Monday, 11 April 2016

PENGERTIAN PUISI

PENGERTIAN PUISI

A. PENGERTIAN PUISI  
Puisi merupakan suatu bagian dari karya sastra. Dalam penciptaan sebuah puisi dipengaruhi oleh kehidupan di alam ini. Di samping itu dipengaruhi oleh pikiran dan keinginan manusia yang selalu berubah-ubah. Hal ini dapat dilihat dari perubahan yang terjadi dalam penciptaan sebuah puisi.

Dalam penciptaan sebuah puisi, seorang penyair menumpahkan seluruh perasaannya dengan menggunakan bahan yang berupa pengalaman yang didapat dari luar. Kemudian bahan ataupun pengalaman tersebut disusun ke dalam wujud susunan yang berlainan dengan yang telah ada. Setiap penciptaan puisi tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan zaman seperti halnya dengan ilmu pengetahuan yang berkembang terus sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan sudah banyak hasil karya penyair yang berubah terus dari tahun ketahun. Tidak ada yang menetap, baik dari segi isi maupun bentuknya.

Dalam memahami isi dan bentuk sebuah puisi, ada baiknya pembaca harus mengetahui apa sebenarnya puisi itu. Menurut Gani (1988: 16). Puisi adalah sejenis bahasa yang menyampaikan pesan dengan lebih padat daripada pemakaian bahasa biasa. Dalam hal ini Gani berpendapat bahwa puisi menggunakan bahasa sebagai media penyampaian pendapat pesan yang lebih padat dari penggunaan bahasa yang digunakan pada media cetak dan lain-lain. Selain itu Mulyana (Semi, 1988: 93), menyimpulkan bahwa puisi adalah sintesis  berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk.

Apabila pembaca dalam memahami puisi, haruslah mampu menangkap pikiran, perasaan serta semangat pengarangnya dan mencoba menghidupkan hal itu dalam diri pembaca. Hal ini dapat diambil manfaatnya  bagi pembaca dan tentunya hal yang bermanfaat itu akan diaflikasikan dalam mengarungi hidup bermasyarakat. 

B. Unsur-unsur Instrinsik Puisi 
Unsur-unsur yang membentuk sebuah puisi terbagi atas dua macam yakni hakikat dan metode atau sarana puisi. Hakikat puisi menyangkut tema (sense), rasa (feeling), nada (tone), amanat (itention). Sedangkan metode atau sarana yang digunakan oleh penyair antara lain diksi (pilihan kata), imaji (daya baying), kata nyata, majas (bahasa kiasan), dan rima (irama bunyi).

Mengingat masalah dalam penelitian ini dibatasi pada hakikat puisi yang menyangkut keempat unsur tersebut, berikut ini penjelasan tentang tema (sense), rasa (feeling), nada (tone), amanat (intention). 
a. Tema (sense) 
Dalam setiap puisi terdapat suatu pokok pikiran atau inti persoalan yang biasa disebut dengan tema (sense). Tema tersebut menjadi dasar penyair dalam menyusun kata-kata sebaik mungkin. Dengan kata-kata yang disusun tersebut, penyair dapat mengarahkan perhatian pembacanya agar dapat menangkap isi puisi tersebut. Misalnya dalam “DOA” karya Amir Hamzah. puisi ini bertemakan ketuhanan.

b. Rasa (feeling)
Biasa dalam menciptakan sebuah puisi, penyair mengekspresikan suasana perasaannya. Hal ini harus dapat dihayati oleh pembaca. Misalnya pada puisi “DOA” karya Chairil Anwar. Dalam puisi ini pembaca dapat menangkap perasaan penyair penuh kepasrahan dan kekhusyukan.

c. Nada (Tone)
Dalam menciptakan puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca. Apakah menggurui, menasehati, rendah hati, angkuh, dan lain -lain. Sikap inilah yang disebut dengan nada (Tone). Misalnya puisi “ Surat Dari Ibu “ karya Asrul Sani. Dalam puisi ini sikap penyair terhadap pembaca adalah menasehati. Dengan nada menasehati, penyair memberi nasehat kepada pembaca agar menimba ilmu dan mencari pengalaman seluas-luasnya.

d. Amanat (Intention)
Setiap penciptaan puisi, penyair mempunyai tujuan. Tujuan itu ada yang sifatnya mendidik (edukatif) dan keagamaan (religius). Tujuan penyair yang hendak disampaikan kepada pembaca inilah yang disebut dengan amanat (intention). Misalnya pada puisi “Padamu jua” karya Amir Hamzah. Dalam puisi ini tujuan penyair adalah mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan dengan Tuhan. 

C. Apresiasi Puisi 
Biasanya pada saat kita menikmati makanan, kita harus menikmatinya terlebih dahulu untuk mengetahui sedap atau baik makanan tersebut. Begitu pula dalam hal mengapresiasi sebuah puisi, haruslah dinikmati oleh pembacanya. Dengan menikmati isi dan bentuknya, maka pembaca dapat mamahami amanat tujuan yang disampaikan oleh pengarang. Kegiatan menikmati, memahami dan menghargai puisi itulah yang disebut dengan apresiasi puisi, hal ini ditegaskan lagi oleh Suprapto (1993: 146) bahwa mengapresiasi puisi adalah kegiatan seni yang mulia.

Dalam memahami sebuah puisi, pembaca harus dapat menghidupkan segala sesuatu yang terdapat didalamnya. Di samping itu pembaca dapat menikmati segala keindahan bahasanya dan mengambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Hal ini bermanfaat bagi pembacanya itu sendiri dalam hidup bermasyarakat. 

Bila kita mengapresiasi sebuah puisi, haruslah dibekali dengan pengetahuan  tentang unsur-unsur yang membentuk puisi tersebut. Menurut Boulton (Semi, 1988: 107) bahwa: 
Unsur-unsur itu dibagi menjadi dua yaitu bentuk fisik dan bentuk mental.  Bentuk fisik meliputi irama, rima, intonasi, bahasa (gaya bahasa), enjambemen, tipografi, dan lain-lain. Yang termasuk dalam bentuk mental yaitu struktur kaidah, urutan logis, pola ososiasi, imajinasi, tema dan lain-lain. 

Dalam mengapresiasi puisi, kedua bentuk tersebut tidak dapat dipisahkan. Kedua bentuk ini saling berhubungan. Jadi, dalam menganalisis sebuah puisi harus secara keseluruhan atau secara utuh, hal ini mengingat definisi puisi menurut tuloli dkk (1987: 97) bahwa: Puisi merupakan karya seni yang diciptakan dengan ciri keutuhan unsur-unsur yang pembentuknya, dengan dibekali pengetahuan tentang unsur- unsur yang membentuk pembentuk puisi tersebut, maka akan memudahkan pembaca dalam menguraikan atau pun memahami seluruh isi dan bentuknya. 

D. Langkah-langkah Mengapresiasi Puisi 
Apabila seseorang mengerjakan sesuatu dan mengharapkan berhasil dengan baik, maka harus melewati tahap atau pun langkah-langkah yang tentunya akan memudahkan mencapai tujuan tersebut. Demikian pula dengan mengapresiasi sebuah puisi,ada langkah-langkah yang harus dilakukan agar pengapresiator mudah memahami atau menguraikan isi dan bentuknya. Hal ini dikemukakan oleh Sumarjo (Tuloli dkk, 1987: 96) bahwa ada tiga langkah pokok dalam menilai atau mengapresiasi sebuah puisi: 
1). Langkah pertama, memahami isi puisi. Pembaca harus dapat mengerti maksud    puisi itu. Apakah puisi itu efis, liris, atau dramatis, apakah kognitif, ekspresif atau efektif.

2). Langkah kedua menilai puisi. Yang menjadi titik tolak penilaian ialah teknik penulisan, bunyi, irama, gaya bahasa. Semua unsur di dalam puisi harus bekerja sama secara baik menuju pada maksud isi puisi, sehingga unsur-unsur itu membentuk suatu kesatuan yang utuh. Teknik puisi yang baik kalau tidak ada satu kata pun tidak berfungsi dalam mendukung artinya.

3). Langkah ketiga, menangkap gagasan. Apakah puisi yang baik itu mengndung gagasan, pemikiran dan kadar perasaan yang penting? Puisi yang baik dapat saja hanya berbicara  tentang soal-soal sederhana, bukan soal-soal besar. Apabila puisi yang baik dan mengandung hal-hal yang penting dan besar, maka puisi itu termasuk puisi yang besar atau puisi-puisi abadi” 
Ketiga langkah di atas dapat membantu pengapresiator dalam mengapresiasi sebuah puisi. Di samping itu harus dibekali dengan penguasaan tentang unsur-unsur yang membentuk puisi, sehingga makna keseluruhan di dalam puisi tersebut terurai dengan baik. 

E. Pengajaran Puisi 
Sebelum guru menyajikan  bahan dalam pengajaran puisi, sebaiknya guru mempersiapkan bahannya dan bahan tersebut harus dipilih terlebih dahulu sesuai dengan tujuan yang ingin di capai. Tujuan dan pengajaran puisi itu sendiri adalah untuk memperoleh pengalaman dalam mengapresiasi puisi. Tercapainya tujuan itu harus memproses belajar mengajar yang melibatkan guru dan peserta didik. Menurut Rusyana (1982: 42) bahwa: 

Kegiatan belajar mengajar meliputi: mempelajari puisi yang akan dibawakan, menentukan kegiatan yang akan dilakukan, memberikan pengantar pengajaran, menyajikan bahan pengajaran, mendiskusikan puisi yang telah dibaca dan memperdalam pengalaman tentang puisi. 

Semua kegiatan ini merupakan suatu langkah yang dapat dilakukan dalam pengajaran puisi di sekolah. Berdasarkan pengalamannya pula, guru akan menemukan lagi langkah-langkah yang mungkin lebih tepat untuk keperluan mengajar di kelas.

Setelah mengetahui langkah-langkah dalam pengajaran puisi, sebaiknya guru harus mengetahui cara menyajikan bahan pengajaran puisi. Semua kegiatan harus diperhatikan pada setiap waktu dalam menyajikan bahan untuk jam pelajaran di kelas. Menurut Rusyana (1982: %) bahwa: Cara menyajikan bahan pengajara puisi ada beberapa cara yaitu pembacaan puisi oleh guru, pembacaan nyaring oleh murid, perbincangan tentang puisi, mengarang puisi, mengapresiasi unsur-unsur puisi dan berbagai kegiatan lain yang menyangkut puisi  

Untuk menjadi seorang guru haruslah dapat menggunakan cara lain yang dianggapnya sangat tepat digunakan saat mengajar di kelas. Hal ini bertujuan untuk menyempurnakan pengajaran puisi di sekolah. Dalam kegiatan itu. Rosenblatt (1988: 1) menyarankan beberapa prinsip yang memungkinkan pengajaran sastra mengemban fungsinya dengan baik: 

Pertama, murid harus diberi kebebasan untuk menampilkan responden  reaksinya; kedua murid harus diberi kesempatan  untuk mempribadikan dan menkristalisasikan rasa pribadinya terhadap cipta sastra yang dibaca dan dipelajarinya: ketiga, guru harus berusaha untuk menemukan butir-butir kontak diantara pendapat para murid: ke empat, peranan dan pengaruh guru harus merupakan daya dorong penjelajahan pengaruh vital yang intern di dalam sastra itu sendiri.
BACA JUGA : PENGERTIAN CERITA FIKSI
PENGERTIAN PUISI

Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon