Sunday, 27 November 2016

Manajemen Kekalahan: Mencintai kemenangan, membenci kekalahan?

Manajemen Kekalahan: Mencintai kemenangan, membenci kekalahan?
Rupanya, sudah sejak lama umat manusia ini hidup dengan sikap "mencintai kemenangan, membenci kekalahan". Banyak ahli yang menulis berbagai hal tentang bagaimana meraih kemenangan, tetapi sangat sedikit yang membahas tentang bagaimana menghadapi kekalahan. Akibatnya dalam kehidupan ini banyak orang yang siap menang, tidak siap.kalah. Ini cukup aneh menurut saya, karena faktanya dalam hidup ini lebih banyak kasus kekalahan dibanding kemenangan.


Sekolah sebagai tempat menempa masa depan, rupanya juga cenderung menganut faham ini. Melalui program serba juara, sekolah ikut memperkuat keyakinan bahwa menang itu anugerah, kalah itu musibah, juara kelas itu terpuji, tidak juara itu tercela, berprestasi itu membanggakan, tidak berprestasi itu memalukan. Di dunia kerja juga serupa. Tidak ada tempat kerja yang absen dari kegiatan sikut-sikutan, lebih-lebih di bidang politik. Semuanya mau menang, naik pangkat, main libas, kalau perlu semua pekerjaan ingin dia yang kerjakan, sambil meyakinkan ke orang lain 'kalau bukan saya yang kerjakan, bakalan jeblok hasilnya'. Tidak ada yang mau kalah, semua ingin jadi pemenang, semua ingin jadi penguasa. Dan jujur, inilah wajah Indonesia saat ini. 

Sesungguhnya tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Kemenangan ibarat padi bagi petani, seperti ikan buat nelayan. Kemenangan adalah pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar. Kemenangan adalah pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan.Tapi jangan lupa, ada saatnya kita juga harus siap menerima kekalahan. Sehingga bila tiba putaran waktunya untuk kalah, kita tidak limbung, putus asa, menyalahkan lingkungan, menghujat aturan, menyerang pemenang, kalap. Banyak yang siap menang, tetapi sedikit yang siap kalah.

Mereka yang bijak akan belajar melatih diri untuk tersenyum di depan kemenangan sekaligus kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa tetap dilakukan. Namun bila hadiahnya kekalahan, senyuman tetap menghiasi perjalanan. 

Meraih medali kemenangan itu indah dan terhormat.Tapi tersenyum di depan kekalahan, itu hebat, hanya bisa dilakukan oleh orang yang bijak melihat kekalahan lebih memuliakan perjalanan hidup dibanding kemenangan. Karena bagi mereka, saat mengalami kekalahan, manusia sedang dilatih, diuji dan dilembutkan hatinya.

Kesabaran, rendah hati, ketulusan, keikhlasan adalah nilai-nilai yang sedang dihadiahkan oleh kekalahan, persis di saat pemenang sedang berpesta merayakan kemenangan. Mereka yang bijak akan mengatakan kalah itu juga indah. Toh semuanya hanya datang dan pergi, kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kesialan.

Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara kenyataan apa adanya dengan kebiasaan seseorang mengerti dan memahami. Mereka yang biasa memahami sesuatu dalam perspektif tidak puas, serba kurang dan menuntut selalu lebih, akan melihat kehidupan yang tidak menyenangkan di mana-mana. Sebaliknya, mereka yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas dan tulus akan lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.
Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pemahaman kita, hanya akan memperpanjang daftar panjang penderitaan yang sudah panjang. Bila pikiran sempit dan rumit (fanatisme sempit, picik, mudah menghakimi) maka kehidupan menjadi mudah marah, tersinggung dan sakit hati. Tapi bila pikiran luas dan bijak, maka kehidupan menjadi gampang bersyukur dan berterima kasih. 

Apa yang sering disebut menang-kalah, sukses-gagal dan bahkan hidup-mati, hanyalah wajah-wajah putaran waktu. Seperti ketika waktu menunjukkan sekitar jam enam pagi berarti waktunya matahari terbit, bila jam enam sore berarti waktunya matahari tenggelam. Memaksa agar jam enam pagi matahari tenggelam hanya akan menghadirkan kekecewaan mendalam. 

Kaya tentu saja berkah, namun sedikit ruang-ruang latihan di sana. Miskin memang dihindari banyak orang, namun kemiskinan menghadirkan daya paksa yang tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakannya besar sekali. Kalah memang tidak diinginkan nyaris semua orang, tetapi kekalahan adalah guru kesabaran.

Untuk kalian yang sedang dalam kekalahan, kalah bersaing, kalah berprestasi, kalah berkarir, siapkan hati untuk meyakini ini bukan kiamat, bukan akhir segalanya. Yakinlah akan penyertaan Tuhan untuk mengantarkan kita sampai giliran jadi pemenang pada saatnya nanti. Atau Tuhan akan menggantikan kemenangan lain yang lebih baik. 

Jika usaha dan doa sudah dilakukan yang terbaik, lalu apa yang merisaukanmu lagi?

Penulis: Bapak Agus susilohadi

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon