Monday, 31 October 2016

Full Day School Mendidik atau Membebani ? Suara Anak Bangsa

Full Day School Mendidik atau Membebani ? Suara Anak Bangsa_ Kajian akan adanya kebijakan Bapak Muhadjir Effendy tentang program Full Day School atau Sekolah Sehari Penuh menuai berbagai reaksi dari kalangan masyarakat, ada yang pro dan tak sedikit pula yang kontra. Alasan Bapak Muhadjir mewacanakan kebijakan full day school agar siswa SD dan SMP akan dapat lebih terkontrol saat di luar rumah, mungkin hal tersebut ada benarnya, namun apakah alasan ini sesuai dengan keadaan siswa yang ada di seluruh Indonesia ? Pelajar Indonesia dengan bobot pelajaran yang beragam di berbagai daerah juga dengan beragam fasilitas dan jarak serta cara tempuh yang bermacam belum tentu dapat begitu saja menyesuaikan diri kebijakan ini. Saya selaku Pelajar yang bersekolah di daerah kota besar mengaku kebijakan ini bukan suatu masalah besar. Transportasi untuk mencapai sekolah pun tak begitu sulit saya temukan. Namun bagaimana dengan teman-teman saya di daerah yang maaf masih sangat terpencil ? Mereka membutuhkan usaha lebih keras untuk mencapai sekolahnya. Berjalan puluhan kilo meter, menyeberangi derasnya arus sungai dan sebagainya.

Bagi mereka yang terhitung home alone mungkin kebijakan ini membantu mereka melewatkan hari yang sepi saat orangtua mereka mengais rezeki. Tapi bagaimana dengan mereka yang juga harus membantu perekonomian keluarga sepulang sekolah ? Pernahkah terpikir dengan nasib mereka, dengan rasa lelah mereka yang justru akan menghambat proses belajar mereka ?

Saya tidak bermaksud pro ataupun kontra dengan kebijakan ini. Saya sedikit paham dengan tujuan dari program yang Bapak Menteri canangkan ini. Tapi saya juga ingin agar program ini dikaji lebih lanjut. Bagaimana baik buruk kedepannya nanti.
Full Day School, Mendidik atau Membebani ?
Saya pernah membaca sebuah jurnal milik mahasiswa tanah air yang mendapat kesempatan magang sebagai pengajar di Negara Jepang. Di negeri sakura itu program full day school sudah diterapkan bahkan di jenjang taman kanak-kanak. Tetapi kegiatan siswa Jepang di sekolah tidak melulu belajar tentang pendidikan formal. Berbagai kegiatan yang dapat membangun karakter disiplin dan mandiri diterapkan di sana.

Fasilitas yang di berikan oleh sekolah di Jepang pun mendukung untuk program ini. Sedikit contoh kecil, mereka bersedia menyediakan fasilitas dan jadwal untuk makan siang dan kegiatan minum teh di sore hari bahkan menyediakan jadwal khusus untuk bermain, benrnyanyi, olahraga, berdoa, dan kegiatan lain diluar pendidikan wajib mereka. Waktu belajar mereka mungkin lebih padat dibanding di tanah air,namun dengan selingan kegiatan lain mereka takkan merasa jenuh.

Langkah ini mungkin bisa diterapkan di sekolah di tanah air yang tercinta kita. Selain belajar ilmu dunia di sekolah, siswa juga diberikan pendidikan rohani sesuai keyakinan masing-masing siswa. Beberapa ekskul yang tidak terlalu berat dapat juga diberikan di sela waktu belajar agar siswa tidak jenuh. Pendidikan moral yang tak boleh ditinggalkan pun bisa diberikan dengan pemberian contoh nyata. Jumlah guru pun semestinya ditambah agar dalam proses mengajar pun guru tidak kualahan. Penyediaan makan siang dengan gizi seimbang pun seharusnya dilakukan oleh pihak sekolah.
Pertanyaannya, siapkah Indonesia melaksanakan segala konsekuensi tersebut ?

Lagi lagi jangan hanya memandang kami yang hidup di kota, tapi sempatkanlah melirik mereka yang tinggal di pedesaan bahkan bumi pedalaman sana.

Khusnul Hidayah, pelajar dari kota Lumpia

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon