Thursday, 31 March 2016

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL)


Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung dan siswa diharapkan  dapat mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Hal ini sangat penting bagi siswa karena materi akan menjadi bermakna dan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari (Sanjaya, 2008).
Kontekstualitas merupakan fenomena yang bersifat alamiah, tumbuh dan terus berkembang, serta beragam karena berkaitan dengan fenomena kehidupan sosial masyarakat. Dalam kaitannya dengan ini, maka pembelajaran pada dasarnya merupakan aktivitas mengaktifkan, menyentuhkan, mempertautkan; menumbuhkan, mengembangkan, dan membentuk pemahaman melalui penciptaan kegiatan, pembangkitan penghayatan, internalisasi, proses penemuan jawaban pertanyaan, dan rekonstruksi pemahaman melalui refleksi yang berlangsung secara dinamis. Sementara itu, belajar pada dasarnya merupakan proses menyadari sesuatu, memahami permasalahan, proses adaptasi dan organisasi, proses asimilasi dan akomodasi, proses menghayati dan memikirkan, proses mengalami dan merefleksikan,dan proses membuat komposisi dan membuka ulang secara terbuka dan dinamis. Itulah sebabnya landasan pembelajaran kontekstual adalah konsep konstruktivisme (Aryans, 2007).
Program pembelajaran kontekstual memiliki prinsip dasar sebagai berikut:
1.      Belajar berbasis masalah (Problem Based Learning). Belajar bukanlah sekedar drill informasi tetapi bagaimana menggunakan informasi dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada di dunia nyata.
2.      Pengajaran autentik (Authentic Instruction). Pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna, sesuai dengan kehidupan nyata.
3.      Belajar berbasis inquiri (Inquiry-Based Learning). Belajar bukanlah kegiatan mengkonsumsi melainkan kegiatan memproduksi dengan mengetahui apa yang menjadi kebutuhan, keinginan dan mencari tahu sendiri jawabannya.
4.      Belajar berbasis proyek / tugas terstruktur (Proyect-Based Learning). Belajar bukan sekedar menyerap hal kecil sedikit demi sedikit dalam waktu yang panjang, tetapi secara komprehensif/terpadu untuk mendapatkan banyak hal.
5.      Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning). Belajar harus didasarkan pada pengalaman dan bukan kata-kata semata. Belajar adalah bekerja dan ketika orang bekerja, maka ia belajar banyak hal.
6.      Belajar jasa layanan (Service Learning). Belajar dengan menumbuhkan rasa percaya diri, merasa dibutuhkan, bekerja sama/menolong orang lain, dan akrab pada kegiatan di luar maupun di dalam kelas.
7.      Belajar kooperatif (Cooperatif Learning). Belajar melalui interaksi dengan teman-teman, belajar bersama akan menghasilkan prestasi lebih baik daripada setiap individu belajar sendiri-sendiri.  
Menurut Muslich (2009), setiap komponen utama Pembelajaran Kontekstual  mempunyai karakteristik yang harus diperhatikan, yakni :
1.      Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta, konsep, dan kaidah yang siap dipraktikkan. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan tersebut terlebih dahulu dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya. 
2.      Bertanya (Questioning)
Belajar dalam pembelajaran kontekstual  dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Pada sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.
3.      Menemukan (Inquiry)
Inkuiri adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Proses inkuiri diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Melalui proses inkuiri yang sistematis, diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis, yang kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.
4.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendirian, akan tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerja sama saling memberi dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, baik antarteman, antarkelompok, yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Sehingga dalam masyarakat belajar setiap orang bisa saling terlibat, bisa saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman. 
5.      Pemodelan (Modelling)
Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses pemodelan, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi guru juga dapat memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya. Modelling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual, sebab melalui modelling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.
6.      Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian  atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari, menelaah dan merespon semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
7.      Penilaian nyata (Authentic Assessment)
Penilaian nyata (Authentic Assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian autentik diarahkan pada proses  mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. Oleh karena itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasilbelajar siswa, (Muslich, 2009).
Pembelajaran kontekstual menekankan pada kemampuan menyajikan materi dengan mengambil pendekatan dunia nyata siswa. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa. Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan siswa lainnya sesuai dengan skemata siswa (on going process of development), dengan demikian bagaimanapun sulitnya sebuah pembelajaran dapat diatasi dengan mengkontekstualkan permasalahan dan mentransfernya ke dalam dunia nyata siswa. Oleh karena itu kemampuan mengkontekstualkan pelajaran harus dimiliki oleh seorang guru atau orang tua dalam upaya merangsang daya ingat siswa.
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya. Dalam konteks itu, prosedur atau program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Menurut (Sudrajat, 2008), Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini :
1.      Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
2.      Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
3.      Menciptakan masyarakat belajar.
4.      Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran
5.      Melakukan refleksi di akhir pertemuan
6.      Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara


Silahkan berkomentar jika masih ada yang kurang jelas atau jika hendak memberi saran dan kritik
Admin: WA: 0852 1537 5248
EmoticonEmoticon