Tampilkan posting dengan label ANAK. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label ANAK. Tampilkan semua posting

Selasa, 14 Februari 2017

6 Cara Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang Dalam Diri Anak

6 Cara Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang Dalam Diri Anak - Perasaan kasih sayang adalah sebuah ungkapan hati manusia untuk mencintai dan menyayangi segala sesuatu yang ada di sekitarnya, setiap manusia memiliki perasaan kasih sayang dalam hatinya hanya saja terkadang pada beberapa orang sifat kasih sayang tersebut kurang nampak karena ada sifat lain yang lebih dominan dalam dirinya misalkan perasaan egois, pemarah, sombong dan lain-lain.

6 Cara Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang Dalam Diri Anak

Maka dari itu agar perasaan kasih sayang dalam setiap orang bisa muncul serta dominan nampak pada karakter dan perilakunya maka sejak dini atau sejak dalam usia anak-anak orang tersebut harus diajarkan menjadi pribadi penyayang terhadap sesama. Karena bisa jadi orang yang kelihatannya memiliki pribadi yang kasar, egois, pemarah disebabkan oleh kurangnya afeksi (kasih sayang) dari orang tua sejak masih kecil sehingga anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang terbilang arogan dan kasar.

Baca juga:

Usia anak-anak adalah fase yang sangat tepat dalam membekali anak berbagai perilaku positif, salah satunya rasa kasih sayang terhadap sesama. Jadi apa yang mesti dilakukan oleh orang tua dan guru agar bisa menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri anak? berikut beberapa Cara Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang Dalam Diri Anak.

6 Cara Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang Dalam Diri Anak

 

1. Mengajarkan anak untuk peduli terhadap sesama

Salah satu wujud perasaan kasih sayang adalah munculnya perasaan untuk lebih peduli terhadap orang lain baik yang sedang kesusahan atau orang yang membutuhkan pertolongan, misalkan dalam suatu ada siswa yang tidak punya pulpen maka sebagai guru kita mengarahkan atau menasehati siswa kita untuk meminjamkan pulpen kepada temannya tersebut, atau ketika ada pengemis atau orang yang kurang mampu meminta sedekah kita ajarkan kepada anak tersebut untuk berbagi baik dalam bentuk uang, pakaian bahkan walau hanya sekedar mendoakannya. hal-hal kecil yang terus diajarkan kepada anak yang memuat nilai kasih sayang terhadap sesama lama kelamaan akan melembutkan hati anak tersebut sehingga menjadi pribadi yang penyayang.

2. Berperilaku yang santun dan lembut kepada anak

Sifat anak-anak ibaratkan cermin yang berusaha menyamai apa yang ada dihadapannya, jika kita sering bersikap kasar, marah-marah dihadapan anak hanya karena hal sepele atau karena anak tersebut melakukan kesalahan maka hal tersebut bisa membuat hati anak menjadi keras dan membuatnya menjadi pribadi kasar maka dari itu perilaku yang tunjukan dihadapan anak sebaiknya menggambarkan perasaan kasih sayang, misalkan dengan berbicara dengan lembut dan santun kepada anak

3. Mengajarkan anak untuk mencintal alam

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri anak adalah mengajarkan anak untuk mencintai alam sekitar, misalkan merawat tanaman, mencintai binatang, mengajarkan anak untuk tidak buang sampah sembarangan karena hal tersebut bisa merusak lingkungan. Kalau perlu anda membeli kucing untuk dipelihara atau tanaman hias di sekita rumah dan menugaskan anak untuk merawat binatang dan tumbuhan tersebut sepenuh hati. Dengan melakukan hal tersebut perasaan anak akan menjadi lebih pekah dan penyayang.

4. Memberikan anak bekal ilmu agama.

Agama adalah sumber kasih sayang dengan mempelajari dan memahami dengan benar sudah dapat dipastikan anak akan memiliki hati yang lembut dan penuh dengan kasih sayang, mengajarkan ilmu agama kepada anak bisa dilakukan melalui pemberian nasihat, belajar agama di pesantren, mengajak anak mendengar ceramah dimajelis atau di mesjid. Dengan pemahaman agama yang benar maka ilmu tersebut akan menjadi pedoman dan penuntun anak dalam berperilaku.

5. Memberikan perhatian kecil pada anak.

Terkadang sebagian orang tua mengabaikan perhatian kecil pada anak padahal cukup memiliki pengaruh dalam menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri anak, perhatian tersebut seperti, mengusap kepala anak, mencium anak sebelum tidur, menyempatkan untuk mendengar cerita anak baik cerita menyenangkan maupun cerita sedih dari anak dan beberapa hal kecil lain yang kadang dianggap sepele. Dengan memberikan perhatian yang konsisten kepada anak, maka anak akan merasa disayangi dan muncul lah perasaan yang sama dalam diri anak untuk mencintai dan menyayangi orang lain.

6. Mengajak anak jalan-jalan di tempat yang tidak biasa

Tempat yang tidak biasa adalah tempat yang jarang dikunjungi oleh anak namun memiliki nilai pelajaran dan hikmah yang besar seperti mengajak anak jalan-jalan di panti asuhan, dengan melihat kondisi anak-anak yang lain yang kurang beruntung maka akan muncul rasa iba, empati dan simpati dalam diri anak. anda juga bisa mengajak anak anda jalan-jalan di pemukiman kumuh. Dengan melihat kenyataan tersebut anak akan belajar untuk mencintai dirinnya dan mensyukuri apa yang telah dimilikinya dan memunculkan perasaan dalam diri anak untuk menyayangi orang yang tidak seberuntung dirinya.

Demikianlah 6 Cara Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang Dalam Diri Anak yang bisa anda coba aplikasikan kepada anak atau murid anda. semoga artikel bisa menginspirasi dan membantu anda dalam menyelesaikan masalah anda, semoga bermanfaat.

6 Cara Memilih Sekolah Yang Tepat Untuk Anak

6 Cara Memilih Sekolah Yang Tepat Untuk Anak_ Pendidikan adalah hal yang urgen untuk diberikan kepada anak, sejak dini orang tua sebaiknya mempersiapkan pendidikan yang tepat bagi anak mulai dari pendidikan dalam lingkungan keluarga maupun dalam dalam jenjang formal. Pendidikan memiliki banyak manfaat bagi anak mulai dari wadah untuk pembentukan karakter, melalui pendidikan dilembaga formal anak akan belajar bagaimana cara bersosialisasi dengan teman sejawat, mendapat ilmu dan pengetahuan, belajar menjadi pribadi yang displin, mandiri, betanggung jawab dan masih banyak lagi manfaat pendidikan bagi anak.

6 Cara Memilih Sekolah Yang Tepat Untuk Anak

Oleh karena itu tugas orang tua adalah memilih sekolah yang tepat bagi anak agar segala kemampuan anak baik kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor bisa tereksplorasi secara maksimal. Memilih sekolah untuk anak harus memiliki acuan atau pedoman, jangan asal-asalan dalam memilih sekolah untuk anak, apalagi memiliki persepsi "asalkan anak bisa sekolah", pemikiran tersebut cukup keliru karena kualitas sekolah yang ditempati anak menuntut ilmu akan sangat berpengaruh pada masa depan anak.

Baca juga
 
Jadi bagaimana cara memilih sekolah yang tepat untuk anak? dalam artikel ini akan diulas dengan seksama bagaimana sebaiknya memilih sekolah yang baik untuk anak anda, agar anak anda bisa menjadi anak yang berprestasi dan menjadi kebanggaan keluarga. berikut ulasannya:

6 Cara Memilih Sekolah Yang Tepat Untuk Anak


1. Pilih sekolah yang terintegrasi atau terpadu

apa sih yang dimaksud sekolah terpadu? sekolah terpadu adalah sekolah yang menempatkan SD, SMP dan SMA dalam satu atap atau dalam satu ruang lingkup, apa keuntungan menyekolahkan anak di sekolah yang terpadu? Keuntungannya adalah anak anda bisa memiliki banyak kenalan atau teman baik dari tingkatan SD, SMP dan SMA. selain itu misalkan anak anda masih duduk di bangku sekolah dasar atau sekolah menengah pertama ketika lulus, dia sudah tidak canggung lagi ketika melanjutkan pendidikan di SMP atau SMA karena mereka sudah saling kenal satu sama lain jadi perilaku bully atau ospek yang biasa dilakukan oleh kelas yang lebih tinggi terhadap murid baru bisa diminimalisir. Selain itu jika anda menyekolahkan anak anda di sekolah terpadu akan membuat ilmu dan pengetahuan yang dipelajari anak akan lebih terstruktur karena kurikulum sekolah mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA dikelola oleh lembaga yang sama, jadi dalam penerapannya akan lebih terarah dan terstruktur dengan jelas.

2. Memilih sekolah yang menerapkan full day school.

Full day school adalah kegiatan belajar yang dimulai dari jam 07.30 sampai jam 16.00, kelebihan full day school bagi anak adalah anak akan memiliki waktu belajar yang lebih banyak, anak juga akan banyak menghabiskan waktu di sekolah sehingga banyak melakukan interaksi positif baik dengan temannya maupun dengan gurunya melalui kondisi tersebut karakter anak akan lebih cepat terbentuk dan kegiatan full day school juga membuat anak kurang bergaul dengan lingkungan masyarakat sehingga meminimalisir pengaruh negatif dari lingkungan masyarakat karena usia anak-anak atau remaja adalah usia dimana anak muda terpengaruh oleh keadaan sekitarnya. Dengan memaksimalkan pembentukan karakter anak akan membuat anak memiliki filter atau pondasi yang kuat untuk menolak pengaruh negatif ketika telah tamat dari sekolah.

3. Memilih sekolah yang transparan dan akuntabel

Salah satu aspek yang mesti diperhatikan ketika meilih sekolah untuk anak anda adalah apakah sekolah tersebut memiliki manajemen yang terbuka atau transparan, seperti ketika ada pungutan atau pembayaran yang dibebankan kepada siswa, sekolah menjelaskan secara rinci tujuan pungutan tersebut. Sekolah yang menjunjung tinggi aspek transpransi sangat kecil kemungkinan akan terjadi pungutan liar (pungli) yang meresahkan siswa dan orang tua. Dan ketika ada dana sekolah dari pemerintah akan lebih tepat sasaran misalkan dana bos yang digunakan sebagaimana mestinya, dana gratis, dana dari yayasan dan lain-lain.

4. Sekolah yang dilengkapi dengan sarana prasarana yang memadai

Tidak dapat dipungkiri bahwa kelengkapan sarana dan prasarana sekolah menjadi salah unsur dalam maksimalnya pendidikan dan pembelajaran di sekolah, jenis prasarana yang sebaiknya anda perhatikan disuatu sekolah seperti tempat beribadah, fasilitas olahraga, perpustakaan, taman bermain dan kelengkapan sumber dan media pembelajaran. hal yang cukup urgen yang mesti anda perhatikan disuatu sekolah apakah di sekolah tersebut terdapat tempat ibadah karena dengan adanya tempat ibadah mengindikasikan sekolah tersebut serius dalam penanaman akhlak kepada anak didiknya.

5. Memiliki tenaga pendidik yang profesional

Sekolah yang baik ditandai dengan guru atau tenaga pendidik yang mengajar di sekolah tersebut yang profesional, profesional maksudnya adalah guru yang mengajar di sekolah tersebut mengajarkan mata pelajaran sesuai latar belakang pendidikannya karena tak jarang kita menemukan guru dengan latar belakang pendidikan A justru mengajarkan mata pelajaran B, meskipun guru tersebut telah memahami bagaimana cara mengajar tapi bisa jadi kompetensi mengajarnya belum maksimal karena mengajar pada bidang yang tidak sesuai latar belakang pendidikannya.

6. Memilih sekolah sesuai bakat dan minat anak

Terakhir yang mesti anda perhatikan dalam memilih sekolah untuk anak anda adalah perhatikan terlebih dahulu apa bakat dan minat yang dimiliki anak anda, misalkan anak anda memiliki bakat dan minat pada bidang olahraga maka anda bisa mempertimbangkan untuk menyekolahkannya di sekolah keolahragaan, atau jika anak anda memiliki kecendrungan suka pada hal yang bernilai seni maka anda juga bisa mempertimbangkan untuk menyekolahkannya di sekolah keolahragaan.

Demikianlah ulasan singkat 6 Cara Memilih Sekolah Yang Tepat Untuk Anak agar potensi dan kemampuan anak bisa maksimal tereksplorasi. Peran orang tua sangat urgen dalam mengarahkan anak dalam menggapai kesuksesannya jadi selalu beri perhatian untuk anak anda, karena perhatian adalah salah satu bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya yang dengan perhatian tersebut perasaan hormat, iba, empati seorang anaknya menjadi lebih kuat. semoga artikel ini bermanfaat

Sabtu, 04 Februari 2017

7 Cara Mendidik Anak Agar Lebih Disiplin

Cara Mendidik Anak Agar Lebih Disiplin_ Perilaku seseorang dikala masih kanak-kanak adalah cerminan bagaimana pribadi orang tersebut setelah tumbuh dewasa. Hal ini memang benar adanya karena masa kanak-kanak adalah fase pembentukan karakter, dengan didikan yang tepat diusia belia akan menjadikan anak tersebut lebih berkarakter dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai hal negatif dari lingkungan sekitarnya. Salah satu perilaku yang sangat penting diajarkan kepada sejak dini adalah bagaimana menjadi pribadi yang disiplin. sikap displin yang telah dimiliki anak sejak dini akan menjadi modal besar untuk kesuksesan anak di masa depan dan terbukti bahwa tak sedikit orang-orang yang menjadi sukses karena menerapkan pola hidup disiplin dalam hidupnya.


Baca juga :
6 Cara Mengetahui Bakat Dan Minat Anak Sejak Dini 
7 Cara Mengatasi Anak Yang Lambat Memahami Pelajaran

Namun tak jarang kita menemukan anak yang kurang displin, hal ini disebabkan oleh cara guru dan orang tua yang kurang tepat dalam mendidik anak serta pengaruh dari lingkungan tempat anak menghabiskan banyak waktu untuk bersosialisasi. Jika perilaku indispliner dibiarkan saja pada anak bukan tidak mungkin akan menjadi kendala dan penghabat dari kesuksesannya dimasa yang akan datang. Oleh karena itu dalam artikel ini penulis akan berbagi tips bagaimana cara mendidik anak agar bisa lebih disiplin, Apa-apa saja yang mesti dilakukan baik orang tua maupun guru dalam mendisplinkan anak? berikut ulasannya:

"7 Cara Mendidik Anak Agar Lebih Disiplin"

1. Mendidik anak untuk tidak selalu menunda-nunda pekerjaan
Sering menunda pekerjaan adalah cikal bakal munculnya sikap kurang displin dalam diri anak, oleh karena itu sebaiknya orang tua menasehati untuk segera menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang diberikan sesegara mungkin, dengan terbiasa menyelesaikan tugas tepat waktu membuat perilaku disiplin muncul perlahan dalam diri anak.

2. Mengatur/ Membuat jadwal kegiatan sehari-hari.
Hal yang juga bisa dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya menjadi displin adalah meminta anak membuat jadwal kegiatan yang akan dilakukan sehari-hari. Dengan memiliki jadwal kegiatan yang sudah jelas membuat pola hidup anak lebih teratur dan dapat menyelesaikan setiap tugas/pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

3. Mengajarkan anak pentingnya menghargai waktu
Ada ungkapan yang mengatakan "waktu adalah emas" ungkapan tersebut menyiratkan bahwa setiap detik menit dan jam sangat berharga. Hal tersebut juga sebaiknya diajarkan kepada untuk lebih menghargai waktu dan mengurangi kegiatan yang kurang bermanfaat. Dengan memahami betapa pentingnya dan berharganya waktu anak akan lebih mengatur jadwal kegiatannya agar setiap waktunya bisa digunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat.

4. Menasehati anak untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan
Mendidik anak menjadi displin juga bisa dengan cara menasehati anak tentang kesalahan dan kegagalan yang dialami akibat kurang disiplin. dengan menyadari kesalahan dan kegagalan yang dialami akibat tidak disiplin, anak akan berusaha menjadi lebih displin agar bisa terhindar dari kesalahan dan kegagalan.

5. Memotivasi anak untuk memiliki mimpi besar.
Mimpi atau cita-cita bisa menjadi motivasi bagi anak untuk bersungguh-sungguh dalam setiap usahanya agar mimpi atau cita-cita tersebut bisa terwujud. Dengan memiliki mimpi anak-anak akan lebih memanajemen setiap waktu dan kegiatannya, selain itu sikap displin akan muncul dengan sendirinya karena adanya tujuan besar yang ingin dicapai yakni cita-cita yang ingin diwujudkan.

6. Membuat aturan dalam keluarga.
Agar sikap disiplin bisa terus dipraktikan dalam diri anak juga bisa dilakukan dengan cara membuat aturan dalam keluarga yang disepakati oleh setiap anggota keluarga. misalkan anak harus membersihkan tempat tidurnya sendiri, harus bangun sebelum jam 6 dll. aturan yang dibuat untuk mendidik anak menjadi displin bisa disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.

7. Memberi contoh konkret pada anak
Langkah terakhir yang bisa dicoba adalah dengan menjadi contoh bagi anak bagaimana menjadi orang yang disiplin. karena adalah tidak lumrah jika kita berharap anak menjadi disiplin padahal kita sebagai orang tua sendiri yang kadang kurang disiplin.

Demikianlah 7 Cara Mendidik Anak Agar Lebih Disiplin yang bisa menjadi refrensi bagi anda dalam mendidik anak sehingga bisa menjadi lebih displin. semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

Jumat, 03 Februari 2017

8 cara mendidik anak agar bisa mandiri

8 cara mendidik anak agar bisa mandiri_ Mengajarkan sikap mandiri pada anak membutuhkan kesabaran dan konsistensi karena seperti yang kita ketahui untuk menumbuhkan sikap mandiri dalam diri anak butuh waktu yang tidak sebentar. Usia kanak-kanak merupakan fase yang paling tepat mengajarkan anak bagaimana menjadi orang yang mandiri karena pada usia tersebut kemampuan anak dalam menyerap pendidikan dan pembelajaran dari lingkungan sekitarnya cukup kuat. Dengan mengajarkan bagaimana menjadi pribadi yang mandiri sejak dini membuat hal tersebut dapat tertanan kuat dalam diri anak sehingga ketika ia telah tumbuh dewasa

8 cara mendidik anak agar bisa mandiri

Orang tua memiliki peranan yang cukup fundamental dalam menumbuhkan sikap mandiri dalam pribadi anak namun terkadang banyak hal-hal kecil yang diabaikan orang tua dalam mendidik anak padahal justru hal tersebut memberi pengaruh cukup besar dalam membangun sikap mandiri pada anak.  Adapun manfaat mengajarkan sikap mandiri kepada anak adalah agar anak tidak selalu bergantung kepada orang lain akan tetapi bukan berarti menjadi pribadi berarti sudah tidak membutuhkan orang lain.


Baca juga:
7 Cara Mendidik Anak Agar Lebih Disiplin 

Selain itu peranan lingkungan sekolah khususnya guru memberi andil dalam mengajarkan anak menjadi pribadi yang lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Hal tersebut bisa ajarkan memalui proses pembelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler yang mengajarkan tentang nilai-nilai kemandirian pada anak.

Jadi bagaimana cara mendidik anak agar bisa menjadi pribadi yang mandiri? bagaimana cara mendidik anak agar bisa mandiri adalah hal yang mesti diketahui oleh guru dan orang tua karena tak sedikit kasus yang ditemukan guru dan orang tua kurang tepat dalam mendidik anak sehingga bukannya menjadi seperti yang diharapkan namun justru menjadi pribadi yang jauh dari apa yang diharapkan. Berikut:


8 Cara Mendidik Anak Agar Bisa Mandiri 


1. Memberikan kesempatan bagi anak untuk menentukan pilihannya sendiri. 
Indikasi munculnya sikap mandiri dalam diri anak adalah ketika dia sudah bisa menentukan pilihannya sendiri atau bisa mengambil keputusan sendiri. Oleh karena itu dalam hal memetuskan sesuatu yang terkait dengan diri anak biarkan anak tersebut yang menentukan pilihannya misalkan ketika anak ingin membeli baju maka biarkan anak tersebut memilih mana baju yang terbaik menurutnya yang cocok untuknya, tugas orang tua adalah mendampingi dan sesekali memberi arahan positif.

2. Jangan terlalu memanjakan anak.

Memberi perhatian lebih itu boleh saja namun terlalu memanjakan anak jangan. Dampak memanjakan anak adalah anak tersebut akan selalu bergantung pada orang lain, sehingga kemampuan yang ada dalam diri anak sulit untuk berkembang. Terlalu memanjakan anak juga akan membuat anak menjadi cengeng, anak yang selalu dimanja biasanya memiliki perasaan yang sensitif sehingga ketika ada kemauannya yang tidak dituruti ia mudah ngambek bahkan marah.

3. Dampingi anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. 

Tak jarang kita menemukan orang tua ketika anaknya diberi PR oleh gurunya justru orang tua yang mengerjakannya dengan harapan agar nilai anaknya bagus padahal itu akan berdampak pada sulitnya potensi anak untuk berkembang oleh karena itu hal seperti demikian sebaiknya dihindari, contoh konkret yang bisa dilakukan adalah memberikan gambaran atau analogi bagaimana solusi yang tepat untuk menyelesaikan tugas tersebut. misalkan anak punya soal yang tidak bisa diselesaikan nah orang tua tinggal membuat soal yang mirip kemudian memperlihatkan kepada anak bagaimana cara menyelesaikannya, setelah anak memahami bagaimana konsep penyelesaian masalahnya maka biarkan anak tersebut mencoba untuk menyelesaikan soal yang sebelumnya tidak bisa dijawab.

4. Memberikan motivasi dan nasehat 

Orang tua harus pandai memposisikan diri dalam mendidik anak, jikalau anak mendapat masalah yang rumit sebaiknya orang tua memberi semangat dan memotivasi anak tersebut bahwa "asalkan kita terus berusaha maka masalah apapun bisa diselesaikan" dengan itu anak tidak mudah putus asa serta patah semangat. Dan sebaliknya jika anak tersebut mendapatkan suatu prestasi membanggakan sebaiknya dinasehati agar tidak cepat berpuas hati sehingga anak tidak menjadi orang yang sombong dan jumawa. Dengan itu anak akan memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri.
 

5.  Mengapresiasi pencapaian anak
Tak jarang sebagai orang tua kita lebih banyak fokus untuk menghakimi kegagalan yang dapatkan anak ketimbang memuji sederet hal baik yang telah dicapai anak. andaikan anak mendapatkan 9 kegagalan dan 1 keberhasilan maka tetatplah untuk menghargai 1 keberhasilan tersebut, dengan menghargai pencapaian anak walaupun itu hanya hal kecil tapi moment tersebut bisa menumbuhkan kepercayaan diri anak sehingga tidak merasa rendah diri. Misalkan di sekolah anak mendapatkan nilai 4 kemudian setelah pulang dia menanyakan kepada anda bahwa dia mendapat nilai 4 maka tanyakan kepada anak tersebut "apakah kamu sudah berusaha menjawab soal tersebut dengan sungguh-sungguh, jika anak tersebut mengatakan "ia ibu aku sudah bersungguh-sungguh tetapi tetap saja saya mendapat nilai 4" maka katakan "tidak apa-apa anakku asalkan kamu sudah berusaha" kemudian lanjutkan "dulu ibu bahkan biasa dapat nilai 0 di sekolah tapi karena ibu terus berusaha dan belajar akhirnya ibu bisa juara kelas, kamu juga pasti bisa asal mau berusaha lebih giat lagi belajar" (ilustrasi).

6. Memberi tantangan.  

Hal yang juga bisa dilakukan agar anak bisa mandiri adalah memberi tantangan kepada anak baik itu tantangan dalam bentuk teka-teki, tugas yang membutuhkan kesabaran, games dll. Tantangan yang diberikan kepada akan meningkatkan kemampuan berpikir anak dalam memecahkan masalahnya sendiri. dengan rutin memberikan tantangan-tantangan kepada anak akan membuat kemampuan berpikir anak semakin kritis dan terstruktur, sehingga kelak ketika anak tersebut ketika menemui kesulitan dia tidak langsung meminta bantuan orang lain untuk membantunya menyelesaikannya melainkan berusaha terlebih dahulu sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan yang ia bisa.

7. Ikut sertakan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler. 

Kegiatan ekstrakurikler memiliki segudang manfaat bagi pembentukan pribadi anak, melalui kegiatan ekstrakurikuler anak akan belajar lebih bertanggung jawab, menghargai sesama, kerja sama, displin, berani, termasuk mandiri. kegiatan ekstrakurikuler yang sudah sangat populer dan terbukti dalam membentuk pribadi anak seperti pramuka, palang merah, sispala.

8. Meberikan contoh kepada anak bagaimana menjadi pribadi yang mandiri. 

Ada sebuah ungkapan mengatakan bahwa buah tidak jauh jatuh dari pohonnya maka seperti itulah pribadi anak yang tidak akan terlalu jauh dari pribadi orang tua. jadi jika anda ingin anak anda menjadi pribadi  yang mandiri maka latihlah diri anda terlebih dahulu untuk menjadi pribadi yang mandiri, kemudian praktikan dalam keseharian anda dalam keluarga.

Demikialah 8 cara mendidik anak agar bisa mandiri yang bisa diaplikasikan dalam lingkungan keluarga maupun di sekolah dalam mendidik anak agar bisa mandiri. menanamkan nilai-nilai positif dalam anak tidak instan namun butuh proses panjang yang mesti dilalui dengan konsisten. semoga artikel ini membantu dan bermanfaat.

Jumat, 27 Januari 2017

5 Cara Mengantisipasi Dan Mengenalkan Bahaya narkoba Terhadap Anak Sejak Dini


5 Cara Mengantisipasi Dan Mengenalkan Bahaya narkoba Terhadap Anak Sejak Dini_ Narkoba adalah zat adiktif yang dilarang beredar karena memberi efek ketergantungan kepada penggunanya, selain itu narkoba juga berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan penggunannya. Pengguna narkoba saat ini yang ada di indonesia menurut survey telah mencapai 5 juta, suatu angka yang cukup besar. 

Baca juga

Bukan hanya kalangan orang dewasa, orang tua bahkan bahaya narkoba sudah mengancam anak-anak, hal tersebut terbukti dari beberapa kasus narkoba yang melibatkan anak remaja, kondisi tersebut mesti menjadi perhatian serius karena pemuda dan remaja adalah generasi penerus bangsa jikalau narkoba telah berhasil menyusupi para remaja maka masa depan bangsa indonesia akan suram.



Untuk itu dibutuhkan peranan semua stackholder dalam mengantisipasi bahaya narkoba khususnya bagi anak-anak. Selain itu dibutuhkan edukasi yang terstruktur dalam mengenalkan bahaya narkoba bagi anak sejak dini hal ini bertujuan untuk membentengi anak-anak agar tak mudah terpengaruh untuk menkonsumsi narkoba. Apa saja langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi bahaya narkoba terhadap anak dan bagaimana cara mengenalkan bahaya narkoba bagi anak sejak dini? Berikut ulasannya:

5 Cara Mengantisipasi Dan Mengenalkan Bahaya narkoba Terhadap Anak Sejak Dini
 


1. Pendidikan Keluarga
Tak dapat dipungkiri keluarga memiliki peran yang subtansial dalam membentuk pribadi anak, oleh karena itu mengantisipasi dan mengenalkan bahaya narkoba terhadap anak sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua harus lebih aktif dalam mengarahkan dan membimbing anak agar memiliki pemahaman tentang bahaya narkoba, narkoba sangat rentang menyerang anak ketika orang tua kurang memberi perhatian terhadap anaknya, merasa acuh tak acuh atau sibuk dalam pekerjaan sehingga lupa menunjukan bentuk afeksi (Kasih Sayang) terhadap anak, sehingga anak merasa jenuh dan tidak nyaman berada di keluarga pada akhirnya sang anak mencari pelampiasan melalui pergaulan bebas. Maka dari itu kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak dalam keluarga sangat dibutuhkan dalam membentengi anak dari bahaya narkoba.
 

2. Aktivitas Positif
Melakukan aktifitas positif memberi kontribusi bear dalam menangkal bahaya narkoba bagi anak, jenis aktivitas positif yang bisa diperkenalkan kepada anak seperti olahranga, kegiatan ekstrakurikuler sepert pramuka, palang merah remaja dan pecinta alam dan lain-lain dengan banyak melakukan hal-hal positif, pribadi anak akan lebih kuat, selain itu dengan banyak melakukan aktifitas positif anak akan memiliki sedikit waktu untuk melakukan perilaku menyimpang. Oleh karena support dan dorongan dari orang tua dan guru sangat dibutuhkan dalam memotivasi anak untuk konsisten melakukan hal-hal positif terutama yang bisa mengeksplorasi bakat dan minat anak, sehingga paradigma yang muncul dalam pikiran anak berorientasi terhadap pencapaian prestasi bukan sebaliknya.

3. Lingkungan Pergaulan Anak

Lingkungan yang menjadi tempat anak menghabiskan kebanyakan aktivitasnya juga perlu diperhatikan, karena pengaruh lingkungan terhadap pribadi anak cukup besar. Melalui kegiatan berinteraksi di lingkungan sosial perilaku anak  sedikit banyaknya akan terpengaruh baik kearah positif maupun kearah negatif, semua itu sangat ditentukan “dengan siapa anak melakukan interaksi”. Narkoba sangat mungkin dikenali oleh seorang anak melalui interkasi dilingkungan sosial, oleh karena itu orang tua sebaiknya memerhatikan dengan siapa anaknya bergaul, sebaiknya orang tua memberi batasan yang proporsional agar anak lebih banyak bergaul dengan orang-orang memiliki perilaku positif.

4. Perkuat Ilmu Agama Dan Akhlak

Tidak dapat dipungkiri bahwa dogma agama masih menjadi pedoman utama sebagian orang dalam bertingkah laku, dengan memahami sepenuhnya ajaran agama dapat mencegah seseorang melakukan perbuatan yang menyimpang selain itu ilmu agama juga bisa mengajarkan akhlak yang baik. Dengan memiliki pemahaman yang dalam tentang agama pribadi seorang anak akan menjadi lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh hal negatif termasuk narkoba.

5. Sosialisasi Bahaya Narkoba

Hal selanjutnya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi bahaya narkoba bagi anak adalah dengan melakukan sosialisasi-sosialisasi di sekolah-sekolah atau di masyarakat tentang bahaya narkoba, langkah tersebut dinilai lebih efektif dalam mencegah penggunaan narkoba di kalangan anak-anak, dengan memahami bahaya-bahaya narkoba akan memunculkan persepsi negatif dalam pikiran anak terhadap narkoba dan memilih untuk enggang menggunakan narkoba.

Demikianlah 5 Cara Mengantisipasi Dan Mengenalkan Bahaya narkoba Terhadap Anak Sejak Dini yang bisa menjadi refrensi dalam mendidik anak agar terhindar dari pengaruh narkoba sejak dini, keterlibatan guru, orang tua, masyarakat dan semua stackholder dalam meminimalisir pengaruh narkoba bagi anak dinilai menjadi solusi yang cukup tepat. Semoga artike tentang Cara Mengantisipasi Dan Mengenalkan Bahaya narkoba Terhadap Anak Sejak Dini bermanfaat.

Jumat, 13 Januari 2017

3 Keterampilan Sosial Yang Sangat Penting Bagi Anak

3 Keterampilan Sosial Yang Sangat Penting Diajarkan Kepada Anak_ Keterampilan Sosial adalah pola tingkah laku yang ditunjukan seseorang dalam berinteraksi dilingkungan masyrakat dan cenderung bersifat positif. keterampilan sosial sangat penting untuk diajarkan kepada anak karena lingkungan masyarakatlah yang akan menjadi muara dalam melakukan aktivitasnya. melalui lingkungan sekolah dan keluarga anak-anak mesti dibekali bagaimana melakukan interaksi yang baik dilingkungan masyarakat. 

Baca juga:

Namun tak jarang kita menemukan anak yang kakuh dalam melakukan interaksi dalam masyarakat mungkin karena mereka belum terbiasa atau memang tidak dibekali ilmu yang memadai dalam berinterkasi di masyarakat. dan tak jarang juga beberapa keterampilan sosial yang kurang dikuasai anak, keterampilan apa sajakah yang biasanya kurang dikuasai oleh anak-anak? biasanya Keterampilan yang kurang dikuasai anak-anak  termasuk berbagi, berperan serta, dan komunikasi, padahal keterampilan itu sangat penting bagi anak. untuk itu kami akan mengulas dengan seksama 3 Keterampilan Sosial Yang Sangat Penting Bagi Anak berikut ulasannya.

3 Keterampilan Sosial Yang Sangat Penting Bagi Anak

3 Keterampilan Sosial Yang Sangat Penting Bagi Anak

1. Keterampilan  Berbagi 
Banyak siswa mengalami kesulitan berbagi waktu dan bahan. Komplikasi ini dapat mendatangkan masalah pengelolaan yang serius selama pelajaran pembelajaran kooperatif. Menjadi bos terhadap siswa lain, berbicara tanpa henti, dan melakukan sendiri seluruh pekerjaan kelompok adalah contoh-contoh ketidakmampuan siswa untuk berbagi. Siswa-siswa yang mendominasi sering dilakukan secara sadar dan tidak memahami akibat perilaku mereka terhadap siswa lain atau terhadap kerja kelompok mereka. Siswa-siswa ini perlu belajar manfaat berbagi dan bagaimana mengendalikan perilaku mereka (Ibrahim dkk ,2000: 48).

Salah satu cara yang dapat digunakan guru untuk mengajarkan keterampilan berbagi adalah Round robin. Menurut Ibrahim dkk (2000: 49), Round robin merupakan suatu kegiatan yang mengajarkan siswa bagaimana menunggu giliran pada saat bekerja dalam kelompok. Prosesnya amat sederhana. Guru mengemukakan suatu ide atau mengajukan suatu pertanyaan yang mempunyai banyak jawaban. Kemudian siswa diminta untuk mengajukan sumbangan pikiran. Satu siswa mulai, mengemukakan sumbangan pikiran, dan giliran mengemukakan pendapat diteruskan ke siswa berikutnya, melakukan hal yang sama. Menyumbang pendapat bergiliran itu berlanjut sampai setiap orang di dalam kelompok memiliki kesempatan untuk berbicara   (Ibrahim dkk, 2000: 49).  

2. Keterampilan Berperan Serta 
Sejumlah siswa yang mendominasi kegiatan kelompok, siswa lain malah tidak mau atau tidak dapat berperan serta. Kadang-kadang siswa yang menghindari kerja kelompok karena malu. Seringkali siswa-siswa malu itu sangat pandai dan dapat bekerja sendiri dengan baik atau dengan orang lain. Siswa yang tersisihkan adalah jenis lain siswa yang mengalami kesulitan berperan serta dalam kegiatan kelompok. Akhirnya, ada siswa tertentu yang memilih, dengan alasan apapun, untuk bekerja sendiri dan menolak berperan serta dalam kegiatan-kegiatan kelompok kooperatif (Ibrahim dkk ,2000: 50). 

Untuk meredam semangat siswa bekerja sendiri, menuru Ibrahim dkk (2000: 47), salah satu caranya adalah membeda-bedakan peran dalam suatu kelompok. Contohnya, satu siswa mungkin bertanggung jawab untuk pengetikan laporan di komputernya, siswa lain membuat transparansi untuk digunakan dalam presentasi. Setiap anggota kelompok melakukan suatu tugas spesifik, namun keberhasilan kelompok itu sebagai keseluruhan bergantung pada tindakan-tindakan kooperatif dari seluruh anggota.

3. Keterampilan Komunikasi 
Ibrahim dkk (2000: 52) mengungkapkan bahwa semua orang pernah mengalami kesulitan dalam memerikan ide-ide atau perasaan sehingga ide-ide atau perasaan itu dipersepsi secara akurat oleh pendengar, dan secara akurat pula, orang mengalami kesulitan yang sama dalam mendengarkan dan menafsirkan apa yang dikatakan orang lain kepada kita. Kelompok kooperatif tidak dapat berfungsi secara efektif apabila kerja kelompok itu ditandai miskomunikasi. Lebih lanjut Ibrahim dkk (2000: 52) menyatakan ada empat keterampilan komunikasi agar tidak terjadi miskomunikasi, yaitu mengulang dengan kalimat sendiri, memerikan perilaku, memerikan perasaan, dan mengecek kesan. Keempat keterampilan tersebut adalah penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa untuk memudahkan komunikasi di dalam setting kelompok. 

Seringkali dalam interaksi kelas, siswa tidak saling mendengarkan satu terhadap yang lain. Melainkan, mereka duduk di dalam kelas menunggu giliran untuk berbicara atau di dalam kelompok kecil, berbicara atau menginterupsi terus menerus. Cara agar siswa aktif mendengar selama diskusi kelas berlangsung adalah dengan tegas meminta seorang siswa sebelum berbicara, siswa itu pertama-tama harus mengulang dengan kalimatnya sendiri apa yang dikatakan oleh siswa yang baru saja mengakhiri berbicara (Ibrahim dkk, 2000:  52).

Demikianlah sedikit ulasan singkat 3 Keterampilan Sosial Yang Sangat Penting Bagi Anak, yang bisa menjadi bahan masukkan bagi pembaca untuk membekali siswa atau anak beberapa keterampilan sosial yang penting bagi seperti yang terdapat di artikel: 3 Keterampilan Sosial Yang Sangat Penting Bagi Anak; Semoga bermanfaat