Sunday, 25 December 2016

Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)

A. Pengertian Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) 
Menurut teori belajar kognitif, pemecahan masalah dipandang sebagai aktivitas  mental yang melibatkan keterampilan berfikir kompleks. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Kirkley (2003) yang menyatakan bahwa pemecahan masalah melibatkan keterampilan berfikir tingkat tinggi seperti visualisasi, asosiasi, abstraksi, manipulasi, penalaran, analisis, sintesis dan generalisasi.

Pemecahan masalah adalah proses yang melibatkan penggunaan langkah-langkah tertentu, yang sering disebut sebagai model atau langkah-langkah pemecahan masalah, untuk menemukan solusi suatu masalah (Nakin, 2003).

Pemecahan masalah  juga merupakan proses mensintesis berbagai konsep, aturan atau rumus untuk memecahkan masalah (Kirkley 2003). Pengertian pemecahan masalah ini mengindikasikan bahwa diperolehnya solusi suatu masalah menjadi syarat bagi proses pemecahan masalah.

Pemecahan masalah yang melibatkan proses kreatif disebut pemecahan masalah kreatif (Creative Problem Solving). Creative Problem Solving (CPS) pertama kali diperkenalkan oleh Alex Osborne sehingga Creative Problem Solving ini dikenal juga dengan nama The Osborne-Parnes Creativity Problem Solving Models.

Sementara itu menurut Treffinger (2005) model Creative Problem Solving disebut sebagai model konseptual mengusulkan tiga komponen proses, yaitu 1) memahami tantangan; 2) menghasilkan gagasan; 3) menyiapkan tindakan. Komponen-komponen proses tersebut terdiri dari enam tahap dimana menekankan adanya keseimbangan dalam menggunakan kemampuan berfikir kreatif dan kritis. Tiga komponen utama dalam CPS yang saling berkaitan (membentuk siklus) yang dapat dilihat pada gambar.

Komponen memahami tantangan merupakan suatu upaya sistimatis untuk menegaskan, membangun atau berfokus pada suatu usaha pemecahan masalah. Komponen proses kedua yakni menghasilkan gagasan merupakan suatu tahap menghasilkan banyak pilihan yang bervariasi dan tidak biasa sebagai respon terhadap masalah yang ada. Sedangkan komponen proses ketiga adalah menyiapkan tindakan, yakni suatu tahap untuk membuat keputusan, mengembangkan, atau untuk memperkuat alternatif solusi yang telah dipilih, dan untuk merencanakan keberhasilan implementasi aksi.

Model treffinger merupakan salah satu dari sedikit model yang menangani masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Menurut Shoimin (2014: 219) model treffinger untuk mendorong belajar kreatif menggambarkan susunan tiga tahap yang mulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir yang lebih majemuk, peserta didik terlibat dalam kegiatan membangun keterampilan pada dua tahap pertama untuk kemudian menangani masalah kehidupan nyata pada tahap ketiga.

Menurut Sunata (dalam Shoimin, 2014: 219) model treffinger adalah suatu strategi pembelajaran yang dikembangkan dari model belajar kreatif yang bersifat developmental dan mengutamakan segi proses. Strategi pembelajaran yang dikembangkan Treffinger yang berdasarkan kepada model belajar kreatifnya.

Lebih lanjut Huda (2013: 318) model treffinger sebenarnya tidak berberda jauh dengan model pembelajaran yang digagas oleh Osborn. Model treffinger ini juga dikenal dengan Creative Problem Solving, kedua sama-sama berupaya untuk mengajak peserta didik berpikir kreatif dalam menghadapi masalah, namun sintak yang diterapkan antara Osborn dan Treffinger sedikit berbeda satu sama lain.

Menurut Treffinger (dalam Huda, 2013: 218) model treffinger adalah model yang berupaya untuk mengajak peserta didik berpikir kreatif dalam memecahkan masalah dengan memperhatikan fakta-fakta penting yang ada di lingkungan sekitar lalu memunculkan berbagai gagasan dan memilih solusi yang tepat untuk diimplementasikan secara nyata.

Menurut Ngalimun, (2014: 179) pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap dengan sintaks: keterbukaan-urutan ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.

Strategi pemecahan masalah kreatif dalam penyelesaian problematik maksudnya segala cara yang dikerahkan oleh seseorang dalam berpikir kreatif, dengan tujuan menyelesaikan suatu permasalahan secara kreatif. Dalam implementasinya, Treffinger, dilakukan melalui solusi kreatif.

Menurut Noller (dalam Suryosubroto, 2009: 199) solusi kreatif sebagai upaya pemecahan masalah yang dilakukan melalui sikap dan pola pikir kreatif, memiliki banyak alternatif pemecahan masalah, terbuka dalam perbaikan, menumbuhkan kepercayaan diri, keberanian menyampaikan  pendapat, berpikir divergen, dan fleksibel dalam upaya pemecahan masalah.

Menurut Sarson (dalam Huda, 2013: 320) karakteristik yang paling dominan dari model pembelajaran treffinger ini adalah upayanya dalam mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif peserta didik untuk mencari arah-arah penyelesaian yang akan ditempuhnya untuk memecahkan permasalahan, artinya peserta didik diberikan keleluasaan untuk berkreativitas menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan cara-cara yang ia kehendaki, tugas guru adalah membimbing peserta didik agar arah-arah yang ditempuh oleh peserta didik ini tidak keluar dari permasalahan.

Menurut Shoimin (2014: 218) karakteristik model treffinger adalah melibatkan keterampilan kognitif dan afektif pada setiap tingkat dari model ini, treffinger menunjukkan saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar kreatif.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran treffinger adalah model pembelajaran yang mengajak peserta didik berpikir kreatif dalam memecahkan masalah dengan memperhatikan fakta-fakta penting yang ada di lingkungan sekitar lalu memunculkan berbagai gagasan dan memilih solusi yang tepat untuk diimplementasikan secara nyata. Model ini lebih menekankan pada aspek kognitif dan afektif peserta didik dalam pembelajaran.

B. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)
 


Kelebihan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)
Menurut Huda (2013: 320) manfaat yang bisa diperoleh dari menerapkan model ini antara lain:
a. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memahami konsep-konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan.
b. Membuat peserta didik aktif dalam pembelajaran.
c. Mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
d. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mendifinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, membangun hipotesis, dam percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan.
e. Membuat peserta didik dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru.


Kelemahan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)
Menurut Huda (2013: 320) kelemahan dari menerapkan model treffinger antara lain:
a. Perbedaan level pemahaman dan kecerdasan peserta didik dalam menghadapi masalah.
b. Ketidaksiapan peserta didik untuk menghadapi masalah baru yang dijumpai di lapangan.
c. Model ini mungkin tidak terapkan untuk peserta didik taman kanak-kanak atau kelas-kelas awal sekolah dasar.
d. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mempersiapkan peserta didik melakukan tahp-tahap di atas.

Shoimin (2014: 222) kelemahan model treffinger yaitu butuh waktu yang lama. Namun menurut Shoimin (2014: 221-222) model treffinger memiliki kelebihan yaitu sebagai berikut:
a. Mengasumsikan bahwa kreativitas adalah proses dan hasil belajar.
b. Dilaksanakan kepada semua peserta didik dalam berbagai latar belakang dan tingkat kemampuan.
c. Mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif dalam pengembangannya.
d. Melibatkan secara bertahap kemampuan berpikir konvergen dan divergen dalam proses pemecahan masalah.
e. Memiliki tahapan pengembangan yang sistematik, dengan beragam metode dan teknik untuk setiap tahap yang dapat diterapkan secara fleksibel.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kelebihan dari model treffinger yaitu lebih menekankan aspek kognitif dan afektif peserta didik. Melalui model treffinger peserta didik diberi kesempatan untuk memahami konsep-konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan, peserta didik menjadi aktif dalam pembelajaran, dikembangkannya kemampuan berpikir peserta didik dan kemampuan menyelesaikan permasalahan, serta peserta didik dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baruModel Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS).

Kekurangan dari model treffinger yaitu memerlukan waktu yang lama, sehingga untuk meminimalisir kekurangan tersebut maka guru perlu memperhatikan perbedaan level pemahaman dan kecerdasan peserta didik dalam menghadapi masalah dan kesiapan peserta didik untuk menghadapi masalah dalam pembelajaran.

C. Langkah- langkahModel Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)

Treffinger (dalam Huda, 2013: 318) menyebutkan bahwa model pembelajaran ini terdiri atas 3 komponen penting yaitu understanding challege, generating ideas, dan preparing for action. Penjelasan sintaknya mengenai model ini sebagai berikut:
 

a. Komponen I - Understanding Challege (Memahami Tantangan) 
yaitu 1) menentukan tujuan: guru menginformasikan kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajarannya, 2) menggali data: guru mendemonstrasi/ menyajikan fenomena alam yang dapat mengundang keingintahuan peserta didik dan 3)

b. merumuskan masalah

Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengindentifikasi permasalahan.

c. Komponen II - Generating Ideas (Membangkitkan Gagasan) 

yaitu memunculkan gagasan: guru memberi waktu dan kesempatan pada peserta didik untuk mengungkapkan gagasannya dan juga membimbing peserta didik untuk menyepakati alternatif pemecahan masalah yang akan diuji.

d. Komponen III - Preparing For Action (Mempersiapkan Tindakan)

yaitu 1) mengembangkan solusi: guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, 2) membangun penerimaan: guru mengecek solusi yang telah diperoleh peserta didik dan memberikan permasalahan yang baru namun lebih kompleks agar peserta didik dapat menerapkan solusi yang telah ia peroleh.

Menurut Munandar (dalam Shoimin, 2014: 219-220) model treffinger terdiri dari langkah-langkah berikut:

a. Tahap I: basic tools

Basic tool atau teknik kreativitas meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik kreatif. Adapun kegiatan pembelajaran pada tahap I yaitu (1) guru memberikan suatu masalah terbuka dengan jawaban lebih dari satu penyelesaian, (2) guru membimbing peserta didik melakukan diskusi untuk menyampaikan gagasan atau idenya sekaligus memberikan penilaian pada masing-masing kelompok.

b. Tahap II: practice with process

 Practice with process yaitu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan keterampilan yang telah dipelajari pada tahap I dalam situasi praktis. Kegiatan pembelajaran pada tahap II yaitu (1) guru membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk berdiskusi dengan memberikan contoh analog, (2) guru meminta peserta didik membuat contoh dalam kehidupan sehari-hari.

c. Tahap III: working with real problems

Working with real problem, yaitu menerapkan keterampilan yang dipelajari pada dua tahap pertama terhadap tantangan pada dunia nyata.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran treffinger adalah model pembelajaran yang berupaya untuk mengajak peserta didik berpikir kreatif dalam menghadapi masalah. Model treffinger merupakan model yang menangani masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Model ini lebih menekankan pada aspek kognitif dan afektif peserta didik dalam pembelajaran.

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon