Sunday, 29 April 2018

7 Tips Cara Mendidik Anak di Era Digital

Tags
7 Tips Cara Mendidik Anak di Era Digital_ Pendidikan yang tepat akan berkonstribusi besar dalam pembentukan karakter anak, pendidikan tidak hanya diartikan sebagai proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah, namun pendidikan meliputi interaksi anak di sekolah, di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat, konsep pendidikan tersebut biasa disebut dengan tripusat pendidikan.

7 Tips Cara Mendidik Anak di Era Digital

Kemajuan teknologi serta perubahan pola hidup masyarakat, menyebabkan pertukaran informasi yang begitu cepat. Kondisi tersebut juga tak lepas dalam mempengaruhi cara belajar anak, jika dahulu pembelajaran masih bersifat konvensional, dewasa ini pembelajaran sudah menggunakan beragam teknologi.

Sumber belajar bukan hanya buku maupun proses pembelajaran di kelas, lebih dari itu, ada berbagai produk teknologi yang bisa menjadi media dan sumber untuk belajar bagi anak. Sehingga penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas anak-anak bisa disebut sebagai era digitalisasi.

Era digital adalah suatu kondisi dimana kebanyakan orang menggunakan berbagai produk yang bersifat digital dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Era digital memberi banyak dampak positif namun dampak negatife dari era digitalisasi juga tak bisa dinafikkan.

Baca juga: 10 Cara Mengatasi Kecanduan Gagdet Pada Anak

Pendidikan anak di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi guru, orangtua dan seluruh stackholder pendidikan. Dibutuhkan metode/strategi/teknik dan pendekatan guna memaksimalkan fungsi teknologi dalam meningkatkan kompetensi dan kapabilitas anak, serta meminimalisir dampak negatife dari keberadaan teknologi.

Lantas bagaimana cara mendidik anak di era digital? Dalam artikel ini penulis akan memaparkan beberapa tips/cara mendidik anak di era digital, berikut ulasannya.

7 Tips Cara Mendidik Anak di Era Digital

1. Memaksimalkan peran keluarga dalam pendidikan anak
Keluarga atau orangtua adalah lingkungan pertama anak dalam proses belajar dan tumbuh kembang anak. Peran keluarga paling subtansial dalam mengarahkan, mendidik, membimbing anak sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter.

Psikologis anak yang memiliki kebiasaan asimilatif atau berusaha meniru kebiasaan-kebiasaan/perilaku orang yang sering berinteraksi dengannya, atau memiliki tingkat intensitas interaksi tinggi dengan anak tersebut, akan sangat berpengaruh bagi pembentukan kepribadian anak.

Cara belajar anak yang bersifat asimilatif bisa menjadi peluang bagi orangtua dalam menanamkan nilai-nilai positif, keterampilan yang bermanfaat bagi anak. Namun perlu diketahui bahwa instruksi, arahan dan sekedar teori tidak bisa maksimal dalam mendidik anak. Orangtua perlu memberikan contoh, praktik, demonstrasi yang bersifat konkret agar apa yang diajarkan bisa benar-benar dipahami oleh anak.

Jadi sebagai orangtua anda sebaiknya senantiasa meluangkan waktu untuk melakukan interaksi dengan anak anda. Buatlah skala prioritas yang menempatkan kebersamaan dengan anak dan anggota keluarga sebagai hal yang paling utama.

Jika anda ingin anak anda menjadi sosok yang sabar, maka contohkanlah kesabaran dalam perilaku dan aktivitas anda. Jika anda ingin melihat anak anda menjadi sosok yang pintar maka anda yang harus pertama-tama menjadi sosok yang pintar di mata anak anda. Buah tidak akan jauh jatuh dari pohonnya, kebiasaan/pribadi anak tak akan jauh dari kebiasaan/pribadi orang tuannya.

2. Batasi penggunaan Gagdet/Smartphone
Membatasi, bukan berarti melarang sama sekali anak untuk menggunakan gadget/smartphone, melainkan memberikan batasan dalam menggunakan gadget. Apalagi jika teman-teman sejawatnya juga telah memiliki gadget, maka keinginan anak untuk memiliki gadget akan leih besar pula, yang perlu diperhatikan adalah usia yang tepat untuk membelikan anak anda gadget (Baca juga: Usia yang tepat membelikan anak gadget).

Mengekang anak agar tidak memiliki gadget juga bisa menimbulkan masalah lain, seperti yang kita ketahui bahwasanya anak yang terlalu dikekang akanmempengaruhi psikologis anak. Yang perlu dilakukan adalah mengontrol konten/aplikasi yang ada dalam gadget anak anda, aplikasi yang bisa memunculkan dampak negatife sebaiknya dihapus saja.

Jika anak anda suka nonton video di youtube maka sebaiknya anda memfilter jenis video yang bisa muncul saat anak anda mengakses youtube, untuk memfilter jenis video caranya dengan melakukan setting/pengaturan di aplikasi youtube.

Buatlah kesepakatan dengan anak anda, misalnya tentang batasan penggunaan gadget dalam sehari, waktu-waktu dimana tidak boleh menggunakan gadget. Tanamkanlah dalam mindset anak bahwasanya bercanda ria dengan keluarga lebih menyenangkan ketimbang bermain gadget, jadi syaratnya anda harus menjadi orangtua yang menyenangkan dimata anak-anak anda.

3. mengenalkan anak berbagai macam produk teknologi digital
Selain berusaha mengantisipasi dampak negatife dari keberadaan teknologi digital, hal yang tak boleh diabaikan yakni mengenalkan anak pada berbagai jenis produk-produk digital. Hal tersebut bertujuan agar anak anda tidak menjadi pribadi yang kudet (kurang update).

Mengenalkan anak pada berbagai jenis produk digital akan memperkaya wawasan khazanah pengetahuan anak, namun jangan lupa untuk senantiasa menyelipkan nilai-nilai moral dalam setiap proses belajar anak.

Misalnya saja jika anda mengenalkan suatu teknologi digital. Misalkan saja anda mengenalkan tentang smartphone/gadget/Hp maka anda sebagai orangtua harus menjelaskan hal positif apa saja yang bisa didapatkan ketika memiliki/menggunakan smartphone/gadget serta pengaruh negative apa saja yang mungkin bisa terjadi jika kurang tepat dalam menggunakan gadget/smartphone/HP.

Sehingga ada balance dari pengetahuan yang diajarkan pada anak, anak bukan hanya tahu tentang hal positif dari benda tersebut melainkan memahami pula dampak negatifnya. Begitu pula halnya dengan produk teknologi digital lainnya.

Sehingga ketika anak dihadapkan pada suatu situasi dan kondisi dimana suatu produk teknlogi akan memberikan dampak negative pada dirinya, anak tersebut akan tersadar “oh… ini kan dilarang oleh ibu bapak saya” sehingga anak akan tersadar untuk tidak memanfaatkan  produk digital tersebut untuk hal yang kurang baik bagi dirinya, hal tersebut yang dinamakan sebagai “recovery” dimana pengetahuan positif tentang sesuatu memfilter hal negative dari objek tersebut.

4. Bereksperimen, berkreasi dengan menggunakan berbagai produk digital
Menggunakan berbagai produk digital bukanlah sesuatu hal yang tidak boleh namun yang paling penting adalah kita dituntut untuk bijak dalam menggunakannya. Yang paling penting, anak bukan hanya diajarkan bagaimana menggunakan berbagai produk digital tersebut namun yang paling penting adalah bagaimana mengajarkan anak untuk menjadi sosok yang kreatif, inovatif, sehingga benda-benda digital tersebut bisa menjadi wadah, media bagi anak untuk bereksperimen, berkreasi dan mencipta hal-hal yang baru.

Ajarkanlah anak anda untuk menjadi sosok pencipta bukan penikmat, ajarkanlah bahwasanya dengan keberadaan berbagai macam teknologi menjadi peluang bagi dirinya (anak tersebut) untuk menemukan, menghasilkan, menciptakan lebih banyak hal baru lagi.

5. Selektif dalam mempercayai suatu informasi
Era digital telah menyebabkan penyebaran suatu informasi begitu cepat, hanya perlu beberapa detik, menit untuk mengetahui suatu kejadian/informasi yang terjadi disuatu tempat jauh. Bisa diyakini bahwa tidak semua informasi yang beredar adalah benar adanya, tidak sedikit informasi yang beredar adalah hoax.

Maka dari itu anak harus diajarkan untuk selektif dalam mempercayai suatu berita/informasi, anak biasanya belum memiliki filter yang cukup kuat untuk menyaring informasi yang benar dan salah, sehingga perlu menanamkan pemahaman pada anak untuk bijak dalam menyakini suatu informasi.

6. Memperbanyak melakukan aktvitas yang bermanfaat bersama anak
Ala bisa karena biasa adalah suatu ungkapan yang menyiratkan bahwasanya sesuatu yang biasa dilakukan akan menjadi suatu kebiasaan. Maka dari itu tugas orangtua adalah memperbanyak melakukan aktvitas yang bermanfaat bersama anak.

Misalnya saja; wisata ke museum, rekreasi,  jalan-jalan ke kebun binatang. Selain itu aktivitas di dalam rumah juga harus mengarahkan perilaku anak ke hal postif (baca juga: Hal positif yang bisa dilakukan bersama anak).

Salah satu tujuan Memperbanyak melakukan aktvitas yang bermanfaat bersama anak yakni untuk meminimalisir dampak negate dari keberadaan beberapa produk teknologi, beberapa produk teknologi yang bisa menyebabkan kencanduan pada anak untuk menggunakannya misalnya saja; game, smartphone/gadget, internet, televise dll.

7. Mengajarkan anak ilmu agama
Di era digital ada banyak hal yang mesti di filter agar tidak memunculkan pengaruh negatife, hal yang paling tepat diajarkan pada anak agar dampak negatife era digital bisa diminimalisir adalah dengan mengajarkan anak ilmu agama.

Ilmu agama ibaratkan benteng yang akan melindungi anak dari berbagai hal yang kurang baik, jika ilmu agama anak sudah baik maka bisa dipastikan pengaruh era digital tidak akan memberi banyak dampak negative pada anak.

Demikianlah artikel tentang 7 tips cara mendidik anak di era digital, semoga bermanfaat untuk anda.
mendidik anak diera digital ppt, pertanyaan tentang tantangan mendidik anak diera digital, mendidik anak diera digital pdf, seminar mendidik anak di era digital, parenting di era digital, buku mendidik anak diera digital, peran orang tua dalam mendidik anak diera digital, pengasuhan anak di era digital

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon