Wednesday, 11 May 2016

Tipe-tipe Belajar

TIPE-TIPE BELAJAR 
A. Pengertian Tipe-tipe Belajar 
Dalam praktik pengajaran, penggunaan suatu dasar teori untuk segala situasi merupakan tindakan kurang bijaksana. Tidak ada suatu teori belajar pun cocok untuk segala siatuasi. Karena masing-masing mempunyai landasan yang berbeda dan cocok untuk situasi tertentu. Robert M. Gagne (1970) mencoba melihat berbagai teori belajar dalam satu kebulatan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurut Gagne belajar mempunyai delapan tipe. Kedelapan tipe itu bertingkat, ada hierarki dalam masing-masing tipe setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. 

Tipe belajar dikemukakan oleh Gagne pada hakikatnya merupakan prinsip umum baik dalam belajar maupun mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa belajar pun terdapat tingkatan sebagiamana tingkatan belajar di atas. Kedelapan tipe itu adalah sebagai berikut : 

1.     Tipe Belajar Isyarat (Signal Learning) 
Belajar isyarat mirip dengan conditionde respons atau respons bersyarat seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dengan telunjuk dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi, respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur, dan emosional. Menurut Therndike (1961) bentuk belajar seperti ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar. 

2.     Tipe Belajar Stimulus-Respons (Stimulus Respons Learning) 
Berbeda dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur, dan emosional. Tipe belajar S-R, respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu hubungan S-R. Mencium stimulus respons sama dengan teori asosiasi (S-R bond). Setiap respons dapat diperkuat dengan reinforcement. Hal ini berlaku pula pada tipe belajar stimulus respons. 

3.     Tipe belajar Belajar Rangkaian (Chaining) 
Rangkaian atau rantai dalam shaining adalah semacam rangkaian antara berbagai S-R yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik; seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan-minum-merokok ata gerakan verbal seperti selamat-tinggal, bapak-ibu. 

4.     Tipe belajar Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation) 
Tipe belajar ini adalah mampu mengaitkan suatu yang bersifat verbalisme kepada sesuatu yang sudah dimilikinya. Misal “Pyramide itu berbagun limas” adalah contoh tipe belajar asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa pyramide berbagun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk bila unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain. 

5. Tipe belajar Diskriminasi (Discrimination Learning) 
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian seperti membedakan berbagai bentuk wajah, hewan, tumbuhan, dan lain-lain 

6.     Tipe Belajar Konsep (Concept Learning) 
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil memuat tafsiran terhadap fakta atau realita, dan hubungan antara berbagai fakta. Suatu konsep dapat diklasifikasi berdasarkan ciri tertentu. Mislanya konsep tentang manusia, konsep burung, konsep ikan, dan lain-lain. Kemampuan seseorang dapat membentuk konsep apabila orang tersebut dapat melakukan diskriminasi. 

7.     Tipe Belajar Aturan (Rule Learning) 
Tipe belajar atauran adalah lebih meningkat dari tipe belajar konsep. Dalam belajar aturan, seseorang dipandang telah memiliki berbagai konsep yang dapat digunakan untuk mengemukakan berbagai formula, hukum, atau dalil. Mislanya seseorang langsung mengatakan bahwa dalam suatu segi tiga besar sudut seluruhnya adalah 180 derajat. 

8.     Tipe Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving) 
Tipe belajar yang terakhir adalah memecahkan masalah. Tipe belajar ini dapat dilakukan oleh seseorang apabila dalam dirinya sudah mampu mengaplikasikan berbagai aturan yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Dalam memecahkan masalah diperlukan waktu yang cukup, bahkan ada yang memakan waktu terlalu lama. Juga seringkali harus melalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam masalah itu. Dalam segala langkah diperlukan pemikiran sehingga dalam memecahkan masalah akan diperoleh hasil yang optimal.

Kedelapan tipe belajar di atas tampaknya para ahli sepakat merupakan tipe belajar yang memiliki hierarki. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar selanjutnya. Sebaiknya tiap tipe belajar memerlukan penguasaaan pada tipe belajar di tingkat bawahnya. Belajar memecahkan masalah misalnya harus menguasai sejumlah aturan yang relevan, seterusnya untuk belajar aturan perlu penguasaan beberapa konsep yang digunakan pada aturan.

Dalam kaitan dengan perencanaan pengajara, tipe belajar ini perlu mendapat perhatian, sebab hal ini menjadi salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan pengajaran yang diberikan kepada siswa. Dengan kata lain, agar siswa belajar mencapai taraf yang lebih tinggi, diperlukan kemampuan guru dalam menerapkan prinsip-prinsip sebagiamana yang telah diuraikan di atas. 
Artikel : Tipe-tipe Belajar

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon