaknya dengan nama julukan tidak memanggil anaknya dengan nama panggilannya. Nabi Muhammad sendiri telah mengajarkan kita dalam riwayat hidupnya bahwasanya ketika dia memanggil orang/anak dia memanggilnya dengan nama panggilannya atau nama julukan yang baik

Kadang kita mendengar seseorang memanggil seseorang dengan mengatakan “hey kamu” dll bahkan ada juga yang memanggil dengan julukan yang buruk atau menggunakan nama binatang, hal ini sangatlah tidak beretika.

Memanggil anak dengan namanya adalah sebuah bentuk penghargaan untuk anak, karena seperti sebuah ungkapan yang mengatakan “jika anda ingin dihargai maka terlebih dahulu anda yang harus menghargai”.

7. Menyentuh anak dengan sentuhan kasih sayang
Saat anda menasehati, mengajari , mendidik anak anda cobalah sentuh bagian tubuh anak anda yang bisa menyiratkan sentuhan anda adalah sentuhan kasih sayang, misalnya dengan menyentuh pundaknya ketika menasihatinya, menyentuh kepalanya.

Nabi juga mencontohkan hal tersebut ketika sedang mengajari orang lain, karena pada hakikatnya sentuhan pada tubuh orang lain (misalkan dipundak, usapan di kepala) bisa membangun ikatan emosional dengan oran tersebut.

8. Tidak membeda-bedakan
Maksud tidak membeda-bedakan disini adalah misalnya; terkadang perlakuan kita terhadap orang yang sudah dewasa dengan anak berbeda, dengan orang dewasa kita berbicara dengan hormatnya namun dengan anak kita berbicara apa adanya.

Padahal nabi Muhammad sendiri mencontohkan bahwasanya dia selalu meghormati yang tua dan menyanyangi yang muda, dengan orang dewasa, orangtua dan anak-anak nabi selalu bersikap lemah lembut.

Jadi jangan karena melihat yang sedang anda ajak bicara adalah anak kecil, atau yang berbicara dihadapan anda adalah anak kecil lantas meremehkannya, sebaiknya jangan seperti itu.Ingat sebuah uangkapan yang menyatakan; “Jangan lihat siapa yang berbicara dihadapan anda namun dengarkanlah apa yang dia sampaikan.

9. Mendidik anak dimanapun dan kapanpun
Mendidik anak bukan hanya bisa dilakukan di sekolah maupun di rumah melainkan konsep pendidikan sejatinya bisa dilakukan dimanapun, seperti cara Rasulullah dalam mendidik para sahabat, beliau memberikan pelajaran pada sahabat dimanapun dan kapanpun.

Namun yang mesti anda pahami dalam mendidik anak yakni, dalam memberikan nasihat usahakan dengan memerhatikan tiga hal yakni, menasehati dengan nasihat yang tepat pada waktu yang tepat dan pada anak yang tepat..

Demikianlah 9 Cara Mendidik Anak dalam Islam yang sempat admin posting kali ini, semoga artikel in bermanfaat untuk anda

Friday, 2 February 2018

Usia yang Tepat Untuk Membelikan Anak Gadget atau Smartpohne

Usia yang Tepat Untuk Membelikan Anak Gadget atau Smartpohne_ Di zaman milenial seperti saat ini, anak-anak memiliki banyak opsi dalam mengisi aktivitas kesehariannya.  Ada begitu banyak jenis media yang bisa digunakan untuk bermain oleh anak-anak. Hal tersebut menuntut peranan orangtua dalam memilih mainan yang baik untuk digunakan oleh anak, karena seperti yang kita ketahui tidak semua mainan atau permainan memiliki dampak positif untuk anak, tak sedikit juga mainan yang justru bisa menimbulkan hal-hal negative jika digunakan anak.

Usia yang Tepat Untuk Membelikan Anak Gadget atau Smartpohne

Salah satu benda yang banyak dibelikan orangtua untuk anaknya yang masih kecil adalah gadget atau smartphone, tujuannya jelas yakni agar anak tersebut bisa pekah dengan teknologi dan terkadang juga orangtua membelikan anaknya smartphone agar anak tersebut bisa memainkannya sehingga waktu orangtua tidak banyak tersita untuk menjaganya.

Baca juga: 11 Cara Mengatasi Anak Yang kecanduan bermain game

Banyaknya fitur serta tersedianya banyak games dalam gadget atau smartphone memang dapat membuat anak betah dan berlama-lama dalam mengoperasikan gadget atau smartphonenya, selain itu kemudahan mengakses/menggunakannya membuat anak yangmasih kecil dengan mudah menggunakannya.

Lantas muncul pertanyaan apakah aman membelikan/memberikan anak gadget atau smartphone? Atau usia berapakah yang tepat untuk membelikan anak anda gadget atau smartphone?
Baiklah marilah kita jawab satu persatu pertanyaan tersebut, mulai dari pertanyaan pertama, apakah aman membelikan/memberikan anak gadget atau smartphone? Jika hanya digunakan dalam waktu singkat masih bisa ditolerir tapi jika digunakan dalam waktu yang lama bisa memicu munculnya banyak masalah, berikut dampak negative yang bisa muncul jika anak menggunakan smartphone:

Dampak negative yang bisa muncul jika anak menggunakan smartphone atau gagdet

1. Bahaya radiasi gadget atau smartphone
Bukan rahasia lagi bahwasanya penggunaan gadget yang berlebihan bisa memicu efek radiasi pada penggunanya, apalagi jika yang mengoperasikannya adalah anak yang masih kecil yang daya tahan tubuhnya tidak sebaik daya tahan tubuh orang dewasa.

Baca juga: 10 Cara Mengatasi Kecanduan Gagdet Pada Anak

Hal yang bisa memicu semakin kuatnya radiasi dari penggunaan smartphone atau gadget adalah jika jaringan data selulernya dinyalakan, sehingga sangat riskan jika anak menggunakan smarphone/gadget dalam waktu sembari jaringan layanan data selulernya menyala.

2. Kecanduan gadget atau smartphone
Tidak sedikit anak-anak yang mengalami kecanduan menggunakan gadget/smartphone, hal tersebut tak lepas dari banyaknya jenis permainan yang bisa dimainkan dalam gadget/smartphone tersebut, penggunaan yang terus menerus akan membuat anak semakin kencanduan bermain gagdet atau smartphone.

Kencanduan menggunakan smartphone bisa membuat fokus anak hanya pada gagdetnya sehingga aktivitas lainnya menjadi diabaikan.

3. Membuat tumbuh kembang anak tidak maksimal
Usia anak-anak adalah fase dimana anak akan mengalami pertumbuhan fisik, untuk memaksimalkan pertumbuhan fisik tersebut harus didukung dengan aktivitas-aktivitas yang memicu terpancingnya kemampuan motorik dan sensorik anak,misalnya dengan melakukan aktivitas seperti berjalan-jalan, berlari, melompat, tertawa dan lain sebagainya.

Namun apa jadi jika anak hanya sibuk memainkan gagdetnya selama berjam-jam sambil duduk, bisa jadi kondisi tersebut bisa membuat pertumbuhan fisik anak tidak bisa maksimal, sehingga sangat dianjurkan untuk membatasi penggunaan gagdet/smartphone pada anak.

4. Memunculkan gangguna psikologis pada anak
Apa jadinya jika usia anak-anak yang seharusnya dihabiskan untuk bermain dengan teman seusianya justru dihabiskan untuk bermain gagdet? Kondisi demikian bisa membuat kemampuan bersosialisasi anak menjadi tidak maksimal.

Dan pada akhirnya akan menganggu psikologis anak, kebiasaan tidak melakukan sosialisasi, bersenda gurau, bermain dengan teman seusianya membuat anak bisa menjadi pribadi yang indivisualis dan pada akhirnya membuat karakter anak tersebut kuang baik setelah dia dewasa nantinya.

5. Membuat prestasi anak menurun
Bagaimana jadinya jika anak sekolahan kebanyakan waktunya digunakan untuk bermain gagdet/smartphone? Sudah pasti salah satu dampaknya adalah membuat prestasi anak tersebut menjadi menurun. Jika hal tersebut tidak segera diatasi maka bisa jadi nilai pelajaran anak anda akan semakin menurun, sehingga pembatasan penggunaan gagdet/smartphone bagi anak sekolah sangat penting.

Usahakan buat aturan untuk anak anda tentang batasan waktu menggunakan gagdet dalam sehari, misalnya saja hanya dibolehkan menggunakan 1-2 jam dalam sehari, walaupun sebenarnya gagdet memiliki dampak positif bagi anak sekolahan, akan tetapi kemampuan anak dalam menfilter konten yang ada dalam gagdetnya ditakutkan konten-konten negatif lebih dominan dalam mempengaruhi anak.

Nagh itulah beberapa dampak yang kurang baik yang bisa muncul bagi anak jika terlalu berlebihan menggunakan gagdet atau smartphone. Selanjutnya kita akan berusaha menjawab pertanyaan tentang diusia berapakah yang tepat untuk membelikan anak anda Gagdet atau smartphone?
Membelikan gagdet/smartphone untuk anak harus memperhatikan usia anak, kenapa hal demikian sebegitu penting? Karena gagdet ibaratkan pisau bermata dua,jika penggunanya tidak bijak dalam menggunakannya maka bukannya hal baik yang didapatkan justru pengaruh negatif bisa ikut dirasakan oleh penggunanya.

Usia berapakah yang tepat untuk membelikan anak anda Gagdet atau smartphone?

Menurut penulis sendiri umur yang tepat bagi orangtua dalam membelikan anaknya gagdet/smartphone adalah ketika anak tersebut telah memasuki usia 13 tahun atau lebih tepatnya ketika anak tersebut sudah memasuki bangku sekolah menengah pertama.

Usia sekolah dasar sebaiknya anak diarahkan untuk banyak bersosialisasi dengan teman sejawatnya, serta melakukan banyak aktvitas fisik, jangan hanya membiasakan anak untuk menghabiskan waktu dalam ruangan tapi sebaiknya anak diajak untuk banyak berinteraksi dalam masyarakat, hal ini untuk melatih mental anak agar terbiasa dengan kehidupan sosial bermasyarakat.

Meskipun beberapa orangtua telah membelikan anaknya gagdet/smartphone pada saat anaknya masih SD, namun itu sebenarnya sangat tergantung pada kontrol orangtua pada anaknya, tidak apa sebenarnya membelikan anak gagdet diusia SD namun penggunaanya harus mendapatkan kontrol dari orangtua mulai dari mengontrol aplikasi/konten yang ada dalam gagdet tersebut, batas maksimal penggunaan gagdet dalam sehari dan berbagai hal lainnya yang mesti diperhatikan.

Anak yang sudah duduk di bangku SMP sudah memiliki kemampuan yang membedakan hal yang baik dan buruk, namun juga harus senantiasa dibimbing dan diarahkan oleh orangtua. Intinya membeli gagdet untuk anak ada dampak baiknya dan ada dampak buruknya, tergantung bagaimana orangtua memberikan didikan tentang bagaimana cara menggunakan gagdet dengan bijak.

Tapi jika anda ingin benar-benar anak anda telah siap dalam menggunakan smartphone maka usia 17 adalah moment yang tepat untuk membelikan anak anda smartphone karena fase tersebut anak sudah memasuki usia remaja dan tingkat daya tahan tubuhnya terhadap radiasi penggunaan gagdet sudah lebih baik.

Demikianlah Usia yang Tepat Untuk Membelikan Anak gadget atau Smartpohne, semoga tulisan di atas bisa memberi manfaat untuk anda.

Tuesday, 31 October 2017

Syarat dan Cara Membuat KTP Untuk Anak

Syarat dan Cara Membuat KTP Untuk Anak_ Pemerintah akan menerbitkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk anak-anak. KTP bernama Kartu Indentitas Anak (KIA) itu diterbitkan untuk mendorong peningkatan pendataan, perlindungan, dan pemenuhan hak konstitusional anak.


Berdasarkan Permendagri Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak, KTP anak ini terdiri dari 2 jenis. Yaitu untuk anak yang berusia 0-5 tahun dan untuk anak 5 sampai 17 tahun.

Syarat Membuat KTP Untuk Anak
Bagi anak warga negara Indonesia (WNI) yang baru lahir, KTP Anak akan diterbitkan bersamaan dengan penerbitan akte kelahiran. Untuk anak WNI yang belum berusia 5 tahun tetapi belum memiliki KIA, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Fotocopy kutipan akta kelahiran dan menunjukan kutipan akta kelahiran aslinya

b. KK asli orang tua/wali; dan

c. KTP asli kedua orangtuanya/wali.
Sementara, bagi anak WNI yang telah berusia 5 tahun tetapi belum memiliki KIA harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Fotocopy kutipan akta kelahiran dan menunjukan kutipan akta kelahiran aslinya

b. KK asli orangtua/wali

c. KTP asli kedua orangtuanya/wali

d. Pas foto Anak berwarna ukuran 2 x 3 sebanyak 2 (dua) lembar.

Untuk anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia, untuk mendapatkan KIA harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Fotocopy paspor dan izin tinggal tetapi

b. KK Asli orang tua/wali

c. KTP elektronik asli kedua orangtuanya.

Tata Cara Membuat KTP Untuk Anak
Pada Pasal 13 Permendagri Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak, tertulis tata cara pembuatan KTP anak ini. Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Pemohon atau orangtua anak menyerahkan persyaratan penerbitan KIA dengan menyerahkan persyaratan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

2. Kepala Dinas menandatangani dan menerbitkan KIA.

3. KIA dapat diberikan kepada pemohon atau orangtuanya di kantor Dinas atau kecamatan atau desa/kelurahan.

4. Dinas dapat menerbitkan KIA dalam pelayanan keliling dengan cara jemput bola di sekolah-sekolah, rumah sakit, taman bacaan, tempat hiburan anak-anak dan tempat layanan lainnya, agar cakupan kepemilikan KIA dapat maksimal.

Untuk anak warga asing, berikut ini cara pembuatan KTP Anak:

1. Terhadap anak yang telah memiliki paspor, orangtua anak melaporkan ke Dinas dengan menyerahkan persyaratan untuk menerbitkan KIA.

2. Kepala Dinas menandatangani dan menerbitkan KIA.

3. KIA dapat diberikan kepada pemohon atau orangtuanya di kantor Dinas.

Penulis : (Yudhi)
Source: Kemendagri.go.id

Demikianlah Syarat dan Cara Membuat KTP Untuk Anak semoga bermanfaat.

Wednesday, 25 October 2017

10 Cara Mengajari dan Melatih Anak Agar Mau Menulis

10 Cara Mengajari dan Melatih Anak Agar Mau Menulis_ Mengajari dan melatih anak agar mau menulis membutuhkan metode khusus, proses belajar menulis sendiri biasanya mulai dilakukan anak yang sudah masuh di TK/PAUD atau anak yang masih duduk di kelas satu SD.

10 Cara Mengajari dan Melatih Anak Agar Mau Menulis

Melatih anak untuk menulis bukan hanya terkendala pada kemauan anak untuk menulis namun juga kemampuan anak untuk memegang pensil maupun pulpen biasanya masih belum baik yang akhirnya akan sedikit banyaknya mempengaruhi notivasi anak untuk belajar menulis.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak Yang Lambat Memahami Pelajaran

Guru maupun orangtua memiliki peran yang besar dalam mengajari anak agar mau belajar menulis, biasanya arahan untuk belajar menulis bisa berbeda reaksi bagi setiap anak, ada yang merasa senang ketika diminta untuk menulis namun biasanya ada juga yang tak mau belajar menulis.

Baca juga: 6 Cara Mengatasi Anak Yang Malas Belajar, Sangat Ampuh

Lantas bagaimana sih cara yang baik dalam mengatasi anak yang masih, susah menulis, malas menulis dan anak yang tidak mau menulis? Berikut beberapa tipsnya

10 Cara Mengajari dan Melatih Anak Agar Mau Menulis

1. Melatih anak memegang pensil/pulpen dengan baik dan benar
Untuk bisa menulis bisanya dibutuhkan alah tulis, seperti pensil, spidol dan pulpen. Pertama-tama dalam mengajar anak untuk menulis hal yang sebaiknya terlebih dahulu diajarkan pada anak yakni bagaimana cara memegang alat tulis yang baik dan benar, karena cara memegang alat tulis nantinya akan berbpengaruh pada kualitas tulisan anak tersebut.

Cara yang lazim dalam memegang alat tulis biasanya diletakkan antara ibu jari dan jari telunjuk, araham bagaimana memegang alat tulis yang baik di awal proses belajar anak untuk menulis bisa jadi akan menjadi gaya/kebiasaan anak tersebut dalam memegang alat tulis, sehingga cara memegang alat tulis yang baik dan efisien sangat perlu diajarkan pada anak.

2. Mulai menulis hal yang paling sederhana
Jika kita berharap anak yang baru belajar menulis memiliki tulisan yang bagus atau kita menjadikan diri kita sebagai tolok ukur dalam menustifikasi ketidakmahiran anak dalam proses belajar maka hal tersebut merupakan sesuatu yang kurang tepat.

Jangan pula pernah berharap anak yang baru menulis langsung bisa memiliki tulisan yang rapi dan indah karena hal tersebut agak tidak mungkin bisa terjadi, karena untuk bisa menjadi mahir dan pintar menulis semuanya butuh proses belajar yang tidak sebentar.

Oleh karena itu anak yang baru mulai belajar menulis jangan langsung diarahkan untuk menulis angka maupun huruf karena hal tersebut akan membuat anak menjadi terbebani di awal proses belajarnya.

Jadi apa sih yang bagus tugaskan untuk anak yang baru mulai belajar menulis? Hal pertama yang bisa dilakukan adalah mengajari anak untuk membuat titik (.), membuat titik adalah hal yang paling mudah dalam proses belajar menulis, tujuannya agar anak memulai proses belajarnya dari hal yang paling mudah dan sederhana sehingga dia nanti tidak menganggap kegiatan belajar menulis sebagai hal yang membosankan, membebani dan menakutkan.

3. Mulai membuat pola tulisan
Setelah anak mulai bisa membuat titik-titik, selanjutnya arahkan anak untuk membuat titik-titik (.) yang membentuk sebuah pola  misalnya saja deretan titik (.) yang membentuk angka 1 atau huruf misalnya s dll.

Kemudian jika anak sudah bisa membuat pola huruf dan angka dengan menggunakan titik (.) selanjutnya arahkan anak untuk menghubungkan pola titik tersebut sehingga bisa menunjukan/menggambarkan sesuatu misalnya angka maupun huruf.

4.  biarkan anak mencoret-coret di bukunya
Agar anak semakin mencintai kebiasan menulis/senang dalam melakukan kegiatan menulis maka jangan diawal-awal proses belajar anak untuk menulis jangan bebani anak untuk menulis sesuatu yang susah.

Anda bisa memberikan anak tersebut kertas kosng untuk dijadikan sebagai media untuk belajar menulis, biarkan anak tersebut mencoret, menggambar dan menulis apa saja yang ingin dia ekspresikan, tujuannya agar anak tersebut bisa mengekspresikan kebebasannya melalui coretan/tulisannya.

Sebenarnya anak yang suka mencoret dan menulis sesuatu yang jelas pada hakikatnya sedang melatih keterampilannya dalam memegang alat tulis dan melatih dirinya dalam menulis/menggambar suatu objek, misalnya coretan yang beberantuk lingkaran, garis lurus dan zig-zag, kegiatan tersebut akan membuat anak semakin terampil dalam menulis nantinya

5. Gunakan pensil warna
Hal yang bisa menarik minat anak yang tadinya malas untuk menulis menjadi semangat dalam menulis adalah penggunaan alat tulis yang bisa memancing ketertarikan anak dalam menggunakannya, misalnya saja carayon, pensil warna.

Tulisan yang berwarna-warni menjadi daya tarik tersendiri sehingga bisa mebangkitkan motivasi anak untuk semakin mencintai dan menyenangi kegiatan tulis menulis.

6. Mewarnai objek (gambar/tulisan)
Agar anak bisa tertatik untuk menulis juga bisa dilakukan dengan kegiatan mewarnai objek, misalnya gambar toko kartun favoritnya, pola belajar menulis seperti ini tidak akan membuat anak cepat bosan, alhasil kegiatan menulis bisa menjadi hal yang disenanginya.

7. Kenali hal yang disukai anak
Agar anak yang tadinya tidak mau menulis menjadi mau menulis maka hal yang pertama bisa dilakukan adalah mencari tahu kegemaran dan kesukaan anak, misalnya saja jika anak suka dengan kelinci, maka kita katakan pada anak tersebut “kamu suka nggak kelinci”? anak yang memnag menyukai kelinci akan menjawab “iya” maka selanjutnya kita tanyakan pada anak tersebut “kalau begitu coba kamu tulis kelinci di bukumu” jika anak berkata “tidak tahu” maka kita katakan “masa hewan yang kamu suka tidak kamu tahu tulis namanya! Kamu pasti bisa deh menulisnya” dengan begitu anak akan mau belajar menulis nama hewan kesukaanya.

8. Porsir waktu belajar anak
Dalam proses belajar anak termasuk dalam proses belajar menulis, jangan sekali-kali memaksa anak untuk melakukan kegiatan tersebut jika anak sudah mulai kelelahan/bosan/jenuh karena justru akan membuat
anak stress dan ilfill dengan kegiatan menulis.

Sehingga jika anak mulai tidak semangat maka kegiatan belajar menulisnya dihentikan atau dilanjutkan keesokan harinya. Ataurlah waktu belajar anak dengan bijak.

9. Memberi tantangan pada anak
Hal yang juga bisa memotivasi anak sehingga semangat menulis yakni dengan memberi tantangan pada anak, misalnya kita katakan “jika kamu mampu menulis 100 kata dalam 30 menit nanti saya kasih hadiah” dengan begitu anak akan termotivasi menulis agar bisa mendapatkan hadiah yang dijanjikan, tantangan tersebut juga bisa melatih anak menulis cepat dan tepat.

10. Belajar menulis sambil bermain games
Misalnya anak-anak dibagi dalam kelompok-kelompok dan membuat laporan tentang pengamatan suatu objek mengamati bagian-bagian tumbuhan dan menuliskannya. Atau dengan main games bermain peran, anak-anak diberi peran, misalnya jadi polisi kemudian anak diminta menuliskan tugas-tugas polisi dll.

Demikianlah 10 Cara yang bisa anda lakukan  untuk mengajar dan melatih anak untuk menulis, semoga bermanfaat

Tuesday, 17 October 2017

7 Cara Mendidik Anak Agar Sholeh dan Berbakti Pada Orangtua

7 Cara Mendidik Anak Agar Sholeh dan Berbakti Pada Orangtua_ Sebagian bahkan bisa jadi setiap orangtua berharap memiliki anak yang tumbuh menjadi pribadi yang sholeh dan bisa berbakti pada orangtua, hal tersebut memang wajar karena anak merupakan investasi bagi orangtua baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Salah satu amalan yang tidak akan terputus adalah dengan memiliki anak yang sholeh, sehingga banyak orangtua yang berharap bisa mendidik anak-ananknya tumbuh menjadi sosok yang sholeh.

Mendidik anak butuh ketelatenan, kesabaran serta konsistensi agar anak tersebut bisa tumbuh menjadi sosok yang diharapkan oleh setiap orangtua, namun orangtua juga mesti menyadari bahwa terlalu menekan anak juga bisa berdampak buruk terhadap psikologis anak, terlalu menekan anak bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak bisa mengeksplorasi kemampuannya.

Maka dari itu tugas orangtua sejatinya bukan berusaha mendikte/menekan anak agar bisa menjadi sosok yang diinginkan melainkan tugas orangtua adalah mengarahkan dan mendampingi anak secara proporsional

Mendidik anak agar bisa menjadi sosok yang religius (sholeh) tidak hanya mulai berlansung saat anak tersebut terlahir ke dunia, tapi saat masih dalam kandungan, seorang anak bisa diberikan stimulasi yang bisa membuat anak tersebut kelak menjadi sosok yang religius dan berbakti pada orangtuanya.
Lantas hal apa saja yang bisa dilakukan untuk membentuk pribadi anak menjadi sholeh/religius serta berbakti pada orangtua? Berikut ulasannya

 7 Cara Mendidik Anak Agar Sholeh dan Berbakti Pada Orangtua

1. Banyak-banyak mendengar murotal saat masih hamil
Langkah pertama yang bisa anda lakukan agar anak anda bisa tumbuh menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah yakni rutin mendengar murotal (lantunan ayat-ayat suci Al-Quran) baik yang dalam bentuk MP3 maupun yang dalam versi video.

Dengan rutin mendengar murotal (lantunan ayat-ayat suci Al-Quran) akan membuat pikiran anda menjadi  serta gelombang frekuensi suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran bisa jadi juga bisa didengar oleh anak anda yang masi dalam kandungan.

2. Melakukan ibadah bersama anak
Selanjutnya hal yang bisa anda lakukan sebagai upaya penanaman nilai-nilai religius dalam diri anak yakni dengan senantiasa mengikut sertakan anak anda ketika anda sedang beribadah (shalat, mengaji, berdzikir dsb). Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa” jadi pada dasarnya apa yang menjadi bagian dari kebiasaan seorang anak adalah hal yang selama ini menjadi bagian dalam perilaku/tingkah lakunya.

Jadi tidak mesti menunggu dewasa/baligh untuk menyuruh anak anda untuk shalat namunsedini mungkin anak harus diajarkan untuk melakukan ibdah-ibadah spritual agar hal-hal yang dillakukannya tersebut menjadi bagian dari kepribadiannya.

3. Memberi contoh yang baik pada anak
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya yang artinya kebiasaan seorang anak biasanya tidak jauh dari kebiasaan-kebiasaan orangtuanya, maka dari itu agar anak anda bisa mejadi sosok yang religius/sholeh maka anda yang terlebih dahulu harus menjadikan diri anda sholeh dengan begitu anak-anak anda akan meniru tingkah laku anda.

Ayah dan ibu memiliki peranan yang sangat besar dalam proses pembentukan pribadi seorang anak, sehingga sikap aktif orangtua dalam mendidik anak akan memiliki implikasi besar terhadap kepribadian anak nantinya.

4. Hindari memarahi dan membentak anak
Hal yang sangat mesti dihindari oleh orangtua terhadap anaknya yakni bersikap berlebihan pada anak, misalnya saja selalu memarahi anak dan membentak anak, tahukah anda luka yang disebakan oleh perkataan lebih bahaya terhadap psikologis anak ketimbang dengan luka yang terjadi fisik anak?

Oleh karena itu jika anak melakukan kesalahan atau keteledoran usahakan untuk tidak memarahinya namun yang lebihpentng yakni bagaimana anda sebagai orangtua memberikan nasihat dan motivasi agar anak tidak mengulangi melakukan kesalahan yang sama.

5. Ikut majelis (Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan keagamaan)
Agar anak bisa mejadi pribadi yang sholeh maka anak harus banyak berinteraksi dengan anak-anak yang sholeh pula, bagaimana caranya? Caranya mudah saja yakni mdengan melibbatkan anak anda dalam kegiatan majelis ilmu agama, pesantren dan kelompok mengaji dengan begitu perkara-perkara agama yang senantiasa anak anda lakukan bersama teman-temannya akan menjadi bagain dari karakternya.

Jika ikut kursus bahasa inggirs, less musik dan kursus matematika saja anda berani bayar mahal asalkan anak anda bisa pintar maka kenapa tidak melakukan hal yang sama dengan perkara agama/akhlak anak anda.

Jadi jangan karena melihat ada beberapa biaya yang mesti dibayar agar anak anda bisa ikut/belajar ilmu agama lantas anda batal/menunda mengikutkan anak anda dalam kegiatan keagamaan. Malah yang sebaliknya, urusan yang berkaitan dengan akhlak anak lebih harus diutamakan ketimbang urusan lainnya.

6. Menceritakan kisah-kisah nabi dan sahabat
Slah satu metode yang bisa anda coba untuk menumbuhkan sikap cinta terhadap agama islam pada anak anda yakni dengan menceritakan kisah-kisah nabi terutama kisah nabi muhammad, yakni tentang akhlak beliau, perangai beliau, kesantunan beliau, cinta dan kasih sayang beliau, sehingga anak anda menjadikannya sebagai teladan dalam hidupnya.

Selain itu kish-kisah kesholehan para sahabat nabi muhammad juga bisa menjadi  opsi untuk mendidik anak anda menjadi pribadi yang sholeh

7. Mendoakan anak
Doa orangtua terutama doa ibu terhadap anaknya merupakan doa yang mustajab maka dari itu jangan pernah lelah meminta kebaikan pada anak anda, berdoa ibaratkan sedang mengayuh sepeda yang pada akhirnya akan mengantarkan si pengayuh pada tujuaannya. Doa orangtua selain bisa menjadi sebab diberikannya kemudahan pada anaknya juga bisa mejadi pelindung dari berbagai hal buruk yang akan menimpa anak anda.

Demikianlah 7 Cara mendidik anak agar sholeh dan berbakti pada orangtua yang biasa nada coba lakukan, semoga artikel tersebut bermanfaat bagi anda

Friday, 22 September 2017

7 Ciri Anak yang Pintar, Jenius dan Cerdas

7 Ciri Anak yang Pintar, Jenius dan Cerdas _ Kecerdasan dan kepintaran seseorang, bukan hanya nampak saat dia mulai dewasa yang terefresentasikan melalui prestasi, kreatifitas dan motivasi tinggi yang dimilikinya, namun pada dasarnya ciri-ciri anak yang memiliki potensi untuk tumbuh menjadi sosok yang pintar, cerdas dan jenius bisa diamati saat anak tersebut masih menginjak usia belia.



Akan tetapi gejala/perilaku yang ditunjukan oleh anak yang memiliki potensi menjadi anak yang pintar, jenius dan cerdas tidak selamanya tergambarkan melalui kemampuan kognitif yang dia miliki namun beberapa perilaku seorang anak-anak bisa menjadi indikator bahwa anak tersebut pada dasarnya memiliki potensi besar untuk digali/dieksplorasi/dididik sehingga bisa tumbuh menjadi anak yang pintar, jenius dan cerdas.

Lantas apa saja ciri-ciri yang kemungkinan bisa menjadi tolok ukur untuk mengetahui bahwa anak tersebut pada dasarnya merupakan anak yang pintar, jenius dan cerdas? Berikut ulasannya

7 Ciri Anak yang Pintar, Jenius dan Cerdas
1. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggiCiri pertama yang bisa menjadi indikator bahwa seorang anak sebenarnya memiliki potensi menjadi anak yang pintar, jenuis dan cerdas adalah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal, apalagi jika hal tersebut merupakan sesuatu yang baru baginya, maka anak tersebut memiliki motivasi lebih untuk segera mengetahui hal tersebut.

Rasa ingin tahu seorang anak bisa tergambarkan melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tentang hal tersebut, ada dorongan untuk mendekati dan menganalisas hal yang dianggap sebagai sesuatu yang baru baginya.

2. Aktif
Aktif bisa dikatakan sebagai suatu dorongan dalam diri anak untuk selalu melakukan berbagai hal, dan dominan keaktifan tersebut sangat dipengaruhi oleh minat/bakat daya tarik anak terhadap sesuatu. Aktif sangat erat kaitanya dengan hiperaktif, sehingga anak yang hiperaktif pada dasarnya bisa dididik/dibentuk menjadi anak yang pintar, cerdas dan jenius

Anak yang aktif biasanya tidak suka berdiam diri terlalu lama namun anak yang akatif selalu berusaha mencari berbagai hal yang menarik baginya sehingga dengan begitu dorongan yang ada dalam dirinya bisa terpenuhi.

3. Memiliki insiatif
Selanjutnya ciri anak yang pintar, jenius dan cerdas yakni selalu memiliki inisiatif dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dia hadapi. Ide-ide yang muncul dari pikirannya biasanya dipengaruh oleh tekanan/ tantangan yang dihadapinya.

Anak yang memiliki inisiatif tinggi biasanya memiliki beberapa solusi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya, sehigga jika satu solusi tidak jitu maka dia masih memiliki cara lainnya.

4. Tenang dan bijak dalam mengambil keputusan
Ciri anak yang pintar, jenius dan cerdas selanjutnya yakni anak tersebut memiliki ketenangan ketika dihadapkan pada suatu tugas/tantangan/masalah yang dihadapinya. Anak yang pintar, jenius dan cerdas biasanya tidak akan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan namun juga sangat mempertimbangkan dengan seksama dampak/efek dari keputusan yang dia ambil.

5. Disiplin
Selanjutnya ciri-ciri anak yang memiliki potensi menjadi anak yang pintar, cerdas dan jenius yakni anak tersebut mampu membagi waktu dengan baik, sehingga waktu bermain belajar, mengerjakan tugas dan sekolah tidak ada yang terabaikan.
Pada dasarnya kedisiplinan memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk pribadi seorang anak, sehingga anak yang terbiasa menanamkan kedisiplinan dalam aktivitasnya bisa tumbuh menjadi pribadi yang sukses kedepannya.

6. Percaya diri
Anak yang jenius, pintar dan cerdas biasanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, hal tersebut tak lepas dari rasa percaya diri dengan kemampuan yang dia miliki, sehingga anak tersebut tidak merasa grogi, canggung dan takut untuk mempresentasikan pekerjaannya, karyanya dan skillnya

7. Pantang menyerah
Anak yang pintar, jenius dan cerdas biasanya tidak mudah menyerah dengan berbagai masalah/tantangan yang sedang dia hadapinya, sebaliknya dia akan memikirkan berbagai cara agar bisa menyelesaikan tugas/tantangan/masalah yang dihadapinya

Demikianlah 7 Ciri Anak yang Pintar, Jenius dan Cerdas menurut penulis, semoga tulisan ini bermanfaat untuk anda.